
Xavier memandang intens kesebelas orang yang tak ragu lagi adalah prajurit Knight Templar yang tersohor namanya. Benar asumsinya, mereka ingin menciptakan lingkaran sihir teleportasi untuk mempersingkat jarak yang harus pasukan utama mereka tempuh. Itu artinya pasukan yang ingin menaklukkan Favilifna Kingdom ingin melakukan invasi secepat mungkin.
“Bagaimana menurutmu? Perlu kita bunuh mereka?” tanya Xavier pada Lilithia yang sudah mensejejarkan diri dengannya. “Menawan mereka juga tidak buruk. Divisi 3 bisa memanfaatkan mereka untuk mendapatkan informasi.”
“Orang itu sepertinya senior mereka. Dia saja yang perlu kita tahan. Yang lain habisi saja.”
“Itu opsi yang lebih bagus.” Xavier mendaratkan kakinya di tanah berumput, berjalan menghampiri prajurit terdekat yang terdiam tak bergerak akibat sihirnya. Mungkin salah satu dari mereka memiliki sihir yang menarik, batin Xavier seraya mencekik prajurit di hadapannya. “Aku tidak punya kebencian padamu, tetapi kau tentu sudah mengerti kalau menjadi prajurit artinya siap mati kapan saja. Selamat tinggal, dan kuharap keluargamu dapat hidup baik tanpamu.”
Xavier menyerap jiwa dan sihir prajurit itu dengan satu kali tarikan. Ia tidak khawatir Lilithia akan menyadari apa yang ia lakukan. Dia bukan Vermyna yang sekarang memiliki [Complete Sensory]; kemungkinan besar tidak akan ada yang bisa mengetahui apa yang ia lakukan ‒ tidak akan ada yang menyadari ia memiliki tambahan sihir jika ia tak menunjukkannya.
Namun begitu, Xavier tetap tak akan mengambil risiko. Api hitam menyala dan melahap pria tersebut tepat saat sihir dan jiwanya selesai ia serap. Dengan begitu, ia tidak perlu menerima pertanyaan akan bagaimana prajurit itu bisa mati hanya karena ia cekik dengan pelan. Xavier melakukan hal yang sama untuk kesembilan prajurit lainnya.
Gabungan kapasitas mana mereka bahkan tak sampai setengah kapasitas *mana***ku saat aku berusia dua belas tahun, batin Xavier mengestimasi kapasitas mana*nya setelah menyerap sepuluh jiwa dengan Magic Container. Tetapi sihir teleportasiku telah bertambah kuat secara signifikan. Tidak buruk*.
“Mengapa kau menghabisi mereka satu per satu saat kau bisa menghabisi mereka semua sekaligus?” tanya Lilithia dengan sebelah alis terangkat, dia mendarat di depan prajurit Knight Templar yang tersisa—membuat wajah prajurit itu kehilangan warna.
“Bagaimanapun juga,” kata Xavier diiringi senyum tipis, “mereka adalah prajurit yang hanya menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka. Hal minimal yang harus kita lakukan adalah memberi kematian mereka respek, terlebih saat ini kita tidak sedang di medan tempur.”
Tentu saja itu dusta. Xavier…respek? Oh, itu hanya berlaku bagi mereka yang memang pantas diberi respek. Tidak ada respek untuk mereka yang tidak pantas mendapatkannya.
Lilithia hanya mengedikkan bahu tidak peduli, memasukkan sisa prajurit ke dalam cermin spesialnya.
“Ayo pergi. Kita selesaikan semuanya malam ini juga. Besok pagi kita kembali ke Nevada bersama Elmira juga.”
...* * *...
Malam yang tenang. Sunyi. Damai. Malam yang menyamankan untuk beristirahat. Bahkan di alam terbuka tanpa atap buatan yang kukuh, para prajurit yang kebagian waktu tidur duluan telah tertidur dengan lelap. Mereka semua memiliki keyakinan kalau mereka baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Mereka akan melewati malam tanpa gangguan berarti.
Prajurit mana pun yang menyaksikan keberanian mereka akan ciut nyalinya. Bayangkan saja, jika ada manusia biasa yang bisa duduk dengan tenang di antara kawanan singa, apa ada manusia biasa lain yang akan berani mengusik manusia itu? Kecuali dia memiliki senjata mematikan atau dia memang memiliki masalah dengan kelancaran otak, manusia biasa akan berpikir tiga kali untuk mencari gara-gara dengan orang tersebut.
Sayangnya bagi Knight Templar dan Ekralina Army, Xavier dan Lilithia jauh dari kata biasa.
Lilithia kekuatan fisik dan kecepatan tubuhnya memang tidak bisa diletakkan dalam level Xavier dan Kanna, tetapi sihirnya menghapuskan perbedaan itu. Evillia memiliki sihir yang paling destruktif (mengesampingkan Supreme Magic [Complete Annihilation]), tetapi sihir ratu elf itu tidak fleksibel. Berbeda dengan Lilithia yang mengontrol gravitasi. Selama lawannya tidak memiliki cara untuk menegasikan gravitasinya, sulit dibayangkan Lilithia dikalahkan—tidak peduli jika lawannya berada di level yang jauh di atas Lilithia.
Sungguh, keberuntungan memang tidak sedang berpihak pada para prajurit itu malam ini—mungkin keberuntungan mereka telah diserap habis oleh jendral berkepala plontos yang berada di arah utara sana.
Buuuum!
Xavier menjatuhkan tubuhnya dengan kuat tepat di tepi luar formasi tenda yang para prajurit dirikan. Getaran suara yang pertemuan kedua kaki dan tanah sebabkan seketika mengusir sunyi. Para prajurit seketika panik. Sebagian melesat menghampiri sang commander, sebagian langsung membangunkan para prajurit yang tak terusik oleh debuman pendaratan Xavier.
“Selamat malam, para prajurit!” seru Xavier sembari melenyapkan kepulan debu yang pendaratannya sebabkan dengan gelombang angin—ia mendapatkan [Wind Magic] dari salah seorang prajurit tadi. “Maaf mengganggu malam peristirahatan kalian, tetapi, tidakkah kalian merasa telah memasuki wilayah ini tanpa pemberitahuan? Peringatan dari Her Majesty Elmira cent Nix Favilifna: kembali atau mati, keputusan mutlak berada di tangan kalian.”
Hening menyambut ucapan Xavier, kemudian gelak tawa memenuhi udara setelah para prajurit saling memandang satu sama lain.
“Jadi, wanita pengkhianat yang dijuluki Holy Queen itu menyuruhmu berpakaian seperti commandernya Imperial Army untuk mengintimidasi kami? Boleh juga dia. Namun, Anak Muda, yang kau lakukan murni kebodohan. Kami tak mungkin bisa dikelabui oleh cecunguk seperti kalian.”
“Kau hanya datang mengantar nyawa saja,” timpal prajurit yang lain, yang lantas saja diiringi kembali oleh gelak tawa.
Xavier membiarkan ratusan prajurit yang tertawa itu sepuas hati mereka. Itu akan menjadi tawa terakhir mereka malam ini, karenanya tidak perlu dihentikan sama sekali. Menghibur diri sebelum mati, Xavier menganggap itu adalah apa yang mereka lakukan.
“Anak Muda, kembalilah ke desa asalmu sekarang juga. Kapten kami bukan orang yang berbaik hati, dia tidak akan memberikan kesempatan untukmu pergi. Namun, aku berbeda. Kulihat kau memiliki masa depan cerah yang menanti. Jangan kau sia-siakan.”
“Ho, kalian akan berbaik hati membiarkanku pergi?” tanya Xavier dengan senyum terhibur.
“Khahahaha, lihat, guys, dia kira aku serius! Khahahahaha….” Prajurit itu tertawa sampai terbatuk-batuk, beberapa orang di belakangnya ikut tertawa dan mengata-ngatai sang commander. “Aku kasihan sekali padamu,” lanjut prajurit itu sambil menggeleng kepala, kemudian ekspresinya mendadak serius, “tetapi sayang sekali kau harus mati di sini. Kalian, serang dia!”
“Bersiaplah, Bocah Bedebah!” teriak sekelompok prajurit secara bersamaan, mereka berlari maju dengan masing-masing senjata yang teracung.
“Aku sudah memberi kalian peringatan,” ucap Xavier pelan. “Apa yang terjadi setelah ini, kalian hanya berhak menyalahkan diri kalian sendiri. Majulah, Knight Templar. Mari kita lihat sehebat apa kalian!”
...»»»»» End of Chapter 14 «««««...
#Jika ada minimal 15 review/komentar untuk part ini, besok double update. Kalau sampai 20, besok triple update. Satu akun dihitung satu review, jadi tidak ada istilah satu akun kasih 20 review. Kalau sampai 30, besok lima part sekaligus. Yah, saya punya niat menghabiskan waktu menyelesaikan Chapter 15 besok—kalau PLN tidak secara tiba-tiba memutuskan aliran listrik. Time limit sampai jam 20 wib.
»»»»»»Chapter 15: Duo Monster