Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 31: Journey to Axellibra, part 3



Mencapai Axellibra dari pesisir timur Islan harus menempuh jarak yang lebih jauh dibandingkan melalui sisi tengah. Selain karena posisi penataan kota yang agak ke tengah, lengkungan benua yang tak lurus membuat jarak yang dicapai menjadi lebih jauh. Bahkan bagi Divisi 12 Imperial Army yang bergerak cukup cepat untuk ukuran sebuah pasukan, mustahil bagi mereka bisa sampai dalam 2 atau 3 hari. Kecuali mereka mempertahankan kecepatan maksimum, sedikitnya mereka perlu 6 hari untuk memasuki wilayah Emiliel Holy Kingdom.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan, rombongan Divisi 12 Imperial Army berhenti untuk bermalam sekira dua jam setelah matahari terbenam. Membangun tenda di tepi pantai akan sangat menyegarkan malam, tapi itu terlalu mudah untuk terlihat. Maka dari itu, tenda-tenda didirikan sekira satu kilometer dari bibir pantai.


Petugas yang bertanggung jawab untuk menghidangkan makan malam langsung bekerja, sebagian dari mereka mengurus kuda-kuda yang menarik wagon.


Xavier di dalam tenda bersama Heisuke dan dua orang kapten. Bukan dirinya yang memanggil, mereka yang datang membawa satu hal yang harus diberi perhatian: pengiriman tim pengintai.


Dalam pergerakan pasukan yang besar, fungsi tim pengintai sangat sakral. Jika entah bagaimana informasi tentang keberangkatan mereka bocor, tim pengintai bisa memastikan apakah mereka melangkah ke dalam jebakan atau tidak. Ini adalah hal yang paling dasar untuk dilakukan. Mereka menyarankannya memberi perintah untuk mengirimkan tim pengintai.


Mereka tidak salah; saran mereka sangat normal untuk diberikan. Mungkin juga mereka berpikir ia melupakan hal sesimpel itu. Namun, apa yang mereka sampaikan hanya tidak salah jika itu dalam keadaan normal. Namun, di sini Xavier sendiri yang memimpin pasukannya. Tidak perlu baginya membebani belasan prajurit untuk hal yang tak perlu. Jika ada pasukan yang dikirim untuk menahan mereka, ia sendiri yang akan mengatasi itu.


“Tidak perlu mengirim tim pengintai,” pertegas Xavier. “Benar, tim pengintai sangat diperlukan. Tapi, jika benar ada perangkap yang disiapkan, mengirim tim pengintai sama saja mengirim mereka pada kematian.”


“…Itu memang risiko yang harus dihadapi tim pengintai,” setuju Heisuke.


“Maka dari itu, kita takkan mengirim tim pengintai. Jangan pula kalian risaukan masalah perangkap dan sebagainya. Kita akan sampai ke Axellibra tanpa kehilangan satu pun prajurit. Keputusanku sudah tetap. Kalian kembali dan beristirahatlah.”


“Baiklah jika itu keputusanmu, Commander.”


Heisuke dan kedua kaptennya langsung berdiri, pergi setelah memberi sang commander penghormatan.


Begitu mereka pergi, Xavier langsung membelah dirinya jadi dua. Tanpa berkata sepatah kata pun pada sang belahan diri, Xavier menciptakan portal dimensi dan kembali ke Cornnas, ibukota Provinsi Emeralna. Cara berpindah tempat yang simpel tapi elegan ini adalah apa yang sangat spesial dari [Space Magic]. Xavier tiba di halaman belakang istana.


Xavier memang Twelfth Commander Imperial Army. Ia harus mengutamakan untuk bersama pasukannya, meningkatkan kesolidan di antara mereka. Namun, sebelum ia seorang commander, ia seorang suami—suami muda yang lebih muda dari istrinya. Setidaknya, jika memungkinkan, ia harus selalu menjalani makan malam bersama sang istri. Bahkan saat ayahnya masih hidup, dia selalu mengusahakan untuk makan malam di rumah—dan Xavier merasa dia lebih baik dari sang ayah.


Namun begitu, meski ia akan makan malam dan bermalam di sisi Artemys, bukan berarti ia mengabaikan tugasnya sebagai commander. Ada belahan dirinya di sana yang mengemban tanggung jawab itu. Jika dia bisa melakukan dua hal pada saat yang bersamaan, mengapa harus memilih di antara salah satu?


Dengan senyum pembenaran di wajah, Xavier melangkah menuju senyuman menawan Artemys.


...—Carolina, Ekralina Kingdom—


...


Hari ini para prajurit Imperial Army tidak terlalu bekerja keras. Pergerakan dari Knight Templar ada, tapi mereka tak ada melakukan serangan besar-besaran. Mereka hanya bergerombolan di area jangkauan pandangan para prajurit, sesekali mengirim pasukan kecil untuk melakukan serangan dari jarak jauh. Kemudian mereka berlari mundur saat prajurit Imperial Army berniat meladeni. Begitulah jalannya perseteruan hari ini.


“Mereka mengulur-ngulur waktu, bukan begitu?” tanya Elizabeth sembari menyesap coklat panas untuk menghangatkan tubuh, matanya memandang Dermyus yang duduk di hadapannya. Mereka berada di meja yang ada di balkon istana, duduk berdua di antara sebuah meja kecil.


“Benar. Kemungkinan menunggu Ordo yang lain tiba. Mereka memerlukan pemimpin utama. Dengan terbunuhnya seorang saint di tangan Hekiel, dan ditambah kehadiranku dan Reinhart, mereka perlu mengirim saint yang bisa mengatasi kami.”


“Benar.” Dermyus mengangguk, menelan satu tegukan coklat panas. “Kami memang berniat menyerang. Memangnya, apa yang dilakukan Reinhart sehingga dia tak ada di sini sekarang?”


“Kita menyerang besok?”


“Itu terlalu lama.”


“…Kita menyerang malam ini?”


Dermyus tersenyum. “Kita bergerak malam ini dengan hanya kesepuluh kapten,” jelasnya. “Kita akan serang kota di timur. Reinhart, wakilnya, dan sepuluh kaptennya akan menyerang kota di sebelah barat. Hekiel akan tetap di sini. Kemungkinan besar tengah malam nanti mereka akan tetap mengirim sejumlah pasukan untuk membuat kita terus bersiaga.”


“Dengan hanya sepuluh kapten, itu terlalu…. Hm, berapa banyak pasukan Knight Templar di masing-masing kota?”


“Menurut perkiraan Reinhart, tak lebih dari 10 ribu.”


“Menghabisi 10 ribu prajurit dan seorang saint dengan hanya kita berdua belas terlalu berlebihan, menurutku.”


“Siapa yang bilang kita akan habisi mereka semua?” Dermyus tak menunggu jawaban. “Aku akan membunuh saint mereka, kau pimpin sepuluh kapten dan habisi sebanyak yang kalian bisa. Saat aku selesai, kita mundur. Jika saat aku selesai tapi Reinhart belum tiba di tempat kita, aku akan turut membantu sampai dia tiba. Kemudian kita kembali ke sini.”


Elizabeth mengangguk mengerti. “Tapi kenapa baru memberi tahuku sekarang?”


“Ini operasi rahasia. Lebih baik Mortana tidak tahu tentang ini. Sebenarnya aku baru akan memberi tahumu nanti sebelum berangkat, tapi apa boleh buat karena kau sudah bertanya.”


“Berarti yang lainnya belum tahu?”


Dermyus mengangguk. “Aku yakin Reinhart belum memberi tahu bawahannya. Kemungkinan hanya kau selain kami bertiga yang mengetahui rencana ini.”


Sekali lagi Elizabeth mengangguk-ngangguk paham. “Itu keputusan yang tepat,” tambahnya. “Meskipun agak tak masuk akal, tapi barangkali perubahan yang terjadi pada Mortana adalah ulah pihak Emiliel Holy Kingdom sendiri.” Elizabeth lantas berdiri. “Kalau begitu aku akan kembali ke kamar sekarang. Aku mau mempersiapkan zirah dan pedangku.”


“Ya. Aku akan menyusulmu nanti.”


Elizabeth mengangguk dan tersenyum manis, mengecup lembut pipi Dermyus kemudian melangkah pergi.


Entah Elizabeth sengaja melangkah dengan gerak tubuh yang menggoda atau hanya kebetulan saja, Dermyus tidak tahu. Yang jelas, mata sang commander mengikuti tubuh (bagian bawah) sang wanita tanpa berkedip.


Elizabeth menoleh ke belakang dengan senyum penuh arti, dan Dermyus cepat-cepat membuang muka.


“Aku laki-laki normal,” gumam sang commander pada dirinya sendiri. Itu memalukan tertangkap basah seperti itu, tetapi Dermyus tak menyesalinya. Dari senyum Elizabeth, ia tahu wanita itu juga menikmatinya.