
Xavier, bahkan dalam imajinasinya yang paling liar, tak berpikir akan melihat Kanna menjadi seperti ini. Kanna adalah sosok ideal dari seorang putri, seorang empress. Namun, di hadapannya sekarang, Kanna seolah telah berubah seratus delapan puluh derajat. Aura kejahatan darinya terasa begitu kental. Melihatnya seolah melihat perwujudan sumber kegelapan dalam hati makhluk fana.
“Apa yang terjadi padamu?” Xavier melempar pertanyaan. “Apa kau benar-benar Kanna? Kau bersikap tak seperti dirimu. Kau harusnya melihatku dengan marah dan kecewa sekarang, tapi pandangan matamu justru terhibur.”
“Apa yang terjadi padaku?” beo Kanna sembari melangkahkan kaki seolah ingin melingkari Xavier. “Tak ada yang terjadi. Aku memang selalu seperti ini sejak awal. Akting. Mungkin kata itu tepat untuk digunakan. Selama ini aku berpura-pura menjadi seorang putri yang ideal di mata orang-orang, tapi hari ini sudah kuputuskan hal itu tak lagi diperlukan. Aku sendiri jijik dengan itu.”
“Edenia sudah mengontrol dirinya,” timpal Vermyna yang asik menyamankan diri dalam pelukan Xavier. “Kita harus membunuh dirinya sebelum terlambat. Dirinya yang sekarang adalah bencana yang berjalan.”
“Bukan,” ucap Xavier merespons tuduhan Vermyna, tapi matanya tetap pada Kanna. “Aku sudah menghabiskan banyak waktu dengan Edenia; aku akan tahu kalau dia berada dalam kontrolnya.”
“…Dirimu…dirimu sudah….”
“Ya,” potong Xavier sebelum Vermyna mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia ingin mengiringi jawaban singkat itu dengan senyuman, tapi tak bisa—tidak dengan pandangan tajam Kanna yang mengawasi seperti predator. Kita lanjut bicara nanti, ucapnya secara telepati ke dalam kepala Vermyna, tapi sekarang aku akan meneleportasimu ke tempat Incell. Tetaplah di sana sampai aku kembali. Aku takut Kanna akan benar-benar membunuhmu. Ah, aku sudah mengirim Monica dan Artemys ke sana. Jangan lakukan apa pun pada mereka, atau kau akan menyesal.
Xavier tak membiarkan Vermyna membalas perkataannya; sang ratu sudah menghilang dari pelukan Xavier tepat setelah ia selesai bertelepati.
“Jadi, dia memang mengatakan yang sebenarnya, …kalau dia istrimu.” Kanna tak memberi jeda bagi Xavier untuk merespons. “Kau sudah menipuku sedari awal. Kau sudah membunuh ayahku. Kau sudah mengkhianati kepercayaan di antara kita. Dan aku yakin ada hal lain lagi yang kau sembunyikan. Pada titik ini, kau sudah bukan lagi kucing kecil; kau sudah menjadi kucing garong. Kau harus dibunuh.”
“Tapi,” lanjut Kanna bersamaan dengan kakinya yang sudah berada tepat di hadapan Xavier—dia cepat. “Aku suka kucing garong. Ah, harusnya aku membunuhmu setelah semua kejahatan yang kau perbuat, tapi anehnya aku justru semakin suka. Aku suka saat kucing garong sepertimu menunjukkan nyali yang besar seperti itu, dan aku lebih suka lagi saat nyali itu menciut. Melihat perlawanan yang menggelikan perlahan-lahan luntur membuat jiwaku bergairah.”
Kanna mengakhiri ucapannya sembari memegang dagu Xavier dengan tangan kiri, yang tentu saja langsung ditepis.
“Ah, aku suka perlawanan ini. Kau membuatku ingin memotong tanganmu dan kemudian bertanya, bagaimana sekarang kau akan melawan?”
“Apa kau benar-benar Kanna? Apa yang terjadi? Kau punya dua kepribadian? Atau…walau ini tak masuk akal…kau punya ingatan masa lalu? Kau pernah hidup di masa yang lalu? Karena itu sekarang kau menjadi makhluk empat dimensi?”
“…Jadi, itu yang terjadi padamu.” Untuk sesaat aura jahat yang menyelubungi Kanna menghilang, sayapnya kembali putih bersih. Ia berdiri dengan wajah menengadah, kemudian matanya kembali memandang Xavier dengan bibir yang melengkung tipis. “Mungkin begitu,” katanya.
“Melihat kau menjadi seperti ini, dirimu di masa lalu….”
“Makhluk yang menakutkan. Aku dulunya makhluk enam dimensi. Aku hidup di dimensi keenam. Aku telah menghancurkan satu semesta sebelum berada di semesta ini. Aku kriminal yang diburu hingga ke seluruh penjuru dimensi. …Aku mungkin akan berakhir menghancurkan semesta ini.”
Terkejut saja tidak cukup untuk menyimpulkan apa yang Xavier rasa, ia terdiam kehabisan kata.
Mendengar penuturan itu, kekhawatiran Edenia terbukti benar. Asumsinya tidak salah. Mereka bukan satu-satung kehidupan yang ada. Dunia lebih luas dari yang bisa mereka imajinasikan. Dirinya, dan bahkan Edenia sekalipun, mungkin hanya kelinci di hadapan harimau jika dibandingkan dengan semesta luar.
“…Aku bisa membayangkannya.”
Kanna tersenyum lembut mendengar jawaban itu, tetapi sayapnya telah kembali menggelap, dan pedang di tangan kanannya telah menembus tubuh Xavier tepat satu inci di bawah jantungnya.
“…Kenapa kau tak menghindar?” Ekspresi Kanna datar, matanya tajam, tangan kanannya memutar memberi luka yang lebih besar pada tubuh sang pemuda. “Kenapa kau tak menghindar?” tanyanya lagi, kali ini disusupi kebencian.
“Jika membunuhku bisa meredakan sedikit amarahmu, jika membunuhku bisa membuatmu mengendalikan dirimu kembali, jika membunuhku dapat memberi kepuasan dalam dirimu, itu harga kecil yang harus dibayar. Aku tidak keberatan sama sekali.” Bibir Xavier melengkung tipis. “Ini menyedihkan melihatmu seperti ini.”
Tangan Kanna berhenti bergerak, berhenti dari memberi luka yang lebih menganga pada tubuh Xavier. “Ini tidak adil jika kau tak melawan,” gumamnya seraya menarik pedang keluar dari tubuh sang pemuda. “Aku sungguh-sungguh tak menyukaimu,” tambahnya lalu menyandarkan diri pada Xavier, dahinya menempel pada dada kiri sang pemuda. “Aku sungguh membencimu. Katakan, apa semuanya benar?”
Xavier menuruti perintah hatinya. Ia membawa kedua tangan memeluk sang putri. Ia punya rencana untuk direalisasikan, tapi pada titik ini itu sudah tak mungkin lagi dilanjutkan. Melihat Kanna yang sekarang, ia tak bisa meninggalkan Islan di tangannya. Ia tak mau mengakui ucapan Vermyna, tapi saat ini Kanna adalah bencana yang berjalan. Dia bisa menghancurkan impiannya sendiri.
“Semuanya benar, kecuali satu.” Xavier memutuskan untuk berterus terang. “Aku tidak membunuh ayahmu. Aku punya rencana membunuhnya, tapi pada akhirnya aku tak bisa melakukan itu. Aku memutuskan akan menyegel kekuatan ayahmu dan membuatnya hidup seperti rakyat biasa. Tapi Edward—atau aslinya Lucifer—membunuh ayahmu terlebih dahulu. Aku membunuh Lucifer, tapi aku tak mampu menyelamatkan ayahmu.”
“…Kau mencintaiku?”
Pertanyaan itu datang tak terduga. Bersamaan dengan pertanyaan itu, kedua tangan Kanna melingkarkan diri padanya. Pedang yang menusuknya telah menghilang entah ke mana. Sang putri menempel erat padanya.
“Aku mencintaimu.” Xavier menjawab tanpa ragu. Itulah kebenarannya. Tak perlu membohongi diri.
“Dusta.”
“Kau tahu aku tak berdusta.”
“Vermyna takkan jadi istrimu kalau kau tak berdusta.”
“Vermyna memaksakan dirinya padaku. Artemys memaksakan dirinya padaku. Dan Monica memaksaku untuk segera menikahinya. Aku tidak pernah meminta wanita mana pun menjadi istriku.”
“Jadi dugaanku benar. Memang ada yang kau dan Artemys rahasiakan. Tapi Artemys lemah, bagaimana dia bisa memaksamu?”
“Dia pintar.”
“…Artemys memang pintar. Baiklah, aku percaya.”
“Kau percaya?”
“Tapi kau harus membuktikannya. Ketiga wanita itu memaksamu menikahi mereka, jadi aku ingin kau memaksaku menikahimu.”
“Oh, jadi kau suka dipaksa.”
“Hmph. Aku lebih superior darimu, memaksamu mudah. Jadi, kau harus memaksaku. Buktikan kalau kau mampu.”
“Kau yakin ingin dipaksa? Aku takkan berlaku lembut kalau memaksamu. Kau mungkin harus memakan lebih banyak dari yang mampu kau telan.”
“Heh, kau berbicara seolah bi—Xavier!”
...—Kazarsia Kingdom—...
Rumor tentang rencana super gemilangnya—yang bahkan Clown sendiri tidak tahu apa itu—menyebar dengan cepat setelah Commander Xavier (atau yang sekarang telah mengklaim dirinya sebagai emperor) meninggalkan ruang singgasana lebih dari satu jam yang lalu.
Itu dimulai dari perdana menteri. Dia berteori kalau ia, Raja Clown yang super jenius, sejak awal telah memanfaatkan Commander Xavier. Teori itu berdasarkan momen pertemuannya dengan commander itu sebelum ia menjadi raja. Clown ingat saat itu ia curhat pada sang emperor, tapi ia tak berpikir ada yang melihat mereka. Kenyataannya ada yang melihat pertemuan itu. Dan karena itu, perdana menteri yakin kalau ia telah mencuci otak sang commander saat itu.
Teori gila perdana menteri langsung didukung oleh menteri ekonomi dan pembangunan. Dia menganggap Clown ingin menguasai Islan tanpa benar-benar menguasainya. Commander Xavier sangat kuat, jadi ia memilih sang commander untuk menjadi emperor demi dirinya. Masyarakat Islan berpikir tampuk kekuasaan akan berada di tangan Xavier, padahal sebenarnya sang commander hanyalah pesuruh Clown.
Teori gila itu dengan cepat menyebar, dan sekarang seisi istana telah menganggapnya sebagai kebenaran. Clown mendapati setiap orang yang ia papasi memandangnya dengan penuh pengagungan. Pada titik ini, jika ia mengatakan ia adalah dewa yang turun ke dunia, ia yakin takkan ada satu pun yang ragu. Bahkan beberapa orang sampai bersujud padanya.
Ini benar-benar gila, batin Clown seraya membuka pintu kamarnya. Istrinya jam segini sedang berurusan dengan program kesejahteraan wanita yang dia usulkan. Jadi, Clown bisa beristirahat penuh dan membuat mentalnya yang hampir hancur kembali prima.
Namun, begitu Clown membuka pintu kamarnya, seketika ia terkejut hebat hingga jatuh terduduk. Jantungnya berdetak cepat seakan hendak pecah. Keringat dindin membasahi pelipis, dan matanya seakan-akan hendak keluar.
Clown belum pernah melihat naga secara langsung, tapi bahkan dirinya tahu kalau naga tak lebih besar dari gunung. Namun, makhluk yang berada di belakang sang malaikat begitu besar hingga membuat gunung seperti kerikil di tengah jalan. Warnanya yang hitam kelam membuat naga bersayap sepuluh itu terlihat menakutkan. Namun, yang paling menakutkan adalah gigi-giginya yang besar dan matanya yang tajam.
“Yang Mulia!”
Panggilan itu sedikit meringankan ketakutan Clown, membuatnya menolehkan wajah. Namun, ia dengan cepat mengembalikan pandangannya ke depan saat sadar betapa berbahayanya memalingkan wajah dari makhluk seperti itu. Tetapi makhluk itu telah lenyap. Begitu juga dengan sang malaikat dan ruang hitam yang melingkupi mereka. Kamarnya telah normal.
Halusinasi?
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya sang prajurit penuh kekhawatiran.
“Apa kau melihat sesuatu?” tanya Clown sembari berdiri, matanya tak beranjak dari memandang kenormalan di hadapannya.
“Melihat sesuatu? Sesuatu apa, Yang Mulia?”
“Tidak, lupakan saja. Sekarang tinggalkan aku sendiri. Aku perlu beristirahat.”
“Tentu saja, Yang Mulia. Saya akan berjaga di sini.”
Clown langsung masuk dan menutup pintu kamar. Ia merebahkan tubuhnya yang telah ditimpa rasa lelah yang berlipat-lipat. “Itu tadi pasti halusinasi,” gumam sang raja pelan—dan ia melakukannya secara berulang-ulang hingga matanya memejam.
...—Emeralna Kingdom—...
Meyrin telah pasrah saat berpikir dirinya akan jadi korban siksaan Karen mel Matepola. Namun, di sini ia sekarang, di depan pintu istana saudari tiri Kanna. Ia sudah berdiri di sini sedari tadi, lebih dari satu jam. Xavier telah membawanya pergi dari penjara itu tanpa kata. Dia telah membawanya ke sini tanpa kata. Dan dia juga telah menghilang tanpa kata. Meyrin tidak mengerti apa maksud dari pengkhianat itu….
“Meyrin.”
Mata Meyrin mengerjap mendengar suara itu. “Alice….”
“Ayo masuk. Sebelum Xavier membawaku paksa ke sini, dia bilang dia akan membawamu ke sini. Dia memintaku menjawab pertanyaanmu, …kalau kau punya pertanyaan. Ayo masuk. Aku masih harus membantu Jenny yang dipaksa bekerja keras.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Meyrin seraya melangkah mengikuti Alice.
“Apa yang terjadi? Tidak ada. Xavier hanya jadi gila dan tidak waras. Itu saja. Kau tak usah banyak pikir. Yang jelas, impian Kanna akan jadi kenyataan. Menyatukan kekaisaran di bawah bendera Vermillion Empire takkan bertahan untuk waktu yang lama, jadi Xavier memutuskan memberi Kanna kekaisaran yang baru. United Empire of Islan Xavier dirikan untuk Kanna, demi memenuhi keinginannya. Aku tak tahu Xavier benar-benar menyukai Kanna atau hanya tak mau repot.”
“Tapi Xavier mengklaim diri jadi emperor! Dia juga mengatakan telah membunuh Emperor Nueva!”
“Bagian dari rencana,” jawab Alice santai. “Xavier memaksa semua kerajaan untuk tunduk. Walaupun mayoritas penguasa tunduk sukarela karena tahu kalau Xavier itu El, tapi berbeda dengan petinggi-petinggi kerajaan dan rakyat mereka. Pemberontakan akan ada. Sabotase akan merajalela. Kelompok-kelompok teroriis akan bermunculan. Ketika semua orang di Islan mengetahui Xavier telah memaksa Islan tunduk di bawah aturannya karena dia terlalu kuat, orang-orang akan takut padanya dan menganggap dia tiran. Di situlah peran Kanna. Dia akan menjadi pahlawan yang akan membebaskan Islan dari kontrol Xavier. Semua orang menyukai pahlawan.”
“…Itu…Itu tak sulit dipercaya. Tapi…tapi Monica iblis.”
“Kenapa rupanya kalau Monica iblis?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Meyrin terdiam. Ia seolah terpukul keras.
Alice mengedikkan bahu saat tak mendapatkan jawaban. “Yang lebih penting, mari berharap untuk kegagalan rencana Xavier.”
“Huh? Bukannya kau mendukungnya?”
“Mendukung? Aku dipaksa. Xavier sialan itu ingin hidup berleha-leha dengan ketiga wanitanya. Aku bilang Xavier melakukan ini semua untuk Kanna, tapi sebenarnya ini untuk keegoisan anak itu. Dia mau hidup tenang bersama ketiga wanitanya, jadi dia melimpahkan semua tanggung jawab ke tangan Kanna dan yang lainnya. Ketika kita semua disibukkan mengurus Islan yang luas, dia akan sibuk menikmati hidup bersama wanita-wanitanya!”
“Akan kubantu kau berdoa,” respons Meyrin cepat.
“Ya. Mari kita berdoa untuk kegagalan Xavier. Kalau dia tetap jadi emperor, dia takkan punya waktu untuk bersenang-senang. Dia akan sengsara, dan aku akan menikmati setiap waktu penderitaannya.”
“…Kau iri karena Xavier tidak menjadikanmu bagian dari ‘wanita-wanitanya’?”
Langkah Alice terhenti mendengar pertanyaan itu, dan Meyrin memutuskan untuk langsung menjauh.
“Apa kau bilang?”
“Tidak ada. Aku tak bilang apa-apa.”
“Kukira juga begitu. Ayo bergegas. Jenny kerepotan mengurus semua dokumen seorang diri.”
...* * *...
Dua pasang mata berbeda warna saling beradu tatap dengan bintang-bintang di atas sana. Mereka berada di dalam ruangan megah yang tak beratap, di atas batu es yang melayang bebas di angkasa. Cukup jauh dari bola raksasa yang mengayomi kehidupan, jauh dari mata-mata yang bisa memandang, jauh dari telinga-telinga yang bisa menguping. Tempat yang hanya bagi mereka.
“Xavier,” panggil pemilik mata biru gelap itu, jemari kanannya bergerak lembut di atas dada sang pemilik nama.
“Hm?”
“Aku mau kau menjanjikanku satu hal.”
Mendengar kalimat serius itu, mata merah Xavier menoleh pada pemilik mata biru yang eksotis. Hal yang sama dilakukan sang wanita, membuat kedua mata itu saling bertatapan. Jika bintang-bintang jadi iri karena mereka tak lagi dirasa memesona, keduanya tak peduli.
“Kalau aku sampai berakhir membawa kehancuran bagi semesta ini, kau harus melakukan segala yang kau bisa untuk membunuhku. Ada suara gelap di dalam kepalaku, aku takut hanya masalah waktu sampai aku menjadi monster kembali.”
“Heh, kalau kau jadi monster, aku akan jadi raja para monster. Kau takkan punya pilihan lain selain tunduk padaku.”
“Kau gila.”
“Kalau aku tak gila, aku tak mungkin bisa menerima kegilaanmu.”
“Kau bodoh.” Wajah Kanna datar, tapi sejurus kemudian ia tersenyum tipis dan menempalkan dahinya pada dahi sang pemuda. “Tapi karena kau bodoh aku tak mau sampai kau lepas dariku.”
“Baru kali ini aku senang dikatai bodoh.”
“Hahaha, kau benar-benar bodoh.”
...»»» End of Chapter 52 «««...
Well, Chapter 52 ini adalah chapter terakhir. Terkejut? Sama. Aku juga. Tapi serius, ini yang terakhir. Chapter selanjutnya adalah Epilog. Dan Tamat. Thanks for being with me this far.