Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 40: Predestine Future, part 2



Xavier menghiraukan rasa sakit pada dada kirinya, tangan kanan menggenggam batang tombak berusaha menarik tombak keluar.


Tetapi tak membuahkan hasil. Xavier tak mampu menariknya keluar. Pegangan Fie kuat. Seinci pun ia tak mampu membuat genggaman sang nephilim mengendur. Xavier bahkan mencoba berteleportasi dan sampai menggunakan Space Reversal. Namun, keduanya tak bekerja. Tombak yang menusuknya sama sekali tidak normal.


“…Jadi, bagaimana? Mau mengetahui seberapa kuat sebenarnya ‘kita’? Atau, kau sebenarnya pria masokis yang suka diperlakukan sadis oleh wanita? Kau memalukan nama ‘Xavier’.”


Xavier menggemeretakkan gigi-giginya. Ia kesal bukan saja atas ucapan pemilik suara yang membisikkan di dalam kepala, tetapi pada kekalahan yang mengancamnya—dan di tangan wanita pula. Dan ini akan menjadi yang ketiga kalinya ia kalah dari wanita. Satu kali, bisa dimengerti. Dua kali, bisa ditolerir? Tapi tiga kali?


Tidak, terima kasih.


“Baiklah, kau menang.”


Xavier tidak punya pilihan lain ‒ ia membiarkan kesadarannya ditarik ke dalam.


“Kau mengatakan aku menang. Kau mau menyerah?” tanya Fie, memandang datar pada Xavier yang kepalanya telah menunduk. “Ini mengejutkan. Tapi, aku tetap takkan membi—!”


Krak.


Fie terdiam, terkejut. Tombaknya retak. Dan sebelum matanya sempat mengerjap, tombaknya telah patah menjadi dua.


Xavier menarik keluar sisa tombak yang menancap di dada kirinya. Dia membuangnya secara asal dan kemudian berdiri. Fie melihat lubang di dadanya menutup, asap terlihat keluar dari luka yang tertutup itu. Dan…perasaan ini!


“Perbedaannya sangat jelas,” gumam Xavier pelan—suaranya lebih lembut dari sebelumnya.


Dan saat wajahnya menjadi tegak, saat itu pula Fie menarik kesimpulan. “…Apa kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu?” tanyanya.


“Tapi itu berbeda dengan yang seharusnya,” lanjut Fie tanpa menanti jawaban sang pria. “Edenia mengatakan dia baru akan membuat ingatanmu kembali saat kau mendapatkan [Celestial White Flame], [Eternal Zero], dan [Complete Annihilation]. Apa kau mendapatkan ingatanmu kembali murni karena keinginanmu sendiri? …Tunggu, jangan bilang kalau Edenia tidak benar-benar bisa melihat masa depan kita?”


Fie refleks melangkah mundur. Ia selama ini selalu dalam asumsi kalau semuanya berada dalam kontrol Edenia. Karena itu ia tak pernah berpikiran untuk memberontak. Namun, dengan apa yang ia lihat sekarang, apa itu artinya Edenia tak bisa melihat masa depan mereka yang terbebas dari kontrol Throne of Heaven?


...———————...


Xavier menghiraukan Fie Axellibra yang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia terlalu antusias dengan sensasi kebebasan ini untuk peduli.


Sudah berapa lama ia tak menghirup udara segar? Dan Vermyna, bagaimana kabarnya sekarang? Apa vampire itu benar-benar tak mengi—hm…aura ini….


Xavier spontan menolehkan pandangannya ke kanan. Ia merasakan seseorang memandangnya dari arah sana. Ia juga merasakan sedikit hawa keberadaan Vermyna, tetapi pada saat yang bersamaan berbeda. Xavier tidak bisa mendeskripsikannya dengan tepat. Ia hanya bisa bermuara pada satu kesimpulan, dan itu sangat membuatnya tak senang.


Apa seseorang telah membunuh Vermyna dan menyerap jiwanya?


Xavier merasakan amarah mulai memenuhi tubuhnya. Ia tak masalah jika Vermyna tidak memiliki ingatan tentangnya; Xavier bisa memulainya dari awal lagi. Namun…tak ada yang bisa ia lakukan jika kekasihnya telah terbunuh. Menyadari hal itu membuat amarah Xavier semakin memuncak, sampai-sampai udara di sekitarnya bergetar hebat dan tanah-tanah beretakan.


“Sepertinya kau memiliki relasi tertentu dengan Edenia,” gumam Xavier, memberikan perhatian penuhnya pada sang nephalem. “Mengetahui hal itu, normalnya kita harus berbicara. Aku ingin tahu semua yang kau tahu tentang Edenia. Tapi perlakuanmu pada ‘Xavier’ tak bisa dibiarkan tanpa hukuman. Ah, jika kau mau berkencan de—tidak, tidak, aku setia pada Vermyna. Jadi, maaf, aku tak bisa menawarkanmu untuk jadi kekasihku.”


“…Aku tidak pernah mengharapkannya.”


“Ah, kau benar juga.” Xavier mengangguk-ngangguk pelan, tak bisa membantah respons sang nephalem. “Tapi, jika kau mengharapkannya, aku akan pertimbangkan. Agak aneh jika kau tak terta—oh, apa kau…tidak normal?”


“…Aku normal,” balas Fie dengan kening mengernyit.


“Kau normal? Kalau kau normal, bagaimana bisa kau tak terpesona padaku? Apa kau punya tipe tertentu? Apa aku tak cukup memenuhi keinginanmu?” Xavier hendak memamerkan senyum magnetiknya untuk memuluskan langkahnya, tetapi tiba-tiba ia merasakan firasat buruk. Ini biasanya terjadi saat ia membuat Vermyna cukul kesal hingga dia keluar dari karakter formalnya.


“Lupakan saja,” lanjut Xavier dengan cepat—situasi akan memburuk jika hawa keberadaan itu memang milik Vermyna. “Tentang hukuman yang kumaksudkan,” lanjutnya (kali ini dengan ekspresi serius), “kau harus duduk dengan kaki terlipat ke belakang dan kepala menunduk. Minta maaflah dengan serius. Sebenarnya aku mau mengetes kekuatanku dan kekuatanmu. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku ini pria tampan, baik hati, dan sangat ramah. Pria sepertiku tidak menyakiti wanita, apalagi wanita secantik diri—”


Xavier terpaksa memutuskan ucapannya saat tiba-tiba Fie sudah berada di hadapannya dengan kepalan tangan yang berbalutkan mana. Kedua tangannya refleks menyilang di depan wajah, memblok pukulan sang nephalem yang mencoba menghancurkan wajahnya.


“…!”


“…!”


Baik Xavier maupun Fie sama-sama terkejut. Xavier terkejut karena kakinya terseret sampai puluhan meter. Fie terkejut karena pukulannya tak bekerja sesuai ekspektasinya. Jangankan membuat Xavier terhempas hingga ke luar horizon, ia bahkan tak mampu membuatnya terpental hingga menghantam bukit terdekat. Lebih parah lagi, pukulannya hanya mampu membuat pria itu terseret puluhan meter.


“…Kekuatanku kurang dari yang seharusnya,” komentar Xavier pada dirinya sendiri. Apa ini karena aku terbagi dua?


Untuk menjawab pertanyaannya, Xavier mencoba menggunakan [Reverse Law]. Gagal. Ia coba gunakan api hitam. Kembali gagal. Kemudian ia coba gunakan semua sihir yang “Xavier” miliki. Tetapi gagal juga. Ia tak bisa menggunakan satu pun kekuatan Xavier von Hernandez. Bahkan ia sama sekali tak bisa merasakan keberadaan [Magic Container] dalam dirinya.


Jadi, benar begitu. Aku hanya bisa menggunakan sihir asalku dan kemampuan baru yang kudapatkan setelah terbebas dari kontrol Throne of Heaven. Hm…Fie tadi menyebutkan Edenia punya niat mengembalikan ingatanku. Apa jangan-jangan….


“…Kekuatan fisikmu…mengejutkanku.”


Fokus Xavier langsung kembali pada sang nephalem begitu pujian tersebut memasuki telinganya. Bibirnya melengkung tipis. “Apa itu artinya kau mulai tertarik?”


Perempatan muncul di pelipis kiri Fie, dan dalam sekejap dia sudah kembali berada di hadapan Xavier. Mana yang membungkus kepalan tangannya jauh lebih tebal dari sebelumnya.


“Aku tak mau menerima pukulanmu yang ini,” bisik Xavier sembari memiringkan tubuhnya menghindari tinju sang nephalem. Tetapi tangan Fie yang lain sudah bergerak. Xavier menepis lengan sang gadis, membuat pukulan itu berubah arah. Dan sebelum tendangan memutar Fie sukses mengenai dagunya, Xavier sudah menjauh hingga sebelas ke belakang.


“…Ayo ke atas,” ajak Fie sembari mulai melayang. “Di sini aku harus mengontrol pukulanku agar Islan tak hancur. Di atas, aku bisa menghancurkan wajahmu dengan bebas.”


"Itu tidak perlu."


Kalimat itu tidak keluar dari mulut Xavier, tetapi dari orang ketiga yang akhirnya menampakkan diri.