Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 32: Not So Invincible, part 2



...—Lembah Terlarang Ed—


...


Kehadiran Arthur dan sisa pasukan Ordo 1 Knight Templar disambut hangat oleh Merlin dan puluhan prajurit yang membersamainya. Para prajurit diantar bergabung dengan para prajurit yang sudah terlebih dahulu tiba, sedang Arthur dipandu Merlin menuju bangunan semi permanen yang sudah disiapkan untuknya. Persiapan menjadikan tempat ini sebagai pusat kerajaan masih jauh dari kata selesai, tetapi apa boleh buat karena situasi tak mengizinkan mereka fokus ke sana.


“Bagaimana?” tanya Arthur segera setelah tiba di ruangan yang diperuntukkan baginya. “Apa Imperial Army sudah membuat pergerakan ke sini?”


Lembah Terlarang Ed terbilang dekat dengan Provinsi Hongariand, Provinsi Emeralna, dan Provinsi Matepola. Divisi 10, Divisi 8, dan Divisi 9 Imperial Army bisa digerakkan kapan saja untuk menguasai lembah. Pertanyaan Arthur sangat beralasan.


“Mereka ada mengirim skuad pengintai, tapi sebatas itu saja.” Merlin berkata sembari bersandar pada dinding di bawah jendela yang terbuka. “Dengan jumlah kita, dan aku yakin mereka sudah mengetahui kita Ordo 1, Imperial Army akan lebih berhati-hati. Commander Zenith adalah petarung yang kuat; dia bisa memberi perlawanan pada enam saint pertama. Tapi, penguasa Provinsi Emeralna adalah Gubernur Artemys, aku tak berpikir Divisi 8 akan digerakkan.”


“Kalau begitu kita mulai ekspedisi dari Provinsi Matepola,” kata Arthur seraya mengistirahatkan diri di kursi di depan meja kerjanya. “Menurutmu, apa kita bisa mendapatkan kooperasi Gubernur Karen mell Matepola? Kita bisa menjanjikannya kebebasan dari pengaruh kekaisaran.”


“Dari informasi yang kukumpulkan, Gubernur Karen tak terlihat seperti berniat memberontak. Vermillion Empire memberi mereka hak otonom penuh. Selain kewajiban menyetorkan dua puluh lima persen pendapatan bersih provinsi ke pusat dan pembatasan ketat aktivitas militer, mereka tak menerima kerugian sedikit pun. Menurutku akan susah.”


“Mencobanya akan buang-buang waktu?”


“Hm…tidak juga. Kukira tak ada salahnya mencoba. Ada rumor yang menyebutkan kalau Gubernur Karen tak terlalu memedulikan subjeknya. Kita bisa memanfaatkan hal itu. Tapi, sebaiknya kita fokuskan pada invasi. Kita bisa tawarkan proposisi itu padanya setelah Provinsi Matepola berhasil kita tundukkan. Itu juga akan memudahkan kita dalam meneruskan serangan ke jantung kekaisaran.”


Arthur mengangguk mengerti. “Kalau begitu, besok kita mulai berangkat. Pilih sepuluh ribu prajurit terbaik untuk menetap di sini, sisanya akan kita berangkatkan menginvasi kekaisaran.”


...—Cestapola, Provinsi Matepola—


...


Karen mell Matepola adalah wanita yang sangat mencintai kekerasan (kecuali kekerasan yang diperlakukan padanya). Ia suka melihat kehancuran. Ia suka melihat kesengsaraan orang lain. Kesakitan yang keluar dari selain mulutnya sendiri adalah melodi yang menggetarkan relung jiwa. Ia seorang sadis yang sangat menikmati erangan sakit orang lain. Ia ratu yang mencintai peperangan dan perbudakan.


Namun begitu, meskipun peperangan sudah pecah dan kekacauan sudah berada di ujung tanduk, Karen tak bisa menikmatinya.


Memang, ia telah berhasil menghindari pernikahan dengan Perdana Menteri Achilles. Ia awalnya berpikir bisa menguasai pria itu, tetapi Achilles sangat berhati-hati. Jadi, Karen berubah pikiran. Meski sulit, akhirnya ia bisa meloloskan diri dari jeratan pernikahan itu. Namun, harga yang harus ia bayar untuk itu lebih mahal. Siapa pun yang bilang Kanna itu putri ideal maka dia jelas telah keliru; Kanna tak berbeda dengan Karen. Wanita itu hanya terlampau jago menyembunyikan kekejaman dengan senyum bak seorang dewi.


Kanna telah memaksa Karen untuk berpikir yang baik-baik dengan sihir rune sialannya. Saat ia berpikir hal buruk, fluktuasi energi negatif dalam tubuhnya akan meningkat pesat. Hal itu akan membuat rune yang dipasang pada tubuhnya untuk aktif. Alhasil, tubuh Karen dicerca rasa sakit yang tak tertahankan. Itu seperti dikuliti hidup-hidup lalu ditaburi garam dan disirami perasan jeruk nipis. Betapa kejam wanita bermuka sok suci itu!


“Yang Mulia, Kanna el Vermillion sudah tiba di depan gerbang. Dia diantar Commander Herena dan dua wanita lain: satu maidnya, satu lagi aku belum pernah lihat.”


Karen spontan mendaratkan perhatian pada Glimetra. Wanita itu seharusnya pengikutnya yang setia, tapi Karen punya firasat buruk. Meskipun ini agak paranoid untuk wanita sekelas dirinya, tapi ia merasa Glimetra menikmati mendengar jeritan sakitnya saat rune yang Kanna pasang pada tubuhnya aktif. Ia tak berdelusi; Karen mengenal sorot mata itu.


“Pandu mereka masuk,” instruknya—membenamkan kecurigaannya ke dasar pikiran. “Aku akan tunggu di ruang tengah. Palingan dia datang mau membawa Divisi 9 pergi.”


Mendengus, Karen bangkit berdiri dalam kekesalan.


Bukan. Bukan karena ia tidak tahu apa yang Glimetra inginkan, melainkan karena ia harus kembali memandang wajah menjijikkan Kanna el Vermillion. Suatu hari nanti, entah bagaimanapun caranya, Karen ingin me—


“—Tsk!” Karen secara paksa membuyarkan pikirannya dengan menyakiti lidahnya sendiri. Ia tak mau merasakan rasa sakit itu lagi; ia harus menghentikan kepalanya dari memikirkan hal negatif seperti itu. “Sialan.”


...* * *


...


Sekira dua setengah jam setelah Xavier dan pasukannya melewati garis lurus imajiner yang menghubungkan Ephron dan Sheba, prajurit dari garis belakang melaporkan kalau mereka dikejar. Musuh datang dari belakang, sekarang berjarak hampir empat kilometer dari mereka. Namun begitu, sangat jelas kalau pasukan itu berasal dari Sheba—atau mungkin Ephron.


“Mereka sudah menantikan kedatangan kita,” ucap Heisuke mengomentari. “Apa kita harus hadapi mereka, Commander?”


Xavier tak langsung menjawab. “Berapa jumlah mereka?” tanyanya pada prajurit pelapor—mereka masih belum menghentikan laju kaki, berbicara sembari terus memendekkan jarak dengan ibukota.


“Sekitar 70 ribu, Commander.”


“Akan sulit mengalahkan jumlah pasukan sebesar itu…. Akan sulit menghindari gugurnya prajurit.”


Xavier percaya diri dengan kemampuannya, tetapi bahkan dengan semua kepercayaan diri itu ia tak bisa menyanggah pernyataan sang wakil. Heisuke benar. Dengan jumlah yang sebesar itu, menghindari kematian prajurit akan susah. Mereka bahkan belum sampai di Axellibra; Xavier tak bisa membiarkan pasukannya gugur di sini.


“Baiklah. Heisuke, kau pimpin mereka ke Axellibra.” Xavier memutuskan. “Kalau Divisi 1 belum tiba, jangan langsung menyerang. Kau baru boleh menyerang setelah Divisi 1 tiba, atau aku yang tiba.”


“Kau akan menghadapi mereka sendiri, Commander?”


“Itu adalah apa yang harus kulakukan. Kau mau menggantikanku?”


“Baiklah, aku akan membawa mereka ke Axellibra.” Heisuke menghiraukan pertanyaan jenaka sang commander. “Tapi, kalau kau tak tiba di Axellibra saat sang nephilim atau saint kuat lainnya turun tangan, aku akan mengutamakan agar pasukan mundur. Apa tidak masalah begitu, Commander?”


“Kuserahkan keputusan itu padamu.” Xavier langsung mengudarakan tubuhnya. “Prajurit, ayo kita berlomba. Kalau aku tiba duluan di barisan paling belakang, kau akan menemaniku menghadapi 70 ribu prajurit dan pemimpin mereka. Bagaima—”


Sang prajurit telah berlari terbirit-birit ke barisan belakang sebelum Xavier sempat menyempurnakan ajakannya. “Aku tidak mendengarmu, Sir! Aku tidak mendengar!” teriaknya penuh kepanikan.


“Ah, dia cukup bersemangat.” Xavier melesat cepat menuju baris belakang. Dalam hitungan detik ia sudah sejajar dengan prajurit tersebut. “Kau harus lebih cepat lagi,” tambahnya, dan tanpa menanti jawaban dari prajurit yang dilanda panik itu ia langsung melaju ke barisan belakang.