
Monica menghentikan langkahnya begitu mereka berada cukup jauh dari pintu masuk ruang singgasana. Aksinya itu spontan membuat Xavier turut berhenti, berbalik memandang sang wanita.
Xavier sekilas melihat sekeliling, sebelum kemudian kembali fokus pada gadis bersurai pirang itu. “Ada apa, Monica?” tanyanya, sebelah alis terangkat penuh tanya. “Mengapa kau tiba-tiba berhenti?”
“Apa hanya itu yang bisa kau tanyakan?” Nada bicara Monica sedikit ketus. “Kau tak punya kata-kata lain untuk kau ucap?”
“Kukira kita sudah menyepakati hal ini, Monica. Aku juga sudah memberitahu Luciel tentang perannya.” Xavier mendesah. “Jika kau mempermasalahkan saran Nueva untuk menjadi sekretarisku, aku bisa mempekerjakan yang lain untuk menggantikan Emily. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Aku takkan pernah membuatmu melakukan hal yang buruk. Kau hanya perlu berada di sampingku. Itu saja.”
“Haaa….” Monica memijat-mijat pelipisnya dengan jengkel. “Aku menerima ide bodohmu. Pun aku tak mempermasalahkan berpura-pura untukmu. Namun, kau masih belum mengerti apa yang membuatku kesal?”
“Jika kau belum tahu, kutegaskan sekarang kalau aku tak bisa membaca pikiran, Moni—oke, aku bisa. Namun, aku tak mau melakukannya. Lagipula, mood-ku sedang tak baik saat ini. Tidak bisakah kau langsung pada permasalahan inti?”
“Oh, jadi sekarang mood-mu sedang tak baik? Lalu, kau pikir mood-ku sedang baik? Bagus sekali Xavier. Bagus sekali. Jangan berbica denganku sampai mood-ku membaik, dan mood-ku takkan pernah membaik.”
Hampir saja Xavier mendengus, tetapi dengan cepat ia dapat menahan dengusan itu dari mewujud. Menghela napas panjang, Xavier memutuskan mengalah. Ia akan menghiraukan kekesalannya untuk sementara. “Oke, aku minta maaf, Monica. Jadi, apa yang kau permasalahkan?” tanyanya dengan senyum tipis di bibir. “Aku tak tahu ji—”
Monica menghilang dari hadapan Xavier, berteleportasi entah ke mana.
“—Ck, apa masalahnya?”
...* * *...
Monica menghela napas panjang begitu teleportasi membawanya pergi agak menjauh dari Xavier (tetapi masih berada dalam Imperial Palace). Ia sudah bersabar untuk meladeni anak itu. Ia bahkan sudah mengesampingkan pemikirannya untuk mendukung aksi tercela Xavier. Namun, anak itu masih tidak mengatakan apa pun tentang rencana pernikahan itu?
Memang, sekarang Nizivia sudah tidak ada (tidak bermaksud untuk bersuka di atas kematiannya), tetapi itu tak lantas meniadakan fakta yang sengaja disembunyikan itu. Jika Nizivia waktu itu tidak mengejeknya, Monica yakin saat ini dan seterusnya ia tidak akan pernah tahu hal itu. Xavier akan memastikan ia tak tahu. Karenanya, Monica tidak bisa menahan diri dari kesal yang merongrong—
“Monica Elsesky?”
—Monica mengerjap, spontan menolehkan kepala ke lorong di sebelah kiri: ada dua wanita yang baru keluar dari sebuah ruangan di lorong itu.
Kekesalan Monica bertambah, tetapi kali ini ia berhasil menyimbunyikan kekesalan itu dengan sempurna.
Wanita yang fisiknya sebelas dua belas dengan dirinya itu tak salah lagi adalah Kanna el Vermillion. Xavier belum memperkenalkan dirinya dengan sang putri, tetapi Monica sudah mendengar sedikit banyak tentangnya dari Alice. Dan dari interaksi sekilas sang putri dengan Xavier tadi, Monica dapat mengatakan kalau mereka dekat—seperti yang Alice bilang.
Karena dia Kanna sang putri favorit Emperor, jelas yang di sampingnya ialah Meyrin Nevith—seorang assassin sekaligus maid pribadi.
“…Putri Kanna el Vermillion?” Monica memasang ekspresi terkejut, dan pura-pura tidak yakin jika yang berhadapan dengannya adalah sang putri. “Xavier tidak sekali pun mengatakan sesuatu tentang Yang Mulia, mohon maaf jika diri hamba terkesan tidak sopan.”
“Tidak perlu terlalu formal begitu. Jika kau ‘teman’ Xavier, kau bisa memanggilku Kanna.” Senyum tipis—yang Monica tahu itu palsu—bersemi di wajah sang putri. “Dan sepertimu, Xavier juga tidak pernah mengatakan apa-apa tentangmu. Dia berkata tidak memiliki teman akrab selain kami. Itu seperti dia tidak pernah menganggapmu—teman masa kecilnya—ada di saat bersama kami. Aha-ha-ha.”
“Ah, Xavier juga sering mengatakan kalau sebagian besar keluarga kerajaan begitu menyebalkan. Itu seperti dia merasa tersiksa harus berinteraksi dengan ‘mereka’. Aha-ha-ha.”
“Aha-ha-ha-ha.”
“Aha-ha-ha-ha.”
“Katakan, Monica, bagaimana kalau kita berbicara di taman belakang istana denganku? Aku yakin kita punya banyak hal yang perlu kita bicarakan?”
“Bagus sekali. Mari, kita bergegas.”
“Ya.”
...* * *...
Entah itu hanya halusinasinya semata atau bukan, Xavier merasakan sesuatu yang membuatnya merasa seperti di ujung tebing dalam malam yang dingin. Ia merasa bisa terjatuh kapan saja. Ia tidak merasa akan mati, tetapi ia merasakan kehidupannya akan diterpa kesulitan yang memeras mental. Perasaan yang ia rasa sekarang…ini sungguh lebih buruk dibandingkan saat ia harus duduk di antara Artemys dan yang lain.
Apa yang sebenarnya terjadi?
“Xavier.”
Panggilan tiba-tiba itu menghalangi Xavier dari memikirkan pertanyaan sederhana itu. Ia spontan berbalik, seketika mendapati seringaian angkuh menyambutnya.
“Edward memberitahuku kalau serangga itu sudah mati. Apa kau sedih?” Lilithia tak menanti respons Xavier. “Sepertinya tidak. Kau bahkan datang ke sini dengan membawa wanita yang berbeda. Kau sebenarnya tak begitu tertarik pada serangga itu, bukan? Aku jadi penasaran bagaimana reaksi serangga itu melihatmu membawa wanita lain setelah dia mati.”
Xavier tak menyembunyikan kernyitan di keningnya. Lilithia telah terlalu berlebihan. Xavier mengerti jika dia masih kesal, tetapi menghina Nizivia sampai seperti itu sangatlah tak pantas. Namun, Nizivia masih belum sepenuhnya mati—masih ada peluang untuk menyelamatkannya. Sebab itu, Xavier akan mengabaikan hinaan itu.
“Apa itu caramu mengatakan kau iri karena aku tidak mendatangimu, tetapi malah mendatangi wanita lain yang bahkan tak kau kenal?”
“Aku akan mengabaikan hinaan itu.” Lilithia mendarat tepat di depan Xavier. “Ayo pergi. Pertemuan mendadak para commander.”
Itu terlalu cepat. Padahal belum lama ia bertemu Nueva, tetapi pertamuan commander sudah dilakukan. Penyampaian informasi mereka sangat impresif sekali.
Aku masih sedang mencari Monica, tapi….
“Baiklah.”
Membiarkan Monica menenangkan diri sendiri mungkin adalah opsi yang baik.
Xavier mengangguk pada dirinya sendiri, sebelum kemudian melangkah menyusul sang First Commander.
...—Evrillia, Elf Kingdom—...
Luciel menutup buku yang dibacanya, meletakkan buku tersebut dengan pelan di atas meja. Ia tidak bisa menemukan informasi apa pun tentang leluhur para iblis. Evana suka mengoleksi buku-buku kuno, tetapi tidak ada dalam koleksi bukunya itu sesuatu apa pun tentang Vermyna Hellvarossa. Informasi yang ia punya terlalu sedikit. Ia masih belum bisa memutuskan bagaimana menyikapi kembalinya makhluk itu. Terlebih lagi, sekarang [Complete Sensory] ada di tangannya.
Jika Vermyna Hellvarossa belum cukup untuk membuat Luciel memijat kening, maka perkataan Xavier tentang Fie Axellibra sudah cukup untuk membuat Luciel melakukan itu.
Dua makhluk terkuat bukan Phoenix dan Thevetat, melainkan Fie Axellibra dan Vermyna Hellvarossa?
Memang, ia tahu tentang anomali. Namun, mereka lebih kuat dari Phoenix? Sungguhan? Phoenix yang lebih kuat dari dirinya itu?
“Apa aku sudah terlalu naif karena berpikir Edenia tidak menyembunyikan banyak hal dari kami?”