
Sataniciela tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan kesadarannya terpaku pada apa yang tertangkap indra penglihatannya. Tidak saja manusia rendahan itu bisa menghilangkan rentetan serangannya, dia juga bisa memunculkan kembali serangan itu untuk menyerangnya balik. Luciel sialan, manusia rendahan, [Reverse Law] menjijikkan! Sataniciela hanya bisa menyerapah dalam kepala.
Menghela napas (tentu saja itu juga dia lakukan dalam kepala), Sataniciela mengembalikan perhatian pada tubuhnya yang seperti berada dalam penjara waktu. Ia tidak tahu berapa lama efek [Reverse Law] sialan ini akan enyah dari tubuhnya. Yang jelas, jika ia biarkan semua serangan itu mendarat di tubuhnya, tubuh yang superior ini akan kelelahan. Jika mananya terkuras habis untuk regenerasi secara terus menerus, nyawanya akan berada di ujung pedang api bercampurkan petir makhluk hina itu.
Namun begitu, tak ada yang bisa ia lakukan selain memercayai tubuhnya; Sataniciela hanya bisa melihat sembari menggeram dalam kepala saat tombak-tombak hitam menghujam tajam ke arahnya.
Jika begini te—
Kesadaran Sataniciela terdiam saat sebuah keberadaan muncul tepat di belakangnya. Bersamaan dengan itu, waktu di sekitarnya melambat seribu kali—dan terus melambat lagi. Hal itu ditandai oleh tak sampai-sampainya serangan yang makhluk hina itu layangkan.
Hawa keberadaan yang muncul di belakangnya ini masih tidak sebanding dengan hawa keberadaan iblis-malaikat yang tadi ia rasa, tetapi jelas lebih superior dari Lucifer. Sataniciela tidak tahu siapa dia. Namun, untuk suatu alasan yang tak bisa ia jelaskan, ia sama sekali tidak merasa kalau dia seseorang yang asing.
“Diriku tidak tahu apa yang digunakan Neix untuk memperkuat dirinya, tetapi apa pun itu sudah membuat tubuh ini melemah.”
Tubuh ini melemah? Apa maksudnya? Siapa orang ini, bagaimana ia bisa bicara seolah sangat mengetahui tubuh ini? Apa dia mau memban—
“Yah, terserahlah.”
—Kesadaran Sataniciela menegang. Sebuah tangan telah menusuk punggunya sampai tembus ke depan dada.
“Diriku berterima kasih pada dirimu karena telah merawat tubuh diriku dengan baik, Satanciela. Sebagai rasa terima kasih diriku, jiwa dirimu tidak akan diriku lenyapkan. Diriku akan memberi dirimu tubuh yang baru. Untuk sekarang, terlelaplah. Dirimu akan kembali dalam beberapa menit.”
Tanpa bisa menggumamkan satu patah kata pun dalam kepalanya, kesadaran Sataniciela terjerembab dalam kegelapan yang tak berdasar.
...———...
Xavier menyadari ada yang tidak beres saat matanya melihat segala sesuatu melambat secara signifikan. Hal pertama yang melintas di kepala Xavier adalah waktu diperlambat. Namun, jika waktu diperlambat, persepsinya juga akan otomatis melambat. Akan tetapi, persepsi Xavier sama sekali tak melambat. Dan saat ia mencoba menggunakan [Reverse Law], situasi tak berubah. Saat itu pula Xavier langsung mengerti.
Vermyna…. Xavier membatin, dan bersamaan dengan itu semua spell dan senjata-senjata yang ia munculkan dengan spell Appear menghilang secara bersama-sama ke dalam portal dimensi yang begitu banyak jumlahnya. Barulah kemudian waktu kembali normal.
“…Mengapa Luciel tidak ada lagi di dalam diri—ah, begitu rupanya, kekuatan yang cukup menarik. Pun begitu dengan jiwamu. Tapi ini tak mengherankan; kau adalah bidak makhluk menjijikkan itu.”
Xavier refleks membalikkan badan, dan seketika ia berhadapan dengan Sataniciela yang sudah berbeda. Pakaiannya adalah pakaian Vermyna; iris abu-abunya lenyap, bergantikan warna merah darah dengan pupil hitam vertikal. Tanduk yang tadi menghiasi kepalanya juga sudah menghilang. Pun hawa iblisnya sirna tak berjejak. Dan, yang paling kentara, kekuatan yang makhluk di hadapannya pancarkan begitu besar hingga Xavier secara tak sadar mundur selangkah.
“…Kau mencuri tubuh Sataniciela,” ucap Xavier dengan kening mengernyit, pelipisnya dipenuhi keringat dingin. “Kau mencuri tubuh itu,” ulangnya, tidak memiliki kata-kata lain untuk diucap, bahkan ia mengabaikan pernyataan Vermyna.
“Tidak, ini sejak awal memanglah tubuh diriku.” Vermyna—dalam tubuh Sataniciela—yang tadinya berdiri sudah duduk di singgasa yang muncul begitu saja dari portal dimensi. “Ini diriku yang sebenarnya, Vermyna Hellvarossa. Ini cerita lama, dirimu ingin mendengar?”
Jika ia bertarung dengannya di sini, seratus persen ia akan kalah. Ia bisa menyerap jiwa Vermyna dengan [Magic Container]. Namun, itu tak mungkin ia lakukan; ia akan mati duluan sebelum bisa menyerap jiwa makhluk ini. Satu-satunya solusi adalah bagi Kanna untuk menahan pergerakan Vermyna sehingga ia bisa menyerap jiwanya dengan aman.
“Diriku telah hidup jauh sebelum iblis diciptakan.” Vermyna bercerita meski tanpa respons Xavier. “Namun, Edenia tidak menghendaki keberadaan diriku. Dirinya seenak hati memisahkan tubuh dan jiwa diriku. Kata dirinya dia akan menciptakan iblis berbasiskan tubuh diriku, sedang jiwa diriku dia bagi menjadi dua bagian: kau mengenalnya sebagai Vermyna Hermythys dan Catherine Hermythys. Lebih buruk lagi, Edenia sialan itu membuat diriku sampai menyembahnya. Diriku begitu membencinya sampai ingin mencincang-cincang tubuh dirinya dan melemparkan potongan itu sebagai makanan para babii.”
Mata Xavier mengerjap; ia bisa melihat dengan jelas kekesalan dan kemarahan dalam diri Vermyna.
Mengesampingkan semua yang sudah dia katakan, Xavier mengerti satu hal: Vermyna sepertinya tak tertarik untuk membunuhnya. Malahan, dia seperti menganggap dirinya sebagai seseorang yang akrab. Dan, jika ia pikir-pikir lagi, …Vermyna memang tidak pernah sekali pun mendaratkan niat membunuh padanya. Sebaliknya, dia sepert ingin membantunya secara tidak langsung.
Xavier tidak mengerti. Ia hanya bisa memandang penuh tanya, secara tak langsung menuntut jawaban atas apa yang sebenarnya makhluk ini inginkan.
“Tidak perlu dirimu pikirkan,” kata Vermyna santai. “Intinya adalah: jika dirimu ingin menghabisi diri Edenia, bergabunglah dengan diriku. Dirimu memiliki potensi untuk setara dengan diriku, dan diriku akan membantu dirimu untuk itu. Ayo kita habisi makhluk hina yang diagungkan sebagai dewa itu.”
Ah, begitu rupanya. Sekarang Xavier benar-benar mengerti maksud Vermyna. Dia murni ingin merekrut dirinya. Seperti Luciel, Vermyna juga ingin menghabisi Edenia. Bedanya, niat Vermyna karena dendam, sedang niat Luciel murni untuk kedamaian dunia ini.
“…Apa kau akan membunuhku jika kutolak?” tanya Xavier, diam-diam mempersiapkan diri untuk berteleportasi jika Vermyna menunjukkan gelagat ingin menyerang.
“Membunuh dirimu? Tentu saja tidak. Itu menyakitkan, kau tahu? Meski suka berekspresi superior dan bersuara dingin begini, diriku masih memiliki hati seperti yang lainnya.” Vermyna menggelang pelan—Xavier (anehnya) menemukan diri merasa bersalah melihat ekspresi nanar itu di wajahnya. “Diriku rasa sudah cukup basa-basinya; sekarang diriku akan memanggil Sataniciela kembali.”
...———...
Ketika kegelapan yang menarik kesadarannya itu menghilang, Sataniciela menemukan diri berada dalam kepingan ingatan yang tak terhitung jumlahnya. Ini hanyalah memori, ia tahu itu, tetapi Sataniciela tak bisa menahan diri dari bereaksi. Terlebih lagi, kepingan ingatan yang matanya lihat adalah saat dirinya hidup sendiri di pinggiran area terdalam neraka—wilayah yang paling berbahaya hingga tidak ada satu pun iblis yang berani mendekatinya.
Mata Sataniciela berpindah pada kepingan ingatan yang memperlihatkan Beelzebub dan Asmodeus mendatangi area yang ditakuti para iblis itu. Mereka datang untuk memintanya memimpin para iblis menguasai dunia atas. Para malaikat yang hina telah mencuci otak makhluk dunia atas untuk menganggap iblis sebagai makhluk gelap—makhluk tercela, perwujudan dosa.
Pandangan Sataniciela kemudian berpindah pada ingatan lain, dan ingatan yang lain, dan ingatan yang lain lagi, dan seterusnya. Hingga tak terasa, pandangan Sataniciela sekarang berada pada kepingan ingatan yang menunjukkan Luciel keluar dari gerbang surga dengan dua belas pasang sayap malaikat membentang lebar.
Kali ini emosi Sataniciela tak lagi tertahan. Ia tahu dirinya tidak nyata dalam kepingan memori ini, tetapi itu tetap tak menghentikannya dari melesat menyerang makhluk hina itu. Sayangnya, dan menjengkelkannya, tiba-tiba kesadarannya serasa ditarik begitu kuat. Sataniciela mencoba melawan, tetapi ia tak berdaya. Dan dalam sekejap, Sataniciela menemukan dirinya dalam keadaan berdiri di hadapan ma—
“—Kau!” desis Sataniciela memandang tubuhnya yang memandangnya terhibur, dan itu spontan membuatnya mengecek diri. “Apa yang kau lakukan padaku?!” teriak sang iblis penuh geram—ia mendapati tubuhnya dipenuhi perban.
...»»»»»«««««...
#Xavier masih belum mendapatkan kekuatan penuhnya sebagai anomali—[Magic Container] adalah hal yang paling dasar, dan itu sama sekali tidak memberinya kekuatan tambahan secara signifikan. Itu baru akan terjadi ketika ingatan akan kehidupannya sebagai murid Edenia kembali pada diri Xavier yang sekarang. Kapan itu? Kemungkinan besar di “Against the World III: Revelation”.