
BETAPA LAWAN yang merepotkan, batin Xavier seraya bangkit berdiri. Bagaimana aku bisa mengalahkannya tanpa sihir?
Xavier menghela napas panjang dan langsung memasang kuda-kuda, matanya menatap tajam sang nephilim yang sudah mendarat hampir sepuluh meter di depannya. Mana mengalir memperkuat seluruh aspek tubuh Xavier. Sihir hanya bisa digunakan saat jaraknya dan Fie cukup jauh. Jadi, tak ada yang bisa ia lakukan di sini selain mengandalkan kekuatan fisik dan teknik pedang.
Dalam helaan napas selanjutnya, Xavier sudah berada di hadapan Fie dengan kedua pedang yang mengayun. Phantom Sword Art: Invisible Drive!
“Lambat,” komentar Fie dengan tombak yang telah memblok kedua pedang Xavier. “Aku bisa melihat kedua tebasanmu. Kau tak bisa lebih cepat lagi?”
Xavier mendengus, melompat menjauh dengan cepat—tipis menghindari tendangan kaki kiri sang nephilim.
Ia bukannya lambat seperti yang Fie katakan. Bahkan tanpa menggunakan zirah petir atau Enchanted Flame Armor, Xavier cukup cepat. Hanya Fie saja yang lebih cepat, dan itu adalah masalah utama dalam pertarungan ini. Tanpa sihir, tak ada yang bisa Xavier lakukan untuk menghapus perbedaan itu.
“Apa tidak bisa kita selesaikan secara baik-baik?”
Fie—yang hendak menyerang—kembali diam begitu Xavier melempar tanya itu secara tiba-tiba.
“Selesaikan dengan baik-baik?” Kepala Fie miring ke kanan, ekspresinya bingung. “Apa maksudmu de—”
Xavier dengan cepat berada di kanan sang nephilim, kedua pedangnya siap menebas dari kedua sudut yang berbeda. Jika ia tak bisa mengandalkan sihir, ia hanya perlu mengandalkan apa yang bisa diandalkan. Tentu saja ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, malahan sebaliknya. Namun, pilihan apa yang ia punya di sini? Benar. Xavier tak punya pilihan.
“Kau selalu bisa meminta bantuanku.”
Suara itu berbisik di dalam kepalanya bersamaan dengan Fie yang melompat ke udara menghindari kedua tebasan pedang.
Xavier menghiraukan suara itu dan menjadikan kaki kanan sebagai tumpuan untuk berputar. Waktunya sangat bertepatan dengan datangnya ayunan tombak sang nephilim. Menghindar sangat tak mungkin dalam momen ini ‒ itu hanya akan memberi Fie keleluasan untuk mendaratkan pukulan. Xavier hanya bisa memercayakan kedua pedangnya untuk memblok ayunan tombak tersebut.
Oh, boi! Betapa kesalahan fatal yang sang commander buat!
Tenaga di balik ayunan tombak Fie bahkan lebih besar dari pukulan di perut yang tadi ia terima. Kedua pedang Xavier retak, dan lalu hancur. Untungnya, Xavier sudah terlebih dahulu terpental sebelum kedua pedangnya hancur. Jika tidak, dadanya pasti sudah tertembus mata tombak yang tajam—ia akan sangat beruntung jika selamat.
Buuum!
Satu lagi bukit hancur akibat kekuatan fisik sang nephilim yang tak masuk akal. Dan Xavier sekali lagi merasakan rasa sakit yang besar di punggung. Setidaknya, kali ini ia tidak dalam keadaan hampir mati. Kedua pedangnya telah menerima pukulan itu untuk sang commander.
[Reverse Law] kembali bekerja, dan kali ini tidak hanya pada tubuh Xavier, tetapi juga pedangnya.
“Aku tidak mengetahui kau tipikal orang yang melakukan apa saja untuk menang. Apa kau tidak punya malu, berbuat curang saat bertarung melawan wanita?”
Xavier mendengus, melompat keluar dari lubang yang tercipta akibat hantaman tubuhnya.
“Kudengar Fie Axellibra adalah tipikal pendiam yang sangat irit kata dan ekspresi; mengapa sekarang kau banyak bicara?” Xavier tak menunggu jawaban. “Kau bilang aku tak punya malu hingga berbuat curang melawan wanita? Tapi, apa kau yakin kalau kau wanita? Lihatlah, kau bahkan tak punya pa—”
Bum!
Xavier—dirinya sendiri sampai terkejut!—berhasil menghindar dari lemparan tombak yang menghantam tempatnya berpijak. Hantaman tersebut menciptakan kawah berdiameter satu kilometer.
“Apa yang tadi mau kau katakan?”
“Apa yang tadi mau kau katakan?” tanya Fie lagi, dan kali ini sembari melangkahkan kaki.
Xavier secara refleks mengambil langkah mundur. “Aku tak mengatakan apa pun yang ofensif,” katanya membela diri—sembari berusaha menjaga jarak dengan sang nephilim.
“Tidak, tidak. Tadi kau jelas-jelas mengatakan hal yang ofensif. Coba ulangi. Aku ingin mendengarnya dengan lebih jelas lagi.”
“…Apa kau yakin kalau kau wanita?”
“Benar, benar. Itu tadi apa yang kau katakan. Terus, apa kelanjutannya? Katakan kelanjutannya.”
“…Lihatlah, kau bahkan tak punya paras yang biasa. Kau bukan wanita, kau dewi. Kau terlalu sempurna untuk disebut wanita. Bidadari sepertimu tak pantas dihinakan dengan melekatkan kata ‘wanita’ padamu. Kata itu hanya untuk manusia dan ras-ras lain.” Kemudian bibir Xavier melengkung tipis. “Apa kata-kataku itu bersifat ofensif?”
Xavier melepas napas lega begitu merasakan hasrat membunuh yang menguasai tubuh Fie menghilang. Ia sungguh-sungguh telah melakukan kesalahan besar tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Ia perlu memprovokasi lawan dan membuatnya emosi hingga melakukan kesalahan. Namun, ia tak mengekspektasikan reaksi yang begitu drastis dari Fie.
“Aku yakin itu bukan hal o—!”
Xavier tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Lehernya sudah berada dalam cengkeraman tangan kecil Fie. Mata Xavier melebar, darah memuntah keluar dari mulutnya. Sang nephilim—yang separuh sayapnya telah menghitam dan berubah bentuk, rambutnya menjadi separuh hitam dan separuh putih, dan yang sekarang telah memiliki halo hitam kelam di atas kepalanya—telah menghancurkan tenggorokannya dengan sadis.
“…Aku tidak suka pembohong. Katakan, apa yang sebenarnya mau kau katakan tadi?”
“Apa rasa takut akan lenyap, yang nyatanya belum pasti, lebih besar dari rasa takut akan kematian yang datang? Mari bertukar tempat.”
Xavier menghiraukan bisikan penuh godaan itu. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Kanna hingga membuatnya tak kunjung tiba. Apa anting yang dia berikan tak bisa berfungsi?
“…Kau bisa menggunakan sihir sekarang. Anti-sihirku hanya bekerja secara otomatis saat aku dalam wujud nephilim. Cepat perbaiki tenggorokanmu dan jawab pertanyaanku…sebelum aku berubah pikiran dan membunuhmu sekarang juga.”
…Xavier tidak memiliki pilihan lain. Ah, kurang tepat. Ia bisa memilih membiarkan dirinya termakan godaan suara di kepalanya. Tapi, ia takkan mau melakukannya, tidak ketika ada pilihan lain.
Xavier berteleportasi puluhan meter menjauh dari Fie—sekaligus membebaskan lehernya dari cengkeraman tangan makhluk tersebut. Lehernya kemudian kembali normal dalam sekejap.
Xavier membuang sisa darah di mulutnya dan memandang intens Fie. “Grand Order: Disintegrate!” serunya, mengorbankan lebih dari separuh jumlah mana-nya untuk membuat perintah itu bekerja.
Namun, perintah itu tak mewujud.
“Aku memang mengatakan anti-sihirku tidak lagi bekerja otomatis, tapi aku lupa mengatakan kalau sihir takkan bisa mengenaiku. Lebih tepatnya, kau berada pada dimensi yang lebih rendah dariku sehingga mustahil bagi sihirmu untuk menjangkauku. Dan sebaliknya‒”
Mata Xavier membelalak; mata tombak Fie telah menembus dada kirinya.
“‒aku bisa menjangkaumu semudah membalikkan telapak tangan. Dan ini akan menjadi pertanyaan terakhirku: Apa yang tadi mau kau katakan? Biarkan aku mendengarnya dengan lebih jelas, Xavier von Hernandez.”