Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Volume 1, Extra



LAND OF DREAM adalah dimensi yang isinya pasir, bukit pasir, gunung pasir, dan segala hal yang berhubungan dengan pasir. Bukan pasir biasa saja, melainkan beraneka ragam mulai dari pasir emas hingga pasir adamantite. Bahkan, ada pasir yang warnanya begitu hitam hingga cahaya yang dipancarkan ke atasnya seolah ditarik masuk. Lebih jauh lagi, ada pasir yang melayang bebas di tempat-tempat tertentu.


Land of Dream adalah dimensi yang berdiri sendiri. Langitnya berwarna abu-abu; tidak ada matahari di sana, hanya sembilan bulan yang berposisi melingkar di langit. Dan bulan itu semuanya berpendar, menjadikan mereka satu-satunya sumber cahaya yang ada dalam dimensi ini. Sebagai dimensi yang berdiri sendiri, tidak ada yang bisa memilikinya selain mereka yang sihir ilusinya sudah berada dalam level di mana mereka bisa menyentuh permukaan [Endless Thought].


Setidaknya, itu adalah apa yang Xavier dengar dari penjelasan Menez saat ia menanyakan di mana mereka berada.


“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan adalah kau ingin mengikuti Xavier karena dia telah ‘membunuh’ El, begitu?” Kanna yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. “Itu agak tidak masuk akal; normalnya, kau marah pada Xavie dan ingin membunuhnya.”


Menez mengedikkan bahunya. “Aku tidak peduli pada New World Order dan tujuan mereka; aku hanya mengikuti El. Karena El membiarkan dirinya dibunuh Xavier, artinya dia ingin aku mengikuti Xavier juga. Terlebih, aku juga berasal dari desa yang sama dengan Xavier dan Monica. Meskipun El seperti memusuhi Xavier, sejatinya El ingin membuat dunia menjadi tempat yang damai sehingga Monica, Xavier, dan anak-anak lain yang selamat dapat hidup dengan baik.”


Xavier menyeringai dalam hati. Kedustaan Menez sangat mulus. Dan dia mengakhiri alasannya dengan kalimat yang sangat tepat. Kanna sudah mengetahui apa yang terjadi pada Desa Carnal, tentu mendengar ucapan Menez akan memberikan beban mental tersendiri. Pasalnya, itu adalah perintah ayahnya. Tidak mungkin Kanna tidak merasakan apa-apa setelah mendengar pengakuan Menez.


“Kau mengenal anak-anak lainnya?” tanya Kanna, wajahnya diselimuti “topeng” tanpa emosi.


“Saat terjadi pembantaian Desa Carnal dulu, El membawa dua anak lagi bersamaku—mereka berdua berada di Elf Kingdom. Sementara itu, aku mengetahui seorang anak yang dibawa Vermyna dan diubahnya menjadi vampire. Xavier membawa Monica pergi ke wilayah kekaisaran. Beberapa anak berada di Etharna bersama keluarga mereka. Ada juga yang berhasil kabur ke Avarecia, Kazarsia Kingdom. Hanya itu yang kutahu.”


“Begitu, ya….” Kanna mengernyit, iris birunya kemudian memandang tajam iris merah Xavier. “Dan kau masih belum menjelaskan, bagaimana ‘membunuhnya’ bisa membuatmu memiliki semua kekuatan El. Itu seperti [Division Magic] di mataku. Aku tidak ingin berpikir kalau semua ini dusta dan sebenarnya kau dan El adalah individu yang sama, kalau selama ini kau menipuku dan yang lainnya.”


“Kau terlalu mengoverestimasi diriku, Kanna.” Xavier berkata sembari mengangkat kedua tangan dan mengedikkan bahu. “Kau sungguh berpikir aku bisa melakukan semua itu? Aku yakin Renhart akan tertawa pada lelucon ini.”


“Kalau begitu, jelaskan.” Kanna menyilangkan kedua tangan di dada, memandang Xavier bak seorang hakim yang hendak mengadili tersangka kriminal berat.


Xavier menghela napas panjang, menenangkan diri untuk berbohong dengan baik—kebohongan yang mencampuradukkan dusta dan kebenaran. “Aku sebelumnya sudah mengatakan kalau aku menyadari alasan dari mengapa terkadang aku merasa kuat dan di lain waktu merasa lemah, kan?”


Kanna mengangguk.


“El benar sudah mati, tetapi itu hanya tubuhnya saja.” Secara teknis, ini bukanlah kebohongan—tubuh Luciel benar-benar mati dan hancur. “Hanya saja, yang tidak kami ketahui, ada yang memaksa membagi dua tubuhku dengan [Division Magic] tingkat tinggi. Tubuh itu kemudian digunakan untuk menampung jiwa El. Hal itu membuat kekuatanku bertambah saat El tidur, dan berlaku sebaliknya saat aku tidur. Aku yakin kau menyadari kalau jiwaku dan jiwa El berbeda, kan?”


Kanna kembali mengangguk. “Jiwa El terasa lebih suci, seolah-olah dia itu malaikat.”


“Setelah berbicara dengan El dan meyakinkannya,” lanjut Xavier, “tubuh itu kembali padaku. Bukan itu saja, El juga menghancurkan jiwanya sendiri dan memberikan semua kekuatannya padaku. Termasuk juga [Reverse Law].” Xavier menjeda sejenak, memandang serius Kanna. “Aku tidak akan mengatakan padamu pembicaraan kami, tidak peduli jika kau memutuskan menjadikanku musuh kekaisaran sekalipun.”


“…Apa El juga ingin mengakhiri hidup ayahku?”


“Aku tidak akan menyangkal hal itu,” kata Xavier sembari berdiri, matanya memandang intens Kanna yang berdiri beberapa langkah darinya yang tadi duduk di atas pasir. “Bagaimana? Apa kau puas dengan penjelasanku? Atau, kau ingin menuntutku untuk menjabarkan pembicaraanku dengan El?”


Kanna menghela napas panjang. “Kau bisa menyimpan pembicaraan itu,” jawabnya pelan. Kemudian matanya berpindah pada Menez yang juga sedang berdiri. “Kau yakin ingin meninggalkan Deus Chaperon?”


Menez mengangguk. “Karena Xavier anggota Imperial Army, aku juga ingin bergabung dengan Imperial Army. Aku dengar Chiron Army adalah batalion terelite kekaisaran; aku tak keberatan bergabung dengan mereka. Ah, aku juga ingin mengembalikan Eleventh Commander yang baru pada kalian.” Menez menjentikkan jari, Emily yang dalam keadaan tertidur muncul begitu saja di samping mereka. “Dia hanya terlelap dalam ilusi,” jelasnya.


Xavier harus mengakui, mengetahui Emily baik-baik saja sedikit melegakan. Untung saja dia tidak berhadapan dengan Alforalis. Jika itu terjadinya, Emily tentu takkan selamat. Alforalis kuat, dia mungkin bisa membuat Gilbert bertekuk lutut. Dia bukan seseorang yang bisa Emily atasi. Lilithia adalah satu-satunya commander, selain dirinya, yang bisa menghancurkan Alforalis.


“Kau tidak membunuhnya,” gumam Kanna, matanya memandang setengah menyelidik.


“Aku berpikir untuk menggunakannya sebagai sandera agar kau menyerah, tetapi kehadiran Vermyna yang tiba-tiba mengubah semuanya.” Menez menjeda sebentar, sebelum kemudian lanjut bertanya dengan ekspresi yang lebih serius. “Bagaimana? Apa kau akan menerimaku ke dalam kekaisaran?”


“Aku akan memutuskannya dalam tiga hari. Sebelum tiga hari itu tiba, kau bisa mengikuti Xavier. Sekarang, bawa kami ke kekaisaran. Kau bisa melakukannya, kan?”


Menez mengangguk. “Aku akan membawa kalian ke Verena,” katanya, dan dalam sekejap mereka sudah berada di depan gerbang kota terselatan kekaisaran. Sensasi perpindahan mereka lebih halus daripada teleportasi tingkat tinggi, Xavier memuji keahlian Menez.


“Kuserahkan Emily padamu, Kanna. Aku akan menemui prajurit Divisi 12 dan membawa mereka ke Verada. Ayo, Menez. Aku tidak tahu apakah Monica masih mengingatmu, tetapi dia akan senang jika masih.”


...»»»»» End of Volume 1 «««««...


...Next, Volume 2: “Favilifna Kingdom and Eternity”...