Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 39: Goddess of War, part 1



...—Lembah Terlarang Ed—...


FIRST SAINT Arthur Lancedragon yang sedang mengelap tombaknya seketika terdiam mendengar laporan yang seorang prajurit berikan secara tiba-tiba. Merlin sudah bergerak mengumpulkan para prajurit, katanya. Putri Kanna dan dua divisi Imperial Army sudah berada sekitar satu kilometer dari pusat markas, jelasnya. Dan ia diminta untuk segera ke batas terdepan mewanti-wanti datangnya serangan tiba-tiba, ucapnya di akhir.


“…Bagaimana mereka bisa tiba dengan begitu cepat dan tanpa kita ketahui?” tanya Arthur seraya berdiri. “Meneleportasi prajurit sebanyak itu memerlukan waktu yang tak sedikit. Apa yang tim patroli lakukan?”


“Maaf, Sir, posisi saya membuat saya tak pantas menjawab pertanyaan itu.”


“Kau tidak tahu.”


“…I-Itu benar, Sir.”


“Ha….” Arthur tak menahan diri dari menghela napas. “Baiklah, kau bisa pergi,” tambahnya seraya menghampiri zirah jaring adamantite yang tergantung di sudut ruangan.


“Kalau begitu saya permisi, Sir.”


Arthur tak memberi respons untuk itu. Tidak pula sang prajurit menunggu respons. Bersamaan dengan langkah kakinya yang menghilang, Arthur sudah melapisi tubuhnya dengan zirah tersebut. Dan tanpa menunggu apa-apa lagi, sang saint melangkah keluar dengan tombak adamantite yang tergenggam erat.


Baru tadi pagi Arthur memutuskan bersama Merlin kalau mereka akan ke Matepola besok hari. Mereka sudah berpikir akan mencoba memanfaatkan Matepola dan mempermulus langkah, dan sekarang langkah mereka benar-benar dipermulus sampai mereka tak harus berangkat ke Matepola. Betapa lelucon yang kering, tapi kata ironi mungkin lebih sesuai untuk digunakan.


Begitu berada di luar bangunan semi-permanen yang menjadi markas mereka, Arthur langsung melompat dan melesat dalam balutan zirah petir menjauhi markas.


Kanna el Vermillion…wanita pertama Islan yang disanjung sebagai dewi perang—di usianya yang sangat muda pula. Dia pengasih dan sekaligus kejam. Dia anggun memesona sekaligus menakutkan. Aku tak bisa membiarkannya menghadapi para prajurit.


Itu adalah apa yang memenuhi kepala Arthur dalam perjalanannya mengintersep laju pasukan musuh.


Dan perjalanan itu tak lama. Kurang dari sepuluh detik, dan Arthur Lancedragon sudah mendarat dengan kasar kurang dari dua puluh meter di hadapan total 35.000 prajurit, 22 kapten batalion, dua commander, dan seorang putri. Mereka semua telah terlebih dahulu berhenti sebelum Arthur berhenti.


Arthur menancapkan tombaknya di tanah, dan sambaran petir seketika menerjang langit—membuat udara di atas sana menjadi panas.


“Kalian telah memasuki wilayah yang terlarang untuk kalian masuki. Silakan berputar balik dan pergi baik-baik, maka kita takkan memiliki masalah. Oh, kalau kalian ke sini karena harus mengambil jalan memutar demi menghindari anjing yang sedang marah, aku bisa mengerti. Tapi, pelanggaran tetaplah pelanggaran; Knight Templar ada untuk memastikan pelaku pelanggaran tidak bisa semena-mena.”


…Itu adalah kata-kata yang sempurna untuk membuka pembicaraan dengan pasukan musuh, kan?


…Arthur mendengar kalau Kanna el Vermillion selalu menawarkan musuhnya untuk menyerah sebelum memulai pertempuran. Dia selalu mengatakan untuk tidak saling menumpahkan darah atas hal yang tak diperlukan. Putri Kanna baru memulai serangan ketika kata-katanya sama sekali tak diindahkan lawannya.


Di satu sisi itu bisa disebut naif, tapi di sisi lain itu tak berbeda dengan meremehkan lawan. Melihat mata sang putri, Arthur tahu itu bukan keduanya. Dia memiliki hati yang baik, maksud yang mulia. Namun, tetap saja itu bukan sesuatu yang bisa diapresiasi. Tidak ada yang memasuki medan perang tanpa berpikir dua kali; meminta mereka menyerah sebelum pertempuran dimulai adalah hal yang benar-benar tak bisa diterima.


Namun begitu, tak ada keraguan kalau wanita yang lebih muda darinya itu kuat. Penampilannya memang terlihat kuat dalam batas wajar, tetapi insting Arthur mengatakan hal yang berbeda. Kekuatan asli wanita itu dia sembunyikan. Memandangnya dengan intens seperti ini membuat Arthur merasa seolah berada di hidapan Fie Axellibra yang berpura-pura lemah.


Yang lebih parah lagi, hawa suci dalam diri Kanna melampaui siapa pun yang pernah Arthur lihat—termasuk juga Fie Axellibra.


Jika dia menggunakan kekuatan yang dia sembunyikan, aku takkan bisa menang. Julukan “Dewi Perang” yang diberikan padanya memang bukan tanpa alasan. Cih, bagaimana Pak Tua Genea bisa mengharapkan kemenanganku di zini? Apa penerawangannya tak berguna pada dia?


Terakhir kali Arthur merasa tegang dengan pelipis dipenuhi keringat dingin adalah ketika ia diharuskan berdiri di hadapan Fie Axellibra yang sedang kesal pada utusan Raja Spirit Sakhra sekitar dua bulan lalu. Dan sekarang ia kembali merasakannya, kali ini bahkan tangannya sedikit bergemetar.


Keputusan terbaik adalah menurutinya, dengan begitu prajurit Ordo 1 akan tetap utuh. Dan aku yakin Merlin akan mengerti dengan keputusanku.


Terlebih lagi, Arthur khawatir kalau-kalau Fie terlalu lelah setelah bertempur dengan pemimpin para vampire saat menghadapi Kanna—itu pun mengasumsikan Fie bisa menang. Mempertimbangkan hal itu, ia tak bisa membayangkan Emiliel Holy Kingdom keluar sebagai pemenang. Jika melawan kekaisaran atau NWO satu lawan satu, kemenangan tak perlu diragukan. Namun, mengalahkan keduanya sekaligus?


Duh, apa coba yang Pak Tua itu pikirkan saat dia membuat keputusan itu? Lebih penting lagi, keputusan apa yang harus kubuat sekarang? Berperang lalu mati, atau menyerah tapi selamat?


Arthur hendak membuka mulut untuk bersuara saat tiba-tiba sebuah pedang menancap di samping kaki kanannya. Merlin muncul tepat di situ dalam keadaan memegang gagang pedang tersebut. Tepat sedetik berselang, Merlin sudah melempar dua buah pedang ke kanan dan kirinya—dengan posisi agak ke belakang. Lebih cepat dari mata Arthur berkedip, masing-masing lima puluh ribu prajurit muncul di kedua sisi sang saint.


Kemampuannya itu memang menyebalkan, batin Arthur memuji sang kolega, tetapi matanya telah kembali memandang sang putri.


“Untuk penawaranmu itu, apa tidak apa-apa jika kudiskusikan dengan perwakilan para prajuritku terlebih dahulu?” Arthur memutuskan. “Akan kuputuskan setelah itu. Tentu saja itu jika kau serius dengan penawaranmu.”


Arthur memuji dirinya sendiri karena bisa memutuskan di saat yang tepat. Ia tak mau keputusannya menjadi penyebab matinya Ordo 1. Nasib mereka sudah semestinya ditentukan oleh diri mereka sendiri. Apa pun keputusan mereka, itulah yang akan ia ambil. Tentu saja ia akan memperjelas pada semuanya tentang betapa berbahayanya Kanna el Vermillion itu.


“…Baiklah. Putuskan yang terbaik, Sir Lancedragon.”


Arthur langsung berbalik, dan seketika Merlin memborbardirnya dengan pertanyaan yang membuatnya malas untuk menjawab.


Bibir Arthur melengkung. “Bagaimana menurutmu jika kita menyerah?” tanyanya santai, kedua tangan menggestur agar para kaptennya maju—dan pada saat yang bersamaan, awan gelap telah memenuhi langit.