Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Special Story: Threat from the East, part 7



...—1st June, D204 | Deus Holy Church, Islan—...


PERANG tak bisa terhindarkan. Itu adalah kenyataan yang paling tak bisa disangkal. Mau sebaik apa negosiator yang mereka kirim, itu tetap tak akan mampu mengubah niat para agresor. Tekad mereka sudah bulat. Keinginan mereka sudah begitu kuat. Biarkan mereka mencapai berkah sang dewa, atau hadang mereka dari meraih berkah itu—pilihannya hanya itu dua. Biarkan mereka mengambil alih, atau lawan mereka. Tidak ada pilihan lain.


Jawabannya sudah jelas. Orang-orang ini bahkan rela menjadikan potongan tubuh mereka sebagai dinding yang menghalangi invasi musuh.


Atas alasan itu, Pope Gramiel kembali mengadakan pertemuan dengan para Guardian ‒ sebuah pertemuan terakhir sebelum mereka semua terjun ke dalam perang yang sudah diprediksikan.


“… Mengesampingkan pasukan independennya Emiliel Holy Kingdom yang berposisi di sepanjang pantai utara dan sedikit ke timur laut, itu adalah semua posisi para prajurit yang sudah ditempatkan. Kita tidak bisa memastikan apakah mereka akan memutar dan menyerang dari barat, tetapi jika pun itu terjadi, kita bisa memobilisasi pasukan lebih cepat dari mereka. Ini adalah benua kita; kita tidak bisa kalah dalam hal krusial seperti itu.”


“Terima kasih atas laporannya, Nak Zeff,” ucap Pope Gramiel pada pengantar pesannya yang baru saja bermonolog panjang, sebelum kemudian mengembalikan perhatiannya pada kedua belas individu yang duduk semeja dengannya. “Seperti yang Nak Zeff baru saja terangkan, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Sekarang, kita perlu membahas tentang penempatan kalian.”


Hernandez dan yang lainnya serentak mengangguk setuju. Mengingat Veria jauh lebih unggul dalam pengorganisasian para prajurit, penting bagi mereka untuk memperhatikan penempatan para Guardian dengan benar sehingga dapat meniadakan kekurangan dari para prajurit Islan (kesatuan prajurit yang merupakan gabungan dari para prajurit kerajaan-kerajaan dan kota-kota independen di Islan).


“Aku dan Stakhnet akan bergabung denga para prajurit di pesisir timur laut,” ucap Khrometh dengan ekspresi wajah yang tak ingin mendengar kata penolakan. “Kami akan berada di garis depan dan menggunakan mahakarya kami untuk membasmi musuh sebelum mereka berhasil mencapai pantai. Kami akan menghancurkan mereka dan membuktikan kalau kamilah craftman dan blacksmith terbaik di dunia.”


“Kalau begitu, kupercayakan sisi itu pada kalian berdua,” respons Pope Gramiel dengan senyum kekakek-kakekannya. “Tunjukkan pada mereka kalau Islan tak hanya memiliki Hernandez saja. Tunjukkan pada mereka kalau kalian tak kalah hebatnya.”


“Heh, tentu saja, Pope!” seru Khrometh semberi sedikit mendelik ke wajah Hernandez, seolah meneriakkan “Dengar itu!” ke mukanya.


Hernandez hanya tersenyum tipis mendengar hal itu. Khrometh selalu menganggap diri Hernandez adalah seseorang yang harus dia kalahkan, padahal Hernandez tak berpikir begitu tentang sang dwarf. Bagi Hernandez, tak penting jika ada yang lebih baik darinya. Ia hanyalah seseorang yang berusaha menjadi lebih baik dari dirinya yang lalu. Dirinya di hari esok harus lebih baik dari dirinya di hari lalu. Itu prinsip Hernandez.


“Aku dan Zuthvert akan bergabung dengan para prajurit yang di tenggara,” ucap Evana dengan senyum kekakak-kakakannya. Zuthverth menampilkan ekspresi tidak setuju, tetapi wanita itu abai. “Bagaimana, Pope Gramiel? Mengingat mayoritas prajurit yang bertempat di sana adalah para elf, kurasa itu adalah posisi yang ideal bagi kami.”


“Ya, seperti katamu itu memang posisi yang ideal bagi kalian.” Pope Gramiel mengangguk setuju. “Dan, Nona Evana, aku juga ingin agar kalian memperhatikan agar tidak ada kapal musuh yang berhaluan ke selatan.”


“Tentu saja, Pope, tentu saja.”


Pope Gramiel mengangguk, sebelum kemudian melanjutkan, “Diatra dan Elemetra akan menggunakan Kapal Vegasus untuk menyerang kapal-kapal musuh dari udara. Kita berharap agar kalian dapat menghancurkan sebanyak mungkin kapal yang akan berlabuh. Peran kalian sangatlah penting; semakin banyak kapal musuh yang kalian karamkan, semakin sedikit lawan yang harus kita hadapi.”


“Tidak perlu khawatir, Pope. Kami dan Vegasus akan bekerja lebih baik daripada Khrometh-Stakhneth dan mahakarya mereka. Ha-ha-ha.”


“Oi, kuda liar, kalian masih seribu tahun terlalu awal untuk berkompetisi dengan mahakarya kami!”


“Well, kita akan lihat itu nanti, Khrometh. Aku yakin setelah perang ini selesai kau akan mengemis agar diperbolehkan mengeksplor Kapal Vegasus.”


“Hmph, tidak akan!”


“Mengesampingkan persoalan terkait mahakarya mana yang lebih baik,” ujar Pope Gramiel menengahi mereka, “kita harus memenangkan perang ini terlebih dahulu agar bisa menilainya. Sekarang, yang belum ditentukan posisinya tinggal kalian berenam.”


“Diri Catherine akan menetap di sini,” gumam Vermyna dengan nada superiornya. “Diriku, Hernandez, dan Retsu akan menuju ke sisi timur. Diri Minner dan Zestya berada di antara diri kami dan diri Evana – Zuthvert. Dengan demikian, diri kita telah membentuk pertahanan yang solid di sepanjang sisi timur Islan. Diriku rasa itu adalah penempatan posisi yang paling ideal.”


“Aku sependapat dengan Nona Vermyna. Nona Vermyna akan menghadapi Empress Jiang Yue Yin, aku akan menangani Emperor Gadra, dan Retsu akan menangani pemimpin yang lain—atau ikut menyerang prajurit musuh jika tidak ada pemimpin yang lainnya. Lalu, dengan Kapal Vegasus yang mengambil garda terdepan dalam mengurangi jumlah musuh, itu akan menjadi opsi yang ideal seperti yang Nona Vermyna katakan.”


“Bagaimana menurutmu, Nak Catherine?”


“Sebenarnya aku ingin protes; berada di garis depan akan lebih membantu yang lainnya. Namun, aku mengerti apa yang Kak Vermyna maksudkan. Dengan teleportasiku, aku akan menjadi yang paling ideal untuk berada di sini daripada kalian semua.”


“Jika Nak Catherine sudah setuju berada di kota ini, artinya aku tidak perlu meminta Nona Fie untuk mengirimkan orang-orang kuatnya ke sini. Lantas, bagaimana dengan kalian berdua?”


Minner dan Zestya memandang satu sama lain selama beberapa detik, sebelum kemudian keduanya mengangguk secara serentak. “Tidak masalah,” kata mereka kompak.


Pope Gramiel tersenyum senang mendengar tidak ada yang memiliki masalah dengan penempatan posisi mereka. Namun, sebelum dia sempat membuka mulutnya untuk berkata, seorang informannya yang lain tiba-tiba menerobos masuk secara paksa dengan ekspresi panik di wajah.


“Pope Gramiel, ini buruk!” seru sang informan tanpa peduli kalau dia baru saja menerobos masuk secara paksa. “Ini sangat-sangat gawat!” tegasnya lagi tanpa merasa bersalah.


Hernandez dan yang lainnya memandang intens ke arah sang informan. Sebagian dari mereka tak mempermasalahkan interupsi yang tiba-tiba itu karena memang terlihat penting, tetapi sebagian lagi (terutama Khrometh) memasang ekspresi tak senang. Namun, sebelum ada dari mereka yang sempat membuka mulut, Pope Gramiel mendahuluinya terlebih dahulu.


“Katakan, Nak Jyan, apa kabar buruk yang membuatmu sampai panik seperti itu?”


“…Dragon Lor...Dragon Lord Arshvateth telah meninggalkan Medea dan sedang dalam perjalanan ke Islan. Dia tak sendiri. Ada lima Jendral Naga dan dua ratus Naga Dewasa bersamanya. Tak salah lagi, mereka juga ingin menyerang Islan.”


“…!”


Sejauh ini, tidak ada hubungan buruk antara Islan dan Medea. Dulu sekali memang pernah ada upaya Dragon Lord sebelum Arshvateth untuk memperbudak Islan. Namun, usaha itu kandas di tengah jalan saat Fie Axellibra secara personal melenyapkan semua naga yang mencoba menyerang Islan.


Sejak saat itu, tidak pernah ada lagi naga yang menginjakkan kaki di langit benua yang diberkahi sang dewa ini. Karenanya, aman jika dikatakan kalau upaya kali ini adalah kelanjutan dari upaya yang dulu.


Dan, mengingat ini terjadi bertepatan dengan invasi Veria, bisa disimpulkan kalau ini bukan sesuatu yang kebetulan. Mereka sudah pasti bekerja sama untuk menundukkan Islan. Entah itu pihak Veria yang membujuk sang Dragon Lord atau Dragon Lord sendiri yang meminta bergabung tidak lagi penting. Pada intinya, Veria dan Medea secara bersama-sama ingin menjatuhkan Islan.


“Perubahan rencana,” ucap Vermyna tiba-tiba, menarik perhatian semuanya. “Diriku akan menangani diri Dragon Lord dan semua bawahannya. Karenanya, Pope Gramiel, kau tak memiliki pilihan lain selain meminta bantuan diri Fie Axellibra menangani diri Jiang Yue Yin. Jika dirinya menolak, yang kemungkinannya kecil, diriku akan berusaha menghabisi diri para Dragon Lord secepat mungkin. Karenanya, Hernandez, habisi diri Gadra Rashta dengan cepat lalu tangani diri Jiang Yue Yin sampai diriku tiba.”


“Heh, ekspektasimu terhadapku terlalu tinggi, Nona Vermyna. Tidak ada yang bisa memastikan aku bisa selamat dari Emperor Gadra.”


“Hernandez, jangan buat diriku mengulanginya.”


“Ah, jika diancam seperti itu…. Apa boleh buat. Akan kucoba untuk tidak mengecewakanmu.”


“Sudah seharusnya seperti itu.”


“Aku akan meminta bantuan secara langsung pada Nona Fie,” kata Pope Gramiel sedetik kemudian. “Semoga aku bisa memintanya menyusul kalian ke sisi timur sebelum Empress Jiang Yue Yin berlabuh. Nona Vermyna, maaf karena harus membuatmu kerepotan seperti ini.”


“Tidak masalah.”


Gramiel lantas menolehkan pandangannya pada sang prajurit yang masih setia menunggu. “Nak Jyan, jangan beritahukan soal para naga pada siapa pun. Itu hanya akan membuat semuanya panik. Kita serahkan mereka pada Nona Vermyna; aku yakin seratus persen Nona Vermyna akan mampu menangani mereka semuanya.”


“Baik, Pope. Saya akan menyampaikan kepada yang lainnya untuk tak menyebarkan informasi itu. Kalau begitu saya mohon pamit, maaf telah menginterupsi tiba-tiba.”


Begitu prajurit tersebut meninggalkan ruangan, Gramiel langsung menoleh pada pengantar pesannya. “Nak Zeff, tolong kirimkan surat pemberitahuan ke Axellibra tentang kedatanganku hari ini ke sana. Sampaikan kalau aku meminta pertemuan dengan Nona Fie.”


“Baik, Pope.”


Segera setelah sang pengantar pesan meninggalkan ruangan untuk melaksanakan tugasnya, Pope Gramiel menarik napas dalam-dalam dan memasang ekspresi yang serius.


“Aku ingin berkata ‘anak-anakku’, tetapi selain Nak Retsu dan Nak Hernandez, kalian semua lebih tua dariku. Karenanya, aku akan mengatakan anak-anak pilihan dewa,” ucap Gramiel dengan nada jenaka, tetapi kemudian ia langsung melanjutkan tanpa memberikan kesempatan bicara pada yang lain. “Anak-anak pilihan sang dewa yang diembankan tugas menjaga Danau Deus yang suci, telah datang kembali hari yang mengharuskan kalian mengorbankan keringat dan darah demi keterjagaan anugrah sang dewa. Tidak ada jaminan kalian semua dapat kembali dengan selamat. Tidak ada jaminan para prajurit beserta kalian akan kembali tanpa luka. Tidak ada jaminan bagi kalian kemenangan.


“Namun, setiap usaha dan pengorbanan kalian tidaklah sia-sia. Jaminan bagi kalian adalah tanah suci yang dijanjikan, alam keabadian yang dinantikan. Jaminan bagi kalian adalah kasih dewa yang tiada berbatas, berkahnya yang tiada berhingga. Jaminan kalian adalah pertemuan dengan sang dewa yang kita agungkan, pencapaian terakhir dalam alam keabadian yang ke sana kita pasti pergi.”


Itu adalah kata-kata yang bagus dari Pope Gramiel, tetapi sayangnya, tiada yang peduli tentang alam kesudahan selain Retsu.


Khrometh dan Stakhneth hanya memedulikan tentang pencapaian mereka dalam menghasilkan karya. Elemetra dan Diatra sama sekali tak tertarik; mereka lebih suka berada di medan pertempuran dibandingkan di tempat yang dijanjikan. Evana dan Zuthvert lebih tertarik pada memenuhi hobi mereka daripada hidup damai di alam kesudahan. Zestya dan Minner…. Yang mereka inginkan hanyalah kejayaan Warebeast Great Kingdom di Islan. Catherine dan Vermyna…. Hernandez ragu jika mereka memikirkan tentang itu.


Sedangkan dirinya…. Hernandez bahkan tak sepenuhnya percaya tempat itu ada.


...—Beberapa Lama Kemudian, Sisi Tenggara Islan—...


Sisi tenggara Islan adalah tempat yang sangat hijau. Kendati itu sudah bukan lagi wilayah Hutan Besar Amarest yang memenuhi sisi selatan Islan, tetapi hutan yang melingkupinya juga cukup luas. Lebih dari itu, wilayah hutan ini lebih berbahaya dengan keberadaan para beastmen yang mendiaminya. Meskipun keanekaragaman Magical Beast lebih melimpah di Hutan Besar Amarest, Magical Beast di hutan ini juga tak bisa disepelekan.


Di salah satu bagian hutan ini, tepatnya di sekitar danau kecil yang menjadi penghubung antara dua sungai kecil yang membelah hutan, para Lizardmen tinggal bersama dalam suatu perumahan yang luas. Dari hanya sekadar melihat, berdasarkan jumlah rumah yang dibangun, jumlah Lizardmen bisa diestimasikan mencapai lima hingga enam ribuan. Mereka hidup dengan memakan ikan-ikan yang memenuhi danau dan sungai.


Dari sekian banyak ras Beastmen, Lizardman adalah salah satu dari beberapa yang tidak berinteraksi dengan ras-ras lain. Makanan utama mereka adalah ikan; selama tidak ada masalah dengan keberadaan ikan yang mereka butuhkan, mereka tidak akan peninggalkan perumahan mereka. Karenanya mereka sangat jarang memiliki konflik dengan ras lain, dan karenanya pula mereka sangat bisa bekerja sama dengan ras-ras utama di Islan—terlebih jika itu dalam hal perdagangan ikan.


Oleh sebab itu, tak heran jika para prajurit Islan pun memanfaatkan keberadaan para Lizardmen untuk membantu mereka mendirikan markas sementara. Kendati markas utama itu berjarak beberapa belas kilometer dari danau tempat para Lizardmen bermukim, para Lizardmen dapat membantu para prajurit dengan menghalangi Beastman lain yang bersifat agresif seperti Goblin, Orc, dan Troll menyerang mereka, sehingga para prajurit bisa lebih fokus.


Para prajurit Islan, yang mayoritasnya terdiri atas elf dan manusia mendirikan markas sementara mereka dalam jarak yang cukup jauh dari pantai. Mereka berniat memanfaatkan hutan sebagai sekutu, sehingga mereka bisa mengatasi perbedaan jumlah dengan lebih leluasa. Dengan keberadaan elf yang berpendengaran dan berpenglihatan lebih tajam, juga kemampuan memanah mereka yang mumpuni, taktik gerilya akan menjadi cara berperang mereka.


Total terdapat dua ratus tenda dengan ukuran yang bervariasi di sana. Sebagian besar dari tenda-tenda itu ditempati oleh manusia, sebagian kecil ditempati para warebeast, dan sebagian kecil lagi ditempati para elf. Kendati jumlah elf lebih banyak dari warebeast, tetapi jumlah tenda mereka berbanding terbalik. Itu tentu saja bukan tanpa alasan; elf lebih suka beristirahat di pohon dibandingkan di tenda.


Evana dan Zuthvert tiba di depan tenda terbesar dari semua tenda yang ada dalam lingkaran sihir teleportasi. Mereka meminta diteleportasikan ke tempat ini segera setelah pertemuan dengan para Guardian selesai. Kendati kapal-kapal musuh yang menuju ke sisi ini masih akan tiba dalam beberapa jam, lebih baik bagi mereka mengetahui rencana pemimpin dari prajurit-prajurit di sini dengan lebih detail sehingga bisa bekerja sama dengan lebih.


“Hancurkan para penjajah itu, Nona Evana, Tuan Zuthvert.” Berkata sang peneleportasi sebelum kemudian menghilang dari tempatnya berdiri setelah mendapatkan anggukan dari Evana dan Zuthvert.


“Zuthvert, kuserahkan padamu untuk berbicara dengan pemimpin di sini. Aku akan langsung ke pantai dan memperluas area hutan. Kita akan buat orang-orang itu berpikir ini adalah tempat yang tak terlindungi. Kita akan buat mereka berpikir kalau musuh mereka di sini hanyalah para Beastmen.”