Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 28: Sheer Stupidity, part 1



...—20th January, E643 | Perkemahan Knight Templar, 20 km di utara Ekralina Kingdom—...


JUMLAH tenda yang berdiri jauh lebih banyak dari jumlah kaktus di tanah tandus. Semua tenda-tenda disusun sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan membentuk formasi setengah lingkaran yang cembung ke selatan. Sementara itu, empat tenda yang paling besar dari semua tenda yang ada berada di sisi terutara—keempatnya berdiri bersebelahan dengan jarak antara satu sama lain sekitar 30 meter.


Ordo 7, Ordo 8, Ordo 10, dan Ordo 12. Begitu tertulis di plat yang tergantung di atas pintu keempat tenda besar tersebut. Ada pula catatan khusus di bawah tulisan itu: 45.000 prajurit ada di bawah “Ordo 7”; 65.000 prajurit ada di bawah “Ordo 8”; 60.000 prajurit ada di bawah “Ordo 10”; dan 50.000 prajurit ada di bawah “Ordo 12”. Secara keseluruhan, ada total 220 ribu prajurit.


Keempat tenda besar itu tempat beristirahat dan bekerjanya keempat Saints yang memimpin para prajurit. Tenda Ordo 7 milik Ninth Saint Dimitar Kolovasteen. Tenda Ordo 8 ditempati Tenth Saint Marya Ellenswarth. Tenda Ordo 10 dihuni Eleventh Saint Rodolf Vlasenki. Terakhir, Twelfth Saint Alfonso Alsabnitz menempati tenda Ordo 12.


Namun begitu, meski keempat Saint tersebut memiliki tenda mereka masing-masing, saat ini keempatnya tengah berkumpul di dalam tenda Ordo 10.


Mereka duduk mengitari meja persegi berukuran besar. Keempatnya tentu saja bukan berkumpul untuk bergosip sebagaimana ibu-ibu dalam perkumpulan mereka; Alfonso dan ketiga koleganya sedang membicarakan masalah serius. Lebih tepatnya, Alfonso sedang berusaha keras menolak usulan untuk menundukkan Carolina dari dalam.


“Kalian benar-benar keras kepala!” hardik Alfonso untuk kesekian kalinya. “Kota itu berhantu. Aku dan anak buahku sudah lelah diterornya. Kalau kalian bersikeras menundukkan Carolina dari dalam, aku menolak bergabung. Aku bakal mendeklarasikan Mortana sebagai pengkhianat dan menyerang secara terbuka. Mereka telah menolak memenuhi ucapan si idiot Rossia, dan sekarang mereka telah memelihara undead di dalam kota. Itu tak bisa dibiarkan!”


“Alfonso…jika benar di sana ada hantu, bukankah seharusnya kau memusnahkannya?” tanya pria berusia tiga puluhan berjanggut lebat—Rodolf Vlasenki—dengan alis yang bertaut. “Bukankah itu termasuk tugas Knight Templar, terutama seorang Saint?”


“Haaa….” Alfonso menunjukkan raut lelahnya. Pria berambut coklat pendek ini bahkan sampai menggeleng tak percaya. “Kau sungguh tak tahu apa-apa, Rodolf, aku kasihan padamu. Aku juga kasihan pada kalian berdiri. Hantu itu bukan hantu sembarangan. Dia tak bisa kalian lihat. Tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk menyerangnya. Dia begitu menakutkan. Terornya tak ada tandingan. Dia hantu yang sudah melebihi definisi hantu. Makhluk itu terla—”


“Kesimpulannya, kau takut hantu?” tanya Dimitar memotong monolog Alfonso tanpa permisi.


Alfonso yang ucapannya dipotong seketika syok, mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan kata bantahan.


“Bwahahaha!’ Marya tertawa terpingkal-pingkal sampai menggebrak-gebrak meja ‒ dia sama sekali tak memiliki kewibawaan sebagai wanita. “Pantas saja Rossia selalu menjahilimu, Alfonso, kau benar-benar idiot. Bagaimana bisa seorang Saint takut hantu? Mwahahaha.”


“Aku tak ingin mendengar tuduhan idiot dari wanita idiot sepertimu, Marya!” bentak Alfonso penuh kesal, dia sudah kembali dari efek serangan mental yang dilesatkan Dimitar. “Dan aku sama sekali tidak takut hantu. Bahkan jika tuduhan itu benar di dunia lain, itu masih lebih mending daripada punya istri dalam mimpi. Itu kebodohan, itu kegilaan yang tak ada obat!”


“Oi, oi, Alfonso! Aku maklum kalau kau sebenarnya penakut dan hanya berbadan besar saja, tidak perlu mengelak sampai balas mengejek orang lain.” Dimitar berkata dengan tenang sembari menyilangkan kedua lengan di dada. “Lagipula, istriku benar-benar ada dalam mimpi. Tadi malam saja kami baru membahas tentang nama-nama yang cocok untuk anak-anak kami kelak. Jomblo sepertimu mana mungkin mengerti.”


“Alfonso, tidak apa-apa untuk mengakui kalau kau takut hantu. Setiap orang punya hal yang mereka takutkan.” Berkata Rodolf dengan bijaksananya. “Kau juga, Dimitar, tidak apa-apa mengklaim kau punya istri di dalam mimpi. Tapi, belajarlah untuk mendekati wanita di dunia nyata. Bahkan jika kau punya seratu istri dalam mimpi, di dunia nyata kau tetaplah pria jomblo yang suka berkeringat dingin saat berduaan dengan wanita. Dan kau, Marya…bisakah kau berhenti tertawa?”


“Haaa….” Rodolf menggelengkan kepala pelan penuh kecewa. “Kalian ini seorang Saint, bertindak dan bersikaplah layaknya seorang Saint. Contohlah aku ini. Aku tenang, bijaksana, dermawan, dikagumi para prajuirt, dicintai para wanita. Sungguh, aku ini model yang tepat yang harus kalian contoh. Tirulah aku, dan kalian akan menjadi Saint sejati.” Rodolf memamerkan senyum elegannya. “Nah, sekarang mari kita kembali ke topik: Menu malam ini aku ingin kari rusa hitam. Akan lebih enak jika ada un—”


“Kita sedang bicara tentang penundukan Ekralina Kingdom, pikun bangsat!” teriak Alfonso emosi, gelas berisi airnya sudah bersarang ke muka Rodolf.


Saking kerasnya lemparan Alfonso, sang Eleventh Saint sampai terjungkal ke belakang. Dia pingsan; lemparan itu begitu keras sampai meninggalkan bekas.


Alfonso menenangkan napasnya yang memburu dan kembali duduk dengan tenang; ia lelah.


“Ah, aku baru saja memikirkan lelucon yang sempurna!” seru Marya tiba-tiba sembari berdiri dari kursinya. “Lelucon ini begitu lucu sampai aku tak sanggup menahan tawa saat memikirkannya. Jadi, begini, jika dalam sebuah kotak ada e‒bwahahahaha!”


“Oi, Marya, berhenti tertawa bodoh begitu! Aku lagi berdiskusi dengan istriku tentang ucapan Rodolf tadi.”


“Aku menyerah….” Alfonso pasrah. “Berurusan dengan si idiot Rossia lebih mudah daripada dengan kalian,” katanya sembari berdiri, berbalik arah, dan melangkah pergi. “Tidak ada harapan di sini.”


Alfonso berhenti tepat di ambang pintu tenda, wajahnya ia toleh ke belakang. “Dimitar,” panggilnya. “Istrimu berada di dalam mimpi, bagaimana bisa kau bicara dengannya saat terjaga? Dan kau, Marya, jangan tertawa sebelum selesai bicara. Kalian ini...haaaa...berjuanglah. Sebagai satu-satunya orang normal di sini, aku akan meringankan tugas kalian dan memberi ultimatum langsung pada Mortana.”


Alfonso langsung melangkah keluar tanpa menunggu respons keduanya.


Ia baru kembali dari Carolina tadi pagi dan memanggil mereka semua untuk membuat keputusan. Tetapi pada akhirnya Alfonso mengerti mengapa ia dipilih untuk bergabung dengan mereka. Ia adalah manusia normal; hanya dirinya yang akan bisa memahami betapa merepotkannya semua Saint. Ia terpilih karena memang ia bukan idiot seperti yang si idiot Rossia tuduhkan.


1127 ditambah 3239 sama dengan 4368. Ketika seseorang berjalan ke kiri, sejatinya dia juga berjalan ke kanan. Panas itu hanyalah kata untuk menjelaskan ketiadaan dingin. Matahari sejatinya hanyalah bola plasma yang dibakar. Malam itu bisa ada karena siang butuh beristirahat. Alfonso tahu semua itu. Karenanya, ia sama sekali bukan idiot. Ia manusia normal. Ia manusia pilihan di sini.


“Pope Genea memang tak punya pilihan lain selain mengandalkanku,” gumam Alfonso serius, dan ia sama sekali tidak takut hantu seperti yang dituduhkan ‒ Alfonso hanya tidak berani berurusan dengan mereka.