Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 28: Sheer Stupidity, part 3



...—21st January, E643 | Royal Palace, Etharna, Favilifna Kingdom—...


Hari masih pagi buta saat Elmira mendapat kabar kalau belasan ribu warga Ekralina Kingdom sedang memasuki wilayah Favilifna Kingdom, dan ada puluhan ribu lainnya yang sedang dalam perjalanan meninggalkan kota-kota dan desa-desa mereka.


Surat resmi dari Carolina meminta agar Favilfna Kingdom bersedia menampung warga Ekralina untuk sementara waktu. Sebagai manusia dan bangssa pilihan dewa, Mortana bersikeras harus membawa kerajaan mengalahkan para musuh.


Reaksi Elmira?


Reaksi Elmira tidak mengejutkan: ia tertawa seraya menepuk tangan dengan penuh antusias.


Hebranest yang memberi laporan dan membacakan isi surat yang ditulis pemerintah Ekralina Kingdom tidak tahu harus bersikap bagaimana. Logikanya mengatakan sikap Elmira tidak pantas. Hebranest tidak akan berpikir aneh jika Elmira mendengus atau semacamnya, tapi tertawa dan bertepuk tangan? Itu sangat jauh dari kenormalan.


Namun, di sisi lain yang entah dari mana, Hebranest merasa tidak ada yang aneh dengan reaksi Elmira. Bahkan jika Elmira memutuskan tertawa cekikikan sambil berguling-guling, itu tetap normal. Elmira adalah “Holy Queen”. Segala hal yang dilakukannya tidak terdapat keanehan padanya. Elmira tidak pernah salah. Jika ada yang mengatakan sang ratu salah, maka konsep benar-salah orang itu telah sesat.


Selain interaksi antara jendral utama prajurit dan ratu Favilifna Kingdom, Hebranest tidak pernah memiliki interaksi lain yang nonformal dengan Elmira. Padahal, ia adalah kekasih ibu sang ratu. Setelah Hebranest dan Theana menikah, ia akan menjadi ayah tiri Elmira. Namun, jarak di antara mereka bagaikan bumi dan langit. Pun Hebranest tak bisa membawa diri untuk memandang Elmira selain sebagai ratunya.


Karena itu, Hebranest tidak bisa menyuarakan pertentangan dalam dirinya. Pada akhirnya ia hanya diam tanpa menyuarakan apa pun. Hanya menunggu sampai sang ratu selesai dengan kesenangannya. Pertentangan dalam dirinya dengan cepat ia abaikan.


“Hebranest,” panggil Elmira setelah tawanya mereda, ekspresinya berubah cepat menjadi serius. “Berbicaralah dengan Walikota Allecia. Katakan padanya untuk menyambut para pengungsi. Perlakukan mereka dengan baik. Kita tak mungkin menerima mereka di dalam kota; sediakan tempat perkemahan di dekat kota untuk mereka. Penuhi kebutuhan mereka. Tegaskan pada Allecia untuk mengimpor logistik dari kekaisaran jika stoknya tak mencukupi.”


“Sesuai keinginanmu, Yang Mulia.” Hebranest lantas pamit meninggalkan ruangan untuk langsung melaksanakan tugasnya.


Hari masih pagi buta, dan ia diteleportasikan ke sini tadi saat matahari baru akan terbit. Theana akan cemberut jika tahu ia kembali ke istana tetapi langsung pergi lagi tanpa memberinya sekadar kecupan selamat pagi. Namun, Hebranest punya tugas untuk dilakukan, punya tanggung jawab untuk diemban. Dan tanggung jawab selalu menempati urutan tertinggi dalam skala prioritas Hebranest.


“Hebranest,” sapa Mary yang kebetulan berjalan berlawanan arah dengan Hebranest di sebuah lorong.


Hebranest menyapanya balik, dan keduanya saling berpapasan begitu saja tanpa ada pertukaran kata yang lain lagi.


Itu bukan karena ada konflik di antara keduanya. Mary sedari awal memang irit bicara. Jika tidak ada keperluan, wanita itu takkan mengajak bicara. Untuk bisa dekat dengan Mary tanpa merasa dihiraukan, inisiatif mengajak bicara sangat diperlukan. Karenanya, jika Hebranest tidak memulai topik pembicaraan dengannya, takkan ada percakapan berarti.


Yang jadi masalah, Hebranest tak bisa membawa diri untuk mengajak gadis itu berbicara seperti dulu. Ada cinta yang senantiasa berbisik saat ia memandang wanita bertubuh mungil itu. Namun, ia dimiliki Theana—janda beranak dua. Hebranest tidak bisa mengkhianati wanita itu. Wanita itu benar- benar mencintainya setengah mati. Jika dia tahu Hebranest memiliki kecenderungan pada Mary, bisa-bisa Theana akan meminta Elmira untuk mengusir Mary dari istana.


Lagipula, Hebranest tahu jika ia mengutarakannya maka hanya akan berakhir dengan rasa kecewa. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Mary tidak memiliki ketertarikan padanya. Hebranest bahkan tidak tahu jika Mary punya ketertarikan pada hal yang disebut cinta. Mungkin…gadis itu sendiri tidak mengerti apa itu cinta.


Hebranest hanya bisa mencintainya dari jauh, tanpa diketahui, dan dalam hati yang sepi ‒ jika ada kesempatan, mereka barangkali bisa bersua di dalam mimpi.


...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...


Xavier pun merasakan hal yang seperti itu setiap kali bermalam dengan Artemys. Ia selalu terbangun lebih awal dari Artemys, dan ia selalu menghabiskan waktu sampai Artemys terbangun dengan memandangi dan membelai wajah serta rambut sang istri. Itu hal sederhana, tetapi kenyamanannya begitu bermakna. Kesenangannya begitu menyata.


Xavier tak pernah bosan melakukan rutinitas itu.


“Aku juga bisa salah tingkah jika kau pandangi terus seperti itu,” gumam Artemys yang baru membuka kelopak mata, matanya memandang intens mata Xavier yang juga memandangnya intens.


“Berapa lama kau sudah terjaga?” tanya Xavier, menautkan jemari kanannya pada jemari kiri Artemys.


“Tidak lebih lama darimu.” Artemys merapatkan tubuhnya pada Xavier, mendaratkan kepalanya di bahu kiri sang commander. “Apa kegiatanmu hari ini? Aku akan senang jika kau terus di sini sampai siang. Pagi ini jadwalku kosong. Kita bisa pergi jalan-jalan berdua. Jalan-jalan ringan bagus untuk perkembangan calon anak kita.”


Xavier mengecup lembut puncak kepala Artemys dan membuat kepala mereka bersenderan. “Jika kemarin sore aku tidak diberitahu kalau ayahmu menginginkan kehadiranku di istananya pagi ini,” katanya, “aku akan dengan senang hati menemanimu. Aku bahkan berpikir untuk mengajakmu bersantai di sebuah pulau kecil kosong hari ini.”


“Kau bisa menghiraukan panggilannya. Bukankah kau tidak menyukai ayahku? Mengapa harus berusaha memenuhi panggilannya?”


Xavier bisa melakukan itu. Ia bisa mengatakan ia lupa. Perkara selesai.


Namun, Nueva sudah tahu hubungannya dengan Artemys. Walaupun pernikahan mereka hanya diketahui segelintir orang, Nueva berhasil mengendusnya. Ia tidak tahu jika pria itu tahu putrinya hamil atau tidak; Xavier tidak ingin mengambil risiko. Ia sungguh masih ingat cerita Catherine tentang Nueva yang membunuh putrinya sendiri.


Kenyataan kalau Nueva tidak memberinya daftar nama orang yang terlihat dalam pembantaian Desa Carnal juga menjadi perhatian Xavier.


Pria itu tidak peduli Xavier mau menerimanya dan mengabaikan perbuatannya tempo dulu atau tidak. Pria itu mungkin tidak pernah berpikir untuk meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Xavier tidak mau Nueva sampai memanfaatkan Artemys untuk menggerakkannya.


Monica aman bersama Kanna, dan Artemys aman bersamanya; Xavier takkan membiarkan Nueva sampai melakukan hal yang Xavier tak ingin dia lakukan. Xavier harus bermain aman di sini. Ia harus memastikan hubungan “kerja sama” mereka berjalan baik. Paling tidak, Xavier harus mentolerirnya sampai Fie Axellibra dan Vermyna Hellvarossa bisa diatasi. Ia dan Kanna sungguh memerlukan Nueva untuk bisa melawan salah satu dari makhluk abnormal itu.


“Jika aku bukan commander, aku akan dengan senang hati mengabaikannya,” jawab Xavier pada akhirnya. “Namun, saat ini aku seorang commander. Lagipula, peperangan semakin dekat. Mungkin ada hal yang sangat penting yang perlu dia bicarakan denganku sampai-sampai harus berbicara secara langsung.”


“Begitu, huh?”


Xavier dengan cepat memeluk sang istri, mengecup pipinya dengan penuh afeksi. “Kau sungguh ingin aku mengabaikan panggilannya?”


Xavier bisa membelah raganya menjadi dua dan memintanya menemui Nueva.


Artemys melepaskan diri dari pelukan Xavier, turun dari ranjang dan menarik tangan Xavier sembari berkata, “Bantu aku membasuh rambut, lalu kita sarapan bersama, dan setelahnya aku akan mengantarmu keluar.”