
Kanna kali ini tidak menyerang terburu-buru.
Ia baru menyadarinya: berbeda dengan sebelum-sebelumnya, ia tidak merasakan rasa lelah berlebih saat menggunakan tiga formula Rune Magic Manifestation. Kurtalægon sepertinya juga memperkuat ketahanan tubuhnya. Atau, jika asumsi itu salah, Rune Magic Manifetation tidak membebani tubuhnya, tetapi membebani sang pedang. Terlepas dari kemungkinan mana yang benar, peluangnya menggunakan dua belas formula sekaligus tetap sangat besar.
“Ada apa, ragu menyerang? Ingin diriku menyerang duluan?” Vermnya tidak menunggu respons Kanna, dia sudah berada di hadapan sang putri dengan telapak tangan kanan terentang ke depan. “Great Wind Force.”
Gelombang angin terkonsentrasi dan berdaya hancur tinggi mendesau menerjang Kanna. Kanna tak mencoba menghindar. Light Armor—spell yang menjadi favorit Alice—membaluti tubuhnya dalam sekejap, dan dengan berani ia menembus gelombang angin itu. Benturannya dengan gelombang angin itu sempat seimbang sedetik, sebelum kemudian Kanna tembus dengan mudah.
Bersamaan dengan itu, ratusan tombak cahaya bermanifestasi di kanan dan kiri Kanna. Menggunakan kekuatan seraphim membuat Kanna memiliki akses bebas terhadap [Holy Magic] dan [Light Magic]—kemungkinan besar itu sihir Seraphim Raphael lantaran ia paling sering menggunakan Parallel Mind of Raphael. Meniru apa yang pernah Alice perlihatkan padanya menjadi sangat mudah. Dan lebih dari itu, sihirnya lebih kuat.
Sayangnya, Vermyna menghindari semua serangan Kanna dengan mudah. Itu seperti sang vampire sedang main-main saja. Bahkan ketika Parallel Mind of Raphael menggelontorkan spell dari titik butanya, Vermyna dengan mudah menghindar. Tak satu pun serangan Kanna dapat mendarat. Pukulan telapak tangannya Vermyna hindari bahkan sebelum pukulan itu sempat melesat.
“Overload Brightness!” Kanna memancarkan cahaya yang terang benderang mencoba membutakan pandangan Vermyna untuk sesaat, pada saat yang bersamaan ia melepaskan semua spell yang Kurtalægonnya serap saat melawan Nueva.
Namun, hal yang tak ia ekspektasikan terjadi. Semua cahaya yang ia buat menghilang tergantikan kegelapan; semua spell itu melebur dan tertelan dalam ruang kubah hitam kelam itu. Kubah hitam itu kemudian mencoba mengekspensi diri, tetapi tiba-tiba kubah itu luruh dengan sendirinya.
“Hm, sepertinya diriku memang masih belum bisa menggunakan One Space ‒ Infinity.” Vermyna berkata pada dirinya dengan ekspresi terhibur, dan sejurus kemudian—dengan begitu tiba-tiba—menghentakkan telapak tangan kanannya ke depan. “Hell Lightning.”
Gelombang petir merah gelap pekat—dengan aura hitam kelam yang menyelubunginya—melesat cepat dari depan telapak tangan Vermyna. Petir itu sama sekali tidak normal, levelnya hampir setara dengan petir hitam—Kanna bisa mengatakan dengan jelas. Selain itu, auranya sedikit mirip dengan aura kekuatan Azrael. Apa itu bisa memberi efek yang sama dengan kekuatan sang seraphim?
Kanna tidak tertarik untuk mengetesnya sendiri, telapak tangannya melebar mencoba menyerap petir tersebut. Namun, bersamaan dengan itu, satu lagi Vermyna sudah muncul di belakangnya—Kanna menyadari itu sihir [Perfect Clone]-nya Nizivia. Jika itu orang lain, mereka rata-rata akan terkena serangan Vermyna. Namun, Kanna bukan orang lain. Parallel Mind of Raphael menjalankan fungsinya dengan baik: selagi tangannya menyerap petir itu, tameng cahaya segi enam muncul di belakangnya memblok serangan sang klon.
Setidaknya, itu adalah apa yang seharusnya terjadi. Namun, serangan Klon Sempurna Vermyna membuat barier itu meluruh laksana mentega yang dilelehkan. Concentrated Engulfing Silence, batinan penuh keterkejutan Kanna itu datang terlambat. Tubuhnya sudah terpental kuat hingga puluhan meter dan jatuh menghantam lantai arena. Ia terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.
“Bahkan serangan itu tak bisa memberi kerusakan pada Kurtalægon.” Vermyna dan Replika Sempurnanya mendarat beberapa meter di depan Kanna. “Apa itu artinya dirimu tidak akan bisa dilukai selama menggunakan kemampuan Kurtalægon? Sekarang diriku jadi sedikit kesal dengan Hernandez.”
Kanna sendiri pun terkejut. Jangankan luka, rasa sakit pun tak ia terima. Satu-satunya alasan mengapa ia sampai terlempar adalah tenaga yang Klon Sempurna Vermyna lepaskan—terlebih lagi posisi tubuhnya sedikit condong ke depan. Jika kakinya tertahan dengan benar dan ia dalam keadaan memblok, besar kemungkinan ia takkan terlempar. Kekuatan fisiknya dalam mode ini tidak lebih lemah dari lawannya.
“Untuk seukuran gadis kecil, pikiran dirimu cukup tajam. Namun, mengetahuinya pun percuma; tidak ada yang bisa dirimu lakukan. Nah, tidak perlu banyak bicara lagi. Mari selesaikan ini dengan cepat.”
Kanna tidak perlu diminta dua kali. Dan setelah mengetahui tubuhnya kebal akan serangan andalan Nizivia (yang kini digunakan replika sempurna Vermyna), ia tidak perlu ragu-ragu.
Mereka berada dalam kondisi seimbang. Kanna tidak bisa mendaratkan serangan pada Vermyna, dan Vermyna tak bisa melukainya. Siapa pun dari mereka yang terlebih dahulu mengekang lawan, dialah yang menang.
“Time-Space Magic: Infinity World.”
Mata Kanna melebar sempura, bahkan pelipisnya telah dibasahi keringat dingin. Vermyna dalam jumlah yang tak bisa ia hitung telah membanjiri arena dan memenuhi udara. Mereka semua tidak terlihat hologram seperti yang tadi; itu adalah perwujudan kekuatan yang berbeda dengan yang tadi. Mereka sama nyatanya dengan dirinya. Setidaknya, begitulah yang ia lihat dan ia rasa.
“Berbeda dengan apa yang terjadi sebelumnya, semua diriku ini bisa berinteraksi dengan masa yang sekarang, walaupun itu hanya untuk beberapa waktu saja. Sebagai konsekuensi dari hal itu, dirimu juga akan bisa berinteraksi dengan mereka. Ah, Infinity World kali ini lebih kuat dari yang kugunakan saat melawan Nizivia. Karenanya, lakukan yang terbaik untuk selamat.”
Semua Vermyna melesat tanpa ampun. Bahkan dengan segala kekuatannya, Kanna tidak bisa mengimbangi mereka. Ia menjadi samsak tinju para Vermyna. Meskipun ia tak menerima luka, walaupun ia tak merasakan sakit, tetapi tubuh yang terombang-ambing menjadi bulan-bulanan para Vermyna membuat kepalanya seperti ingin pecah—rasa peningnya benar-benar nyata.
“Mari kita lihat apakah Kurtalægon bisa melindungi dirimu apa tidak. Spatial Spear.”
Kanna tidak bisa menghindari tombak ruang yang dilesatkan Vermyna asli—satu dari dua Vermyna yang tak bergerak sama sekali. Parallel Mind of Raphael sibuk dengan para Vermyna. Pun ia tak sempat bereaksi terhadap tombak itu—pikirannya juga sama sibuknya dengan formula itu. Kanna hanya bisa menerima tombak itu menghantam tubuhnya.
Kali ini, untuk pertama kalinya Kanna merasakan sakit. Memang, tubuh bagian luarnya tidak terluka sama sekali. Namun, tubuh bagian dalamnya seperti diacak-acak. Darah merembes dari sudut bibir Kanna, dan rembesan itu disusul oleh muntahan. Dan pada saat itu perut Kanna mendapat hantaman beberapa belas pukulan.
Tubuh Kanna terdorong kuat bagai meteor jatuh. Hantaman tubuhnya pada arena membuat retakan menjalar lebar. Dan Kanna hanya bisa membulatkan matanya saat semua Vermyna melontarkan Spatial Spear dalam satu waktu yang harmoni.
“Reverse Law: Dissappear.”