Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 13: Sataniciela, part 1



MATA abu-abu berpupil vertikal yang sebelumnya kosong itu perlahan berkilatan, dan kemudian mengerjap beberapa kali.


Kekosongan yang tadi terpancar jelas kini tak lagi berjejak. Perbedaannya kontras sekali. Berbagai emosi silih berganti singgah di wajah jelita itu, sebelum kemudian kemarahan menggantikan semuanya dengan sempurna. Namun, sebagaimana emosi lainnya, kemarahan juga tak bertahan lama. Sataniciela menghela napas pelan, dan wajahnya langsung tenang.


“…Mengesampingkan makhluk hina mana pun yang telah memanggilku, persembahan yang diberikan begitu luar biasa.” Sataniciela memandang kedua tangannya dengan penuh kekaguman. “Aku tidak pernah merasa lebih kuat dari ini. Tidak saja jumlah mana yang melimpah, jumlah sihir pun juga. Dengan ini…Lucifer sekalipun tidak akan lagi bisa menunjukkan pandangan angkuh itu di hadapanku. Siapa pun kau yang telah memanggilku, harus kuakui aku berterima kasih padamu.”


Gelak tawa seketika memenuhi keheningan Lembah Terlarang Ed, dan itu bertahan hingga beberapa menit lamanya.


Kala tawanya reda, Sataniciela menarik napas dalam-dalam, lalu meluruskan kedua tangannya ke depan dengan telapak tangan yang terbuka.


Sataniciela bermaksud membuka gerbang neraka untuk kembali ke sana. Singgasana Lucifer berada di tempat itu; ia takkan bisa menghabisi Lucifer dan memaksa para iblis lain untuk tunduk padanya jika tak kembali. Namun, niatnya terhenti seketika saat merasakan kehadiran seseorang yang memancarkan hawa malaikat, manusia, dan sekaligus iblis—walaupun sisi iblisnya ditekan begitu dalam hingga tak bisa dirasa oleh iblis selain diri Sataniciela.


“Namamu? Tujuanmu di sini?”


Kelopak mata Sataniciela tak bisa lebih melebar lagi. Suara itu berasal tepat dari belakangnya. Dan kali ini, ia tak bisa merasakan hawa keberadaan manusia. Yang ia rasa murni hanya hawa iblis dan malaikat dalam kesetimbangan yang sempurna. Namun, itu bukan alasan dari melebarnya kelopak mata Sataniela. Matanya melebar karena energi yang ia rasakan dari makhluk di belakangnya ini begitu besar sampai kekuatan Lucifer terlihat seperti iblis rendahan.


“…Luciel telah menanamkan jiwanya dalam diri Xavier von Hernandez yang saat ini berada lurus di barat daya.” Makhluk di belakangnya berkata tanpa menanti jawaban Sataniciela. “Jika kau masih menyimpan dendam padanya, kau bisa membunuhnya. Aku memberimu izin untuk melepaskan kekuatanmu di tanah ini.”


Dengan itu, pemilik energi mengerikan itu langsung menghilang dari belakangnya begitu saja.


Sataniciela refleks menoleh ke belakang, dan benar di sana sudah tidak ada siapa-siapa. Ia lantas membawa tubuhnya melayang beberapa puluh meter ke udara, matanya memandang ke segala penjuru. Namun, keberadaan sosok itu tak ia dapati di mana pun. Bahkan saat ia membawa persepsi sihir sensoriknya ke tingkat maksimum, Sataniciela tak menemukan makhluk itu.


Berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan makhluk itu sontak memenuhi kepala Sataniciela, tetapi dengan cepat pula ia abaikan. Pandangan sang iblis berhenti di arah barat daya, memandang lurus ke sana.


“Luciel….” Bibir Sataniciela menyeringai setelah mengucap nama itu.


Jika bukan karena kehadiran Luciel yang begitu tiba-tiba di Islan dulu lebih dari tiga ribu tahun lalu, tentu ia dan para iblis sudah menduduki Islan. Namun, malaikat sialan itu telah menggagalkan rencananya. Ia waktu itu beruntung karena Lucifer membelot pada langit dan berpihak pada iblis. Jika tidak, ia barangkali sudah mati di tangan malaikat hina itu.


“Kukira dia benar-benar sudah lenyap setelah Lucifer menghabisinya. Heh, siapa sangka dia tetap berupaya bergelayut pada kehidupan. Tapi, itu justru bagus untukku. Sekarang aku punya kesempatan untuk mengembalikan penghinaan waktu itu.”


Dengan itu, Sataniciela langsung melesat lurus ke arah barat daya—pikirannya hanya dipenuhi satu hal saja: menghabisi Luciel untuk selamanya.


...—...


...* * *...


“Heh.” Vermyna membiarkan seruan terhibur keluar dari mulutnya. “Itu niat yang patut diapresiasi dari dirimu, Fie. Namun, memandang diriku seolah diriku tak mampu menangani diri Sataniciela sendiri….”


Vermyna menghela napas pelan. Meskipun ia mengatakan itu, harus ia akui kalau Satanicela yang sekarang berada dalam level yang berbeda. Itu karena Neix. Vermyna tidak sedikit pun berpikir Neix bisa mencapai level kekuatan yang jauh melampaui kekuatan penuh Crow. Dengan Sataniciela memiliki kekuatan itu di atas kekuatannya sendiri…. Akan memakan banyak waktu jika dirinya ingin menguasai tubuhnya kembali.


Karena itu, Fie membuat Sataniciela untuk bertarung dengan Xavier. Meskipun Sataniciela telah bertambah kuat secara signifikan gara-gara Neix, dia tidak akan bisa begitu saja mendominasi pertarungan. Jika Xavier menggunakan kekuatan [Reverse Law] (yang dia gunakan dulu untuk mencoba menghentikannya) pada Satanicieal sejak awal, Xavier memiliki peluang menang. Namun, jika Xavier memutuskan untuk mencaritahu kelebihan dan kekurangan Sataniciela terlebih dahulu, Xavier akan kalah.


Yang mana pun, intinya satu: bertarung dengan Xavier akan menguras kekuatan Sataniciela, dan itu akan mempermulus usahanya dalam mengambil tubuh itu. Lebih dari itu, jika Xavier kalah, secara tak langsung ia telah menjadi penyelamat nyawa Xavier.


Diriku tidak tahu jika diri Fie merencanakan itu juga, tetapi itu tidak penting. Vermyna menggeleng pelan, perhatiannya tertuju pada Crow yang baru saja memasuki ruang singgasanya.


“Nona Vermyna, aku senang akhirnya bisa kembali lagi ke sini. Valeria mengatakan ada manusia yang Nona ubah menjadi vampire di antara anggota Moon Temple.”


...—Etharna, Favilifna Kingdom—...


Xavier yang sedari tadi duduk tenang di balkon menara istana yang paling tinggi tiba-tiba merasakan instingnya memekik tajam.


Matanya spontan melirik ke arah timur laut. Namun, Xavier tak punya kesempatan untuk mempertanyakan apa yang terjadi. Kejutan udara yang begitu kuat tiba-tiba sudah menghantam tubuhnya dan seluruh bagian atas menara.


Kejutan udara itu begitu terkompres dan bergerak dalam kecepatan yang memperdaya, dalam sekejap mata tubuhnya sudah menembus dinding kota dan terus melesat hingga menghantam sebuah bukit. Kehancuran yang disebabkan kejutan udara itu cukup besar, dan bukit tempat tubuhnya menghantam sampai menciptakan lengkungan sedalam puluhan meter.


Kontra dengan pemikiran siapa pun yang melihatnya (jika ada), Xavier sama sekali tidak kesal. Sebaliknya, segera setelah ia memuntahkan saliva yang bercampur darah, bibirnya melengkung hebat. Siapa pun yang telah menyerangnya, Xavier tahu dia kuat. Memang, Xavier tadi tak mencoba menggunakan [Reverse Law] ataupun [Teleportation Magic]. Namun, tetap saja pukulan yang menciptakan kejutan angin sekaliber itu sangatlah mengesankan.


Dalam hal kemampuan fisik, Xavier bisa mengatakan orang ini lebih kuat dari Vermyna Hellvarossa tanpa harus bertukar tinju dengannya.


Xavier mengeluarkan diri dari tempat tubuhnya mendarat, kemudian melompat tinggi dan membiarkan kedua kakinya berpijak dengan kuat.


Tepat sedetik setelah Xavier mendarat di tanah, suara debuman keras terdengar belasan meter di hadapannya. Kepulan debu menutup pandangan Xavier, tetapi kepulan itu langsung menghilang oleh hempasan angin yang musuhnya sebabkan. Barulah Xavier mendapati siapa yang telah memberikan kejutan angin itu hingga menghancurkan menara istana dan tembok kota.


“Luciel, bangsatt, hari ini kupastikan kau akan musnah untuk selamanya; aku tidak pernah melupakan penghinaan yang kau lakukan waktu itu.”