Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 23: The Laugh of the King, part 2



...—Malam | Wild Arena—...


Meskipun itu turnamen tahunan (rutin dilaksakan setiap tahunnya), waktu pelaksanaan turnamen hanya satu hari setengah malam saja. Babak penyisihan akan dilakukan dari matahari setinggi tombak (yang juga menjadi batas terakhir pendaftaran) sampai sore, dan hanya akan diperoleh dua peserta untuk berpartisipasi di babak final. Sementara, pertandingan finalnya akan dilaksanakan pada malam hari, dan sang raja akan menyaksikannya secara langsung.


Hari ini total ada 148 peserta yang mendaftarkan diri dalam turnamen. Jumlah itu dibagi menjadi dua bagian: grup kanan dan grup kiri, masing-masing terdiri atas 74 orang. Evil Mask menjadi jawara dalam grup kanan, sedang Azet menjadi jawara dalam grup kiri. Mereka berdua adalah finalis yang akan bertanding malam ini dan akan disaksikan oleh Minner Ertharossa sang raja.


Azet—atau yang lebih tepatnya Xavier—sudah di hadir di arena dan kini tengah duduk di kursi penonton di sisi barat arena. Sementara itu, Evil Mask—atau yang aslinya Alice—sudah duduk dengan tenang di sisi yang berlawanan dengan Azet. Dan di tengah-tengah arena, seorang Eagleman tengah berdiri dengan kedua sayapnya yang merentang lebar—wasit yang tadi malam menjadi pembawa acara sudah duduk dengan tenang di bangku penonton.


Pertandingan final sampai sekarang belum dimulai karena kursi yang khusus disediakan buat sang raja masih kosong. Sang wasit telah mengatakan kalau sang raja akan segera tiba, sebab itu kedua sayapnya membentang. Dia berada di sana dalam keadaan seperti itu agar para penonton tak membuat kegaduhan karena menunggu lama.


“Yang Mulia Minner sudah tiba! Yang Mulia Minner sudah tiba! Yang Mulia Minner sudah tiba!”


Pengumaman yang datang dari para prajurit itu spontan membuat para penonton menolehkan wajah ke pintu masuk arena. Pria bertubuh tegap yang memancarkan wibawa dan kekuatan melangkah diiringi seorang wanita berpakaian maid. Di belakang mereka ada empat prajurit elite yang selalu dalam keadaan sigap. Para penonton seketika berdiri memberi penghormatan.


Minner dengan cepat diantar ke kursi yang disediakan untuknya—di bagian tribune penonton paling atas, tepatnya di sisi utara lantai arena.


“Kalian dipersilakan duduk kembali!” teriak wanita berpakaian maid tepat setelah sang raja mendudukkan dirinya di kursi megah. “Dan wasit, silakan mulai apa yang menjadi tugasmu.”


Para penonton serentak mendudukkan diri, dan sang wasit seketika menarik kembali rentangan sayapnya.


“Dragonoa selalu melaksanakan turnamen setiap tahunnya dengan harapan agar semua orang yang tiba di Dragonoa bisa menunjukkan kebolehan. Turnamen ini direstui oleh Yang Mulia Minner Ertharossa, karena itu pula beliau hadir di setiap pertandingan final pada setiap tahunnya.” Sang wasit mulai bermonolog. “Hadiah atas turnamen ini hanya diberikan untuk juara 1 dan 2 turnamen. Sang jawara berhak mendapatkan 1000 keping emas, sedang finalis yang satunya hanya mendapat 500 koin emas. Meski berhadiah uang, esensi dari turnamen….”


Minner yang sudah duduk di kursinya tidak memerhatikan monolog wasit yang sama dengan monolognya pada tahun lalu itu, matanya sudah mengarah mengobservasi kedua finalis malam ini.


Pandangan pertama Minner jatuh pada wanita yang di topengnya terdapat senyum jahat, Evil Mask.


Minner tidak bisa mengatakan sekuat apa wanita—yang dari posturnya masih terlihat muda—itu. Dia tidak terlihat begitu kuat hingga Minner harus berhati-hati seperti El, apalagi Vermyna yang telah menjelma menjadi sosok yang tak bisa ia komprehensikan. Namun, dia juga tak terlihat lemah sehingga bisa ia duga hanya dari melihatnya saja. Wanita itu lumyan kuat. Minner mendengar bisikan kalau cucunya kalah telak tadi malam, itu artinya paling tidak wanita itu berada dalam level yang sama dengan Leostya—atau mungkin lebih kuat.


Kemudian pandangan Minner berpindah pada individu yang akan menjadi lawannya Evil Mask, dan seketika sekujur tubuh Minner sedikit tersentuk—terlebih ketika pria bertopeng hitam polos yang tidak menampakkan sehelai rambut pun itu juga memandangnya.


Akan tetapi…bukankah Vermyna mengatakan El sudah tewas di tangan Twelfth Commander Xavier von Hernandez? Bukankah karena El telah tewas pulalah Vermyna memutuskan mengambil alih New World Order?


Hm…jika kupikir-pikir lagi, bukankah Evillia tidak memberi jawaban pasti saat kutanya jika El memang sudah mati?


Saat Minner bertanya pada ratu Elf Kingdom itu, sang ratu hanya memandangnya datar dan bertanya balik: “Apa kau tak mampu memahami ucapan Vermyna?”


Minner menahan diri dari mengernyit. Mungkin ini semua hanya rencana mereka untuk menipu kekaisaran? Atau, Vermyna dan Evillia benar-benar menyangka kalau El sudah mati dan mereka tidak berpikir El dapat menyelamatkan diri? Atau barangkali, El dikalahkan Vermyna dan dia merasa tidak punya pilihan lain selain memalsukan kematiannya—yang artinya Vermyna berdusta tentang mengambil NWO dari El karena tak punya pilihan lain?


“Leostya, pria bertopeng itu yang akan menang,” bisik Minner dalam volume yang hanya bisa didengar Leostya yang berdiri di kanannya. “Begitu pertarungan selesai, undang dia untuk bertemu denganku. Jika dia menolak, katakan padanya kalau aku mengetahui siapa dia sebenarnya.”


“Tapi bagaimana jika Evil Mask yang akan menang, Yang Mulia? Apa dia juga harus diundang?”


“Kemenangan Evil Mask tidak akan terjadi,” respons Minner singkat, padat dan jelas.


“Begitu, ya? Baiklah, hamba mengerti. Hamba akan melaksanakannya sesuai yang Anda instruksikan.”


Minner mengangguk mendengar kalau Leostya mengerti, dan pada saat itu sang wasit sudah selesai bermonolog ‒ kedua finalis sudah berada di atas lantai arena.


“Maka dari itu, pertandingan final yang ke-247 antara Evil Mask vs Azet, mulai!” seru sang wasit, bergegas menjauh ke tepi arena.


Pada saat yang bersamaan, tombak cahaya tercipta di tangan kanan Evil Mask, sedang di tangan kirinya sudah tersemat pedang cahaya. Tubuh Evil Mask sendiri sudah dibaluti armor cahaya. Di lain sisi, dua buah pedang petir biru keputihan tercipta dengan seketika di kedua tangan Azet. Dan, dalam waktu yang begitu sekejap, keduanya sudah bertemu tepat di tengah-tengah arena dengan kedua senjata yang saling membentur.


Kilat kuning dan percikan biru mewarnai arena. Bagi orang-orang biasa yang tak pernah bergerak dalam kecepatan supersonik, mustahil mata mereka bisa menangkap pergerakan kedua individu itu. Tetapi Minner berbeda. Matanya dengan jelas melihat bagaimana Evil Mask dan Azet (atau El) saling beradu kemampuan bersenjata mereka. Dari yang Minner lihat, keduanya tampak seimbang. Sayangnya, Minner tahu kalau El hanya main-main.


Bagi El untuk menanggapinya dengan serius, Evil Mask harus mengeluarkan kemampuan yang lebih besar dari itu.