Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 43: Ascension, part 2



Xavier mengernyit. Nueva…dia sudah benar-benar berbeda dengan saat Xavier terakhir kali bertemu dengannya.


Kapasitas mana sang emperor sudah meningkat secara eksponensial. Jika jumlah mana Xavier seperti waduk dengan ember bila dibandingkan dengan rata-rata orang, jumlah mana Nueva seperti sebuah danau. Nueva sudah jauh lebih kuat dari beberapa hari yang lalu. Lebih dari itu, hawa keberadaannya jauh lebih tajam daripada Undead Thevetat. Ini bukan hawa suci ilahi seperti Luciel, tetapi hawa ilahi yang sebenarnya.


“…Apa yang terjadi?” tanya Xavier—setiap sel dalam tubuhnya berada dalam kewaspadaan mutlak.


“Pertanyaan yang bagus. Tapi sebelum itu, di mana Lilithia? Kau membunuhnya?”


“Aku membunuhnya atau tidak, itu tak ada hubungannya denganmu. Palingan kau hanya ingin tahu saja. Tak lebih dari itu. Kau hanya menganggapnya sebagai pion yang berguna. Ah, kau pernah membunuh putrimu sendiri; akan aneh jika kau memedulikan keselamatan pion-pionmu.”


“Aku takkan bertanya siapa yang memberi tahu hal itu padamu. Pun aku juga takkan merepotkan diri meladeni perkataan-perkataan itu.” Nueva menjeda, dan singgasa es bermanifestasi di belakangnya. “Untuk menjawab pertanyaanmu,” lanjutnya setelah mendudukkan diri, “aku akan mulai dengan satu pertanyaan: apa sebenarnya Supreme Magic?”


“Kau pasti sudah mengetahuinya dari Luciel,” lanjut Nueva tanpa menanti jawaban Xavier. “Tapi akan kuterangkan kembali dengan lebih detail. Supreme Magic disebut Magic karena kemampuan yang dimilikinya, tetapi sejatinya Supreme Magic adalah sepuluh keilahian yang terpisah. Dengan memiliki [Reverse Law], kau bisa menganggap dirimu memiliki seper sepuluh kedewaan. Maka, untuk sepenuhnya menjadi dewa, kau perlu sembilan lainnya.”


“Sayangnya, satu-satunya makhluk yang mendapatkan keilahian dari Supreme Magic hanyalah Phoenix.” Nueva melanjutkan. “Thevetat. Lucifer. Luciel. Shiva. Eileithyia. Jiang Yue Yin. Nizivia. Dan bahkan Sakhra. Tak satu pun dari mereka memiliki keilahian meski memiliki Supreme Magic. Luciel adalah malaikat, keberadaannya sendiri beraura suci, tetapi tetap bukan keilahian. Apa kau mengerti mengapa?”


Xavier tidak mengatakan apa pun. Ia bisa mengatakan karena sifat sihirnya yang berbeda. Namun, Shiva Rashta memiliki [DIVINE Insight]. Jadi, pastilah ada alasan lain. Karena itu, ia tidak mengatakan apa pun.


“Itu karena hanya Phoenix yang pernah menyentuh Throne of Heaven. Meskipun kita memiliki Supreme Magic, bila tak pernah menyentuh Throne of Heaven, kita tetap takkan bisa memiliki keilahian. Karena itulah, kita memerlukan seluruh Supreme Magic. Lebih tepatnya, kita memerlukan [Celestial White Flame]. Jika tidak, kita takkan bisa menjangkau Throne of Heaven.”


“Kau mengimplikasikan kau sudah menyentuh Throne of Heaven?” tanya Xavier. “Kau mau mengatakan kau bisa menjangkau Throne of Heaven?”


Ini kabar buruk. Luciel tidak pernah mengatakan apa pun tentang hal ini. Tapi kemungkinannya dia juga tidak tahu. Jika Luciel tahu, dia mungkin sudah mencoba menyentuh Throne of Heaven saat masih di bawah Edenia dulu.


“Tidak, aku sama sekali tidak menyentuhnya, tapi Thevetatlah yang sudah. Karena itu aku bisa menyimpulkan begitu. Dan tentang Throne of Heaven. Aku bisa merasakannya. Aku bisa menjangkaunya. Tapi aku belum bisa memanggilnya. Karena itu, aku cukup senang kau datang ke sini secara langsung.”


Xavier tak perlu meminta penjelasan. Sangat jelas sekali apa yang disampaikan Nueva. Dia menginginkan [Reverse Law] miliknya. Dan Xavier tak perlu alasan lain untuk menciptakan dua pedang api hitam berkonsentrasi tinggi di kedua tangan—tubuhnya juga telah berbalutkan zirah petir.


“Jangan terlalu terburu-buru, aku masih ingin bicara.”


Xavier mendengus. Namun, sebelum ia sempat melaju, matanya melebar penuh keterkejutan mendapati pedang api hitam yang membeku dan hancur dengan sendirinya. Zirah petirnya juga telah lenyap. Temperatur udara turun dengan sangat cepat, dan salju mulai turun secara perlahan.


Sekarang Xavier benar-benar mengerti mengapa Thevetat dan Phoenix ditakuti. Ia paham mengapa [Celestial White Flame] dan [Eternal Zero] dianggap sebagai Supreme Magic terkuat. [Reverse Law] sangat fleksibel dan memiliki beragam kemampuan. [Complete Annihilation] menghancurkan segalanya tanpa tapi; tak ada barier yang bisa membloknya; tak ada sihir yang bisa menyerapnya. Namun, kedua sihir itu tak bisa mempengaruhi kedua sihir di atasnya.


Jika ia dan Nueva bertarung, Nueva akan menang dengan mudah. Setidaknya, itu sebelum ia mengerti akan jati dirinya yang sejatinya. Xavier tidak normal. Meskipun [Reverse Law] tak berguna dalam mengatasi [Eternal Zero], [Magic Container]-nya berbeda. Ia memang belum pernah mengetesnya sampai sejauh ini. Namun, jika [Magic Container] dapat memisahkan sihir dari jiwa, bagaimana bisa itu tak bisa menyerap efek sihir? Itu tak masuk akal.


Mungkin karena terlalu bergantung pada [Reverse Law] makanya aku tak pernah memikirkan esensi sejati dari [Magic Container].


“Aku tak punya waktu untuk mendengarmu berceloteh,” ucap Xavier sembari mulai melangkah. “Mari abaikan tentang kesepakatan kita sebelumnya. Aku tak lagi memerlukanmu untuk mengatasi Vermyna Hellvarossa. Sekarang kau tak lagi berguna bagiku.”


“Oh, kau mau membunuh kakek dari calon anakmu?”


Pertanyaan itu spontan membuat kedua kaki Xavier berhenti, matanya melebar penuh keterkejutan.


Bibir Nueva melengkung. Dia mendaratkan pipi kiri pada telapak tangan kiri. Matanya memandang sang commander sedikit terhibur. “Jangan begitu terkejut,” lanjutnya. “Artemys itu putriku; tidak mungkin aku takkan tahu. Yang lebih penting dari itu, coba bayangkan, apa yang akan kau jawab saat putramu bertanya tentang kakeknya? Kau tak mau menjawab ‘ayah telah membunuhnya’, kan? Atau, kau akan membohongi anakmu seumur hidupnya?”


Kening Xavier kembali mengernyit. Giginya menggemeretak. Kedua tangannya mengepal.


Namun, itu hanya bertahan beberapa lama. Xavier menarik napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Nueva yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya.


“Aku sudah memutuskan untuk tak membunuhmu,” kata sang commander sembari lanjut melangkah. “Sebagai hukuman, semua sihirmu akan kuambil. Kemudian mana-mu akan dikekang. Kau akan hidup sampai mati sebagaimana manusia biasa tak berdaya sampai mati.”


“Oh, bagaimana kau bisa mengambil sihirku tanpa membunuhku? Dan sudah kubilang, aku masih ingin bicara.”


Tubuh Xavier kembali terhenti, tetapi kali ini dihentikan paksa. Nueva telah membuat tubuhnya membeku tanpa dilapisi es. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Namun—


“Aku masih dalam euforia untuk berbicara panjang lebar. Setelah menjadi dewa, aku takkan lagi pu—hah? Kau…menyerap efek sihirku…. Bagaimana bisa?”


—tubuh Xavier langsung normal begitu [Magic Container]-nya bekerja. Seperti asumsinya, [Magic Container] tidak sekadar mengambil sihir dan menyerap jiwa. Ia juga bisa menggunakannya seperti [Absorption Magic], dan dalam tingkat yang lebih superior.


“[Eternal Zero]-mu takkan bisa menghentikan tubuhku. Sekarang, apa kau mau serius atau masih mau bermain-main? Yang mana pun tak masalah. Akan kuhabisi kau dan kuambil semua sihirmu.”