
Nueva spontan memutar badan dan mengayunkan tombak konsentrasi mana-nya, berintensi penuh menyerang sang commander. Ia tidak tahu bagaimana dia bisa berpindah secepat itu, tetapi itu bukan masalah yang berarti. Dirinyalah yang terkuat di antara mereka; Nueva bisa mengatasi trik apa pun yang sang commander punya. Tombak konsentrasi mana-nya mengayun dalam kecepatan yang membutakan.
Namun, mengejutkan Nueva sampai matanya melebar membelalak, tombak konsentrasi mana-nya berubah menjadi setangkai ranting berwarna hijau yang ditumbuhi bunga-bunga kecil di sepanjang bagiannya.
“Oh, terima kasih untuk ranting berbunga ini.” Xavier menangkap ranting tersebut lalu menariknya dari tangan sang emperor. “Apa kau percaya kalau ranting ini lebih keras dari adamantite dan bahkan lonsdaleite?” tanyanya tanpa berbalik arah, mata fokus pada ranting.
Nueva spontan mengepakkan sayap dan terbang menjauh. Ia baru menyadari ada yang berbeda dari Xavier. Pertama, ia tak bisa merasakan tingkat kekuatannya. Kedua, auranya berbeda dari sebelumnya – dia seperti orang lain. Dan yang ketiga, apa yang baru saja dia lakukan bukan sesuatu yang bisa ia komprehensikan. Jika pun itu [Plant Magic], bagaimana mungkin dia bisa menggunakan sihir dengan mana-nya? Tak masuk akal.
“Ah, kau tak sedang ingin melarikan diri, kan?”
Tubuh Nueva—yang berada lebih dari dua ribu meter di atas tempat Xavier berada—seketika menegang. Ia bisa mendengar suara sang commander meski perbedaan ketinggian mereka cukup jauh. Bahkan dengan pendengaran tajamnya, jarak ini sudah di luar jangkauannya, apalagi Xavier sama sekali tak berteriak.
“Bisa kusimpulkan kau sudah selesai bicara? Kalau begitu, sekarang giliranku menyerang. Saranku: jangan lengah.”
Nueva menciptakan dua tombak air dan membekukannya hingga sekeras berlian. “Kau telah besar kepala,” gumamnya serius. “Kali ini aku takkan lagi menunjukkan belas ka—”
Jrassssh! Punggung Nueva terkena sabetan ranting yang Xavier layangkan—dia sudah berada beberapa langkah di belakang sang emperor, dan pada saat yang bersamaan dia masih berada di bawah sana!
Darah mengucur deras dari punggung sang emperor. Nueva spontan menjauh lalu menghadap sang pelaku. “Frozen World,” bisiknya, pada saat yang bersamaan ia percepat regenerasi pada luka di punggungnya.
“Kan sudah kubilang, jangan lengah.”
Mata Nueva melebar. Tetapi ia terlambat bereaksi. Sebuah ranting berbunga telah menusuk menembus punggungnya hingga keluar tepat di tengah-tengah dadanya. Dan tepat dua milidetik kemudian, bagian ranting yang berada dalam tubuhnya bercabang-cabang menusuk rongga dalam sang emperor. Rasa sakit yang Nueva rasakan teramat sangat.
“Ba-Bagaiman bisa? Harusnya tak ada yang bisa bergerak di dalam Frozen World-ku selain Phoenix dan aku sendiri.”
“Frozen World? Apa yang kau bicarakan?”
“A—” Nueva bahkan tak sempat mengeluarkan kata pertama dari kalimat yang ingin ia ucapkan. Matanya melebar tak percaya. Salju turun dengan biasa, yang notabenenya mustahil dalam Frozen World sang emperor. “Ba-Bagaimana mungkin? [Eternal Zero] lebih superior dari [Reverse Law]. Kau tak seharusnya bisa menormalkan keadaan!”
“[Reverse Law]? Sejak kapan aku menggunakan [Reverse Law]?”
“Apa mak—”
—plak!
Punggung tangan kanan Xavier telah menghantam pipi kiri Nueva sebelum sang emperor tuntas berkata—tamparan terbalik itu diikuti retakan hebat pada tulang pipi.
“Itu untuk balasan yang tadi.”—adalah apa yang ia dengar sebelum tubuhnya menghantam gunung dengan keras hingga membentuk lubang sedalam belasan meter. Tulang punggung Nueva benar-benar retak.
Sang emperor membiarkan tubuhnya beregenerasi—kemampuan khusus yang ia dapat setelah menjadi dragonoid. Pada saat yang bersamaan, pikirannya menganalis apa yang terjadi sejauh ini.
Bagaimana bisa?
Nueva tidak mengerti. Bahkan jika Luciel yang mengendalikan tubuh sang commander (mengasumsikan Xavier berbohong tentang lenyapnya sang malaikat agung), itu tetap tak masuk akal. Ia sudah lebih kuat dari Thevetat, tapi dia memperlakukannya seperti mainan. Mustahil itu Luciel; Luciel tak sekuat itu.
Apa Xavier telah menyembunyikan kekuatannya sejauh ini? Tapi itu tak menjelaskan mengapa pembawaannya berubah.
“Apa mungkin ada makhluk lain—yang berada di luar pemahamanku dan Edward—yang mengendalikan Xavier?”
Nueva mendengus dan melontarkan dirinya keluar dari lubang tempatnya terjatuh. Ia tak melesat ke udara, tetapi mendarat di tepi lubang. Akan berbahaya jika ia melesat ke atas tanpa terlebih dahulu memastikan lokasi sang comma—
“Minum teh di tengah guyuran salju seperti ini sangat merilekskan, ya? Dinginnya udara dinetralkan oleh hangatnya teh. Oh, kue ini juga enak.”
—Nueva terdiam. Ia merasakan tubuhnya bergemetar, terlebih lagi saat ia membalikkan badan memandang sang pemilik suara.
Bukan. Tubuhnya bukan bergemetar karena takut. Sama sekali bukan. Tubuhnya bergemetar sampai ke ubun-ubun karena amarah yang hebat. Mata Nueva melotot tak terkira memandang Xavier yang tengah duduk santai di atas kursi sembari menyesap teh—dan di depan dia ada meja bundar yang di atasnya ada kue kering. Dan tanpa memusingkan dari mana sang commander mendapatkan semua itu, Nueva melesat menyerang dengan penuh amarah.
Mereka sedang berada di tengah pertarungan, dan sang commander justru menikmati teh seolah-olah sedang berekreasi? Ini penghinaan yang terbesar dalam hidup Nueva yang kedua. Dan dengan dirinya yang telah menjadi dragonoid, harga dirinya yang telah berlipat-lipat kini telah dicabik-cabik.
“Akan kuhancurkan kau dengan segala yang kupunya!” teriak Nueva seraya melayangkan tangan kanan bercakar tajamnya. “Mati binasalah, dan ketahuilah kau masih di bawahku!”
Xavier memiringkan tubuhnya ke belakang, cakar tajam sang emperor gagal mengenainya. Namun, meja berikut segala yang ada di atasnya hancur berkeping-keping. Tak berhenti di situ saja, serangan cakar tajam Nueva membawa begitu banyak tenaga hingga meninggalkan bekas goresan yang dalam di sisi gunung.
Nueva tak memberi ruang bagi Xavier untuk berleha. Ia sudah melayangkan cakarnya yang lain. Xavier kali ini menunduk menghindar. Tetapi serangan Nueva tak mengendur. Ia terus melayangkan cakar tajamnya walau sang commander terus-terusan dapat menghindar. Bahkan saat Nueva turut membawa kakinya dalam serangan dan berhasil menghancurkan kursi itu, Xavier masih gagal tersentuh.
“Tak bermaksud sombong,” kata Xavier saat mendarat beberapa meter di belakang sang emperor, “tapi semua seranganmu bisa kubaca dengan mudah. Jika terus begini, meski kau kuat, kau takkan bisa membuat Phoenix babak belur. Coba serang dengan lebih tenang dan jangan perlihatkan nafsu membunuhmu.”
Suara teh yang diseruput mengakhiri ucapan arogan sang commander, dan itu membawa amarah Nueva ke tingkat yang lebih tinggi. Ia berbalik cepat dalam keadaan dada membusung: “Frozen Dragon Breath!”
Sejurus seketika, luapan energi dingin menyembur keluar dari mulut sang emperor. Itu membekukan dan menghancurkan apa pun yang dikenai. Jangankan itu, segala partikel yang berada di dekatnya juga terkikis dan ikut hancur.
Namun, tepat satu inci sebelum energi itu menyentuh Xavier, tiba-tiba energi itu menukik ke atas lalu berbelok dan kemudian meluncur lurus pada sang emperor.
Mata Nueva membelalak. Ia tak mengekspektasikan hal yang terjadi. Ia tak mungkin bisa menghentikan semburan energi berkecepatan super tinggi itu, tidak dengan keadaan mulutnya yang masih memuntahkan energi. Yang bisa Nueva lakukan hanyalah memutar kepala dan membuat energi itu saling membentur. Dan itulah yang dia lakukan.
Namun, sebelum benturan kedua energi yang sama itu terjadi, Xavier menjentikkan jari tangan kiri…dan seketika semua energi sirna.
“Kemampuanku adalah sesuatu yang bahkan melampaui [True Reality]. Bukan saja aku bisa memanifestasikan apa saja, aku juga bisa mengubah logika, persepsi, dan segala hukum alam itu sendiri. Singkatnya, aku bisa melakukan apa saja. [Reality Warping]. Semua sihirmu menjadi tak berarti di hadapannya. Oh, apa kau mau menjadi perempuan secara permanen? Aku bisa melakukannya untukmu.”