
...—Etharna, Favilifna Kingdom—...
KETIKA Xavier tiba kembali di Etharna melewati bagian dinding yang hancur, ratusan prajurit sudah berada di sana memindahkan puing-puing dinding yang jatuh.
Mengabaikan mereka, Xavier langsung saja mengembalikan kondisi dinding dan menara istana dengan [Reverse Law], kemudian lekas berteleportasi ke istana sebelum ada yang melihatnya. Apa yang dilakukannya tadi membuat para prajurit kebingungan, tetapi Xavier sama sekali tak ambil pusing dengan itu. Di sana ada saudaranya Elmira, dia tentu bisa mengatasinya.
Elmira berada di depan pintu istana saat Xavier tiba. Wanita itu tak sendiri. Mary rupanya sudah kembali. Dia bersama seorang wanita lain—kemungkinan itu Miera yang sebelumnya sang ratu sebut.
“Ah, Commander Xavier, kau sudah kembali.” Elmira seketika sudah berada di hadapan Xavier. “Itu artinya kau sudah mengatasi penyerang itu. Jadi, siapa tadi yang mencari gara-gara dengan kerajaanku?”
“Aku sempat melihatnya melesat cepat dari arah timur laut, kemungkinan Lembah Terlarang Ed.” Mary berkata sebelum Xavier sempat merespons, melangkah bersama Miera menghampiri sang ratu. “Apa itu Neix? Atau Crow?”
“Bukan keduanya,” geleng Xavier. “Neix dan yang lainnya—termasuk juga Knight Templar yang berada di lembah terlaang—telah dimanfaatkan Vermyna untuk memanggil seorang iblis. Iblis itulah yang baru saja menyerang. Dia cukup kuat, sayangnya dia tidak cocok menghadapiku. Jika bukan karena kedatangan Vermyna yang menyelamatkan dan membanya pergi, aku tentu sudah menghabisinya.”
“Seperti yang telah kupikirkan, pada akhirnya mereka semua hanyalah alat bagi Vermyna Hermythys. Aku tidak tahu apa tujuannya memanggil iblis, tetapi itu tidak penting di sini. Yang lebih penting, mengapa kau membiarkannya pergi?” Elmira memandang intens Xavier. “Jika kau bisa mengalahkan Undead Thevetat yang Mary panggil, tentu Vermyna bukanlah tandinganmu, kan?”
“Ha….” Xavier menggelengkan kepala pelan. “Vermyna Hermythys bukanlah jati diri Vermyna yang sebenarnya. Vampire bukanlah ras Vermyna yang kumaksud. Orang yang berada di balik semuanya adalah Vermyna Hellvarossa. Di benua ini, mungkin hanya Fie Axellibra yang bisa mengimbangi makhluk yang tak jelas rasnya itu. Orang yang kukatakan telah mengambil alih New World Order…Vermyna Hellvarossa orangnya.”
Reaksi yang muncul di wajah ketiga wanita ini sama sekali tidak mengejutkan.
“Masalah Vermyna saat ini tidak penting. Dia bukan kabar buruk bagi Favilifna Sebaliknya, tindakannya telah membawa keuntungan bagi kerajaan ini. Anggota Eternity yang berada di lembah terlarang sudah lenyap. Begitu juga dengan Knight Templar yang ada di sana. Satu-satunya masalah yang tersisa adalah kemungkinan penyerangan dari arah Ekralina Kingdom berdiri.”
Elmira tak lantas merespons. Ratu berambut indah itu tampak berpikir dengan kusyuk, barulah belasan detik kemudian dia mengangguk. “Jika Xavier berkata begitu, aku tidak punya pilihan selain mengangguk mengerti. Ah,” Elmira mengarahkan pandangan pada Miera, “ini Miera, dia setia padaku sebagaimana Hebranest. Miera, dia Twelfth Commander Xavier von Hernandez, kau tentu sudah mendengar tentangnya.”
“Senang bertemu denganmu, Commander Xavier.” Miera mengulurkan tangan kanannya. “Elmira telah berbicara banyak tentangmu, dan aku bisa mengerti mengapa dia begitu fokus padamu.”
Xavier mengangguk, menjabat tangan Miera. Meskipun kalimat keduanya itu menyiratkan sesuatu, Xavier tak berminat memintanya menjelaskan maksud kalimat itu.
“Dengan kembalinya Mary dan Miera, pertahanan kita sudah jauh lebih baik.” Elmira kembali berbicara. “Namun, karena kita tak lagi perlu mengkhawatirkan kembalinya Neix dan anggota Eternity, perlu kiranya kita mengubah strategi. Aku ingin Hebranest menarik para pasukan dari perbatasan dan beralih ke kota kita yang menghadap perbatasan. Dengan begitu, kita bisa memberi harapan palsu pada pasukan Knight Templar kalau Etharna kosong. Kita buat mereka berpikir kita mengasumsimkan mereka akan menyerang kota terdekat terlebih dahulu.”
“Itu opsi bagus.” Xavier mengangguk setuju. “Tapi, untuk saat ini kita tidak bisa mengandalkan kekuatan Mary sebagai necromancer. Bagaimanapun juga, kekaisaran tak pernah melupakan insiden penyerangan oleh undead dulu. Mary,” jeda Xavier dengan mata fokus pada pemilik nama yang mulutnya sebut. “New World Order tidak lagi berada di tanganku, karenanya aku tidak bisa menawarkanmu hal yang sama. Tapi, kita bisa menjadikan Neix kambing hitam atas penyerangan undead dulu.”
“Aku mengerti. Itu sangat disayangkan, tetapi aku mengerti.” Mary mengangguk pada dirinya sendiri. “Dan aku berterima kasih untuk itu. Tinggal di sini tidak buruk; jika bisa lebih lama di tempat ini tanpa menjadi buruan kekaisaran maka itu sudah cukup.”
“Itu benar, Mary! Kami akan pastikan kau tidak perlu pergi ke mana-mana memakai tudung.”
Mary hanya mengangguk pelan, tetapi bibirnya sama sekali tidak melengkung. “Aku akan mengekspektasikan hal itu.”
“Bagus sekali! Sekarang ayo masuk. Aku harus menyuruh salah satu pelayanku untuk menyampaikan perintah pada Hebranest.”
Elmira langsung berbalik memasuki istana tanpa menunggu respons satu pun. Mary dan Miera turut memacu kaki mereka tanpa kata, menyusul sang pemilik istana.
Xavier tak langsung mengikuti mereka, pandangannya sesaat berbalik ke belakang. Ia tidak tahu apakah Achilles sudah mengirim Neir untuk menggunakan kemampuannya dalam menemukan Artemys. Ia tidak tahu jika informasi itu telah sampai ke telinga Kanna atau belum. Yang jelas, apa pun yang terjadi, ia akan membawa pulang Artemys dengan tangannya sendiri. Ia hanya perlu menyelesaikan urusan di sini dengan cepat.
Mengangguk pada dirinya sendiri, Xavier lantas menyusul Elmira dan kedua pengikutnya.
...—Coralina, Ekralina Kingdom—...
“Dasar babii gendut menjijikkan!” gerutu Rossia saat keluar dari istana kerajaan. “Jika saja dia punya keturunan yang lebih bodoh darinya, tentu tidak akan menjadi masalah jika dia kuhabisi.”
Rossia kesalnya bukan main. Harusnya ia sudah meninggalkan istana setengah jam yang lalu, tetapi raja tamak bin idiot itu telah memperlambatnya dengan berbagai alasan yang membatasi jumlah prajurit yang boleh ia bawa. Meskipun pada akhirnya ia bisa membungkam raja yang tubuhnya keberatan itu, tetap saja itu membuatnya kesal karena harus mengulur waktu.
Menghela napas menenangkan diri, Rossia langsung melesat menuju markas prajurit Ekralina Kingdom.
Butuh beberapa menit untuk berbicara dengan pemimpin para prajurit, dan perlu belasan menit menunggu total 10.000 prajurit siap berangkat. Dan tanpa berlama-lama lagi, Rossia mengomando kesepuluh ribu prajurit itu menuju gerbang kota.
Dengan jumlah total 15 ribu prajurit (5000 anggota Knight Templar), Rossia Himera memimpin jalan menuju Etharna. Mereka tidak akan singgah di kota terdekat dengan perbatasan. Rossia dan pasukannya akan lurus menuju Etharna. Dengan beberapa kali berteleportasi, paling lambat mereka akan tiba di Etharna lusa pagi.
Kemudian, Favilifna Kingdom akan mendapatkan hukuman yang pantas karena telah berani membangkang Emiliel Holy Kingdom. Hal itu…Rossia akan memastikannya!
...####...
Untuk yang mengikuti “The Kaiser” di karyakarsaa, volume 5 akan rilis di sana paling lama Sabtu malam, 7 Agustus. Volume 5 dst ini terinspirasi dari event Olimpiade. Semoga dinantikan.