Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 11: Unholy Holy Queen, part 2



...—Bekas Danau Denus, Lembah Terlarang Ed—...


Cekungan berwarna hitam berdiameter empat kilometer yang titik terdalamnya hanya dua ratus meter itu tidak lagi kosong melompong.


Sebuah kastil yang terbuat dari es dan campuran kristal abu-abu sudah berdiri tanpa rival di tengah-tengah cekungan. Itu kastil yang cukup luas. Jarak dari satu sisi kastil ke sisi yang lain mencapai seratus meter, sedang menara tertingginya—yang berdiri di tengah-tengah bangunan—memiliki tinggi yang lebih dari itu. Menara itu sampai menerobos melewati garis permukaan cekungan, saking tingginya.


Tentu saja kastil es bercampur kristal itu tidak berada di sana sejak awal. Pun itu tidak tercipta dengan sendirinya. Neix menciptakannya sendiri berbasiskan imajinasinya. Lembah Terlarang Ed nantinya akan menjadi medan pertempuran; Neix membutuhkan markas untuknya bertahta. Kastil hasil kreasinya sendiri adalah solusi yang sempurna sebagai markas—itu juga sekaligus berfungsi sebagai pengklaiman atas lahan yang tak lagi berpenghuni ini.


Neix yang sekarang duduk di singgasan di atas atap menara tertinggi akan menjadikan wilayah ini sebagai negerinya. Ini adalah tanah spesial,tanah yang dulu diberkahi dewa. Dan sebagai dewa, ia sangatlah pantas untuk mengklaim tanah ini dan memberinya keberkahan. Namun, sebelum ia memikirkan lebih jauh tentang masa depan, pertama sekali ia harus mengatasi apa yang di depannya.


“Dengan keberadaan Knight Templar, aku tidak perlu mengorbankan anggota Eternity untuk membuka gerbang neraka.”


Tepat setelah kata-kata itu menyelip keluar dari mulut Neix, Crow muncul di hadapannya dalam kilatan merah kehitaman.


Vampire bertopeng itu terlihat seperti akan menyerangnya, tak ragu kalau dia ingin dirinya untuk menggerakkan tangan melindungi diri. Namun, Neix tidak menghiraukan; ia tidak merasakan niat menyerang darinya. Lebih dari itu, Crow bukan lagi tandingannya. Tak ada yang bisa Crow lakukan untuk mengalahkannya.


“…Kau terlihat lebih superior dari sebelumnya, Tuan Neix.”


“Begitulah,” kata Neix tanpa mengubah posisi duduknya. “Di mana yang lain? Aku meminta Hebranest untuk menyuruhmu dan yang lainnya datang.”


“Mereka akan tiba dalam satu atau dua jam; aku mendahului mereka.” Crow menjeda beberapa saat, sebelum melanjutkan, “Hebranest mengatakan Tuan Neix menugaskan Zegyus untuk melakukan sesuatu?”


“Itu benar. Jika Zegyus tak kembali besok pagi, artinya dia gagal. Dan jika sampai siang dia juga belum kembali, artinya dia tidak dapat menghindar. Ada peluang besar dia akan dibunuh, tetapi kuharap kita dapat menyelamatkannya jika situasi sampai mengerah ke sana.”


“Begitu? Baiklah, aku mengerti. Lantas, bagaimana kita menghadapi Knight Templar? Dari informasi terbaru, mereka sepertinya akan berangkat ke sini besok pagi-pagi sekali. Apa Tuan ingin kita mencegatnya secara diam-diam, atau membiarkan mereka sampai ke sini? Oh, mereka juga telah menyiapkan belasan meriam sihir.”


Dasar para dwarf, decih Neix dalam hati.


Jangan salah, Neix sama sekali tidak membanci dwarf. Hanya saja, artefak sihir buatan mereka sangat mengesalkan. Tentu saja itu akan beda cerita jika mereka bersekutu. Namun, Dwarf Kingdom adalah sekutu Emiliel Holy Kingdom ‒ mereka berpihak pada Knight Templar. Maka dari itu, keberadaan dwarf dan teknologi mereka adalah sesuatu yang mengesalkan.


Namun begitu—


“Kalau begitu kita hanya harus menghancurkan senjata mereka sebelum mereka sempat menggunakannya.”


—Itu hanya gangguan kecil bagi Neix. Meskipun meriam sihir akan menyulitkan anggota Eternity dalam menghadapi Knight Templar, Neix bisa mengatasi semua serangan itu dengan mudah. Ia yang sekarang bisa menyerap semua olahan mana yang diarahkan padanya. Diri Neix tidak terkalahkan. Ia memegang supremasi atas segala makhluk fana.


“Itu akan bagus jika kau membunuhnya. Namun, jika kau menyadari kau akan kalah, segeralah mundur. Aku tidak ingin kehilangan temanku satu-satunya.”


“…Teman?”


“Eh, apa aku salah? Kau tidak menganggapku sebagai temanmu, Crow, meskipun kita sama-sama subjek eksperimennya Vermyna?”


Neix sama sekali tidak naif. Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang bisa ia percayai. Bahkan saudarinya memilih meninggalkannya untuk mengejar tujuannya sendiri. Pada akhirnya, setiap orang akan fokus pada tujuan mereka masing-masing. Pun begitu dengan Crow. Betapapun dia menunjukkan kesetiannya, Neix memiliki kewaspadaan akan motif tersembunyi. Barangkali, jika ada yang bisa ia percayai, itu hanyalah Zegyus. Pasalnya, tidak ada yang lebih mengenal Zegyus di dunia ini selain dirinya.


“…Tentu saja, Tuan Neix. Kalau begitu aku permisi. Aku akan kembali segera setelah tugasku selesai.”


Namun demikian, saat ini semuanya sudah tiada lagi berarti. Bahkan jika seluruh anggota Eternity membelot, Neix tidak akan kesal, malahan ia akan terhibur. Setelah semuanya, ia adalah yang terkuat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya.


“Tentu saja. Aku selalu bisa mengandalkanmu, Crow.”


...—Royal Palace, Etharna—...


“… Dan, well, sekarang kita di sini.” Elmira mengakhiri penjelasannya. “Besok kemungkinan besar Knight Templar dan Eternity akan berbaku hantam. Neix menyuruh Hebranest membawa sebagian besar pasukanku untuk membantu Eternity, tetapi Hebranest loyal pada ibuku. Dia memang akan membawa pasukan keluar kota, tetapi tujuan mereka adalah berpatroli ke batas-batas negeri.”


“Kesimpulannya,” ucap Xavier beberapa detik setelah itu, “semuanya sudah berada dalam kendalimu: negeri ini sudah bersih dari kontrol Eternity. Masalah selanjutnya adalah menunggu hasil pertempuran itu. Jika Knight Templar kalah, masalah kita adalah Neix dan sisa-sisa Eternity. Sebaliknya, jika Eternity kalah, kita harus mengantisipasi serangan Knight Templar.”


Elmira mengangguk sembari mengatupkan kedua telapak tangannya dengan ceria. “Benar sekali, Xavier,” katanya. “Apa pun hasil pertempuran itu, kedamaian Favilifna Kingdom akan terancam. Prajurit Favilifna terlalu lemah untuk meladeni Knight Templar, kecuali jumlah kami beberapa kali lipat lebih banyak dari mereka.”


“Dari perkataanmu itu, kau tampak yakin Eternity akan kalah.” Lilithia berkata dengan suara datarnya. “Selain Hebranest, apa ada anggota inti lain yang tidak sepenuhnya setia pada Neix?”


“Itu benar, Commander Lilithia. Ada dua anggota lain yang setia padaku. Kekuatan tempur Eternity yang jelas akan berkurang hampir setengahnya. Karenanya, paling tidak enam puluh persen Eternity akan dikalahkan. Dan aku sepenuhnya yakin yang akan kita hadapi adalah Knight Templar.”


“Baiklah. Kami akan mengatasi Knight Templar atau siapa pun itu.” Lilithia berdiri tanpa menanti respons Elmira. “Ayo, Xavier, kita kembali. Kita sudah cukup membuang-buang waktu.”


“Kami akan melihatmu lagi besok, Queen Elmira.”


“Tentu saja,” ucap Elmira dengan bibir melengkung, “aku sangat menantikan bertemu denganmu lagi. Dan kuharap malam ini kalian bisa beristirahat dengan tenang.”


Senyum itu bertahan di bibir Elmira selama beberapa saat, dan baru menghilang saat punggung Xavier tak lagi terlihat. “Monyet tak berbulu itu, dia lebih mengesalkan daripada Nizivia.” Amarah yang mendalam berkilat-kilat di manik indah Elmira. “Untungnya Nizivia sudah mati, dan kuharap dia mati juga tak lama lagi.”