
Xavier tidak memiliki ekspektasi kalau Rossia Himera dapat membuatnya terkejut. Sedikit pun tidak. Namun, apa yang tersaji di depan matanya ini cukup mengejutkan. Armageddon, spell itu menghubungkan lingkaran sihir dan pintu surga untuk memanggil ribuan malaikat dengan jumlah sayap yang berbeda-beda—tetapi tidak ada yang sampai berjumlah dua belas.
Melihat bagaimana ribuan malaikat turun dari langit seperti itu… ini seolah-olah sang dewa sedang mengultimatumkan akhir dunia.
“Menarik, kau sukses membuatku terkejut.” Xavier memuji. “Bahkan bagiku sekalipun, menghadapi mereka semua tidak akan mudah. Namun, dari yang kulihat, mereka tidak memiliki emosi. Apa bisa kuasumsikan kalau mereka hanya replika?”
“Hmph! Tidak penting mereka asli atau replika. Yang jelas, malam ini kau hanya akan tinggal nama.”
Xavier membiarkan senyum terhiburnya bersemi. Ia punya teori kalau semua malaikat replika itu akan lenyap jika Rossia ia bunuh. Dibandingkan melawan mereka semua, lebih mudah menghabisi Rossia. Namun, meskipun itu pilihan yang paling logis untuk dilakukan, Xavier takkan melakukan itu. Itu akan membosankan; siapa pun yang mungkin mengintip pertarungannya akan mendesah kecewa karena antiklimaks yang membosankan.
“Baiklah, mari kita buktikan jika ucapanmu berisi atau hanya bualan.” Xavier melayang ke udara—zirah angin menyelimuti tubuhnya, dan gravitasi tidak berlaku padanya. “Ah, ini kesempatan bagus mengetes sihir teleportasiku yang sudah bertambah kuat. Aku tidak tahu ini setara dengan Reinhart/Catherine, tetapi karena itu pula aku harus mengetesnya.”
Pedang api hitam sepanjang satu meter tercipta di masing-masing tangan Xavier. “Mari kita coba kekuatan kalian, Malaikat Palsu.” Xavier sudah berteleportasi di tengah-tengah para malaikat palsu itu saat kata palsu meninggalkan mulutnya.
...—...
“Bodoh,” ketus Rossia saat Xavier mulai menghabisi malaikat replikanya satu per satu. “Mana mungkin aku akan diam saja dan menunggumu menghabisi mereka semua.”
Rossia seketika duduk bersila dengan tongkat sihir melayang di hadapannya, energi alam dengan cepat mengalir memasuki tubuhnya. Hal itu terlihat jelas dari layu dan matinya rerumputan di dekat wanita berambut merah darah ini. Rossia menggunakan teknik rahasia ras seaman—hanya Whalef yang saat ini diketahui sebagai pengguna energi alam. Dan, Rossia percaya ia lebih superior dari manusia laut itu dalam teknik ini.
Rossia tidak terpilih menjadi saint bukan karena Alfonso idiot itu lebih baik darinya. Sama sekali bukan. Ia lebih unggul dari manusia berotak udang itu dari segala sisi. Hanya saja, nonanya mengatakan posisi saint sudah tidak lagi pantas untuknya. Ia berada di atas mereka. Ia adalah manusia paling spesial di Holy Kingdom. Potensinya berada di atas semuanya.
Memang, Marcus telah membuat sejarah dengan membangkitkan lima sihir, tetapi hanya sebatas itu sajalah. Sedang Rossia, ia bisa memelajari teknik apa pun. Tubuhnya bisa beradaptasi dengan apa saja. Yang paling spesial, ia bisa menampung energi sebanyak apa pun tanpa efek samping. Ia adalah hasil eksperimen terbaik dari semua subjek eksperimen yang pernah ada. Ia adalah manusia super. Sayangnya, tubuhnya masih belum mencapai puncak potensinya.
“Tidak ada manusia yang lebih superior dariku,” tegas Rossia, mendorong egonya ke tingkat yang lebih tinggi.
...—...
Xavier mengayunkan pedang api hitamnya menghabisi dua malaikat bersayap empat sekaligus, kemudian berteleportasi dan menghabisi malaikat yang lain lagi. Ia sudah melakukan hal itu dua menit berturut-turut; total malaikat palsu yang sudah ia habisi mencapai empat ratus lebih—tetapi semuanya bersayap dua atau empat. Xavier ingin mengurangi jumlah mereka secara teratur: dari yang terlemah ke yang tertinggi.
Xavier melakukan taktik yang sama untuk dua menit berikutnya, dan jumlah para malaikat palsu semakin berkurang. Tetapi mereka masih terlalu banyak. Mereka juga telah beradaptasi dengan metode menyerangnya. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana para malaikat palsu bersayap banyak berjaga di sekeliling malaikat palsu bersayap sedikit. Karena itu, Xavier memutuskan berhenti menggunakan taktik curang seperti itu.
Pemuda bermata merah itu berteleportasi ke udara, membuatnya berada lebih dari tiga puluh meter di atas malaikat palsu yang paling tinggi posisi terbangnya. “Majulah, aku takkan lagi berteleportasi!” seru Xavier sembari memanifestasikan puluhan lingkaran sihir biru keputihan di bawah kakinya. “Lightning Magic: Roaring Thunders!”
“Fire Magic: Dragon Bre—” Xavier membatalkan niatnya dari menyemburkan api biru saat tiba-tiba dua malaikat bersayap sepuluh berada di kanan dan kirinya dengan masing-masing tombak cahaya yang menusuk. Kedua pedang api hitam Xavier dengan sigap memotong kedua tombak cahaya itu, kemudian ia bersalto sekali sambil mengayun pedangnya secara horizontal, mengirimkan dua tebasan api hitam ke kedua malaikat.
Mereka cukup kuat, tetapi mereka hanya malaikat palsu yang cuma bisa membuat tombak cahaya. Api hitam menelan mereka dengan cepat, dan Xavier langsung mengonversi api itu menjadi tombak yang lantas melesat dan menusuk dua malaikat lain yang bersayap enam.
Kemudian, saat mayoritas malaikat palsu sudah mengepungnya, Xavier menggunakan Space Reversal pada malaikat yang paling bawah—membuat posisi mereka berubah secara spontan.
“Fire Magic: Dragon Breath!”
Kali ini, semburan api Xavier berhasil keluar dengan sempurna. Tak berhenti di situ, ia juga menciptakan dua lingkaran sihir hijau muda yang melepaskan gelombang angin yang memperbesar dan mempercepat semburan apinya. Semburan api Xavier menyapu area yang dua kali lebih luas dari spell normalnya.
Para malaikat palsu aktif menghindar, tetapi mayoritas dari mereka tertelan semburan api.
“Ultimate Fire Magic:—” Xavier melepaskan kedua pedang api hitamnya, membawa kedua telapak tangannya menyatu—yang spontan memanifestasikan empat lingkan sihir berwarna biru berukuran masif di kanan, kiri, atas dan bawahnya. Mana yang terkonsumsi oleh keempat lingkaran sihir itu sama banyaknya dengan kapasitas mana Lilithia. “Wrathful Sea of Fire God!”
Sekonyong-konyong, api biru dalam intensitas tinggi menyembur keluar dari keempat lingkaran sihir tersebut. Kecepatannya tiga kali dari kecepatan Dragon Breath yang diperkuat angin; besarnya sampai sepuluh kali lipat. Keempat semburan api itu saling memutari satu sama lain. Dan, saat mereka saling menabrak, gelombang api itu melepaskan energi ke atas yang lebih besar. Tidak ada malaikat palsu yang dapat keluar dari area yang ditelan api itu—saking masifnya area efek spell itu.
Api itu terus meninggi dan wilayah cakupannya semakin luas, saking luasnya sampai memayungi seluruh negeri. Untuk tiga menit penuh, langit Favilfna berwarna biru. Api itu baru menghilang sepenuhnya tepat di menit keempat. Tidak ada apa pun yang tertinggal udara; malaikat palsu lenyap tak bersisa, dan udara sendiri menjadi kosong selama sesaat—sebelum kemudian kembali terisi oleh komponen udara lainnya.
“Daya destruktifnya cukup besar,” komentar Xavier, “tetapi konsumsi mananya cukup besar—meskipun hanya sekitar sepuluh persen dari total kapasitas manaku sekarang.”
Tersenyum puas, Xavier lantas mendaratkan pandangannya ke bawah. Dari tadi ia sudah merasakan energi bergerak ke dalam diri Rossia, tetapi ia mengabaikannya. Ia sudah melihat bagaimana Whalef melakukan hal yang sama, karenanya ia juga tertarik untuk tahu. Tetapi siapa yang mengira energi alam yang menumpuk di tubuh wanita itu sampai delapan kali lebih besar daripada yang bisa Whalef serap.
“Aku berpikir malaikat palsu tadi adalah kartu asmu,” kata Xavier sembari menurunkan tubuhnya dengan cepat—ia mendarat dengan elegan tanpa menimbulkan suara. “Tapi siapa sangka kau memiliki kartu as yang lain.”
Rossia yang sedang duduk bersila mendecih. “Kau menghabisi mereka lebih cepat dari yang kukira,” komentarnya, meraih tongkat sihir dan berdiri. “Tapi tak masalah; sekarang pertarungan yang sebenarnya baru dimulai.”
“Aku ragu jika hasilnya akan berubah, tapi tak masalah. Majulah, Rossia Himera! Tunjukkan padaku kekuatan sebenarnya murid Fie Axellibra.”
Rossia tidak perlu diminta dua kali; ia sudah berada di hadapan Xavier, dan Xavier sendiri telah terdorong puluhan meter ke belakang.