Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 18: Contrast, part 2



Hal pertama yang ditangkap indra penglihatan Artemys saat memasuki ruangan yang menjadi destinasi mereka adalah tiga buah tabung kaca yang berdiri sejajar di tengah-tengah ruangan. Tabung di kanan dan kiri berisikan cairan—di kanan cairan merah kental, sedang di kiri cairan hitam kelam. Sementara, tabung yang di tengah tidak berisikan cairan apa-apa. Tabung yang bagian depannya terbuka itu diisi oleh sebuah tubuh yang seluruhnya dibaluti perban—selain bagian mata.


“Bagus sekali akhirnya kau tiba di sini, Artemys.” Shiva yang berdiri di samping altar rendah yang terletak tepat tiga meter di depan ketiga berkata dengan suaranya yang tenang dan elegan. “Itu tubuh yang kumaksud. Aku ingin kau memindahkan jiwaku ke dalamnya.”


Artemys tidak memberi respons verbal. Bersama Jenny ia melangkah menghampiri altar. Wanita berselendang violet yang memandu mereka saat itu bersuara memohon pamit pada sang kaisar, dan pintu ruangan pun kembali tertutup. Artemys dan Jenny berdiri di sisi altar yang berlawanan dengan Shiva.


Tentu saja bukan hanya mereka bertiga yang ada di ruangan tersebut. Ada belasan individu lain yang berada di sudut ruangan. Mayoritas dari mereka sepertinya pengguna [Rune Magic]. Entah apa yang mereka lakukan. Namun yang jelas, di sana ada banyak tabung kaca yang berisikan cairan-cairan lain yang beraneka warna.


“Tinta apa yang kau perlukan?” tanya Shiva tanpa basa-basi. “Tinta biasa? Darah? Katakan saja. Akan kusediakan.”


Artemys tak lantas memberi jawaban. Matanya bergerak ke segala arah, mengeksplor segala hal yang ada dalam ruangan. Matanya mencatat ukiran rune yang…secara mengejutkan memenuhi dinding dari satu penjuru ke penjuru yang lain. Dan, dibandingkan pada dinding, Artemys menyadari kalau rune yang terukir di lantai dua kali lipat lebih banyak.


“Tinta biasa boleh,” kata Artemys setelah hampir dua menit diam, “tetapi lebih baik darah.”


“Darah kalau begitu.” Shiva menggestur seorang bawahannya membawakan satu botol besar darah—dan sepotong kuas. “Berikan pada Putri Artemys,” tambahnya pada sang bawahan.


Jenny mewakili Artemys menerima sebotol besar darah dan sebatang kuas.


“Kau memerlukan bantuan lainnya?”


Artemys menggeleng pada pertanyaan Shiva. “Aku sudah memikirkan tentang formula yang akan kubuat tadi malam; aku hanya perlu menuliskannya saja. Tak ada yang bisa kau lakukan untuk membantu.” Artemys menoleh pada ke sebelahnya tanpa menanti respons Shiva. “Jenny, kuasnya.”


“Baiklah kalau begitu. Aku akan bermeditasi di situ. Jika kau memerlukan darah tambahan, sila minta mereka.”


...* * *...


Kedua kaki Xavier—dirinya yang original—melangkah semakin dalam menyusuri lorong utama kastil.


Lobi kastil yang sudah dilewatinya tadi sangat terawat, pun tak terlihat kalau ini tempat di mana kriminal yang paling merepotkan dipenjara. Namun, impresi itu hanya bertahan sesaat. Saat Xavier menuruni anak tangga ke lantai bawah, saat itulah nama Kastil Asura benar-benar menunjukkan statusnya.


Sel-sel tahanan terlihat jelas di sepanjang lorong selebar tiga meter tempat kaki Xavier berjalan. Jerujinya semua terbuat dari adamantite. Rantai yang mengekang setiap pintu penjara sampai dipenuhi ukiran rune. Yang paling menyita perhatian, dua buah formula rune dengan pola yang berlawanan terukir di setiap langit-langit sel. Xavier tidak tahu fungsinya apa, tetapi ia punya asumsi kalau kedua formula itu akan membuat para tahanan menderita.


Tidak ada jalan keluar bagi orang-orang yang tertahan di balik jeruji-jeruji adamantite itu, Xavier sangat mengerti hal itu. Selain hal-hal yang sudah tersebutkan, setiap tahanan juga dipasangi kalung penyegel mana. Satu-satunya cara bagi mereka untuk bebas adalah intervensi pihak luar—bisa jadi itu dengan menyuap penjaga, atau mengandalkan seseorang lain untuk menyusup.


Xavier dengan cepat berbelok ke lorong yang mengarah ke lantai bawah. Tidak memiliki [Sensory Magic] bukan berarti ia kesulitan menjelajahi ruangan ini. [Reverse Law] Xavier yang serbaguna dapat membuatnya melihat tembus pandang melewati dinding-dinding yang solid. Karena [Reverse Law] pula ia bisa masuk tanpa mengkhawatirkan sistem keamanan yang terpasang.


Jika sebelumnya Xavier memilih mengikuti lorong yang membawanya menuju anak tangga yang akan membawanya ke lantai bawah, kali ini Xavier berjalan lurus menembus dinding. Rupanya dinding yang ia masuki juga berupa sebuah penjara, tetapi Xavier tidak ambil pusing dan terus berjalan. Tubuhnya tak bisa dilihat, tak bisa disentuh, dan tak bisa dirasakan; Xavier tidak punya alasan untuk memedulikan.


Xavier menembus dua buah sel, barulah kemudian ia tiba di lorong yang mengantarkannya pada tangga ke lantai bawah. Dan tepat saat itu, sosok wanita berkulit tan berbibir tipis itu sudah berada di anak tangga teratas. Xavier tidak bisa mengatakan seberapa banyak mana yang dia punya, tetapi ia bisa mengetahui wanita itu berada di level yang berbeda dengan para prajurit yang berkeliling di luar.


“Siapa di situ?”


Mata Xavier sedikit melebar mendengar pertanyaan tajam yang dilayangkan sang wanita. Kakinya refleks berhenti. Ia yakin ia sudah mempertahankan efek [Reverse Law]-nya. Karenanya, itu mengejutkan pendengar tanya tajam yang mulut itu lontarkan.


“Aku tahu kau di situ! Percuma menekan mana dan hawa keberadaanmu. Percuma juga menyembunyikan tubuhmu dengan [Invisibility Magic]? Tunjukkan dirimu!”


Mata itu memandang mendelik tepat ke titik di mana Xavier berdiri. Pedang yang entah muncul dari mana tiba-tiba sudah tersemat erat di tangan kirinya. “Sekali lagi kutegaskan, tunjukkan dirimu atau mati.”


…Xavier tentu saja tak menunjukkan dirinya. Tapi ia juga tak langsung menyerang. Ia ingin tahu apakah wanita itu benar-benar merasakan keberadaannya atau tidak. Ia tahu kelemahannya dalam menyembunyikan diri hanyalah [Complete Sensory]. Namun, jika wanita itu dapat merasakan keberadaannya, Xavier harus mengevalusi ulang tentang keyakinannya terhadap [Reverse Law].


Jadi, Xavier berdiri di tempat tak bergerak, menunggu sang wanita mengambil tindakan. Ia akan membunuhnya dengan cepat jika kekhawatirannya terbukti benar.


“Jadi kau lebih memilih mati, huh? Baiklah, jangan salahkan aku.” Wanita itu memasang kuda-kuda, dan seketika ia menyerang dengan kecepatan yang bisa dibilang impresif. Dalam sekali gerak tangannya, pedangnya mengayun enam kali. Six Consecutive Slices, begitu wanita itu menggumamkan teknik pedangnya.


Normalnya, Xavier sudah bergerak dan mengakhiri nyawa sang wanita.


Hanya saja…wanita itu tidak menargetinya, tetapi ruang kosong di kanannya. Xavier bahkan menunggu selama belasan detik, tetapi tidak ada efek apa-apa yang terjadi.


“Keren!” seru sang wanita tiba-tiba. Pedangnya menghilang dan dadanya membusung dengan senyum puas di bibirnya. “Ini sempurna! Aku harus mencobanya saat ada yang menyusup ke dalam kastil!”


Wanita berkulit tan tersebut lantas menengok ke kanan dan kiri dengan sedikit bulir keringat di pelipis. “Fiuh, aman,” bisik sang wanita sembari bernapas lega. “Akan memalukan jika personaku sampai luntur. Kapten Sarasvati yang tegas, dingin, tidak menerima bualan, dan tak pernah berbasa-basi—aku harus memastikan personaku ini terjaga. Aku bukan lagi anak-anak seperti dulu, hmph!”


Mengangguk puas pada dirinya sendiri, wanita itu lantas pergi dengan ekspresi yang biasa mewarnai wajah Lumeira von Talhasta—mantan Third Commander yang telah berkhinat.


Oke. Hanya itu kata yang melintas di kepala Xavier, kakinya kemudian lanjut melangkah menuruni anak tangga.


...#####...


Yang menantikan Xavier vs Shiva, itu ada di chapter 19.