
...—Kota Sihir Maidenhair, Islan—...
Pohon Suci Maidenhair. Siapa pun yang pernah membuka buku-buku kuno/naskah sejarah dunia, tentu mereka akan mengenal pohon itu. Itu adalah kehidupan pertama yang ada di permukaan dunia. Pada suatu masa, pohon itu pernah disembah sebagai dewa. Namun, penyembahan terhadap pohon itu mulai terhenti saat pohon tersebut menyusut dan menjelma menjadi kerajaan para peri. Tersebutkan dalam sejarah, pohon itu sepenuhnya menghilang lebih dari tiga ribu tahun lalu.
Namun, belum lama ini, pohon itu kembali tumbuh. Legenda mengatakan Pohon Suci Maidenhair adalah objek tertinggi di permukaan dunia. Namun, pohon yang tumbuh dalam sekejap di tengah-tengah kota yang juga berdiri dalam sekejap itu tidak lebih tinggi dari beberapa puncak gunung Amerlesia. Meski begitu, fakta tersebut tidak lantas mengeliminasikan pohon tersebut sebagai pohon suci—itu tidak menyalahi sejarah; pohon itu memang pernah menyusut.
Berdasarkan laporan Commander Reinhart dan Commander Cleria, pohon itu tumbuh tak lama setelah mereka kalah melawan anggota Deus Chaperon. Seperti mereka yang ingin bertemu ratu peri, anggota Deus Chaperon juga. Tidak ada teori pasti mengenai penyebab kembali tumbuhnya Pohon Suci Maidenhair. Yang mungkin mengetahui jawabannya hanyalah sang ratu peri—dan mungkin beberapa anggota Deus Chaperon.
Jika bukan karena konfirmasi Jenny yang baru saja keluar mengecek kepastiannya, Artemys tidak akan memercayai dirinya sekarang berada di dalam pohon legenda tersebut.
Xavier memang telah mengatakan kalau mereka berada di kediamana Eileithyia, dan hanya ada satu pemilik nama itu yang Artemys ketahui: ratu peri. Namun, Artemys tidak melihat ada satu peri pun. Jenny pun memastikan tidak ada satu pun peri di tempat ini. Karenanya, bisa jadi asumsinya salah kalau wanita yang duduk diam di singgasana itu adalah ratu peri Namun, setelah Jenny mengonfirmasi mereka berada di dalam Pohon Suci Maidenhair, tidak ada keraguan kalau dia ratu para peri.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana Xavier mengenal ratu peri? Bagaimana mereka memiliki hubungan yang dekat? Apa Xavier punya hubungan dengan New World Order? Atau, hanya sebuah kebetulan kalau mereka berhubungan dekat?
Jika Xavier punya agenda tersembunyi, itu tak masuk akal anak itu membawanya ke sini. Itu seolah sengaja membawa masuk musuh ke markas rahasia. Xavier terkadang melakukan hal yang kontradiktif, tetapi dia tak mungkin membuat kesalahan fatal seperti itu. Karenanya, kurang meyakinkan jika dia punya agenda.
Ah, ada kemungkinan kalau Xavier membawanya ke sini agar dirinya sampai pada kesimpulan ini. Namun, itu lebih tak mungkin. Dari gelagat Xavier saat menelportasi dirinya dan Jenny ke sini, Xavier melakukannya secara impuls; dia tidak dalam keadaan merencanakan sesuatu. Pun Xavier tidak terlihat seperti melakukan blunder.
Hm…sepertinya aku harus mendengar respons sang ratu peri, batin Artemys setelah beberapa lama berpikir, matanya menatap intens wanita berpostur rendah itu.
...—————...
Eileithyia merasakan sepasang mata memandangnya intens. Matanya dalam keadaan terpejam, memang, tetapi persepsinya sangat tajam. Terlebih lagi, Eileithyia sedang berusaha mendapatkan kedamaian dalam keheningan. Sedikit saja gangguan yang mengusik keheningan itu muncul, Eileithyia akan menyadarinya. Karena itu pula, dengan sedikit kesal sang ratu membuka matanya.
“Apa?” Tidak ada kelembutan dalam suara Eileithyia. “Katakan dengan cepat; aku masih ingin menikmati keheningan tanpa gangguan.”
“…Bagaimana Yang Mulia bisa mengenal Xavier? Xavier mengatakan ini adalah tempat yang aman bagi kami. Itu menunjukkan dia cukup memercayai Yang Mulia.”
“Hm….” Eileithyia tidak tahu harus memberi jawaban apa terhadap pertanyaan itu. Pun ia terlalu malas untuk berbicara panjang lebar. Jadi, setelah diam beberapa puluh detik, ini responsnya: “Kami bertarung. Aku kalah. Itu saja.”
“…Kapan Yang Mulia dan Xavier bertarung?”
“Lupa.”
“…”
“…”
“…”
...—————...
Artemys tidak merasa kesal dengan ketidakkooperatifan ratu peri. Artemys hampir-hampir tidak pernah kesal dalam hidupnya. Ia tidak bisa mengekspektasikan setiap orang untuk memenuhi keinginannya. Meskipun ia tahu ia bisa mempersuasi Eileithyia untuk membuka mulut jika ia berusaha, Artemys memutuskan untuk tidak melakukannya. Ia bisa menanyakannya langsung pada Xavier.
Jika mereka akan menikah, jika mereka akan membentuk keluarga mereka sendiri, sangat penting untuk memastikan tiada rahasia di antara mereka.
...—Cestapola, Provinsi Matepola—...
Xavier membiarkan tubuhnya berbaring di atas ranjang di salah satu penginapan mewah yang ada di Cestapola. Meskipun ia sudah menghilangkan semua luka di tubuh dengan [Reverse Law], stamina tidak bisa dikembalikan ke kondisi prima. Begitu pun dengan jumlah mana. Ia perlu mengistirahatkan tubuhnya untuk mengembalikan dirinya ke kondisi sempurna.
Setidaknya, itu adalah apa yang ia niat lakukan sebelum tiba-tiba ia teringat kalau dirinya meninggalkan Artemys dan Jenny di tempatnya Eileithyia.
Xavier spontan mendudukkan diri, matanya melebar penuh keterkejutan. Bagaimana…? Bagaimana bisa ia membawa Artemys ke sana? Xavier tak kuasa menahan tangan dari menepuk dahinya sendiri.
Betapa bodoh!
Xavier sungguh merutuki dirinya, tak habis pikir ia sampai membawa Artemy ke tempat Eileithyia. Memang, keblunderan itu bisa dimaklumi karena tadi situasinya ia sedang terburu-buru. Namun, itu tidak lantas menyelesaikan masalah yang tak seharusnya terjadi. Ah…Xavier bisa membayangkan Artemys memandangnya menuntut penjelasan.
“Xavier? Ada apa? Mengapa kau berekspresi seakan kau ketahuan telah berselingkuh?”
Xavier spontan memandang Monica yang baru memasuki ruangan dengan dua kantung makanan. “Aku baru teringat akan suatu hal,” katanya, mengabaikan pertanyaan tak elok Monica. “Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan segera kembali. Paling lama lima belas menit. Sungguh.”
Sebelum Monica sempat merespons, Xavier sudah menghilang dari ranjang tempatnya duduk.
Kening Monica mengernyit, kekesalan jelas memancar dari wajahnya. Namun, dengan cepat mantan manusia itu dapat menenangkan diri. Ia meletakkan makanan di atas meja di antara ranjangnya dan ranjang Xavier, kemudian ia merebahkan diri di tempat tidur. Ia tentu saja tidak mengantuk. Hari bahkan belum siang. Namun, ia butuh berbaring untuk tak membuatnya kembali kesal.
...—Kota Sihir Maidenhair—...
Ketika Xavier tiba di ruangan di mana ia meninggalkan Artemys dan Jenny, ia mendapati mereka tengah duduk tenang di bangku kayu yang ada di pinggir dinding. Mereka belum merasakan kehadirannya; Xavier menyembunyikan hawa keberadaannya. Namun, Eileithyia yang duduk tenang di singgasanya langsung membuka mata. Hal itu spontan membuat Artemys dan Jenny memandang ke arah yang sama dengan yang Eileithyia pandang.
“Jangan datang lagi ke sini dengan orang lain,” kata Eileithyia dengan suara yang menyembunyikan sedikit kekesalan. “Aku tidak ingin ketenangan di sini terganggu. Jika kau melakukannya lagi, aku akan memasang penghalang sehingga kau tak bisa ke sini lagi. Sekarang bawa mereka pergi; aku butuh ketenangan yang sempurna.”
Eileithyia menutup mulut dan langsung memejamkan mata, mulai larut kembali dalam keheningan sangat dia sukai.
“Akan kucoba untuk tak melupakan hal itu,” ucap Xavier sembari diiringi helaan napas, kemudian dengan cepat kakinya tiba di samping Artemys dan Jenny yang sudah berdiri. “Kita bicara di istanamu,” katanya, dan kemudian mereka menghilang begitu saja.