Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 47: Vengeance, part 2



Lucifer tidak merepotkan diri untuk menghindar. Ia membiarkan meriam raksasa yang dimunculkan Sataniciela untuk mengenainya. Peluru sihir yang ditembakkan meriam itu sangat destruktif. Sebuah gunung akan terkikis habis jika terkena. Namun, Lucifer hanya berdiam di tempat. Ia tak terpukul mundur meski ledakan hebat menelan area luas di sekitarnya. Tergores saja tidak.


Efek ledakan menghilang, memperlihatkan kawah bekas ledakan yang masif, dan Lucifer terlihat melayang di tempat dengan kedua belas pasang sayap abu-abunya yang terbentang.


“…Hanya itu?” Lucifer benar-benar menunjukkan ekspresi kecewa. “Jika hanya itu, kau ke sini sama saja dengan membuang nyawa sia-sia. Sungguh mengecewakan.”


Seperti di masa lalu, Sataniciela langsung emosi saat kekuatannya dihina. Iblis itu sudah berada di hadapan Lucifer dalam sekejap. Pukulan berlapiskan hawa panasnya meluncur bertubi-tubi mencoba menghanguskan tubuh Lucifer. Dan seperti sebelumnya, Lucifer tak merepotkan diri menghindar. Ia menerima semua pukulan itu tanpa berkedip.


“Sialan!”


Bersamaan dengan pekikan kekesalan itu, intensitas hawa panas yang tubuh Sataniciela keluarkan meningkat secara signifikan. Api mulai menyala dengan sendirinya di sekeliling tubuh sang iblis. Dia sudah seperti sumbu lilin saja ‒ segala materi yang ada di sekitarnya meleleh.


Namun begitu, Lucifer masih tak mencoba menghindar. Semua pukulan Sataniciela dengan telah mengenainya, tetapi ia tak merasakan sedikit pun rasa sakit. Itu bukan berarti Sataniciela tak berbahaya; ia sudah babak belur jika belum berevolusi. Hanya saja, Lucifer terlalu kuat untuk disakiti oleh makhluk tiga dimensi seperti Sataniciela. Sihirnya takkan mampu menyakitinya, dan tenaganya terlalu lemah untuk memberi perbedaan.


“Jika kau mau menyakitiku, paling tidak gunakan energi kehidupan.” Lucifer memberi saran (kurang baik apalagi ia coba?). “Selain itu, kau hanya membuang-buang tenaga saja.”


...—Cestapola, Prov. Matepola—...


Meyrin sudah hampir sebelas menit berdiri diam di atas dinding kota, mata memandang intens ke arah Monica dibawa. Di tangannya tergenggam rapier yang dulu digunakan Kanna sebagai senjata. Ia hanya perlu menyalurkan mana mengaktifkan formula rune yang ada pada rapier, dan klon Kanna spesialis kombat akan muncul. Namun, meski sudah memegangnya sedari tadi, Meyrin ragu untuk mengaktifkannya.


Meyrin bimbang. Ia bingung. Ia tidak tahu harus mengambil tindakan yang mana.


Di satu sisi, ia tahu Kanna akan menyuruhnya mengaktifkan formula rune untuk menyelamatkan Monica. Di sisi lain, Monica telah menyembunyikan hal yang besar dari mereka. Ia khawatir jika selama ini Monica hanya bermain-main dengan mereka. Dia sengaja mendekati Kanna untuk tujuan tertentu. Monica iblis, dan iblis adalah kabar buruk bagi Islan. Ia khawatir Monica akan memanfaatkan Kanna untuk membuka gerbang neraka secara permanen.


Ia belum sempat mengetahui apakah Monica menyembunyikan hal itu dari Xavier juga atau tidak. Jika tidak, berarti Xavier dan Monica bersekongkol. Jika iya, berarti Monica telah memanfaatkan Xavier untuk dekat dengan Kanna. Xavier selama ini boleh jadi telah berada di bawah manipulasi Monica. Mengerikan untuk dipikirkan, dan Meyrin khawatir akan reaksi Kanna jika dia tahu kalau selama ini dia hanya dimanfaatkan.


Sebagai orang yang bertugas melindungi Kanna (walaupun sekarang sang putri telah terlampau kuat untuk dilindungi), ia harus menyingkirkan segala ancaman baginya. Menyakiti Kanna secara fisik sudah tak mungkin, jadi tugasnya adalah melindungi Kanna dari orang-orang yang hanya ingin memanfaatkannya. Ia harus mengabaikan apa yang terjadi dan membiarkan Monica pergi. Itu tugasnya.


Apalagi jika apa yang kukhawatirkan benar, kalau Monica (dan juga Xavier) telah memanfaatkan Kanna selama ini.


Jika Meyrin lebih dari definisi kuat, ia akan mengejar Monica dan iblis yang membawanya untuk mendapat jawaban. Ia perlu mengetahui mengapa Monica terlihat terkejut, tetapi tidak menutup kemungkinan pula kalau itu hanya akting. Lagipula, kata ratu iblis, Monica adalah keturunan bawahannya. Bisa jadi Monica terkejut karena tidak pernah bertemu ratu iblis secara langsung. Ia perlu mengonfirmasinya, tapi sayangnya ia tidak melebihi definisi kuat.


…Meyrin tidak bisa memutuskan. Ia memang tidak pernah bisa memutuskan. Ia hanya baik dalam menuruti perintah. Dan sebelum menuruti perintah Kanna, perintah yang menjadi prioritasnya adalah melindungi Kanna dari bahaya dalam bentuk apa pun.


“Ah, di sini kau rupanya.”


Meyrin menoleh pada pemilik suara: Karen mel Matepola.


“Aku sudah mendengarnya. Rekanmu yang bernama Monica adalah iblis dan dia telah dibawa pergi oleh ratu iblis. Monica telah menipumu dan Putri Kanna. Dan kau sekarang bingung mau menyelamatkannya atau tidak, benar begitu?”


“Apa yang Anda inginkan, Gubernur Matepola?” Meyrin tidak berbasa-basi; ia juga tak menyembunyikan ketidaksukaannya pada sang gubernur.


“Aku hanya ingin menawarkan bantuan, tapi jika kau tidak butuh ya sudah.” Bibir Karen melengkung. “Menurutku,” lanjutnya tanpa menunggu respons sang pelayan, “kau harus menyelamatkan nama baik Putri Kanna dan kekaisaran secara umum. Insiden tadi telah membuat warga berpikir kalau Putri Kanna dan kekaisaran bersekutu dengan iblis. Mereka khawatir kalau kalian berusaha menguasai Islan demi menjadikkannya tanah kekuasaan iblis. Mereka khawatir sejarah akan terulang.”


Meyrin benci mengakuinya, tetapi Karen benar. Jika berita kalau Kanna memiliki bawahan seorang iblis sampai menyebar, akan muncul pemberontakan. Bahkan internal kekaisaran akan menolak menerima Kanna sebagai Empress mereka. Jika itu sampai terjadi, ia telah gagal dalam tugasnya. Islan masih belum melupakan bagaimana para iblis dulu pernah menyerang Islan. Kanna bisa dimusuhi jika informasi ini menyebar tak terkontrol. Hal ini juga akan membuat posisi Emiliel Holy Kingdom lebih kuat secara politik.


“Kita harus mempersiapkan pasukan untuk mengatasi hal ini,” lanjut Karen. “Kau harus menunjukkan kalau kalian dijebak. Kalian tidak tahu identitas Monica sebagai iblis. Kau harus menunjukkan kalau kau berkeinginan untuk memburunya. Kau harus menunjukkan kalau iblis telah menyusup di antara internal kekaisaran. Selain ini akan membersihkan nama Putri Kanna, kukira ini juga akan mempertinggi namanya dan membuat nama Emperor jatuh. Oh, Edward Penumbra sangat misterius, bagaimana kalau sebenarnya dia juga iblis?”


Mata Meyrin melebar. “Maaf, saya harus mengirim pesan pada seseorang di Nevada. Permisi.”


Bibir Karen melengkung melihat kepergian Meyrin.


“Apa yang kau rencanakan kali ini, Nona?” tanya Glimetra yang sedari tadi diam di samping Karen.


“Rencana? Apa yang kau katakan, Glimetra? Aku hanya berniat baik. Lihatlah, kutukan yang Kanna pasang padaku tidak bekerja. Bukankah ini sudah menjadi bukti kalau aku punya tujuan baik?”


“Tapi senyum Nona tidak meyakinkan?”


“Tak ada yang meragukan kecerdasan Nona.”


“Ha-ha-ha. Lucu sekali kau, Glimetra.” Karen berbalik dan mulai melangkah. “Ayo kita kembali. Kita perlu membantu meyakinkan para warga kalau Putri Kanna tidak bersekutu dengan iblis. Kita tak ingin seseorang memanfaatkan situasi yang jelas-jelas adalah kesalahpahaman ini untuk memunculkan isu pemberontakan pada kekaisaran, kan?”


...—Pegunungan Amerlesia—...


Sataniciela menyuarakan teriakan frustrasi melihat serangannya tak memberi efek pada Lucifer. Tak peduli apa yang ia lakukan, Lucifer hanya memandangnya bosan. Apa perbedaan kekuatan di antara mereka terlalu signifikan? Dan apa-apaan itu? Hanya energi kehidupan yang bisa melukainya?


“Spears of Hell!”


“Kalau kau tak bisa menggunakan energi kehidupan, sebaiknya menyerah saja.” Lucifer berkata sembari menangkis rentetan tombak neraka dengan telunjuk kanannya. “Ini mulai membosankan. Aku tidak ingin membuang-buang waktu dan membiarkan Commander Xavier memulihkan diri. Jadi, langsung saja: kau mau menyerah dan menjadi anak buahku seperti seharusnya atau mati? Tentukan pilihanmu.”


“Sataniciela, apa sebaiknya aku ikut membantumu menyerang?”


Sataniciela mendengar pertanyaan khawatir dalam dirinya. Tetapi itu tak mengejutkan; siapa pun akan khawatir jika berada dalam situasinya.


Tidak perlu, itu tetap tak berguna. Lucifer sudah tak bisa diimbangi siapa pun. Bahkan aku ragu jika Vermyna bisa menang.


“Jadi?”


Monica, kau akan mati. Sataniciela tak berencana mengatakannya pada sang iblis, tetapi tiba-tiba saja ia ingin berterus terang.


“Aku akan mati?”


Kau tak merasakannya?


“Merasakan apa?”


…Saat darah kita sedang dikonversikan menjadi energi. Dan aku akan segera memfokuskannya untuk menjadikan tubuh ini sebagai pusat energi. Saat aku memutuskan suplai mana yang mengendalikan proses pembakaran, tubuh ini akan meledak. Kau akan mati.


“Kalau begitu…bukannya kau akan mati juga?”


Jiwaku akan ditarik ke neraka; aku akan tetap hidup dalam wadah baru. Tapi kau, jiwamu akan tertarik ke dalam alam kematian.


“…Oh.”


Kau kecewa? Mau mencoba melawan?


“Apa ledakan itu akan membunuh makhluk itu?”


Huh, kau justru khawatir akan hal itu?


“Dia hampir membunuh Xavier. Jadi, jika ledakan itu akan membunuhnya, aku tak masalah. Tapi sebelum ledakan itu terjadi, biarkan aku memindahkan tubuh Xavier ke tempat yang aman. Xavier sangat kuat, aku berpikir aku takkan pernah bisa berguna baginya. Dia selalu menyelamatkanku. Karena itu, jika kematianku bisa menyelamatkannya, aku tak masalah.”


Sataniciela tidak suka mendengar alasan itu. Ia membencinya. Mengorbankan diri agar orang lain bisa selamat? Bodoh sekali.


Kuberi kau waktu satu menit; lebih dari itu aku tak mau menunggu lagi.


“Terima kasih.”


Sataniciela mendengus, untuk kata terima kasih Monica dan juga tawaran Lucifer. “Paling tidak biarkan aku melayangkan serangan terkuatku,” ucapnya seraya menghilangkan semua senjatanya. “Jika aku gagal melukaimu, terserah kau mau membunuhku atau menjadikanku bawahanmu, Lucifer.”


“Satu serangan? Baiklah. Akan kutunjukkan kalau itu juga akan berakhir sia-sia.”


Sataniciela langsung mengorbankan seluruh darahnya. Dan seketika pula hawa panas yang keluar dari tubuhnya meningkat pesat. Kulitnya sampai terkelupas lalu terbakar menjadi api. Percikan petir bahkan sampai menyelimuti udara di sekitarnya.