
Sepuluh tahun itu berlalu dengan cepat.
Seolah-olah waktu sama sekali tak berlalu. Dan seperti perkataan Vermyna di awal dulu, Xavier sama sekali tidak menua. Sangat amat sukar dipercaya ia sudah menghabiskan waktu sepuluh tahun di sini, apalagi tak ada yang namanya siang dan malam. Setiap hari adalah konstan. Namun, ini bukanlah ilusi. Sepuluh tahun memang telah berlalu.
Bukti yang paling jelas akan berlalunya sepuluh tahun yang Vermyna katakan adalah hadirnya sosok ketiga dalam kebersamaan mereka berdua.
Laki-laki. Usia genap lima tahun. Rambutnya violet pendek, matanya merah darah dengan pupil hitam vertikal. Kedua telinganya sedikit runcing ke atas dan ke bawah. Hidungnya bangir. Kulitnya sama warna dengan Xavier, tetapi wajahnya sebelas dua belas dengan Vermyna. Dia dalam keadaan terlelap nyenyak.
Incell Hellvarossa, putra pertama Xavier yang terlahir. Dan meski telah berlalu lima tahun, Xavier masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia masih tak mampu menerima kalau ini nyata, tetapi ia tak bisa menyangkalnya. Dan jika bukan karena Xavier mengemis pada Vermyna sampai bersujud segala, Incell pasti telah memiliki minimal satu adik.
“Diriku akan menghentikan waktu di sini,” kata Vermyna seraya menarik selimut membaluti Incell. Kemudian sang wanita—yang seperti dewi kematian di mata Xavier—berbalik dan menghampiri sang commander. “Ayo pergi, mari selesaikan urusan di luar agar diri kita bisa secepatnya kembali ke sini.”
“…Kau masih belum menghilangkan segel yang mengekang mana-ku,” ucap Xavier—keningnya mengernyit hebat. Selama sepuluh tahun ia tak bisa apa-apa. Sebagaimana ucapannya, dia benar-benar “menghukum” Xavier—secara fisik dan mental.
“Apa boleh seorang suami memandang istrinya seperti itu?” Vermyna tersenyum menggoda, tubuhnya melayang hingga posisi kepalanya sedikit lebih tinggi dari Xavier. Tangan kanannya memegang lalu sedikit mengangkat dagu sang commander. “Meski telah menghabiskan waktu sepuluh tahun, diriku masi belum puas. Diriku ingin terus merasakan dirimu, lagi dan lagi, selalu dan selamanya. Diriku kira diriku ini sudah jatuh terlalu dalam ke dasar jurang cinta dirimu.”
Entah sudah keberapa ratus ribu, atau bahkan juta, Vermyna kembali menodai bibir Xavier dengan lembut. Dan seperti yang sudah-sudah, kelembutan itu berganti perlahan menjadi agresif. Tetapi kali ini tidak sampai mendominasi hingga jauh ke dalam, Vermyna berhenti kala kedua lidah mereka bertemu.
Sang penguasa para vampire itu menjauhkan wajahnya dari wajah Xavier, ekspresinya berat, matanya mulai sedikit berair. “Apa terlalu mustahil bagi diriku untuk menempati ruang di hati milikmu?” tanyanya pelan—pertanyaan yang sama yang dikeluarkan Vermyna setiap kali dia selesai memaksakan kehendaknya pada sang commander.
Sejauh ini, Xavier selalu menolak menjawab pertanyaan itu. Vermyna lantas akan mengecup keningnya dan mengistirahatkan kepala di dada bidang sang commander. Setiap kali seperti itu. Tetapi baru kali ini Vermyna mengeluarkan air matanya. Dan mengingat semua hal yang sudah sang wanita ceritakan padanya, sebagian dari diri Xavier merasa terluka melihat air mata itu.
“Haaa….”
Untuk pertama kalinya sejak Vermyna mengklaim dirinya, Xavier menghela napas. Ini salah ibunya ia jadi lembek seperti ini. Xavier sungguh tidak kuat jika berurusan dengan hal seperti ini.
“Air mata tidak cocok mengalir di pipi ini,” kata Xavier lembut, kedua tangannya bergerak menyeka air yang mengotori pipi mulus Vermyna. “Aku tak ingin melihatmu menangis.”
Dan untuk pertama kali juga, Xavier menarik Vermyna ke dalam pelukannya.
“Aku pasti berbohong jika mengatakan aku tak mencintaimu, tapi aku juga tak bisa bilang aku mencintaimu.” Xavier berterus terang, tangannya membelai lembut rambut indah sang ratu. “Kau tentu mengerti alasannya. Aku masih belum terima kematian Nizivia yang kau sebabkan. Dan aku juga kesal dengan apa yang kau lakukan padaku, tapi pada saat yang sama aku berbohong jika mengatakan tak menikmatinya.”
“Begitu, ya.”
“…Jika aku mendapat ingatanku kembali, aku pasti akan dengan senang hati mengatakan aku mencintaimu—tak peduli jika kau telah membunuh Nizivia. Karena itu pula aku enggan menyerapnya. Aku juga belum siap mengetahui hubunganku dengan Edenia. Karena itu…bisa kita bicarakan ini lain kali? Bisa kau kalahkan Fie Axellibra dan kembali dengan selamat ke sini?”
...* * * * * * * * * * * *...
Dua menit dua detik. Itu adalah lamanya waktu yang telah Fie lewati sampai akhirnya sosok anomali pertama di dunia keluar dari dimensi persembunyiannya. Dia keluar sendiri; tak ada Xavier bahkan setelah portal tertutup.
Fie hendak membuka mulut melayangkan protes dan menyuarakan kekesalan, tetapi ucapannya tertahan saat menyadari perbedaan yang terlihat pada diri Vermyna. Bukan, bukan pakaian yang berbeda, apalagi fisiknya. Yang berbeda adalah aura yang tubuhnya pancarkan, juga sorot mata yang memandang. Lebih dari itu, Vermyna terlihat lebih memikat dari sebelumnya.
“Diriku sudah persiapkan satu dimensi luas untuk menyelesaikan urusan di antara diri kita,” kata Vermyna seraya menciptakan portal dimensi besar di sebelah kanan Fie—di antara mereka berdua. “Tenang saja. Diriku tidak mempersiapkan jebakan atau kecurangan apa pun. Diriku hanya fokus pada mempertebal dinding dimensi sehingga itu takkan hancur akibat pertarungan diri kita.”
“…Di mana Xavier?” tanya Fie pada akhirnya.
“Tidak ada gunanya mempertanyakan kehadiran dirinya. Sejak awal dirimu memang tak punya niat membunuh dirinya, bukan begitu?”
…Fie tak bisa menyangkal pertanyaan itu. Ia tak bisa membuat alasan. Jika ia memang punya niat, Xavier telah tewas sejak awal. Fie hanya ingin mengetes kekuatannya saja. Terlebih lagi, Xavier adalah “pion” terpenting bagi Edenia. Semua kekesalannya pada makhluk biadab itu bisa ia lampiaskan pada Xavier.
“Sepertinya begitu. Baiklah.” Fie melempar asal tombaknya yang Xavier patahkan dan mulai menghampiri portal. “Mari selesaikan ini dengan cepat. Aku masih perlu membereskan kekacauan yang disebabkan ketidakbecusan Genea setelah ini.”
Begitu memasuki portal, Fie langsung menemukan dirinya berada di atas tanah datar yang dikelilingi total delapan gunung di delapan penjuru yang berbeda. Dari tempatnya berdiri, ia tak bisa mengatakan seberapa luas “arena” yang sudah Vermyna siapkan. Yang jelas, tanah tempatnya berpijak ini melayang di ruang kosong. Fie bisa melihat “arena” melayang lain jauh di atas sana, dan jumlahnya cukup banyak.
“Sampai salah satu di antara diri kita terbunuh, tak satu pun dari kita bisa keluar. Tak ada yang diri kita bisa lakukan untuk keluar, kecuali dirimu bisa menghancurkan dimensi ini dari luar saat berada di dalam.”
Fie langsung berbalik badan setelah mendengarkan penjelasan itu; Vermyna Hellvarossa berdiri (dengan kedua tangan dan raga berbalutkan energi ungu kehitaman) pada jarak dua puluh meter darinya.
“Apa perkataanmu bisa dipercaya?” tanya Fie datar, mana tebal mulai menyelimuti tubuhnya seperti api.
“Itu terserah dirimu.”
“Biarlah begitu.”
Itu mengakhiri percakapan di antara kedua wanita. Ledakan energi melontar secara bersamaan dari kedua tubuh mereka, membuat kedua energi yang berbeda warna itu saling membentur dengan keras. Tanah tempat mereka berpijak mulai bergetar dan beretakan hebat, dan pada detik berikutnya “arena” yang menampung delapan gunung hancur berkeping-keping akibat intensitas ledakan energi yang bertambah secara signifikan.
“Aku mulai, VERMYNA!”
“Majulah, FIE!”
Secara bersamaan, kedua anomali sudah berada di hadapan satu sama lain dengan kepalan tangan yang saling bertemu. Kejutan udara yang disebabkan pertemuan kedua tangan itu menghancurkan segala puing yang ada di kanan dan kiri mereka.
Dan, pertarungan pun dimulai.
...* * *...
Begitu keluar dari portal, Xavier disambut hutan yang memanjang di sejauh mata memandang. Kanan, kiri, depan, dan bahkan belakang pun berupa hutan. Seperti yang Vermyna katakan, dia benar-benar mengeluarkan Xavier di tengah Hutan Basah Swamp. Dan sesuai ucapannya juga, puncak tertinggi Pegunungan Amerlesi sudah tak sama lagi. Puncak yang lama telah terpotong seper lima bagian.
“Nueva el Vermillion berada di atas puncak datar itu. Jika dirimu tak ingin dirinya bertambah kuat lagi, sekaranglah waktu yang tepat untuk mengatasi dirinya.”
Itu adalah apa yang Vermyna katakan, dan ke sanalah Xavier melesat pergi.
...»»» End of Volume 5 «««...
..........< (, ' ,) > / \ < (, ' ,) >.........
SCENE[1]—»
Author: “Kanna, a-aku bisa jelaskan!”
Kanna: (Mengeluarkan kurtalægon) “Apa yang mau kau jelaskan?”
Author: “Posisi heroine masih milikmu. Aku tidak melakukan kesalahan. Rencananya kau yang kedua, tapi salahmu sendiri siapa suruh malu-malu plus jual mahal. Coba kalau kau lebih agresif, pasti Artemys dan Vermyna gak bakal bisa menikungmu!”
Kanna: (Mengaktifkan Mode Kurtalægon + Rune Magic Manifestation)
Author: (Berlari terbirit-birit)
SCENE[2]—»
Author: “Ehem, Artemys, …kau tak masalah, kan?”
Artemys: (Tersenyum)
Author: “…Kan?”
Artemys: (Tersenyum lagi)
Author: “Ka-Kalau begitu aku permisi, selamat malam.”
SCENE[3]—»
Author: “Te-Tenangkan dirimu, Evillia, i-ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa jelaskan!”
Evillia: “Hoh? Tenang? Kau suruh aku tenang? Apa kepalamu perlu kubuka terus kujejali tinja agar kau mengerti apa yang sudah kau lakukan?”
Author: “Mo-Mohon bersabar, Evillia. Ini ujian. Tenangkan dirimu. Tarik napas dalam-dalam.”
Evillia: (Mengangkat kedua tangan dengan wajah murka)
Author: “De-Dengarkan dulu penjela—”
Evillia: “Sword of Nebula!”
Dikarenakan serangan gabungan Kanna dan Evillia, Author terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.
...THE END...