Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 33: The Fall of the Dwarf, part 2



Sekitar dua kilometer di barat kota, Minner tersenyum lebar dari atas gundukan tanah setinggi belasan meter.


Matanya sedikit pun tak beranjak dari titik kecil di langit Dwagnowa. Ia sudah berada di sini sedari tadi, sejak salah seorang prajuritnya melaporkan aksi kejar-kejaran dua objek terbang di langit ibukota para dwarf. Meskipun sudah dimodifikasi, tetapi Minner ingat posturnya. Golem terbang itu tak salah lagi dikendalikan oleh Khrometh.


“Kekaisaran benar-benar berani,” puji Minner, puas dengan aksi yang dilakukan sekutu mereka.


Lucard sudah menghancurkan semua senjata berbahaya yang dwarf miliki. Kekuatan tempur Dwarf Kingdom benar-benar menurun secara signifikan. Yang berbahaya dari mereka sekarang hanyalah meriam sihir. Pun jumlahnya tak lagi masif; mereka bisa mengatasinya. Dwarf Kingdom akan bisa ditaklukkan.


“Dan itu adalah serangan pembuka yang sempurna. Sangat sempurna. Apa emperor yang memberi perintah?”


Iya atau tidak, itu bukan pertanyaan yang penting. Yang jelas, sekarang Minner bisa mempercepat penyerangan. Semulanya mereka baru akan menyerbu sore nanti setelah mereka mempersiapkan cara menghancurkan dinding kota. Namun, serangan dari golem barusan telah meninggalkan kehancuran yang besar pada kota.


“Jendral Minner, persiapan pasukan vampire sudah siap!” lapor Hecrust dari bawah. “Kami siap mengatasi Ordo 9 Knight Templar kapan saja. Jendral bisa langsung membawa pasukan utama memutar. Kami akan bergabung setelah Ordo 9 selesai ditangani.”


Mendengar laporan itu membuat lengkungan di bibir Minner melebar. Dengan segera ia melompat turun dari atas gundukan tanah yang tinggi. “Pasukan utama akan bersiap-siap,” responsnya. “Kalian bisa langsung menyerang sekarang juga. Kami serahkan Ordo 9 pada kalian.”


...* * *...


Khrometh mengumpat kesal. Ia tidak memperhitungkan efek serangan golemnya dengan sempurna. Tapi apa boleh buat; bangunan yang hancur selalu bisa dibangun ulang. Yang terpenting, keberadaan kapal perang musuh sudah lenyap. Ia memang tidak tahu pasti jika mereka benar-benar hancur, tapi tak masuk akal jika mereka bisa selamat dari serangan skala masif seperti yang baru saja ia tembakkan.


Mendengus, Khrometh kembali mengendalikan golem dan membawanya menukik tajam ke bawah. Ia membawa golem dalam kecepatan tinggi. Sebelum mencapai ketinggian seratus meter di atas kota, ia membuat golemnya bermanuver ke atas. Kemudian turun dengan kecepatan sedang dan elegan.


“KHROOOOOOOMETH!”


Teriakan amarah yang memekakkan itu datang diiringi bunyi bangunan hancur dan teriakan panik. Tak perlu diragukan itu teriakan siapa. Orang yang paling temperamen di seantero Dwarf Kingdom hanya ada satu: Gozilla Titanous Gazoa. Tidak ada asumsi lain selain dwarf bertubuh raksasa itu.


Dan Khrometh sama sekali tak takut padanya—atau siapa pun yang ada dalam semesta ini.


Ia menghentikan suplai mana untuk golemnya dan melompat keluar. Tepat saat kedua kakinya mendarat di bata jalan yang dipenuhi puing-puing kecil bangunan, puluhan dwarf elite bersenjata lengkap telah mengepungnya dari berbagai arah. Gozilla memandangnya penuh amarah pada jarak dua puluh meter.


“Kau akan membayar semua kehancuran yang kau buat!” teriaknya. Tidak ada sedikit pun rasa hormat yang sang raja miliki pada legenda hidup para dwarf. “Aku sudah cukup membiarkanmu berbuat sesuka hati selama ini. Sekarang tak ada lagi. Kau akan mematuhiku, atau silakan enyah dari negeriku.”


“Kau…kau berani mengusirku meski aku baru saja menyelamatkan kota ini dari kehancuran total?”


“Menyelamatkan dengan menghancurkan separuh konstruksi bagian atasnya, memenuhi kota dengan puing-puing bangunan, dan menewaskan para dwarf yang tak bersalah?”


“Kalian semua sudah pasti binasa jika aku tak turun tangan! Kau harusnya bersujud padaku dan berterima kasih, Gozilla! Kau raja yang tak tahu diri! Belajarlah dari para pendahulumu!”


“Kita semua tahu siapa yang tak tahu diri di sini!” teriak balik Gozilla, tetapi kemudian dia menghela napas panjang dan menggeleng pelan. “Dan aku tidak mengusirmu, Khrometh. Aku hanya memberimu dua pilihan: patuh padaku atau enyah dari sini. Sila buat pilihanmu sekarang juga.”


“Heh, bagaimana kalau aku jadi raja yang baru? Dwarf Kingdom akan jadi jauh lebih maju dan sejahtera daripada di bawah pimpinan dwarf badan besar sepertimu. Lihatlah badan kau yang sebesar gajah itu, apa kau masih berani menganggap dirimu dwarf? Sungguh tak tahu diri!”


“Kau! Kau! Kau!”


“Kalian semua, minggir! Ini urusan antara aku dan dwarf tua bangka tak tau diri itu. Kalian semua jadi saksi. Akan kupecahkan tenggorakannya dan kusumpal mulut besar menjijikkannya dengan kotoran babi.”


“Hoh, berani kau? Oke! Maju sini! Kita duel satu lawan satu. Kalau nanti kau mau mati, nggak usah kau mohon-mohon ampun samaku.”


“Jangan bermulut besar, Khrometh! Maju sini! Melawanmu satu jari saja cukup. Sini maju, tua bangka!”


“Kau yang maju, otak udang! Makhluk superior sepertiku tak perlu memulai serangan.”


“Heh, kau takut? Kau takut nggak bakal menang kalau memulai serangan duluan?”


“Aku, takut? Dalam mimpimu! Menyerang raja adalah pelanggaran terbesar yang berujung pada hukuman mati. Aku takkan jatuh dalam jebakanmu, idiot. Sekarang majulah, kita selesaikan ini secara adil dan secara laki-laki!”


Keduanya terus melempar makian dan ejekan tanpa memulai serangan. Padahal para prajurit telah memberi ruang yang cukup luas untuk mereka berbaku hantam. Pun perlindungan sudah dibuat agar tak ada serangan yang menyasar rumah penduduk sipil. Namun, kedua dwarf dengan tinggi yang berbeda secara signifikan itu tak kunjung menyerang.


Para prajurit yang menonton pun mulai saling melempar tanya: kapan mereka akan mulai bertarung? Apa mereka perlu menunggu sampai matahari jadi dua?


Saint Petra adalah satu dari sekian penonton yang ada. Namun, ia tak bergabung dengan mereka sejak awal. Ia baru datang kurang dari tiga menit. Ada informasi penting yang ia bawa. Ia terpaksa menunggu bersama para penonton karena mendengar kalau kedua dwarf yang tengah saling mengumpat itu ingin menyelesaikan duel secara adil.


Namun, tepat pada menit kelima menunggu dan kedua dwarf itu belum kunjung memulai serangan, Saint Petra menghela napas panjang dan berdoa agar kedua dwarf bisa kembali sehat akalnya. Selesai berdoa ia langsung menghampiri mereka sembari memasang ekspresi yang paling serius yang bisa ia pasang.


“Maaf mengganggu permainan kalian. Namun, kurasa sudah saatnya kalian berhenti bermain, Tuan Khrometh, Yang Mulia Gozilla.”


Khrometh dan Gozilla secara serentak menolehkan pandangan pada pemilik suara.


“Yang Mulia, aku datang untuk mengatakan kalau para musuh sudah mulai melakukan pergerakan. Aku ingin Yang Mulia melakukan persiapan total. Ordo 9 akan melakukan segala yang kami mampu untuk menghadapi mereka, tapi kekuatan tempur musuh cukup besar. Tuan Khrometh, jika bisa, kami juga ingin agar Tuan Khrometh ikut menghabisi pasukan musuh. Dengan golem spesial Tuan, kita akan berada di atas angin.”


...—Markas Utama Divisi 3, Nevada, Vermillion Empire—...


“Ma’am, teleportasi darurat berhasil. Keadaan reaktor mana sudah stabil! Ledakan berhasil kita hentikan, Ma’am!”


“Ma’am, kapal secara total mengalami kerusakan sebesar 6 persen. Bagian belakang berada dalam kondisi akan rusak. Kita perlu perbaikan jika ingin memulai operasi kembali.”


“Ma’am, sebaiknya kita perlu membuat pelindung ruang untuk reaktor mana. Kondisi reaktor terlalu sensitif. Ini akan menghambat potensi kapal jika terus dibiarkan.”


“Ma’am, kekuatan tempur kapal kurang. Sangat disarankan menambah empat atau lima barier.”


“Ma’am, perintah Anda?”


Edelweiss menghela napas panjang. “Operasi selesai!” serunya. “Kalian boleh beristirahat. Kita akan mulai perbaikan dan modifikasi kapal dalam dua jam.”