Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 50: Changing Tides, part 3



Heisuke dan wakil commander Divisi 1 baru saja berhasil membunuh Lexata IX saat tiba-tiba dua lapis lingkaran sihir masif menutupi permukaan tanah tempat terjadinya pertempuran. Mereka hanya bisa mengernyit saat tiba-tiba keduanya ditarik seperti besi di hadapan magnet. Bukan mereka saja, melainkan semuanya. Pasukan Imperial Army tertarik ke barat, sedang pasukan Knight Templar tertarik ke timur.


Heisuke tak perlu berpikir lama untuk mengetahui pelaku yang telah menggunakan sihir tersebut. Darminic von Bellriser. Heisuke tidak mengenal satu orang pun yang bisa melakukan apa yang baru saja terjadi selain sang commander. Dan asumsinya terbukti benar saat ia mengarahkan pandangan ke selatan. Commander Darminic berjalan beriringan dengan salah satu wanita tercantik di Imperial Army, Herena von Muir.


Yang tidak Heisuke mengerti adalah kehadiran dua individu lain di samping mereka. Satu pria dan satu wanita, dan Heisuke mengenal keduanya sebagai pemimpin Ordo 1 Knight Templar. Lebih dari itu, sebagaimana pemimpin mereka, kedua kubu pasukan yang mereka bawa juga berjalan dalam barisan yang bersebelahan di belakang mereka berempat. Dan, Heisuke tidak mengerti dengan apa yang ia lihat.


“Saint Arthur, apa maksudnya ini?!” tanya salah satu kapten bawahan Lexata IX setelah keempat individu itu berhenti di celah yang telah memisahkan Knight Templar dengan Imperial Army. “Mengapa Anda bersama mereka? Mengapa Anda tidak menghabisi mereka?!”


Jika bukan karena efek sihir Darminic yang membuat kaki mereka melekat pada tanah, dia dan puluhan prajurit pasti sudah melesat menghampiri sang saint. Dan Heisuke sangat mengerti. Ia juga mempertanyakan hal yang sama pada Commander Herena dan Darminic. Mereka adalah musuh; tak masuk akal mengapa mereka berjalan berbarengan. Apa ada perubahan rencana?


“Mulai detik ini dan seterusnya, Knight Templar dan Imperial Army akan bersekutu. Pertempuran ini tak lagi diperlukan.”


“Itu benar,” tukas Darminic mengonfirmasi ucapan Arthur Lancedragon. “Nona Kanna sendiri yang memutuskan. Mulai sekarang, musuh kita adalah New World Order.”


“Kita tidak tahu keberadaan Nona Fie,” jelas Arthur lagi. “Melanjutkan pertempuran hanya akan membawa Emiliel Holy Kingdom pada gerbang kehancuran. Aku memutuskan menerima tawaran Putri Kanna demi menyelamatkan kerajaan. Perang yang terjadi adalah inisiatif Pope Genea, bukan perintah langsung Nona Fie. Kita tak bisa membiarkan Pope Genea berbuat semena-mena.”


Heisuke, dan keseluruhan Divisi 1 dan Divisi 12, tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Jika berdamai dengan Knight Templar adalah keputusan pemimpin mereka, tak ada yang bisa mereka lakukan selain patuh. Dunia militer tidak mengenal kata protes saat instruksi datang dari atas, tak ada kompromi.


Namun, hal yang sama tak bisa dikatakan pada lawan mereka barusan. Teriakan-teriakan cercaan mereka lempar pada Arthur, mereka menuduhnya pengkhianat. Pope Genea adalah pemimpin tertinggi mereka setelah Fie Axellibra. Jadi, mereka tidak salah. Arthur berada di bawah sang Pope. Setuju sepihak dengan pemimpin lawan mereka sama saja melawan pemimpin mereka sendiri.


“Jika kalian tidak setuju, silakan maju!” tegas Arthur sembari mengeluarkan mana dalam jumlah yang besar sampai membuat tanah tempatnya berpijak retak. “Akan kuhabisi kalian dengan tanganku sendiri. Takkan kubiarkan kalian membawa Emiliel Holy Kingdom dalam kehancuran.”


Aksi sang saint membuat pasukan yang ada terdiam, tetapi beberapa dari mereka yang cukup berani kembali membuka suara. “Mereka baru saja membunuh Raja Lexata!” tegasnya sembari menunjuk Heisuke dan rekannya sesama wakil commander. “Kita tak bisa biarkan mereka begitu saja!”


Arthur melangkah tepat ke tengah-tengah ruang di antara kedua pasukan, kemudian berhenti dan menghadap tepat pada para orang-orang yang bersikeras. “Aku tak sedang bercanda,” tegas Arthur. “Commander Darminic, kau bisa menghilangkan spellmu. Aku sendiri yang akan membunuh siapa pun yang berniat melanjutkan pertempuran.”


Darminic melakukan apa yang Arthur pinta, dan seketika ketegangan semakin meningkat. Heisuke dapat melihat dengan jelas bagaimana orang-orang di hadapan Arthur sudah gatal ingin menyerang, terutama mereka yang berstatus sebagai pengawal khusus istana.


...—Sementara itu, Dwarf Kingdom—...


Gozilla mengangkat kedua tangan ke atas saat Minner Ertharossa berhenti belasan meter di hadapannya. “Dwarf Kingdom mengaku kalah,” katanya diiringi helaan napas lelah. “Kau bisa membunuhku atau apa pun itu.”


Dwagnowa sudah menjadi kawah. Penduduknya sudah mati berguguran. Yang selamat tak sampai seratus. Tetapi yang lebih menyakitkan dari itu, penyebab kekalahan mereka adalah dari golongan mereka sendiri.


“Heh, kau cukup tahu diri, Gozilla.”


Bukan Minner yang mengucapkan kata itu, melainkan Lucard yang baru tiba bersama dua vampire lainnya. Satu vampire ia kenali sebagai Cainabel, anggota Moon Temple seperti Lucard. Satu lagi ia tak tahu siapa. Dan melihat keberadaan ketiganya memberi Gozilla satu kesimpulan yang jelas: Saint Petra dan pasukannya telah dikalahkan. Ia tidak tahu jika prajurit Knight Templar telah dibantai semuanya atau belum, tapi ia juga tak mau tahu.


“Aku malas meladenimu, Vampire.” Gozilla berkata diiringi dengusan kesal. “Cepat habisi aku dan enyah dari sini.”


“Hahahaha. Bagaimana, Minner? Kita bunuh dia? Atau, kita buat dia mengemis agar dibunuh?”


Minner menggeleng pelan mendengar pertanyaan sang vampire. Walaupun dia terlihat bercanda, tapi dia serius. Lucard akan dengan senang hati merealisasikan pertanyaannya sendiri. Vampire itu memang begitu.


“Kau bisa merenungi kesalahanmu, Gozilla.” Minner berkata dengan wajah serius. “Khrometh telah lenyap. Jika dia tidak mati, berarti melarikan diri. Kau adalah satu-satunya dwarf yang bisa kembali membawa dwarf kepada kejayaan. Gunakan kesempatan ini untuk menimbang dengan baik keputusanmu.”


Minner langsung berbalik badan setelah mengatakan itu. “Ayo pergi,” serunya pada yang lain. “Tujuan kita sekarang Axellibra.”


...—Axellibra—...


Ketika Kanna dan Lancelot tiba melewati ambang gerbang selatan, Arthur baru saja menghabisi prajurit penjaga istana yang kedua puluh. Dan, sebelum tombak sang saint menusuk tenggorokan prajurit yang kedua puluh satu, Lancelot bergerak cepat menahan sang prajurit.


“Apa yang terjadi?” tanya Lancelot, mata memandang intens sang saint. “Kenapa kau membunuh rekanmu, Sir Arthur?”


“Aku sudah mengatakan pada mereka kalau aku akan membunuh siapa pun yang berniat melanjutkan pertempuran. Keberadaan Nona Fie tidak diketahui; kita tidak punya pilihan lain selain beralinsi dengan kekaisaran. Menghadapi New World Order dan kekaisaran secara sekaligus akan membawa Emiliel Holy Kingdom pada kehancuran.”


Itu alasan yang bisa diterima. Lancelot, walaupun ia tak suka, sependapat dengan sang saint. Dan karena itu pula ia mengalihkan pandangannya pada prajurit yang baru saja ia selamatkan dari kematian. “Kenapa kau tetap menyerang setelah diperintahkan agar berhenti?” tanyanya.


“Mereka baru saja membunuh Yang Mulia Lexata. Saya tak terima. Dan Sir Arthur adalah pengkhianat yang membela Imperial Army dan menyalahkan Pope Genea. Anda harus membantu kami menghabisi pengkhianat ini, Sir Lancelot!”


Lancelot mengernyit, alasan sang prajurit juga bisa diterima. Keduanya sama-sama benar. Sebagai Saint Knight Templar, salah satu tugas mereka adalah melindungi kerajaan, terutama ibukota. Namun, Knight Templar dituntut mematuhi Pope Genea sebagai penguasa tertinggi mereka yang dipilih langsung oleh Fie Axellibra. Apa yang Arthur lakukan memang tindakan pengkhianatan.


“Itu sudah cukup.”


Semua mata secara serentak menoleh pada pemilik suara. Tiga patah kata itu diucapkan dengan tidak terlampau keras, tetapi getaran suaranya merambat sempurna menjangkau ke segala penjuru. Namun, bukan suara itu yang mengejutkan Lancelot dan semua Knight Templar, melainkan enam pasang sayap malaikat yang mengembang di punggung pemilik suara.