
Lilithia pernah mendengar perihal Nueva memerintahkan pembantaian terhadap sebuah desa. Namun, saat itu ia tak memedulikan, itu bukan urusannya. Pun ia lupa kapan tepatnya; Lilithia tidak mengingat hal yang tak penting seperti itu. Barangkali, itu adalah desa asal Xavier? Mungkin harusnya dulu ia sedikit lebih peduli?
Hmph. Yang lebih penting dari itu, sekarang ia dan sang pemuda berada di garis yang berbeda. Xavier ingin menghabisi Nueva, sedang Lilithia ingin Nueva menjadi dewa supaya adiknya bisa dihidupkan kembali. Lilithia bisa mengerti apa yang dirasakan Xavier, tetapi ia juga memerlukan Nueva hidup-hidup. Ini benar-benar situasi yang sulit.
Dan yang lebih sulit dari itu, ia tahu ia takkan bisa menghentikan Xavier jika sang pemuda memutuskan mengabaikannya. Tidak peduli sekuat apa gravitasinya, itu tak berarti di hadapan Xavier. Lilithia tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan kekerasan. Ia tak berdaya di hadapan kekuatan Xavier.
Jika aku lebih kuat, aku bisa membuatnya tak sadarkan diri lalu kukurung di dalam kamar.
Oh, betapa menggiurkan keinginan itu! Lilithia merasa gerah hanya memikirkan apa yang akan bisa ia lakukan pada lawan bicaranya. Sayangnya, ia tidak memiliki kekuatan yang cocok untuk melumpuhkan Xavier. Dia telah tumbuh menjadi terlalu kuat. Mungkin harusnya ia langsung menangkap dan mengurung sang pemuda saat pertama kali mengetes kekuatannya.
“Ya, Nueva di dalam sana.” Lilithia akhirnya menjawab. “Aku di sini memastikan keamanannya sampai dia keluar.”
Ia tak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Selain karena Xavier sendiri telah jujur, Lilithia memang tidak punya pilihan lain. Ia tidak punya penjelasan untuk menjelaskan keberadaan bola energi itu. Terlebih lagi, deduksi Xavier sudah sepenuhnya benar. Memberi jawaban lain berarti secara terang-terangan mengantagonisi sang commander.
“Jadi begitu? Baiklah. Aku mengapresiasi kau tak mencoba menyembunyikan. Sekarang, apa jawabanmu?”
Mendapati pandangan yang sangat intens dari sang commander, Lilithia menghela napas untuk pertama kalinya sejak tiba di sini.
“Aku membutuhkan Nueva tetap hidup. Aku memerlukannya untuk menghidupkan kembali adikku. Apa pun alasanmu, aku tak bisa biarkan kau membunuhnya.”
Sebagaimana jawaban yang ia berikan pada Valeria, jawaban Lilithia tidak berbeda. Ia adalah individu yang tidak pernah mengkhianati kesepakatan yang ia buat. Dan lebih dari itu, meskipun ia menginginkan pria di hadapannya, tak ada yang lebih penting bagi Lilithia melebihi adiknya. Tidak peduli jika ia harus menderita selamanya, tak peduli jika ia harus terjatuh dalam keputusasaan, jika itu demi mengembalikan kehidupan adiknya maka Lilithia akan lakukan.
“Begitu, ya. Jadi itu pilihanmu. Aku bisa mengerti, dan aku juga takkan memaksakan opiniku padamu.”
“…Kau akan menyingkirkanku?” Lilithia berusaha untuk tetap tenang, tetapi membayangkan orang yang ia inginkan menghancurkan tujuannya memberikan rasa yang berbeda dalam diri Lilithia. “Kau akan menyingkirkanku?” tanyanya lagi, dan kali ini keningnya mengernyit.
Bibir Xavier melengkung. “Tentu saja tidak,” katanya santai. “Kau memiliki keinginan yang mengesankan. Aku punya prinsip kalau yang mati haruslah tetap mati, tak boleh bagi yang hidup untuk mengganggu mereka. Karena itu, meskipun aku menginginkan mereka hidup kembali, aku takkan berupaya menghidupkan mereka. Dan kau di sini semudah itu mengatakan ingin agar adikmu hidup kembali? Sungguh mengesankan.”
Lilithia tidak menyembunyikan kernyitannya. Bibir Xavier memang tersenyum, tetapi matanya tidak. Walaupun tak ada kebencian yang terpancarkan, tetapi ketidaksenangan itu begitu besar. Namun begitu, Lilithia tidak melangkah mundur. Kakinya tetap berdiri kokoh, menghalangi Xavier dari menghampiri bola energi itu.
“Pergilah, Lilithia. Lupakan tentang menghidupkan kembali adikmu. Mereka yang telah mati tak boleh diganggu sama sekali. Tak peduli seberapa besar keinginanmu untuk melihatnya kembali, itu adalah satu garis yang tak boleh kau lewati. Tidak ada arti dalam kehidupan jika yang mati bisa hidup kembali. Meskipun aku sangat membenci Edenia, aturan mutlak itu adalah satu-satunya hal yang kuhargai dari dia.”
“…Dan kau bilang takkan memaksakan opinimu padaku.”
“Aku takkan memaksakan opiniku, aku hanya memintamu dengan serius. Jika kau mengindahkannya, kita berada dalam satu garis yang lurus. Tapi, jika kau mengabaikannya, aku tak punya pilihan lain. Ini peringatan terakhir, kembalilah bergabungan dengan divisimu, Lilithia.”
Lilithia tidak memberi respons verbal. Ia melompat ke belakang, berhenti tepat dua meter di depan bola energi. Kedua telapak tangannya menyatu. “Aku tak bisa biarkan kau mendekat,” katanya, dan seketika kubah gravitasi mengurung bola energi dengan sangat sempurna. “Pergilah, Xavier. Bahkan jika itu kau sekalipun, aku takkan biarkan kesempatan hidup adikku berkurang.”
“…Kau pikir bisa menghalangiku?” tanya Xavier secara kasual, kedua kakinya mulai melangkah. “Apa kau pikir bisa menghentikanku?”
Lilithia kembali tak memberi respons verbal. Namun, puluhan cermin [True Mirror] sudah bermanifestasi di kanan, kiri, dan depan dirinya. Lilithia mengeluarkan hampir semua pionnya yang tersisa—pion-pion yang menurutnya cukup berguna. Jika ia tak bisa menghentikan Xavier, paling tidak ia harus mengulur waktu.
Setidaknya, itu adalah apa yang Lilithia rencanakan. Namun, belum sempat semua replika itu keluar, cermin-cerminnya telah lenyap tak berjejak. Begitu pula dengan kubah gravitasi yang menyembunyikan bola energi. Segalanya lenyap tak berjejak.
Namun, sama seperti sebelumnya, semuanya lenyap sekian milidetik setelah kemunculannya.
Lilithia merespons dengan menciptakan barier gravitasi yang lebih banyak, tetapi hasilnya sama seperti sebelumnya.
Dan, dalam sekejap, Xavier sudah berada tepat di hadapan Lilithia yang terdiam dengan keringat dingin memenuhi pelipis.
Lilithia tidak memiliki mana yang tersisa. Ia masih belum prima setelah bertarung dengan Neira. Dan meskipun ia dalam keadaan prima, ia tahu itu tetap takkan berguna. Lilithia sungguh tidak memiliki peluang menang.
“Xavier, coba pi—”
Ucapan Lilithia tertahan. Matanya melebar penuh keterkejutan mendapati dirinya telah berada dalam pelukan pemuda yang hampir dua kali lipat lebih muda darinya.
“Aku tidak kesal karena kau ingin menghidupkan kembali adikmu, sama sekali tidak.” Xavier berbisik pelan. “Tapi, melindungi pria lain di hadapanku? Sungguh? Kau mengecewakan, Lilithia. Kukira hubungan kita istimewa, tapi di sini kau mati-matian mencoba melindungi pria lain secara terang-terangan.”
Mata Lilithia mengerjap. Ia antara bingung dan tak mengerti. Dan ketika ia mengerti maksud Xavier, Lilithia langsung membuka mulut dengan cepat. “Xavier, ini ti‒”
“Grand Order: Sleep.”
Kesadaran Lilithia langsung ditelan kegelapan sebelum mulutnya selesai berbicara. Xavier langsung menggendongnya dengan cepat. Kemudian portal dimensi tercipta di kanannya. Dan begitu Xavier memasukinya, pandangan bingung Eileithyia menyambut dirinya.
“Eileithyia, maaf mengganggu, tapi bisa kau jadikan dia tahanan di sini? Aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi.”
Xavier bisa saja membawa Lilithia ke dimensi tempat Vermyna mengurungnya, tapi…jika itu ia lakukan….
“Oh, jadi dirimu ingin dihukum lagi? Persiapkan dirimu, diri kita akan menghabiskan waktu 1000 tahun di sini. Dan kali ini diriku takkan berbaik hati. Dirimu akan menikmati kesenangan sekaligus penderitaan.”
Xavier merinding membayangkan Vermyna akan mengatakan itu; ia lebih baik dihukum Evillia daripada Vermyna. Evillia masih tahu apa itu “tidak berlebihan”, tetapi Vermyna tidak peduli. Dan walaupun Evillia memiliki sisi sadis, gadis itu tidak ingin membuat Xavier terluka. Tetapi Vermyna berbeda. Dia takkan ragu-ragu membuat Xavier merasakan sakit.
…Xavier masih memiliki trauma. Tak akan ada pria yang takkan trauma. Vermyna…wanita itu benar-benar berbahaya. Ia harus menjadi lebih kuat darinya jika tak ingin diperlakukan seperti itu lagi.
“…Berapa lama?”
“Tidak lama. Besok aku akan kembali ke sini. Oh, aku tidak tahu kapan dia akan bangun—jika itu mungkin. Karena itu, pasang pengekang mana padanya. Segel juga mana-nya jika perlu.”
“Baiklah.”
“Terima kasih. Kalau begitu aku langsung pergi.”
Mendapat anggukan sang ratu peri, Xavier kembali menciptakan portal, dan dalam sekejap ia kembali berada di bekas puncak Amerlesia.
...»»» End of Chapter 42 «««...