Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 19: Xavier vs Shiva, part 3



Di ruangan luas yang sebelumnya dipenuhi banyak tabung kaca dan benda-benda lainnya yang berhubungan dengan eksperimen, sekarang tidak lagi berisikan apa-apa selain tiga tubuh yang berhadapan. Api hitam telah melenyapkan semua yang ada hingga tak bersisa, sedang tombak-tombak hitam penyerap mana sudah menghilang bersamaan dengan lenyapnya Shiva tangan enam. Hanya kekosongan yang tersisa, itu tentu saja jika tak mengikutsertakan rune yang ramai memenuhi dinding, lantai, dan langit-langit.


Xavier melesat maju dengan kedua pedang api hitam di kedua tangan, kedua matanya fokus pada kedua tubuh boneka Shiva sembari menghentikan mobilitas mereka dengan [Reverse Law].


Kedua tubuh Shiva tak bisa mengelak dari pengaruh [Reverse Law], tetapi Shiva berkepala plontos masih bisa menggunakan sihirnya. Jika sebelumnya sihir magnet menarik diri Xavier, sekarang Shiva kepala plontos berusaha mementalkannya. Namun, tentu saja, usahanya tak berguna di hadapan [Reverse Law].


Kedua pedang api hitam Xavier dengan mulus mengatasi kedua target. Satu pedang api hitam memotong Shiva gemuk secara diagonal, sedang satu sisanya menusuk menembus ulu hati Shiva kepala plontos. Api hitam kemudian ******* habis tubuh Shiva gemuk, tetapi Shiva berkepala plontos tak langsung Xavier lenyapkan.


Bukan karena sekali lagi ingin mencoba menyerap kekuatannya; Xavier tak melakukan hal yang sia-sia tanpa alasan kuat. Xavier tidak langsung melenyapkannya karena ingin memfokuskan [Sensory Magic] untuk mengingat mana Shiva. Barulah kemudian tubuh Shiva kepala plontos ia lenyapkan hingga tak bersisa.


Xavier menunggu diam hampir setengah menit, menanti kalau-kalau Shiva kembali mengirim tubuh bonekanya. Namun, sepertinya itu takkan terjadi. Harusnya dia juga sudah mengerti kalau mengirim boneka menghadapinya hanyalah perbuatan yang sia-sia. Dia hanya membuang-buang tubuh bonekanya.


Ketika satu menit berlalu dan tak ada Shiva boneka yang datang, Xavier mengangguk yakin pada asumsinya. Kemudian ia mengarahkan telapak tangan kanan ke depan, dan sebuah portal dimensi terbuka di hadapannya.


[Space Magic] memang sihir yang sangat berguna.


...* * *...


Di Islan ada padang pasir, di Veria juga ada. Namun, tiada lautan pasir di benua sebelah timurnya Medea ini. Padang pasir yang ada di Veria semuanya normal; tidak ada binatang hidup yang berenang di dalamnya. Pun luas padang pasirnya tak mencapai seper lima dari luas total area berpasir di Islan. Hanya saja, dibandingkan padang pasir di Islan, padang pasir di Veria sedikit lebih panas.


Satu-satunya padang pasir itu terletak di utara Karna Great Empire. Seper enam areanya berada di wilayah Jiangzhou Empire. Dua per enam lainnya mencakup wilayah Nirvala Empire. Dan, tiga per enam sisanya menjadi wilayah Karna Great Empire.


Di padang pasir yang termasuk dalam teritorial Karna Great Empire itu, ada rentetan bukit pasir di sana.


Di salah satu bukit itu, seorang pria berambut hijau gelap duduk dengan satu kaki tertekuk dan satu kaki terselonjor. Penampilannya sama seperti sosok Shiva yang dilihat Artemys dan Dragon Lord Camulus. Hanya saja, pria ini memiliki tato di bawah mata kanannya. Tato itu berbentuk rangkaian huruf rune, dan warnanya hijau. Selain itu, pria ini memiliki lambang bunga teratai di dahi—warnanya sehijau mata dan rambutnya.


Dialah Shiva Rashta yang asli. Dialah yang mengendalikan boneka-boneka yang memakai wujudnya dan wujud orang-orang yang berjasa bagi kekaisaran. Dialah pria yang menyatukan Veria tanpa menginvasi setiap penjuru benua. Ia adalah pria yang dihormati di seluruh penjuru Veria.


Belasan meter dari posisi Shiva duduk, distorsi ruang tercipta. Melangkah keluar darinya adalah Xavier von Hernandez.


Shiva tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi keterkejutan; ia sudah tahu dari jauh-jauh hari kalau hari ini akan terjadi; semua berjalan sesuai apa yang ia inginkan. Ia sudah cukup mengumpulkan energi kehidupan dari Xavier; sekarang waktunya ia mengambil sedikit jiwa sang commander.


“Kupersilakan kau berlutut dan mengatakan, ‘Hamba menghadap, Yang Mulia.’” Berkata Shiva dengan senyum elegan di bibir—tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya, pandangan matanya murni tanpa emosi, datar dalam artian datar yang sebenarnya.


“Ah, kau benar. Aku juga sedikit kesal kau buat berlutut dua kali, walaupun itu terjadi pada boneka yang kukontrol.” Shiva sekali lagi melengkungkan bibirnya, sebelum kemudian melanjutkan, “Namun, aku memiliki hal yang ingin kukatakan padamu. Ini satu-satunya alasan mengapa aku membiarkanmu ke sini.”


“Hmph, tidak masalah. Kuanggap itu sebagai kata-kata terakhirmu. Tetapi itu tak berarti aku peduli.”


“Yang penting kau mendengarnya,” balas Shiva sembari mengganti posisi kakinya, kemudian ia lanjut bicara dengan ekspresi yang kembali datar. “Aku ingin menciptakan dunia yang ideal, dunia yang dipenuhi kedamaian dan kesejahteraan, dunia tanpa peperangan. Aku ingin menciptakan dunia yang sama dengan yang kau ingin ciptakan melalui New World Order yang kau cetuskan.”


“…Jika kau bukan seseorang yang bertanggung jawab atas penculikan is—Artemys, aku mungkin akan memasang ekspresi tertarik.”


Shiva mengabaikan komentar Xavier dan lanjut membuka suara, “Veria yang sebelumnya dipenuhi peperangan setiap tahunnya, sekarang telah bersatu dalam harmoni. Era peperangan di benua ini telah berakhir. Veria telah memasuki era kejayaan, era perdamaian. Veria yang sekarang sama seperti Islan saat Danau Deus masih ada. Konflik yang ada hanyalah konflik internal.


“Berkebalikan dengan Veria, Islan sekarang telah memasuki era terburuk yang pernah ada—melebihi era transisi antara kekuasan Deus Holy Church dan Knight Templar. Kau yang sebelumnya ingin menyatukan Islan dan dunia dengan New World Order, sekarang tidak memiliki pilihan selain berpihak pada Vermillion Empire dengan harapan Kanna el Vermillion akan bisa mengembalikan kedamaian ke seluruh Islan setelah dia menduduki tahta. Namun, pada saat yang bersamaan kau harus bekerja sama dengan orang yang kau benci.”


“…Tak mengherankan kadang aku merasa dikuntit oleh seseorang.”


Sekali lagi Shiva mengabaikan celetukan tak penting Xavier. “Untuk itu, aku menawarimu sebuah pilihan,” katanya melanjutkan. “Seseorang yang mengerti betapa busuknya dunia ini sangat diperlukan dalam mewujudkan ambisi ini. New World Order-mu telah gagal. Vermillion Empire akan mendatangkan kehancuran sebelum bisa mewujudkan kedamaian, dan tidak ada kepastian harapanmu terwujud. Bergabunglah denganku, bersama kita ciptakan dunia yang setara—dunia yang memenuhi definisi surga.”


“Tujuan yang mulia, aku bisa mengomentarimu begitu. Namun, kau tak terlihat seperti ingin mempersuasiku—dan tentu saja aku takkan memedulikannya meskipun kau mencoba.”


“Aku memang tidak mencoba mempersuasimu.” Shiva mengakui. “Aku memiliki sedikit respek padamu; pemikiran kita tidak jauh berbeda. Namun, tampaknya kau tak tertarik menerima tawaranku?”


“Mungkin aku akan tertarik jika kau mendatangiku tanpa menculik Artemys,” jelas Xavier dengan dua pedang api hitam telah bermanifestasi di kedua tangannya.


Shiva memejamkan matanya. “Sayang sekali,” gumamnya pelan. “Kukira kita bisa berteman baik dan bertarung bersama menghadapi Fie Axellibra dan Vermyna Hellvarossa, tetapi apa boleh buat.”


Mata Shiva kemudian membuka, dan kedua kakinya berdiri tegak sembari mulutnya membuka: “Belief. Thought. Speech. Action. Life. Effort. Mindfulness. Control.” Shiva merapatkan kedua tangan—enam jarinya terlipat dengan pangkal tangan menyatu, sedang empat jari lagi saling menempel. Delapan lingkaran sihir khas Summoning Magic muncul di kedua sisi Shiva—empat di kanan dan empat di kiri. “Divine Art: Eight Pillars of Nirvana.”


...#####...


*Terima kasih untuk setiap dukungan yang diberikan, terutama pembaca yang juga hadir di kar-ya-kar-sa.