Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 50: Changing Tides, part 1



MENDENGAR pertanyaan yang tak pernah muncul dalam imajinasinya sekalipun itu membuat Fie tergelak. Hancurnya satu paru-parunya membuat tawanya diselingi batuk berdarah. Tetapi Fie tak terganggu. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, ia dikalahkan—dan akan dibunuh. Harusnya ia marah, kesal, tapi justru tawa yang keluar. Ia sendiri juga tak mengerti.


“Dirimu kumat?” tanya Vermyna.


Fie tak bisa melihat ke belakangnya, tapi ia yakin sang wanita tengah memandangnya heran dengan sebelah alis terangkat.


“Pikiran dirimu hilang kendali?”


“Bukan,” jawab Fie setelah beberapa saat—ekspresinya menjadi cukup serius. “Situasi ini tidak masuk akal, tapi bila dipikirkan lagi ini cukup wajar. Kau adalah makhluk pertama yang bisa membebaskan diri dari kontrol Throne of Heaven tanpa bantuan siapa pun. Bagaimana kau bisa melakukannya? Apa motivasi yang membuatmu sampai pada titik itu?”


Mendengar pertanyaan itu, Vermyna menarik tangannya keluar dari dada kiri sang nephilim. Fie tak mencoba meloloskan diri. Bukan karena tidak mau, melainkan tidak bisa. Walau tangan itu sudah lepas, darah Vermyna telah memenuhi peredaran darahnya. Tak ada yang bisa Fie lakukan untuk meloloskan diri.


“Dirimu menanyakan pertanyaan yang…tak diriku pikirkan. Bagaimana diriku melakukannya? Motivasi apa yang membawa diriku sampai pada titik itu?”


Vermyna menengadahkan wajahnya. Tak ada langit yang bisa matanya tuju, tapi itu bukan masalah. Penguasa para vampire ini tak sedang melihat ke atas. Matanya menerawang jauh ke masa lalu yang sudah tak lagi terjamah. Wajahnya, untuk beberapa detik, terlihat hampa akan emosi. Tetapi ekspresinya kembali normal tatkala matanya kembali berlabuh pada sang nephilim.


“…Diriku sudah lupa.”


Fie tak terkejut. Ia sudah berpikir Vermyna akan memberinya jawaban itu. Bukan karena Vermyna benar-benar tak mengingatnya, melainkan karena dia sengaja melupakannya. Pasalnya, jika dia benar-benar lupa, dia bisa menggunakan kekuatannya untuk melihat masa lalunya sendiri. Tetapi itu tak Vermyna lakukan. Sesuatu yang mungkin tak ingin dia ingat lagi.


“…Apa boleh buat kalau begitu.”


Fie tak mau memaksa sang ratu. Selain karena ia juga tak begitu tertarik, ia punya pertanyaan yang lebih penting untuk ditanyakan.


“Dirimu mau melihatnya?”


“Kau mau menunjukkannya?”


“Tidak.”


“Kalau begitu, tak usah kau tanyakan. Lupakan saja. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. Anggap ini pertanyaan tera—!”


Tombak darah menusuk punggung Fie dengan begitu tiba-tiba, menembus keluar dari pertengahan dadanya. Jantungnya tertembus, dan Fie merasakan energi kehidupannya memudar dengan cepat. Namun begitu, ia tak menunjukkan raut kesakitan di wajah.


“Kau kesal aku menanyakan pertanyaan tadi?”


“Tidak. Diriku tidak mungkin kesal. Itu hanya imajinasi dirimu semata. Sekarang, cepat tanyakan apa yang mau dirimu tanyakan sebelum dirimu terlanjur mati. Diriku akan turut menghancurkan jiwamu, jadi dirimu takkan bisa menjadi benalu bagi raga makhluk lain.”


“Tentang Edenia, apa kau benar-benar serius mau menghadapinya? Bahkan dengan segala kekuatanku, menyentuhnya saja aku tak bisa. Dan kau berpikir akan bisa mengalahkannya?”


Tombak darah yang mengenainya seketika bercabang-cabang, dan rasa sakit seketika memborbardir setiap inci kubik tubuh sang nephilim. Namun, Fie tak punya waktu untuk merasakan rasa sakit itu lebih lama. Salah satu cabang tombak darah telah menembus bagian otak yang membuatnya merasakan sakit.


“Ini bukan perkara bisa tidak bisa. Ini murni tentang harga diri dan pembalasan. Setelah apa yang dirinya lakukan pada diriku, diriku tak bisa membiarkan dirinya begitu saja. Diriku yang mati atau dirinya yang mati. Tidak ada opsi lain lagi.”


Kata-kata itu adalah hal terakhir yang bisa Fie dengar sebelum matanya kehilangan fungsi. Kegelapan langsung menelannya tanpa permisi. Rasa dingin yang menggigil secara bergerombol menyerang sang nephilim.


Begitu, ya. Kalau begitu, jadikan kekuatanku menjadi milikmu. Walaupun aku tak bisa melihat tibanya hari itu, aku ingin setidaknya bisa ikut menghabisinya.


Fie tidak tahu apakah Vermyna bisa mendengar suara hatinya, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan sebelum kesadarannya benar-benar lenyap tak berjejak.


“Seperti yang dirimu inginkan,” gumam Vermyna seraya menarik semua darah yang melayang secara bebas.


...* * *...


Kanna dan pasukannya beserta rombongan Ordo 1 Knight Templar sudah berada di dalam teritorial Emiliel Holy Kingdom dalam waktu singkat. Teleportasi menjadi jawaban atas segala permasalahan yang melibatkan jarak—kecuali jarak dua hati antara dua sejoli yang sama-sama mau tapi sama-sama malu. Mereka bahkan bisa langsung berpijak di Axellibra jika mau. Namun, mereka perlu memastikan terlebih dahulu keadaan di ibukota sebelum ke sana.


Kanna dan rombongan berada pada jarak lima kilometer di tenggara Axellibra ‒ mereka tengah bersiap untuk segera mengatasi perlawanan musuh.


Beberapa prajurit Divisi 9 Imperial Army yang lihai dalam seni pengintaian sudah melesat ke ibukota sedari tadi. Mereka hanya perlu menunggu para prajurit itu kembali sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Divisi 12 dan Divisi 1 yang Xavier dan Lilithia pimpin harusnya sudah berada di sana. Namun, karena Kanna belum merasakan sinyal kehadiran Fie, kemungkinan pertempuran belum pecah.


Penantian Kanna dan rombongan tak berlangsung lama. Kelima prajurit yang sebelumnya diutus untuk melakukan pengintaian telah kembali dengan membawa berita yang sedikit aneh. Tetapi Kanna tidak memikirkan hal itu lebih lama – ia bisa memikirkannya setelah tiba di Axellibra. Ia pun meminta semua pasukan (termasuk Knight Templar yang Arthur pimpin) untuk berdiri dan mempersiapkan diri.


Sementara itu, di Axellibra yang luas, Lexata IX memimpin pasukannya menyerang dua divisi Imperial Army yang hendak memasuki kota. Lexata berhadapan dengan pemimpin kedua divisi, sementara para prajuritnya sudah sibuk berbaku hantam dengan kedua divisi yang menyerang. Lawan Lexata bukan commander, tetapi perpaduan kekuatan mereka berdua membuatnya kesusahan.


Di dalam kota, tepatnya di ruang khusus yang ada dalam gereja, pertarungan antara Valeria dan Lancelot sudah memasuki fase puncak. Lancelot sudah mengeluarkan banyak tenaga sebelum keduanya bertarung, terlihat jelas kalau dia berada di posisi yang tak diunggulkan. Namun begitu, Valeria tak bisa mengalahkannya begitu saja. Vampire terkuat kedua dari semua bawahan Vermyna ini sampai dipaksa mengeluarkan kekuatan penuhnya.


Di sisi barat laut kota, Lumeria baru saja menginjakkan kedua kakinya di atas dinding kota. Matanya—walau kurang jelas—dapat melihat pertempuran yang sedang berlangsung di depan gerbang selatan ibukota. Namun, Lumeria mengabaikan hal itu. Pertempuran antara Knight Templar dan Imperial Army bukan urusannya. Lumeira lebih tertarik dengan pertempuran di dalam gereja dibandingkan pertempuran kedua kubu itu.


Lumeria dengan cepat menghampiri gereja. Namun, sebelum kedua kakinya sempat melangkah masuk, energi sihir dalam jumlah besar menyerbu ibukota. Dan pada saat itu pula mata mantan Third Commander ini mendapati Kanna el Vermillion berada tepat seratus meter di atas kepalanya. Mata mereka bertemu tatap, dan Lumeira bisa melihat kalau sang putri tidak senang.


“Oh, sial.”