
...—Kota Heavenly Crystal—...
Hernandez dan Retsu tiba di halaman belakang kediaman Hernadez tepat saat malam telah berlalu seper tiganya. Mereka kembali ke kota ini menggunakan teleportasi yang biasa Hernandez gunakan. Seharusnya mereka bisa tiba lebih awal, tetapi karena menerima ajakan makan malam Diatra membuat keduanya tiba agak malam.
“Apa kau punya tempat menginap?” tanya Hernandez seraya melangkah menuju pintu belakang rumahnya. “Jika tidak punya, aku memiliki beberapa kamar kosong yang bisa kau gunakan untuk bermalam.”
“Eh, bukankah sebelumnya kau tak membiarkanku masuk?” tanya Retsu seraya menyusul Hernandez yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Kenapa tiba-tiba jadi sok baik begini? Oh, apa jangan-jangan kau merencanakan sesuatu, eh, Tuan Hernandez?”
“Jangan mengada-ada,” respons Hernandez cepat. “Aku menawarimu hal itu karena aku sendiri ingin menghabiskan malam di perpustakaan gereja. Aku ingin mencari informasi yang ada di sana tentang pencipta Kapal Vegasus.”
“Ah, kalau begitu aku akan berbaik hati dan menerima tawaranmu.”
...* * *...
Sepasang kelopak mata itu terbuka perlahan, menampilkan sepasang iris hitam bak obsidian kepada setiap pasang mata yang memandang. Sayangnya, tak banyak mata yang menyaksikan. Hanya sepasang iris merah darah berpupil vertikal yang melihatnya dari sisi meja yang lain.
“…Nona Vermyna?”
Hernandez mengerjapkan matanya beberapa kali, mengedarkannya ke segala penjuru ruangan, sebelum kemudian kembali melabuhkan pandangannya pada individu yang duduk tenang membaca sebuah buku bersampul hitam kusam.
“Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta seperti ini di sini?”
Walaupun Hernandez tak bisa melihat ke luar, ia yakin kalau matahari belum terbit. Kemungkinan besar ini masih fajar. Karena itu pula melihat keberadaan sang vampire di perpustakaan gereja ini membuat Hernandez bertanya-tanya.
“Dirimu sendiri, mengapa terlelap di sini?” tanya balik Vermyna tanpa memandang Hernandez.
“Ada informasi yang ingin kuperoleh.”
“Begitu?”
“Jadi, apa yang membuatmu berada di sini?”
“Diriku ingin memberi dirimu pekerjaan,” respons Vermyna seraya menutup buku bersampul hitam kusamnya. “Diriku menginginkan dirimu menyempurnakan baju khusus diriku.”
“Baju khusus?”
Sebuah portal ruang tercipta di kiri Vermyna, dari dalamnya keluar sebuah pakaian yang sama persis dengan yang sang vampire kenakan.
“Kendati baju ini sama persis dengan baju yang diriku kenakan,” kata Vermyna seraya menarik baju tersebut, “tetapi bahan utamanya berbeda. Baju yang diriku gunakan tak memiliki keunggulan apa-apa dan sama sekali tak diperkuat apa pun. Namun, baju ini berbeda. Lihatlah.”
Hernandez menggerakkan tangannya menangkap baju yang Vermyna lempar, memperhatikannya dengan saksama.
Seperti yang Vermyna katakan, baju di tangannya ini bukanlah baju biasa. Kendati teksturnya sangat lembut dan menyamankan kulit, tetapi tingkat ketahanannya hampir mendekati lonsdaleite. Hernandez ragu jika ada senjata yang bisa menghancurkan baju ini selain senjata berbahankan lonsdaleite.
“Baju ini terbuat dari benang sutra hitam dan jaring ratu laba-laba merah, keduanya direndam dalam Air Ethereal selama seminggu sebelum kemudian direndam dalam darah Kraken Lord selama tiga hari. Barulah kemudian kedua bahan itu disatukan dan dipintal.”
Hernandez sudah pernah mendengar tentang kekerasan sutra hitam dan jaring ratu laba-laba merah. Keduanya memiliki kekerasan yang mengagumkan sampai-sampai adamantite paling murni sekalipun akan kesulitan memotongnya. Namun, menggunakan darah Kraken Lord sebagai media rendaman….
“Kau membunuhnya?” tanya Hernandez seraya menghela napas pelan, meletakkan gaun yang belum sempurna itu di meja.
“Tidak, diriku hanya mengambil sebagian lengan dirinya saja. Ketahanan tubuh dan kecepatan regenerasi diri Kraken Lord cukup mengesankan, butuh usaha ekstra untuk menghabisi dirinya.”
Mendengarnya membuat Hernandez bertanya-tanya, apa Vermyna tidak tahu akan keberadaan lonsdaleite di bawah sana?
Pasalnya, jika dia sudah repot-repot ke Palung Nordens, sangat bodoh sekali jika tak menyempatkan mengambil lonsdaleite. Namun, kata “bodoh” sungguh tak bisa diasosiasikan dengan Vermyna. Karenanya, sang vampire kemungkinan besar tidak mengetahui keberadaan lonsdaleite.
“Kapan kau ingin aku menyelesaikannya?” tanya Hernandez seraya sedikit menguap.
“Secepat yang dirimu bisa.”
“Setahun?”
“…”
“Aku akan membawanya padamu dalam tiga hari,” kata Hernandez sembari bangkit berdiri. “Hanya itu saja?”
“Ya, dirimu boleh pergi.”
Hernandez mengangguk pelan dan lekas merapikan meja. Buku-buku yang sudah ia ambil tak lagi ia letak di raknya, melainkan ia bawa bersamanya keluar gereja. Hernandez masih belum menyelesaikan semuanya, sebab itu ia akan membawanya pulang.
Seperti yang sudah ia asumsikan, ia tadi terbangun sebelum mentari terbit, dan hal itu terbukti jelas dari apa yang ia lihat di ufuk timur sana—mentari baru akan menunjukkan pesonanya.
Tak ingin berlama-lama, Hernandez langsung meneleportasikan diri ke halaman belakang rumahnya. Ia langsung menghampiri pintu dengan cepat, berniat membukanya dan lekas masuk.
Namun, saat tangannya sudah berada di gagang pintu, tiba-tiba ia berhenti.
Hernandez melepaskan tangan dari gagang pintu dan mengetuk dengan kuat. “Retsu!” panggilnya dengan volume yang agak keras, berharap wanita itu sudah sadarkan diri dari tidurnya.
Untungnya, harapan Hernandez itu Retsu kabulkan dengan cepat. Pintu terbuka tak sampai semenit setelah Hernandez memanggil. Retsu dalam segala kemajestikannya sudah berdiri di hadapan Hernandez dengan tangan bersandar pada tepi pintu.
“Tuan Hernandez, kau ternyata bangun pagi juga, ya.”
“Aku ingin mempertanyakan bagaimana kau bisa berpikiran aku tak akan bangun pagi, tapi sudahlah. Kau bisa pergi sekarang, kan?”
“Eh, ini masih terlalu pagi. Setidaknya sebagai tuan rumah, layani tamumu dengan sempurna, jangan setengah-setengah. Aku ingin mengatakan itu, tetapi aku tak yakin kau bisa memasak. Mengapa kau tak masuk dan pergi mandi? Aku akan menyiapkan sarapan untukmu sebagai rasa terima kasih karena membiarkanku menginap.”
Hernandez menaikkan sebelah alisnya, tetapi tak berkomentar lebih lanjut. Ia masuk dan lekas bergegas ke kamarnya. Setelah menata buku-buku, Hernandez melaksanakan ritual paginya seperti biasa.
Saat Hernandez keluar dari kamarnya lima belas menit kemudian, Retsu sudah menata semuanya di meja makan berukuran sedang yang selalu senyap itu. Namun, untuk alasan yang Hernandez tak tahu, makanan itu hanya berada di sisi lain dari tempat Retsu duduk saja.
“Dengan bahan yang ada seadanya, aku hanya bisa membuat seadanya saja. Kendati begini, soal rasa kujamin tiada duanya!”
Hernandez ingin mengatakan kalau yang matanya lihat bukanlah hal yang bisa dibilang sederhana, tetapi ia menahan diri dan hanya mengangguk pelan sebelum mendudukkan diri. “Untuk seorang putri dari orang seperti Nueva Vermillion, sangat mengejutkan melihatmu pandai dalam urusan seperti ini,” katanya memuji.
“Itulah jadinya jika kau menilai seseorang secara sepihak saja,” ujar Retsu dengan senyum sedikit arogan. “Ayo, cepatlah makan. Aku ingin mendengar komentarmu.”
“Bagaimana denganmu?”
“Tidak perlu memikirkanku. Aku tidak biasa makan masakanku sendiri. Aku lebih suka makan makanan buatan orang lain.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja!”
“Baiklah kalau begitu.”
Itu tidak menyamankan makan sambil dilihati orang lain, tetapi Hernandez tak bisa menolak setelah Retsu repot-repot menyiapkan sarapan untuknya.
Tanpa perlu mendengar suruhan itu kedua kalinya, Hernandez langsung memasukkan sesendok sup buatan Retsu ke mulutnya, dan—
“Bweeehhhh!”
—Hernandez langsung memuntahkannya begitu saja.
“Wa-Waaaa! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memuntahkannya?!”
Hernandez mengabaikan teriakan marah Retsu dan meneguk gelas berisi air putihnya hingga habis, sebelum kemudian mendelik tajam pada sang wanita. “Kalau kau tak bisa memasak, tidak perlu berlagak seolah kau seorang ahli! Sup ini bahkan lebih buruk dari rasa makanan basi!”
“Ta-Tapi, aku sudah melakukannya dengan benar! Aku sangat yakin penampilan dan rasanya saling melengkapi. Tidak mungkin rasanya buruk.”
“Kau sudah mencicipinya saat memasak?”
“Ah….”
“Eh?! Tidak, tidak, tidak perlu! Aku tak bisa merepotkan Tuan Hernandez lebih dari ini.”
“Kau adalah tamuku, bukan?”
“Tentu saja, ini adalah rumahmu.”
“Kalau begitu, biarkan aku melayanimu dengan sempurna.” Hernandez pun berbalik dan melangkah pergi.
“Jika kau memaksa, apa boleh buat. Baiklah, Tuan Hernandez, layani aku dengan maksimal!”
Seruan itu seketika membuat Hernandez terdiam. Refleks ia melihat ke belakang… hanya untuk disambut senyum penuh kemenangan di bibir Retsu. Saat itu juga Hernandez menyadari, …ia sudah dipermainkan.
“Ada apa, Tuan Hernandez?” tanya Retsu dengan ekspresi polos di wajah—senyum penuh kemenangannya menghilang tanpa jejak.
“…Tidak apa-apa.”
“Baiklah kalau kau bilang begitu, aku jadi bersemangat ingin merasakan masakanmu.”
Hernandez hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya. Karena, jika ia mengatakan kalau ia menyadari apa yang Retsu lakukan, itu sama saja artinya dengan membuatnya terlihat bodoh. Pasalnya, ia sudah terlanjur mengatakan kata-kata tadi dengan ekspresi seperti seseorang yang hendak membereskan kekacauan yang rekannya buat.
Sampai membuatku membuatkannya sarapan tanpa diminta seperti ini…. Retsu Vermillion, dia orang yang menyebalkan.
Hernandez selesai menyiapkan sarapan tak sampai sepuluh menit. Kemudian keduanya makan bersama. Barulah setelahnya Retsu pamit untuk kembali ke kotanya di Emiliel Holy Kingdom. Katanya dia memiliki sedikit urusan dengan ayahnya sebelum bisa kembali melanjutkan tugasnya.
Hernandez hendak mengatakan padanya untuk tak kembali ke sini lagi, tetapi pada akhirnya ia hanya mengangguk dan mengatakan sampai jumpa.
Kala sosok Retsu tak lagi terlihat matanya, Hernandez langsung beranjak ke kamarnya mengambil baju milik Vermyna.
Ia mempelajari baju itu lebih jauh lagi, memastikan apa yang harus ia lakukan untuk membuat sang vampire itu terpuaskan.
...* * *...
Dua jam kemudian, Hernandez berteleportasi ke padang pasir yang luas di belahan barat Pegunungan Amerlesia. Dari sana ia melesat dalam kecepatan tinggi ke selatan, menuju lembah pasir yang berada di antara perbukitan di batas area berpasir di Islan.
Tujuan Hernandez datang ke lembah berpasir ini utamanya untuk memenuhi permintaan Vermyna. Dark Scorpion King; Hernandez harus mendapatkan jantung makhluk itu untuk membuat baju khusus itu menjadi sempurna. Lebih dari itu, tempurungnya dapat menyerap [mana] dan memantulkan spell. Itu akan sangat berguna dalam menciptakan tameng atau zirah yang dapat menyerap dan memantulkan serangan berbasiskan [mana].
Berlandaskan alasan tersebut, Hernandez mendarat di salah satu mulut gua yang ada di lembah itu.
Hernandez memutuskan mendarat di ambang mulut gua itu bukan karena asal tebak atau karena itu adalah mulut gua pertama yang ia lihat, melainkan karena dari semuanya mulut gua itulah yang paling besar.
Magical Beast dari bangsa kalajengking cukup banyak dan terdiri dari berbagai ukuran. Ada yang kecil seujung kuku, ada pula yang besar seukuran gajah. Namun, melampaui semuanya adalah Dark Scorpion King. Ukurannya bahkan hampir menyamai rumah Hernandez sendiri.
Dark Scorpion adalah bangsa kalajengking yang tempurungnya paling keras dan bisanya paling mematikan. Kendati Red Scorpion lebih cepat dan lincah dibandingkan Dark Scorpion, Dark Scorpion jauh lebih kuat dan berbahaya. Terutama raja yang memimpin koloni mereka, Dark Scorpion King.
Tak ingin berlama-lama, Hernandez langsung saja mengeluarkan Kurtalægon-nya, melangkah pelan memasuki pintu gua besar tersebut.
Menemukan Dark Scorpion King, walau tubuhnya besar, adalah suatu hal yang sulit.
Pasalnya, kalajengking besar itu suka tinggal di tempat-tempat yang dalam dan rumit dalam gua. Tak hanya itu, tempat mereka bersembunyi biasanya dipenuhi oleh ratusan sampai ribuan Dark Scorpion. Karenanya, untuk mendapatkan Dark Scorpion King, seseorang harus melewati kawanan Dark Scorpion terlebih dahulu.
Akan tetapi, bagi pengguna [Ice Magic], rintangan itu tidak akan menjadi suatu hal yang sulit.
Berbeda dengan Red Scorpion yang lemah terhadap hawa panas, semua bangsa Dark Scorpion lemah terhadap hawa dingin. Pengguna [Ice Magic] tak perlu repot-repot untuk masuk lebih jauh ke dalam. Mereka hanya perlu menurunkan suhu gua secara signifikan, dan para Dark Scorpion akan keluar dengan sendirinya.
Hal itu pulalah yang Hernandez lakukan. Ia menggunakan [Ice Magic] untuk membekukan lantai dan dinding-dinding gua secara menyeluruh sampai jauh ke dalam sana hingga ke tempat terjauh sekalipun, membuat suhu total ruangan menurun secara signifikan.
Seperti yang ia ekspektasikan, gerombolan Dark Scorpion melesat keluar dari setiap lorong-lorong gua. Namun, karena bukan targetnya, Hernandez menyelimuti dirinya dengan penghalang dan membiarkan para kalajengking keluar begitu saja. Kendatipun tempurung mereka keras dan adaptif terhadap segala atribut sihir selain sihir es, kualitasnya kalah jauh jika dibandingkan dengan Dark Scorpion King.
Masa penantian Hernandez tak berakhir mengecewakan. Belasan menit setelah ia membekukan setiap sisi gua, fibrasi yang kuat seketika mengagetkan seantero gua. Lorong yang berada di arah timur laut bergetar lebih hebat dibandingkan yang lainnya. Tak salah lagi, Hernandez menerkanya sebagai Dark Scorpion King yang berlari marah.
Terkaan Hernandez terbukti benar semenit kemudian. Capit besar berwarna hitam legam menerobos keluar menghancurkan pembatas lorong. Lorong di sisi timur laut yang tadinya terpisah-pisah, kini menyatu membentuk lorong besar.
“Girigirigirii!” teriak sang kalajengking raksasa dengan penuh amarah, kedua capitnya terbuka dan langsung melesat menghantam penghalang yang melindungi Hernandez.
Namun, penghalang Hernandez tetap berdiri tegak, sedikit pun tak goyah atau retak.
Melihat hal itu, Dark Scorpion King mengeluarkan suara marahnya yang menyeramkan. Kemudian dia melesat dan menghantamkan tubuh besarnya pada penghalang yang melindungi Hernandez. Namun, gagal total. Penghalang Hernandez tetap berdiri tegak dengan sempurna.
Dark Scorpion King yang menjadi murka seketika menjauh, kali ini tubuhnya berselimutkan aura hitam.
“Heh, kau ingin menggunakan ekormu, huh? Akan merepotkan jika kubiarkan.”
Dengan itu, Hernandez menghilangkan penghalangnya dan melesat maju dengan katana yang terayun.
Dark Scorpion King tentu saja tak tinggal diam. Melihat Hernandez yang tak lagi terlindungi penghalang, dia langsung mengarahkan kedua capitnya mencoba menghantam sang pandai besi.
Hernandez abai akan kedatangan kedua capit itu. Seketika ia mengaktifkan segel teleportasi untuk muncul di hadapan kepala besar sang kalajengking.
“World Sword Art: Slice of the End,” bisik Hernandez, seketika bilah pedangnya mengayun secara vertikal dari bawah ke atas, membelah kepala Dark Scorpion King menjadi dua bagian, membuatnya mati dalam detik itu juga.
Hernandez lantas memasukkan kembali pedangnya ke dalam lingkaran sihir hitam, sebelum kemudian menciptakan lingkaran sihir yang lebih besar untuk menelan tubuh Dark Scorpion King.
“Ah, aku menghabiskan waktu sedikit lebih lama dari yang kuestimasikan,” gumamnya pelan seraya mempersiapkan lingkaran sihir teleportasi, dan pada saat yang bersamaan ia menghilangkan efek sihir esnya yang menyelimuti gua.
Lantas, dalam beberapa detik kemudian, Hernandez langsung menghilang dari gua itu tanpa jejak.
...* * *...
Begitu tiba di halaman belakang rumahnya, Hernandez mendapati Pope Gramiel sudah menunggunya di sana. Pria tua itu tersenyum ramah saat melihatnya, sebelum kemudian bertanya tentang dari mana dirinya. Hernandez hanya merespons singkat kalau ia dari lembah pasir.
“Ah, apa Nak Hernandez mencari Dark Scorpion King?” tanya sang petinggi gereja dengan ekspresi menerka.
“Dari mana kau tahu, Pope? Apa Nona Vermyna yang memberitahumu?”
“Tidak, aku hanya menerka saja. Pasalnya, jika Nak Hernandez sampai ke sana sendirian, sudah pasti target Nak Hernandez bukan sesuatu yang biasa. Jadi, apa Nak Hernandez sudah mendapatkannya?”
Hernandez mengangguk mengerti. “Ya,” jawabnya, “aku sudah mendapatkannya. Lalu, apa yang membuat kau sampai menungguku di sini, Pope?”
“Ah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku ingin Nak Hernandez menciptakan dua belas tameng yang bisa menyerap dan merefleksikan setiap spell. Emiliel Holy Kingdom telah membentuk sebuah kelompok kesatria, mereka menginginkan kedua belas tameng itu sebagai simbol mereka.”
“Mereka akan ikut beraksi melindungi Islan?”
“Ya, tetapi mereka hanya akan melindungi Islan dari sisi pesisir mereka saja. Lebih dari itu, mereka tidak akan berpartisipasi.”
“Sayang sekali, padahal akan lebih baik bagi semuanya jika mereka ikut membantu.”
Gramiel tersenyum tipis mendengar respons Hernandez. “Seperti yang sudah-sudah,” katanya seraya memandang jauh ke timur, “kali ini pun sama. Islan tidak akan kalah meski tak banyak yang membantu. Danau Deus tak akan ternoda. Kau dan para Guardian lainnya akan memastikan hal itu hingga tetes darah kalian yang terakhir. Dan, sebagai orang yang memilih kalian, aku memercayai semuanya untuk melindungi tanah suci ini.”
“Ha-ha-ha, itu sungguh kepercayaan yang memberatkan. Tapi, yah, aku tak akan membiarkan tempat ini ternoda.”
“Tentu saja Nak Hernandez, tentu saja. Aku memilih kalian semua atas petunjuk Seraph Raphael. Jika Deus Guardian takluk, Danau Deus akan kehilangan artinya.” Gramiel lantas berbalik dan melangkah melewati Hernandez. “Aku tak ingin mengganggumu lebih lama. Nak Hernandez bisa langsung menemuiku jika sudah menyelesaikannya.”
Hernandez hanya mengangguk pelan sebagai respons, memandang sosok pendeta yang menjauh dalam diam.
Kemudian, saat sosok itu tak lagi terlihat, pandangan Hernandez kembali tertuju pada pintu belakang rumahnya.
“12 tameng, huh? Akan merepotkan jika aku harus memakai tempurung Dark Scorpion King, tetapi apa boleh buat. Jika itu yang Pope pinta, itu pula yang harus kulakukan. Namun, sebagai pandai besi, aku harus menyelesaikan permintaan Nona Vermyna terlebih dahulu.”
Menghela napas panjang, Hernandez membuka pintu dan melangkah masuk.
“Minggu ini aku akan sibuk,” gumamnya tatkala pintu itu kembali menutup.