
Xavier muncul begitu saja di depan pintu istana kerajaan, Etharna, Favilifna Kingdom.
Ia sudah menyelesaikan pembicaraan dengan Qibtya. Gadis itu tak menolak permintaannya, tetapi dengan syarat yang tidak kecil. Desert Kingdom hanya mau mengakuinya sebagai Emperor jika ia bersedia menikah dengan sang ratu. Xavier tidak mau mengakuisisi Desert Kingdom dengan kekuatan, dan Qibtya menolak melanjutkan negosiasi kecuali ia setuju. Xavier tidak punya pilihan lain.
Namun, ia berhasil memanfaatkan faktor usia untuk keluar dari jeratan Qibtya—walaupun hanya untuk sementara.
Karena Qibtya yang masih cukup muda, Xavier mensyaratkan pernikahan itu tak bisa terjadi sampai dia cukup dewasa. Ia ingin mendorongnya sampai empat atau lima tahun ke depan, tetapi Qibtya tidak mau kalah. Akhirnya mereka membubuhkan perjanjian kalau pernikahan itu akan dilangsungkan di hari ulang tahun Qibtya yang kedelapan belas—kira-kira dua setengah tahun dari sekarang.
Xavier bertaruh pada dua kemungkinan: 1) Qibtya akan berubah pikiran; 2) Xavier akan berhenti jadi emperor setelah semua kerajaan di Islan ia tundukkan – Kanna bisa memimpin Islan seperti keinginannya. Dua alasan itu membuat Xavier tidak berusaha memperpanjang negosiasi dengan sang ratu. Jika ia tidak lagi menjadi emperor, semua perjanjian yang mengikatnya otomatis batal.
Xavier membuka pintu tanpa permisi, melangkah masuk tanpa menanti. Ia langsung menuju ruang singgasana. Para prajurit yang melihatnya ia buat terlelap secara seketika; tak ada yang menghentikan langkahnya.
Xavier hanya sendiri. Menez dan Achilles tidak bersamanya. Mereka berpisah jalan. Ia berada di sini dan mereka sekarang berada di Caligula Kingdom. Xavier juga sudah mengirim klon-klonnya untuk pergi ke Matepola, Ekralina, Maggarithaz, Vladivta, Hongariand, Kazarsia, dan Aliansi Desa Centaur. Begitu pula dengan Warebeast Great Kingdom, Dwarf Kingdom, dan Emiliel Holy Kingdom. Xavier ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.
“…Xavier.” Mary Anna menunjukkan sedikit keterkejutan di wajah datarnya saat melihat sang pemuda. “Apa yang kau laku—”
“Xavier.” Elmira memotong ucapan Mary sembari memeluk sang necromancer dari belakang. “Ini mengejutkan. Ada apa?”
“Ada perubahan rencana,” ucap Xavier lalu melangkah melewati keduanya. “Akan kujelaskan lebih jauh di singgasanamu.”
Elmira tidak memaksa. Sang ratu menarik Mary mengikutinya. Xavier merasa keduanya sudah semakin dekat saja. Elmira lebih dekat dengan Mary dibandingkan Kanna dengan Meyrin.
“…Kau duduk di tempatku.”
Xavier menghiraukan ucapan Elmira dan menyamankan diri di singgasana sang ratu. Tidak ada orang lain di ruang singgasa; tak ada yang memberikan komplain selain sang ratu sendiri.
“Mulai hari ini aku adalah Emperor seluruh Islan,” ucap Xavier dengan wajah serius, tiada memedulikan pandangan sang ratu. “Aku datang memintamu menjadi bagian dari Persatuan Kekaisaran Islan.”
“…Emperor? Persatuan Kekaisaran Islan?”
“Persatuan Kekaisaran Islan mencakup setiap wilayah yang ada di Islan,” jelas Xavier. “New World Order akan dihapus. Itu sudah tak lagi diperlukan. Elf Kingdom, Vermillion Kingdom, Emeralna Kingdom, Desert Kingdom, dan Caligula Kingdom sudah menjadi vasal dari United Empire of Islan. Aku di sini memintamu bergabung menjadi vasal. Kau bisa anggap aku sedang menggabungkan apa yang sebelumnya dicoba lakukan Vermillion Empire dan New World Order. Ini juga se‒”
“Tentu saja.”
“‒dikit mirip dengan a—kau…setuju?”
“Tentu saja,” ulang Elmira sembari mendekati singgasana. “Kau akan menjadi emperorku, kan?” tanyanya saat sudah berada tepat di hadapan Xavier, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang tak biasa.
“…Itu tidak salah.”
Menjadi emperor seluruh Islan artinya menjadi emperornya Elmira juga. Jadi, pertanyaannya tidak salah. Benar, tak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Namun, caranya tersenyum membuat pertanyaan itu seperti salah. Makanya jawaban Xavier barusan sedikit ragu. Tapi paling tidak, dia tidak mensyaratkan menjadi istrinya seperti Qi—
“Kalau begitu, aku yang jadi Empress-nya, kan?”
—Dan keraguan Xavier menjadi nyata. Malahan lebih parah lagi; Qibtya masih mending.
...* * *...
Baik Heisuke, Lumeira, Valeria, Arthur, Lancelot, Darminic, Herena, dan yang lainnya hanya terdiam di tempat menyaksikan apa yang terjadi. Lebih tepatnya, mereka terdiam melihat kejutan udara yang tertinggal dari laju Kanna yang sangat cepat. Mereka tidak melihat Kanna membawa pergi Vermyna. Keduanya hilang dari pandangan mereka dalam sekejap. Hanya kejutan udara yang mengindikasikan kalau mereka tak sedang berhalusinasi.
Xavier—atau yang lebih tepatnya sang klon—tiba di langit Axellibra hampir satu menit setelah menghilangnya Kanna dan Vermyna. Tentu saja sang klon tidak mengetahui perihal Kanna dan Vermyna. Klon berbeda dengan original. Klon bukan anomali. Kekuatan klon terbatas.
Kemudian, setelah tak mendapati orang yang dicarinya di kota, ia dengan cepat melesat ke selatan kota, mendarat dengan debuman di antara kedua kubu pasukan yang (anehnya) sedang senyap.
Aksi Xavier langsung membuat semua mata tertuju padanya. Herena, Darminic, dan bahkan Heisuke sudah mengepung dirinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, terlebih lagi mereka bertiga dalam keadaan siap menyerang. Hal itu membuatnya membuka mulut, tetapi suara itu tak keluar dari mulutnya.
Klon Xavier tidak jadi bertanya. Saat Arthur dan Lancelot bergabung dengan Darminic, mata Xavier melihat jelas tubuh tak bernyawa Fie Axellibra yang berada dalam gendongan seorang wanita yang lebih kuat dari rata-rata commander. Vermyna telah membunuh sang nephilim.
“Apa benar kau suami Nona Vermyna?” timpal Valeria dengan wajah antara menahan marah dan tak percaya.
“Apa benar kau El?” Darminic turut melempar pertanyaan.
“Kau selama ini telah menipu Nona Kanna dan kami semua, dan sekarang kau memutuskan mengkhianati semuanya?” Herena tidak mau kalah.
“…Commander Xavier.” Heisuke memandang Xavier datar, tetapi pandangannya sedikit menunjukkan kekecewaan karena merasa dikhianati.
…Klon Xavier langsung menarik kesimpulan: Vermyna telah membeberkan semuanya. Wanita itu telah sengaja melakukannya. Tak diragukan lagi kalau Kanna juga sudah mendengarnya. Bahkan mungkin saja mereka sedang bertarung, ini menjelaskan mengapa tadi situasi senyap. Vermyna dan Kanna baru saja meninggalkan tempat ini, kemungkinannya ke utara.
“….” Xavier tidak mengatakan apa pun. Ia tidak mau mengatakan apa pun. Ia tidak mau berurusan dengan situasi yang merepotkan ini. Ini salah Xavier original; dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. “Apa boleh buat,” gumamnya pelan sembari menghela napas panjang.
Namun, kontra dengan asumsi orang-orang, klon Xavier bukan menjawab pertanyaan mereka, melainkan menghilangkan dirinya sendiri. Ia melebur menjadi partikel mana.
Xavier original yang baru saja keluar dari istana Elmira hanya bisa menggumamkan satu kata saat ingatan klonnya memasuki kepala: “****.”
“Xavier!” teriak Valeria penuh kesal. Ia tiba dengan lingkaran teleportasi bersama Lumeira. Lumeira bisa berteleportasi ke hadapannya karena dia mengikuti pancaran mana yang membawa ingatan klonnya kepadanya. “Jawab pertanyaanku! Apa benar Nona Vermyna menjadikanmu suaminya?!”
“…Kau benar-benar membunuh Nueva.” Lumeira, berbeda dengan Valeria, bersikap lebih tenang. “Tapi aku juga terkejut. Sulit dipercaya Nona Vermyna menjadikanmu suaminya.”
Xavier, seperti klonnya barusan, menghela napas panjang. Vermyna benar-benar telah melakukan hal yang tak perlu. Ia ingin memberitahukan kebenarannya hanya pada Kanna, dan dari mulutnya langsung. Tetapi Vernyna telah mengacaukannya. Kanna benar-benar akan marah. Pertarungan di antara mereka mungkin takkan terhindarkan.
Namun, di sisi lain, apa yang dilakukan Vermyna membuat apa yang ingin ia lakukan menjadi lebih mudah.
Itu mengasumsikan Kanna bisa mengalahkan Vermyna, batin Xavier sembari melacak keberadaan kedua makhluk itu.
“Oi, jawab pertanyaanku!” Valeria benar-benar kesal.
“Valeria,” ucap Xavier setelah menemukan lokasi kedua wanita.
Pandangan matanya yang tajam membuat sang vampire terdiam. Lumeira juga menjadi sedikit was-was, apalagi dia baru menyadari kalau dia tak bisa merasakan hawa keberadaan sang pemuda.
“Aku suami Vermyna. Kami sudah punya satu anak. Sekarang bawa semua vampire kembali ke Kepulauan Haikal. Vampire bukan lagi bagian dari Islan.”
Xavier menghilang dari hadapan kedua vampire itu secara instan; ia sama sekali tak berminat mendengar respons keduanya.
...* * *...
Sementara itu, di Benua Es Gheata, di antara puing-puing gunung es yang berserakan, Vermyna masih belum beranjak dari tempatnya dijatuhkan. Ia hanya berbalik badan hingga dalam keadaan terlentang. Mantan vampire ini masih sedikit terkejut dengan apa yang terjadi. Kanna bukan saja bergerak cukup cepat, tetapi dia juga telah menerobos barier ruang-waktu yang melindunginya.
“Dan tadi diriku berpikir takkan ada yang bisa mengenaiku setelah Fie diriku bunuh,” gumam Vermyna sembari mendudukkan diri. “Tapi tak mengherankan. Dirinya memiliki kurtalægon dan mana murni Edenia. Dirinya sudah seperti replika Edenia. Diriku mungkin takkan terkejut jika dirinya bisa menggunakan kesepuluh Supreme Magic. Bukan diri Fie boneka Edenia, tapi dirinya.”
Vermyna mendengus lalu berdiri. Kanna sudah berada belasan meter di hadapannya. Sayap malaikatnya yang tadi berjumlah lima belas pasang kini telah menjadi tujuh belas pasang. Rambut pirangnya telah menjadi hitam kelam. Begitu juga dengan matanya. Jika tubuhnya kecil seperti Evillia, dia akan benar-benar terlihat seperti Edenia. Dan, sekarang sayapnya telah menjadi delapan belas pasang—lengkap dengan halo berwarna putih di atas kepala!
“Diriku bisa merasakan amarah yang besar dari dalam dirimu,” ucap Vermyna pelan—ia tak menunjukkan kalau ia merasa sedikit terintimidasi dengan sang putri. “Apa kenyataan kalau diri Xavier adalah suami diriku membuat dirimu marah? Apa mengetahui ayah dirimu telah dibunuhnya membuat dirimu murka? Atau, dirimu marah mengetahui diri Xavier telah menipu dirimu sedari awal?”
Vermyna mengakui ia sedikit terintimidasi, tetapi itu tak menghentikan dirinya dari memprovokasi sang putri. Reaksi sang putri sedikit menarik baginya. Pasalnya, dari segala informasi yang ia peroleh, Kanna el Vermillion sebelum ini belum pernah menunjukkan kemarahan sampai seperti. Dia selalu bisa mengontrol emosinya. Kau takkan bisa melihatnya hilang kendali. Kanna benar-benar hidup sebagaiman seorang putri.
“Vermyna Hellvarossa. Demi masa depan Islan dan penduduknya, kau harus mati. Xavier juga. Aku akan membunuhnya setelahmu.”
“Ha-ha-ha-ha. Dirimu mencoba terlalu keras untuk mengontrol emosi. Mengapa dirimu tak membiarkannya mengalir? Dan juga, dirimu tidak menjawab pertanyaanku. Mengapa dirimu sampai semarah itu?”
...»»» End of Chapter 50 «««...
Tentang catatan yang sebelumnya mengatakan jumlah istri Xavier, ditarik kembali. Plotnya sudah terlanjur sampai ke arah sini. Tidak punya pilihan lain selain mengikuti plot. Seperti terjebak dalam plot yang dibuat sendiri.