Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 22: Sky isn't Boundless, part 3



...—Malam | Wild Arena, Dragonoa, Warebeast Great Kingdom—...


Melatih kembali instingnya dengan berpartisipasi dalam duel-duel pertarungan bebas yang diselenggarakn setiap malam bukanlah satu-satunya hal yang dilakukan Alice dalam penantiannya menunggu turnamen diadakan. Ia turut aktif mengumpulkan informasi, baik itu informasi tentang kekaisaran maupun Islan secara menyeluruh. Karenanya, walau Alice tidak berada di kekaisaran, ia sedikit banyaknya mengerti seperti apa keadaan negeri tempat Clara dimakamkan.


Namun begitu, dari semua informasi yang ia peroleh setelah dua bulan lebih tinggal di Dragonoa, satu dari dua yang paling menyita perhatiannya adalah aksi Xavier dan Kanna dalam perang yang berakhir dengan lenyapnya Ilamia City States Union dari permukaan Islan. Katanya, mereka menghadapi seekor naga kolosal. Tidak ada informasi yang kejelasannya meyakinkan, tetapi hampir semua menyebutkan naga itu jelas berada di atas level seekor Dragon Lord.


Baik Xavier maupun Kanna, keduanya telah berkembang menjadi luar biasa kuat. Jika dua tahun lalu ia bisa mengimbangi Kanna (meski hanya diawal-awal saja), sekarang Alice tak yakin. Ia bisa menembakkan cahaya, bahkan menjadi cahaya—meskipun kecepatannya tidak bisa menyamai cahaya. Namun, jika ia tak bisa membebaskan diri dari pengaruh runenya Kanna, ia takkan bisa menang.


Informasi yang satu lagi, dan yang paling sulit dipercaya, posisi Eleventh Commander sekarang tidak lagi dipegang Nizivia von Clasta. Disebutkan kalau Nizivia telah tewas, tetapi ada juga yang mengatakan gadis itu mengasingkan diri. Yang jelas, posisi Eleventh Commander sekarang dipegang oleh orang lain. Perhatian Alice tentu saja bukan pada orang lain itu, melainkan pada ketiadaan Nizivia itu sendiri.


Nizivia bukan Clara, tetapi Nizivia bukan seseorang yang asing bagi Alice. Mereka kadangkala menghabiskan waktu bersama. Nizivia suka melakukan latihan tambahan, begitu pula dengan dirinya. Nizivia takkan mampu mendekati posisi Clara dan Karen di hati Alice, tetapi Nizivia adalah dekat. Ia tidak merasa kesal pada gadis itu, berbeda dengan Kanna dan Xavier. Karenanya, mendengar kemungkinan gadis itu tiada tidak membuat Alice senang.


“Evil Mask, waktumu telah tiba!” seru pembawa acara sekaligus wasit dalam pertarungan malam ini. “Malam ini ada kontestan yang secara lantang mengatakan akan mengalahkanmu. Dia seorang yang cukup terkenal bukan saja di Dragonoa ini, melainkan juga di seantero Warebeast Great Kingdom. Apa kau akan menerima tantangannya?”


Alice yang sibuk dengan pikirannya sendiri di barisan kursi penonton spontan mengarahkan pandangan pada sang wasit di lantai arena—sebuah lantai berbahan dasar marmer dan mytril berbentuk persegi berukuran 20 x 20 meter.


“Tidak masalah,” respons Alice datar seperti biasa. “Siapa pun lawannya, hasilnya akan sama.”


Sorakan penonton—terutam penggemar Alice yang tak sedikit jumlahnya—seketika memenuhi arena. Mereka rata-rata sudah melihat Alice bertanding. Sudah jelas bagi mereka untuk membenarkan ucapan arogan Alice. Meskipun Alice manusia, dan walau mereka warebeast, kekuatan tetaplah kekuatan. Yang kuat diakui, yang lemah mencari pengakuan, dan yang luar biasa kuat memberi pengakuan. Begitulah hal sederhana yang dianut di atas arena ini.


Namun begitu, cemoohan juga santer terdengar. Kali ini suara cemoohan itu tak kalah hebat dibandingkan suara dukungan. Namun, mengingat sang wasit mengatakan lawannya adalah individu terkenal, itu menjadi suatu hal yang wajar. Dan, seperti cemoohan-cemoohan yang sudah-sudah, Alice akan membungkam mereka dengan kemenangannya.


“Betapa kepercayaan diri yang mengagumkan!” seru sang wasit seraya mengangkat kedua tangan secara dramatik. “Namun, apakah kali ini dia bisa mempertahankan kepercayaan diri itu?” Sang wasit mengabaikan gemuruh ria suara penonton. “Sekarang, sambutlah sang penantang Evil Mask, Hyenas Ertharossa!”


Warebeast wanita berambut coklat keemasan dengan kulit sawo matang melompat dari kerumuman penonton dan mendarat dengan kasar di arena. Sebuah tombak platinum bemata mythril tergenggam erat di tangan kanannya.


“Evil Mask!” seru Hyenas lantang, suaranya penuh keangkuhan—seperti yang bisa diekspektasikan dari cucu sang raja. “Aku sudah memutuskan untu menjadikanmu lawan untuk mengetes kekuatanku. Kakek melarangku ikut turnamen besok, karenanya kuputuskan aku akan menghabisimu sebagai gantinya.”


Alice berdiri dari tempatnya didik, melompat dan mendarat dengan elegan di atas lantai arena. “Statusmu di sini sebagai cucu Yang Mulia Raja sama sekali tidak penting,” katanya tenang. “Majulah, dan kau akan segera menyusul mereka-mereka yang kalah.”


“Heh, baiklah, akan kubalikkan kata-kata itu padamu. Wasit! Mulaikan pertandingan.”


Sang wasit mengangguk, spontan melesat menjauh ke pinggir arena. Pada saat yang bersamaan, beberapa lapis barier terbentuk mengelilingi arena. “Mulai!” seru sang wasit dengan lantang.


“Art of Beastification,” bisik Hyenas, seketika tubuhnya diselimuti [mana] abu-abu. “First Phase: Beast Ultimate Strength!”


[Mana] abu-abu yang menyelimuti Hyenas perlahan memerah, lalu dalam sekejap menjadi liar dan perlahan meresap ke dalam tubuh Hyenas. Sedetik kemudian kuku-kuku Hyenas memanjang, urat-urat di lehernya menegang, dan muncul tiga garis hitam di masing-masing pipinya. Hyenas yang tadinya terlihat cantik dan angkuh nan berwibawa laksana penguasa, kini terlihat sangat liar.


Namun begitu, pukulan pertama tidak menjadi milik Hyenas. Membiarkan lawan menjadi kuat bukanlah tabiat Alice. Bersamaan dengan Hyenas yang mulai berubah, Alice sudah berada di hadapan Hyenas dan menghantam wajah sang putri dengan kaki kanannya. Hyenas terhempas kuat bersamaan dengan selesainya fase pertama Art of Beastification-nya.


...* * *...


Di salah satu sudut tribune penonton, Xavier duduk dengan tenang melihat pertandingan. Ia datang ke arena karena mendengar rumor kalau pengguna sihir cahaya yang hebat terus memenangi pertandingan demi pertandingan tiap malamnya. Bukan kenyataan kalau dia tak pernah kalah yang membuat Xavier ke sini, tetapi fakta kalau individu tersebut adalah pengguna [Light Magic].


Alice Skyward menggunakan [Light Magic], dan ia sangat baik dalam hal itu. Xavier tidak tahu sehebat apa dia telah berkembang, tetapi ia pikir mungkin Alice sekarang sudah bisa mengimbangi Commander Herena dalam penguasaan [Light Magic]. Alice berbakat, tidak menutup kemungkinan jika dia sudah melampaui sang commander. Tetapi itu bukan berarti Alice bisa mengalahkan Herena. Xavier harus melihat seperti apa kekuatan penuh Alice untuk bisa menyimpulkan.


Individu bertopeng yang sedang menyudutkan Hyenas Ertharossa dalam permainan tombak itu adalah seorang wanita. Permainan tombaknya tidak asing; Xavier tahu karena ia sudah pernah bertarung dengan Alice. Dan, jujur saja, kemampuan Alice dengan pedang dan tombaknya saat itu lebih baik dan Xavier. Ia hampir pernah kalah dari gadis itu.


Oleh karena itu, Xavier yakin dia adalah orang yang ia cari. Evil Mask adalah Alice Skyward. 99 persen kemungkinannya; 1 persen sisanya hanyalah ketidakberuntungan saja kalau ia mungkin salah.


Namun begitu, Xavier tidak berencana menemui Alice malam ini. Ia akan ikut dalam turnamen besok. Ia akan mengalahkan Alice saat itu dan membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengikutinya ke Vladivta Kingdom.


Xavier takkan memaksa Alice mengikutinya ke Nevada jika dia tidak mau. Namun, mereka memang perlu bicara.