
...—Carolina, Ekralina Kingdom—...
Mortana mondar-mandir sembari menggigit jari di balkon atas istana kerajaan—kerisauan sedikit demi sedikit mulai mencengkeram jiwa keyakinannya, terlebih belum tampak uluran tangan dewa yang telah mendatanginya dalam mimpi.
Di bawah sana, para prajurit dan sukarelawan telah bersiap di dalam dan di luar dinding kota ‒ pertahanan tiga lapis telah mereka buat. Dua kota lainnya juga sama: penduduk mereka telah mengungsi, menyisakan para prajurit dan sukarelawan yang membentuk pertahanan tiga lapis. Total pasukan di ketiga kota berbeda jumlah. Di Carolina sendiri, total ada sembilan prajurit dan tiga ribu sukarelawan.
Mortana tidak sendiri di balkon atas. Pengawalnya dengan setia menemani.Mortana tidak memercayai siapa pun melebihi pengawal setianya ini. Bahkan saat ia khawatir seperti ini, sang pengawal juga turut khawatir. Mortana percaya, sebelum seseorang sukses melempar tombak mengincar jantungnya, Foratta akan terlebih dahulu berdiri di depannya sebagai tameng.
“Yang Mulia, mereka sudah terlihat…dan jumlah mereka….”
Mortana langsung mengalihkan pandangannya ke horizon utara. Bintik-bintik hitam bagaikan semut yang bergerombolan tertangkap indra penglihatan Mortana. Ia sudah menyerukan pada para prajurit dan sukarelawan kalau pertolongan dewa akan datang,tetapi para prajurit pemanah yang berdiri di atas dinding kota mulai terlihat panik. Keyakinan mereka memudar seiring bertambah dekatnya Knight Templar.
“Ki-Kita tidak boleh gentar!” Mortana menyeru, suaranya cukup keras untuk didengar para prajurit yang dibawah. “Perintahkan semua prajurit untuk masuk! Mereka akan mati sia-sia jika diluar. Tingkatkan jumlah pemanah, bila perlu semua pasukan yang diluar tugaskan untuk memanah! Siapkan semua busur dan anak panah, kosongkan gudang kalau perlu. Perintahkan mereka untuk langsung menembakkan anak panah begitu para musuh telah masuk ke dalam jangkauan!”
Ia seharusnya memakai strategi itu sejak awal. Mungkin mereka bisa membuat persiapan lebih jika itu dilakukan. Namun, menyesalkan sekarang pun percuma. Kemampuan beradaptasi di tengah pertarungan sudah dijejalkan kepada para prajurit saat pelatihan. Mortana yakin mereka bisa. Tidak, bukan yakin, tapi mereka memang harus bisa. Sampai pertolongan dewa tiba, keselamatan kota bergantung pada kesuksesan strategi mereka.
“Ya-Yang Mulia, itu ada yang meneriakkan kalau dari selatan juga telah terlihat gerombolan pasukan! Tidak lebih banyak dari yang di utara, tetapa jelas mereka lebih banyak dari kita.”
Seruan panik Foratta seketika menambah ketegangan hati Mortana. “Apa mereka Knight Templar juga, atau Imperial Army? Jika itu Imperial Army, apa mereka datang memberi kita bantuan? Mungkinkah itu Favilifna Kingdom yang meminta bantuan mereka?”
“Kita tidak tahu, Yang Mulia. Dua-duanya mungkin saja. Mungkin pula mereka ingin merebut kerajaan seperti halnya pasukan Knight Templar itu. Apa perlu kuidentifikasi?”
“Tidak, jangan kau yang pergi.” Mortana dengan cepat melarang pengawalnya ‒ ia tak bisa mengambil risiko sendiri tanpa penjagaan di sini. “Suruh saja prajurit lain. Selain lebih banyak jumlahnya, pasukan Knight Templar itu sudah lebih dekat. Mereka sudah sangat jelas terlihat. Suruh para pemanah agar tetap fokus pada mereka.”
Di titik ini, Mortana sama sekali tak punya pilihan selain fokus pada salah satu sisi kota dan berharap agar sisi satunya adalah kiriman sang dewa.
...* * *...
“Pengguna sihir tanah, bentuk barisan di sisi terdepan!” perintah Alfonso dengan volume keras.
Karena kerasnya derap kaki 80 ribu prajurit, suara besar Alfonso tidak sampai jauh ke depan. Hanya belasan barisan di belakang yang mendengar titahnya. Namun, hal itu tak menjadi masalah. Para prajurit yang mendengar titah itu langsung mengeraskan suara mereka untuk didengar rekan-rekan seperjuangan. Dalam waktu singkat, seperti yang bisa diharapkan dari prajurit super disiplin seperti mereka, barisan baru yang memanjang mengikuti dinding kota sudah terbentuk.
Ketika anak panah pertama yang berbalutkan api ditembakkan oleh para prajurit pelindung kota, pasukan Knight Templar yang berada di baris terdepan telah menciptakan dinding tanah tebal dan tinggi melengkung ke belakang sebagai tameng. Dalam sekejap ratusan anak panah—yang dengan cepat menjadi ribuan—telah menancap di dinding-dinding tanah yang mereka buat.
“Selain pengguna sihir tanah, menyebar dan serang!” teriak Alfonso lagi. “Fokuskan untuk menerobos melalui gerbang. Lepaskan juga spell-spell kalian untuk mengatasi prajurit pemanah yang mengganggu itu. Jangan beri ampun! Kalian adalah prajurit suci, mereka adalah pemberontak yang telah menghinakan Emiliel Holy Kingdom. Tunjukkan pada mereka apa jadinya jika mereka berpihak pada kejahatan!”
Para prajurit bergerak cepat. Mereka menunjukkan diri memang pantas menjadi bagian dari Knight Templar. Para prajurit benar-benar menunjukkan keseganan dunia militer Islan akan kekuatan mereka. Sejarah telah menunjukkan keperkasaan Knight Templar dalam pengusiran para Beastman, dan sejarah akan terulang sekali lagi. Islan akan segera mengenal penguasa absolutnya.
Setidaknya, itulah yang Alfonso yakini saat melihat korban jatuh pertama dari kalangan musuh ‒ dia tewas oleh tombak yang menembus tenggorokannya.
...* * *...
Bahkan jika Alforalis menuntut para prajurit untuk menggandakan kecepatan, mereka tetap takkan tiba di tempat tujuan saat matahari tenggelam. Jarak mereka dan Ekralina Kingdom cukup jauh. Jika mereka membawa kecepatan ke level maksimum, paling cepat mereka baru bisa tiba besok malam. Sayangnya Alforalis tak punya rencana untuk menuntut para prajurit melaju dalam kecepatan tertinggi.Tidak ada manfaat untuk mereka melaju dengan kecepatan penuh.
Jika Alforalis dan pasukannya mempertahankan kecepatan ini dan meminimalisasikan waktu istirahat, paling cepat mereka akan tiba di Ekralina dalam empat hari. Tepatnya mereka akan tiba pada petang hari keempat.Pada saat itu, pasukan yang Minner pimpin kemungkinan besar sudah memasuki wilayah Dwarf Kingdom—mungkin pula mereka sudah memulai penyerangan pada negeri ras bertubuh pendek itu.
Alforalis tidak tahu strategi apa yang akan digunakan Imperial Army untuk menghadapi Knight Templar. Namun, jika jumlah mereka kalah secara signifikan, Imperial Army tak punya pilihan selain memperlama pertempuran. Itu akan bisa dilakukan jika mereka bisa menduduki Carolina terlebih dahulu, tetapi jika tidak…. Imperial Army harus memosisikan prajurit-prajurit terkuat mereka di garda depan.
Jika perbedaan jumlah tak terlalu signifikan, pertempuran akan menjadi singkat. Itu akan sangat bagus untuk Alforalis dan pasukannya. Mereka bisa melakukan pembersihan jika itu terjadi. Akan sulit bagi Knight Templar untuk mengirim pasukan tambahan lantaran Dwarf Kingdom akan diserang, tetapi Imperial Army leluasa bisa menambah pasukan. Knight Templar akan berakhir dengan kekalahan. Kemudian, mereka bisa bergerak ke utara untuk semakin menjatuhkan Emiliel Holy Kingdom.
Setidaknya, itu adalah pemikiran simpel yang bisa digunakan untuk menggambarkan arah pertempuran. Namun, Alforalis tahu betul itu takkan mudah. Apalagi jumlah pasukan Knight Templar yang dikerahkan ada 200 ribu. Jumlah sebanyak itu tak bisa diatasi hanya dengan pemikiran simpel. Terlebih lagi, ada empat Saint yang dikerahkan memimpin pasukan. Pertempuran itu takkan singkat.