
Minner menghentikan laju larinya saat tiba-tiba matanya mendapati seseorang yang tak asing sudah duduk di atas salah satu gundukan batu besar. Aksinya membuat para pasukan yang ia pimpin juga berhenti. Para vampire yang dipimpin tiga anggota Moon Temple juga turut berhenti. Pandangan mereka semua fokus pada individu yang Minner pandang, individu yang berada lebih dari dua puluh meter tepat di hadapan sang raja.
Minner memerintahkan pasukannya untuk tetap di tempat dan dalam keadaan siaga, kemudian melesat lurus menghampiri orang yang telah mengganggu perjalanan mereka. Hal yang sama juga dilakukan pemimpin para vampire; mereka bertiga telah berjalan sejajar dengannya menghampiri individu yang telah menghampiri mereka. Tak ada dari mereka yang menduga hal ini, tapi mereka juga tak bisa langsung berbalik atau mengambil jalan memutar.
Semakin dekat mereka dengan sang individu, semakin jelas pula kalau yang mata mereka lihat bukan halusinasi.
Xavier duduk dengan kaki kanan bersila dan kaki kiri ditekuk. Tangan kirinya beristirahat di atas lutut kiri, sedang tangan kanan berdiri tegak di atas kaki kanan. Kepalanya miring dengan mata yang terpejam, pipi kanannya beristirahat di atas kepalan tangan kanan. Dia tidak menampakkan ekspresi khusus, sebagaimana tubuhnya yang tak meradiasikan kekuatan atau hawa keberadaan.
“Aku tak melihat bendera kekaisaran seperti yang kau bilang waktu itu,” ucap Minner seraya berhenti tepat tiga meter di hadapan gundukan batu tempat Xavier duduk. “Atau, kau punya alasan lain yang membuatmu menghentikan kami dari menuju Axellibra?”
“Minner Ertharossa.” Xavier membuka kelopak mata dengan perlahan. “Aku datang memberimu pilihan.”
Ketika kalimat itu selesai diucap, mata merah Xavier sudah menusuk ke dalam mata Minner. Sang commander bahkan tak memandang sedikit pun pada ketiga vampire di sampingnya. Mata merah itu hanya fokus pada sang raja.
“…Asumsiku telah salah,” gumam Minner diiringi gelengan kepala. “Kau tidak bekerja dengan atau untuk siapa pun. Kau melakukan apa yang kau mau dan untuk kepentinganmu sendiri. Kau benar-benar El.”
“Mulai hari ini, aku Emperor dari United Empire of Islan.” Xavier menghiraukan ucapan Minner, menyampaikan apa yang mau dia sampaikan. “Vermillion Kingdom. Elf Kingdom. Desert Kingdom. Caligula Kingdom. Ekralina Kingdom. Maggarithaz Kingdom. Hongariand Kingdom. Favilifna Kingdom. Vladivta Kingdom. Emeralna Kingdom. Kesepuluh kerajaan itu sudah menjadi vasal kekaisaranku, dan sekarang aku datang menawarkan hal yang sama padamu.”
“Kau masih akan tetap berstatus sebagai raja,” lanjut Xavier tanpa memberi jeda. “Kekuasaanmu di daerah otonomi Warebeast Great Kingdom tetap sama. Hanya saja, posisimu bisa dilengserkan jika kau gagal memenuhi apa yang kekaisaran ekspektasikan. Kekuasaanmu takkan absolut. Dalam kebebasan memerintah kerajaanmu, kau harus tetap dalam alur yang akan ditetapkan kekaisaran.
“Nantinya, kau dan para raja/ratu akan menjadi bagian dari Dewan Kekaisaran yang akan Perdana Menteri Achilles pimpin. Konflik antar vasal akan diselesaikan di dalam rapat. Jika kesepakatan tak terjadi, kalian akan berbicara denganku. Aku sendiri yang akan memutuskan bagaimana konflik tersebut harus diselesaikan. Jika ada yang tak menerima, posisinya sebagai raja/ratu akan dicabut. Takkan ada lagi perang dalam pengawasanku. Sekarang, tentukan pilihanmu.”
…Sekarang sudah jelas bagi Minner akan pembicaraannya dengan Xaver waktu itu. Sekarang tidak perlu baginya untuk menduga-duga lagi; semuanya sudah jelas. Namun—
“Aku punya empat pertanyaan.”
—Minner punya empat pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Ia akan menentukan pilihannya berdasarkan keempat jawaban itu.
“Teruskan.”
“Pertanyaan pertama: Kau tadi menyebut ‘Vermillion Kingdom’, apa yang terjadi?”
“Aku membunuh Nueva. Merebut kekaisarannya. Memaksa Achilles bekerja untukku. Tidak bisa ada kekaisaran di dalam kekaisaran. Hanya bisa ada satu emperor di tanah ini.”
Minner ingin tertawa mendengar jawaban itu. Namun, ia menahan diri. Walaupun Xavier tidak terkesan berbohong, tetapi dia tidak sepenuhnya jujur. Yang jelas, Nueva sudah mati dan Achilles bekerja untuknya. Minner bisa meyakini hal itu, dan itu sudah cukup—untuk saat ini.
“Pertanyaan kedua: Apa yang akan kau lakukan kalau aku menolak? Apa kau akan membunuhku dan memaksa keturunanku mematuhimu?”
“Kekaisaran akan memberimu waktu enam bulan untuk mempertimbangkan kembali jawabanmu, tapi setelah itu bersiaplah untuk hal yang terburuk jika kau masih menolak. Kau bisa bergabung dengan Emiliel Holy Kingdom untuk mencoba melawan. Fie Axellibra memang sudah mati di tangan Vermyna Hellvarossa, tapi Kanna el Vermililion dan beberapa divisi Imperial Army telah bersekutu dengan mereka. Kau dan semua yang menentang akan diberi kesempatan melawan.”
Segala ucapan Xavier seakan memudar dari telinga Minner saat sang commander—yang sekarang telah mengangkat diri sendiri sebagai emperor—membeberkan kalau Fie Axellibra telah tewas. Ketiga vampire di sampingnya tidak terkejut; mereka punya keyakinan penuh pada sang ratu. Namun, walau Minner meyakini Vermyna telah menjadi luar biasa kuat, mendengar Fie Axellibra terbunuh tetap saja mengejutkan.
“…Vermyna takkan melakukan apa pun yang akan membuatnya berhadapan dengan suaminya. Tentangnya yang merebut New World Order, dia akan mendapat hukuman atas kelancangannya itu. New World Oder akan dibubarkan.”
Bukan Minner saja yang terdiam dengan muka bodoh setelah mendengar ucapan Xavier. Lucard dan Cainabel juga. Bahkan Hecrust juga memperlihatkan keterkejutannya di balik topeng yang sudah menjadi ciri khasnya. Walau ucapan Xavier tidak sepenuhnya jelas, tak satu pun dari mereka gagal memahami kesimpulan dari pernyataan itu.
“Pertanyaan terakhirmu.”
Ucapan Xavier mengembalikan Minner dari keterkejutannya yang luar biasa. Daripada Fie mati, mendengar kalau Xavier adalah suami Vermyna lebih mengejutkan lagi. Bahkan dalam imajinasi sekalipun, ia takkan pernah membayangkan Vermyna akan memiliki suami. Jikapun ada, Minner berpikir kalau itu Hernandez. Xavier…. Minner tak pernah berpikir kalau dia akan jadi orangnya.
“…Bagaimana?” Minner tak mampu menahan diri dari bertanya.
“Apa itu pertanyaan keempatmu?”
Tentu saja bukan. Pertanyaan keempat Minner tak ada hubungannya dengan itu. Namun, pada titik ini, ia sudah tak lagi memedulikan pertanyaan keempatnya. Apa yang ia ingin tahu lebih penting dari pertanyaan keempatnya.
“Ya,” jawab Minner dengan serius. “Anggap itu pertanyaan keempat.”
“Hm….” Xavier mengganti posisi duduknya – sekarang kedua kakinya bersila dan tangannya melipat di dada. “Dia menangkapku saat aku bertarung dengan Fie. Dia mengurungku dalam dimensi yang waktunya berjalan cepat. Di sana dia memuaskan dirinya dengan menggunakanku. Dia memaksaku menjadi suaminya. …Dia menyegel mana-ku dan membuatku tak berdaya.”
…Minner tak mampu membendung tawanya lebih lama lagi, bahkan Lucard ikut tertawa bersamanya. Hanya Cainabel dan Hecrust yang tak tertawa. Cainabel memandang Xavier dengan wajah tak percaya, dan Hecrut…dia hanya terdiam. Minner tidak bisa mengatakan bagaimana ekspresinya.
“Apa kau menikmatinya?” tanya Lucard dengan cengiran sok tahunya. “Aku bisa mendata jumlah vampire yang rela menukar nyawa untuk berada di posisimu. Heh, mungkin Crow ju—”
“Lucard.” Crow muncul tiba-tiba bersama dengan Lumeira dan Valeria. “Lanjutkan ucapanmu, dan kau akan kehilangan pita suaramu untuk selamanya. Aku tak tahu apa yang kau katakan, tapi jelas itu bukan hal yang ‘baik’.”
Cengiran Lucard tidak luntur, tapi dia tak melanjutkan ucapannya. Pandangan tajam Crow membuat sang vampire tak berani lanjut bicara. Seperti yang bisa diekspektasikan dari bawahan terkuat Vermyna.
“Minner, jawabanmu.”
Ucapan itu kembali membuat perhatian terpusat pada Xavier. Dan seperti sebelumnya, Xavier masih menghiraukan para vampire. Dia bahkan tak melirik saat Crow dan kedua wanita itu muncul.
“Mengetahui Vermyna di belakangmu, aku hanya akan membawa Warebeast Great Kingdom ke dalam kehancuran jika berada di posisi yang berseberangan.”
“Tapi,” lanjut Minner tanpa memberi jeda bagi Xavier untuk merespons, rahangnya mengeras dan pandangannya menajam. “Jika kau akan mendeklarasikan perang pada Emiliel Holy Kingdom dan sekutunya, aku tak mau membantu. Ini yang terakhir buatku.”
“Kalau begitu, kuputuskan hari ini kau telah menjadi vasalku.” Xavier berkata pelan dan lalu berdiri. “Perihal peperangan, tak perlu khawatir. Takkan ada perang. Aku hanya perlu bantuan Menez untuk menundukkan semuanya. Jika Menez sibuk, aku bisa melakukannya sendiri. Sekarang, kembali ke kerajaanmu. Peperangan ini telah selesai.”
…Xavier von Hernandez langsung menghilang setelah mengatakan itu. Dan bahkan hingga detik terakhirnya di sini, dia sedikit pun tak melirik para vampire.