
Xavier tak bergerak dari tempatnya berdiri bahkan ketika dua prajurit berhasil membawa pergi tubuh Gallahad. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi; Xavier jadi menyesal karena telah mengambil [Soul Incarnate] dari jiwa Gallahad. Jika sihir itu tak ia ambil, ia takkan mengetahui hal yang paling membuat darahnya mendidih penuh amarah. Jika sebelumnya Xavier sangat tidak menyukai Edenia, sekarang ia benar-benar menginginkan kematiannya.
…Xavier sekarang benar-benar berterima kasih pada Luciel. Jika malaikat itu tak memilih tubuhnya sebagai calon raga baru, ia takkan ada. “Xavier” akan benar-benar menjadi budak Edenia secara penuh. Hanya membayangkan hal itu terjadi sudah cukup untuk membuat Xavier mengabaikan amarahnya pada Nueva. Tak mengherankan banyak orang yang ingin melengserkan Edenia dari tahtanya. Ia bahkan takkan terkejut jika aksi Nueva dipengaruhi tangan kotor tak terlihat Edenia.
Namun begitu, meskipun memikirkan itu saja sudah membuat mood-nya memburuk, Xavier masih ingin tahu apa “rencana” yang dimaksudkan itu—rencana yang pasti berhubungan dengannya (jika apa yang ia interpretasikan dari ucapan “Xavier” benar). Jika dia bisa melakukan dan menciptakan apa saja sesuai kehendaknya, mengapa dia melakukan apa yang dia lakukan?
Xavier menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan pengetahuan yang ada. Namun, jika ia tak melakukan apa-apa, ia hanya akan berlarut dalam aliran air yang Edenia ciptakan untuknya. Jika ia tidak ingin itu terjadi, hanya ada satu solusi: menjadi dewa dan menghabisinya. Tidak ada opsi lain.
Akan tetapi, bagaimana jika sebenarnya itu adalah apa yang Edenia inginkan? Tidak mungkin dia menciptakan Supreme Magic tanpa tujuan tertentu. “Xavier” terlihat mendukung Edenia untuk “rencana awal”, tetapi dia kecewa karena Edenia punya “rencana lain”. Apa esensinya berbeda? Atau masih sama, tapi hanya caranya yang beda?
Satu-satunya hal yang tak mengecewakan dari apa yang bisa ia simpulkan adalah Edenia takkan membunuh Xavier. Ia tak perlu khawatir kalau-kalau Edenia datang dan mengatakan waktu hidupnya sudah habis. Edenia membutuhkannya hidup-hidup. Mungkin, jika Xavier sekarang mengupayakan bunuh diri, Edenia akan muncul di hadapannya untuk menahannya dari bunuh diri.
Yang lebih berat lagi, jika pun Xavier ingin membuat perhitungan dengan Edenia, lawan utamanya adalah dirinya sendiri. Tepatnya, setengah jiwanya—jika ucapan makhluk itu bisa dianggap kebenaran. Tentu saja ekspresi kecewa tadi bisa mensinyalkan kalau “Xavier” akan menentang Edenia, tetapi bisa juga dia cuma terlalu cepat menyimpulkan. Yang jelas, dia berafiliasi secara nyata dengan Edenia.
…Ia sudah selesai berurusan dengan Luciel yang juga menginginkan tubuhnya, dan sekarang muncul lagi yang lain?
Xavier dipaksa keluar dari alam pikirannya saat merasakan sebuah mata tombak menembus punggungnya.
Rasanya agak sakit. Dan rasa sakit ini kembali mempertegas kalau ia manusia. Meskipun kemampuannya dalam mengaplikasikan prinsip Enhancement sudah luar biasa, tubuhnya akan kembali melemah ketika ia berhenti melakukannya. Tubuh Xavier tak bisa melakukannya sebagaimana vampire, naga, dan bahkan warebeast.
"Di-Dia tertusuk…. Kita menang!”
“Tertusuk?” Xavier menaikkan sebelah alis mendengar pria pemberani yang berani menusuknya. “Siapa yang tertusuk?”
“Kau sudah tak waras? Jelas-jelas kau su—huh?”
Sang prajurit pemberani seketika dilanda kebingungan ketika matanya melihat Xavier memegang tombak (yang seharusnya dia pegang!) di belakangnya. Mata sang prajurit berjalan cepat menyusuri badan tombak. Dan seketika matanya membelalak dengan kepanikan hebat yang telah menimpa kebingungan pada wajah.
“Ba-Bagaimana bi-bisa? A-Apa yang kau la-lakukan padaku? Me-Mengapa posisi kita tertukar?”
Sebagaimana sang prajurit pemberani yang telah menyerang Xavier saat ia tengah disibukkan dengan pikirannya, prajurit-prajurit yang lain juga telah terdiam. Mereka bingung tak percaya. Pada satu detik, rekan mereka berhasil menghunuskan tombak pada tubuh sang commander. Tetapi pada detik berikutnya situasi sudah berubah. Bahkan tak ada bekas tusukan pada jubah sang commander.
“…Tombakmu tidak terlalu buruk.” Hanya itu respons Xavier, dan sang prajurit tak mampu memberi balasan lantaran api hitam telah menyelimuti tubuhnya. Teriakan penuh pendiritaan mengisi keheningan yang terjadi.
“SERANG!”
Satu kata yang diteriakkan dengan lantang itu adalah apa yang menjawab pertanyaan Xavier, dan teriakan menggelora para prajurit langsung menggempur tanpa ampun.
Senyuman bersemi di bibir Xavier, dan pedang bergagang biru sudah tergenggam erat di kirinya. Tebasan dua pedang berlapiskan api hitam dan biru seketika meladeni serangan para prajurit yang setia.
...* * *
...
Di tempat yang menjadi lokasi pertemuan pertama antara Xavier dan Luciel, Xavier Jilid 1 terlihat merebahkan diri di samping batuan besar. Asumsi kalau Edenia punya rencana lain yang tak sang avatar katakan padanya benar-benar mengganggu Xavier Jilid 1. Itu begitu mengganggunya hingga ia kehilangan minat untuk berbicara banyak dengan dirinya yang lain.
Bagi Xavier Jilid 1, Edenia adalah tujuannya. Ia sudah melakukan yang terbaik, telah bersusah payah demi bisa membantu Edenia mengalahkan siapa pun yang telah membelenggu sang avatar. Jika Edenia wanita (sayangnya dia tak bergender), Xavier Jilid 1 bahkan akan melakukan segalanya untuk menjadikan Edenia miliknya. Karena itu, mengetahui sang avatar memiliki rencana yang tak dia bicarakan padanya benar-benar melukai Xavier Jilid 1.
Ketika Xavier Jilid 1 menerima kalau ia akan mati demi lahir kembali agar bisa meloloskan diri dari Throne of Heaven dan naik ke dimensi yang lebih tinggi, ia berasumsi kalau Edenia akan menyambutnya sebagaimana sang avatar merawatnya sejak kecil. Tetapi itu tak terjadi sama sekali. Sebaliknya, Edenia mengabaikannya. Menelantarkannya. Ia bahkan membuat Xavier membencinya.
Rencana apa sebenarnya yang ingin dia la—hm, apa mungkin Edenia juga ingin membuatku menjadi avatar?
Ketika pertanyaan itu melontar di kepala Xavier Jilid 1, ia langsung sadar kalau selama ini Edenia belum pernah mengatakan bagaimana mereka akan bertemu makhluk yang bahkan Edenia sendiri belum pernah lihat.
Bagaimana mereka akan membuat makhluk itu muncul? Apa Edenia ingin munculnya avatar baru yang kemudian saling memperebutkan kontrol akan Throne of Heaven, yang kemudian memaksa makhluk itu memunculkan diri? Atau—
—Edenia mau memindahkan rantai belenggu padaku? Dia ingin membuatku marah padanya jadi dia tak perlu merasa bersalah saat memasungku dengan rantai itu?
Xavier Jilid 1 spontan mendudukkan diri. Ia tidak bisa mengatakan benar-benar memahami Edenia, tetapi asumsi yang muncul di kepalanya sangat masuk akal. Mungkin memang seperti yang Vermyna katakan, Edenia hanya memandangnya sebagai pion yang berguna. Bagi sang avatar, ia tak lebih special dari Thevetat. Barangkali, jika rencananya gagal, Edenia hanya akan menggunakan Throne of Heaven untuk menciptakan Xavier yang lain.
…Dan tak menutup kemungkinan pula kalau ia bukan Xavier pertama yang Edenia kreasikan.
“Untuk menciptakan satu alat yang sempurna, belasan bahkan ratusan alat tak sempurna akan tercipta selama proses menuju kesempurnaan.”
…Xavier Jilid 1 tidak tahu apa yang harus dia lakukan; tubuhnya kembali merebahkan diri dan matanya kembali memandang tak berkedip.