Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 18: Contrast, part 3



...—Nareya—...


Xavier3 dan Monica memasuki kota terbesar di Veria dengan berbalutkan jubah biru tanpa tudung.


Mereka harus membayar satu koin emas karena tak bisa memberikan apa pun sebagai identitas. Itu agak mahal dibandingkan dengan ketentuan di Nevada—yang mana seorang tanpa identitas pengenal apa pun hanya dikenakan biaya satu koin perak. Namun, karena orang-orang lain yang juga tidak memiliki bukti identitas juga membayar satu koin emas, Xavier3 mengeliminasikan kemungkinan kalau mereka ditipu.


Nareya lebih luas daripada Nevada. Kekontrasan itu sangat jelas terlihat bahkan sebelum Xavier3 menginjakkan kaki ke dalam kota. Saat di dalam kota, satu perbedaan lagi terlihat: orang-orang di sini mayoritas berkulit gela, mulai dari tan hingga ada yang hitam, tetapi tak jarang pula ada yang berkulit putih. Selain itu, Xavier3 hingga detik ini belum menemukan seorang pun yang berambut pirang.


Seorang penjaga tadi menanyakan jika Monica dari Mossakh Empire, kesimpulannya jelas kalau orang berambut pirang di Veria diasosiasikan dengan kekaisaran tersebut.


“Ayo Vier, pertama sekali kita mesti mengetahui seperti apa pandangan warga kota terhadap kaiser mereka.” Monica tidak menyembunyikan kesenangannya. “Er….” Gadis itu menjeda sejenak sembari menggaruk pipinya yang tak gatal, matanya menolak memandang mata Xavier3. “…Kita bisa berpura-pura sebagai pengantin baru yang ingin mencari tempat untuk menetap.”


Jika ada hal yang Xavier3 mengerti dalam eksistensinya sekarang, itu adalah kenyataan kalau semua masalah yang ia buat akan dipertanggungjawabkan oleh Xavier original.


Jadi, ketika Monica membiri saran yang seperti itu, ia tidak akan menahan diri. Tersenyum dalam hati, tangan kirinya bergerak menautkan diri pada tangan kanan Monica. “Itu bukan ide yang buruk,” katanya dengan senyum tipis—yang spontan membuat kegelisahan Monica tergantikan kesenangan yang nyata.


“Kalau begitu ayo cepat!” seru sang gadis sembari menarik Xavier3 dengan semangat baru. “Oh, kau harus bertindak sebagai suami yang pemalu!”


...* * *...


Xavier—dirinya yang original—seketika terdiam dari langkahnya saat tiba-tiba perasaan aneh menggigilkan tulang-tulang.


Ia tidak tahu mengapa, yang jelas ia merasakan sesuatu yang salah. Agak abstrak untuk dideskripsikan, tetapi instingnya tidak menipu. Ada hal yang salah, ah, tepatnya hal yang tak seharusnya terjadi. Hal itu akan sangat merepotkannya, tetapi Xavier tak bisa mengerti bagaimana.


Apa ia secara tak sengaja telah melakukan hal yang menimbulkan akibat yang menguras mental?


…Atau mungkin hanya perasaannya saja?


Pada akhirnya Xavier hanya mendengus dan lanjut melangkah. Palingan itu hanya perasaannya saja. Tidak ada hal menguras mental yang akan menimpanya. Ia sudah duduk dikelilingi tatapan intimidasi para wanita, apa lagi coba hal yang lebih merepotkan dari itu?


...* * *...


Jujur saja, Monica terkejut Xavier akan semudah itu mengiyakan usulannya. Bahkan dia tidak menolak saat ia menyuruhnya memerankan suami pemalu. Biasnya, Xavier akan menolak hal-hal yang berlawanan dengannya. Kata “malu” sangat jauh dari Xavier. Dia terlampau percaya diri, agak arogan. Itu seolah dia bukan Xavier saja.


Tentu saja Monica tidak keberatan, malahan ia sangat menyambutnya. Ketika ia menautkan jemarinya dengan jemari Xavier seperti itu, perasaan yang menggenangi relung dadanya sangatlah mencandukan. Jika bisa, ia tak ingin melepasnya. Jika boleh, Monica mau membelenggunya. Andai tak mustahil, ia ingin waktu melambat seper seribu kali.


Namun…Monica tidak memiliki kekuatan yang seperti itu. Gadis bermata biru itu hanya bisa mengeratkan genggamannya, memaksimalkan kesempatan yang terbuka untuknya sebaik mungkin.


...—Kastil Asura—...


Xavier2 akhirnya menginjakkan kaki di lantai di mana ruang luas yang dilindungi oleh rune yang menghalangi kerja sihir sensorik berada. [Reverse Law]-nya langsung bekerja, membuat matanya bisa melihat menembus dinding tebal yang menghadang, membuat [Sensory Magic]-nya mampu menembus anti-sensor yang telah dipasang.


Di sana Artemys, di atas altar kecil yang terbuat dari bahan tak biasa. Dia berdiri dengan satu kaki berlutut, tangan kanannya sibuk menggerakkan kuas untuk menulis huruf-huruf yang tak Xavier2 pahami. Jenny berdiri di samping sang putri, tangannya menggenggam tabung kaca berisi cairan merah. Beberapa meter dari altar itu bermeditasi pria berambut hijau gelap. Xavier2 langsung mengenalnya sebagai Shiva.


Benar kalau ia memang belum pernah bertemu Shiva, tetapi jumlah mana yang tubuh itu pancarkan sudah cukup sebagai alasan mengapa Xavier2 yakin kalau dia Shiva Rashta.


Xavier2 tidak menunggu lebih lama lagi. Mengandalkan [Reverse Law], pemuda bermata merah ini langsung melangkah menembus dinding tebal yang menghalanginya dari menggapi Artemys yang memesona. Namun, Xavier2 tak melangkah lebih jauh, kedua kakinya terhenti tepat lima langkah setelah melewati dinding. Kedua kelopak mata Shiva yang sebelumnya tertutup telah terbuka lebar, memandang lurus tepat pada kedua mata Xavier2.


“Berapa lama lagi sampai kau selesai?” tanya Shiva tiba-tiba—matanya tidak meninggalkan mata Xavier2.


“Paling cepat tujuh menit.” Artemys berhenti dari aktivitasnya dan melayangkan pandangan tajam pada sang kaisar. “Mengapa tiba-tiba kau bertanya? Kau tidak memberitahuku kalau aku harus menyelesaikannya dengan cepat.”


“Tidak. Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, bawahanku melaporkan kalau kekasihmu sudah tiba di kekaisaranku. Tidak akan mengejutkan jika dia akan segera tiba ke sini. Eileithyia memiliki kemampuan yang tak jauh berbeda denganku; jika Xavier menanyakan keberadaanmu padanya, dia akan tiba di sini dalam waktu dekat.”


Artemys tidak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun. Juga dia tak memberi respons verbal sedikit pun. Wanita berambut hijau yang lebih cerah dari rambut hijaunya Shiva itu kembali melanjutkan aktivitasnya.


“Tidak apa-apa menunjukkan kesenanganmu. Seperti yang kubilang, aku tidak punya niat buruk padamu. Setelah kau menyelesaikan formulanya, kau bisa langsung meninggalkan tempat ini. Aku tak tertarik menjadi musuh kekasihmu. Jika bisa, aku malah lebih suka bersekutu dengannya. Mungkin kita bertiga bisa berteman baik. Kalau kau perhatikan dengan baik, orang-orang akan menyangka kalau kita ini saudara kandung.”


Shiva langsung menutup kedua matanya setelah mengatakan itu, tidak menanti respons sang putri. Namun, meskipun dia berniat menanti respons, Artemys tak tertarik memberi respons apa pun.


Xavier2 mengernyit. Ia tidak bisa memastikan jika Shiva benar-benar melihatnya atau tidak. Pun ucapannya terdengar serius. Namun, tentu saja, Xavier2 takkan menerimanya. Ia juga tidak akan mengambil risiko di sini. Ia harus menghampiri Artemys dan Jenny, kemudian langsung berteleportasi saat Xavier original tiba. Ia tidak bisa memberi pria sialan itu pelajaran jika Artemys masih di sini. Ia tidak cukup bodoh untuk membiarkan musuhnya menjadikan Artemys dan Jenny sebagai sandera.


Dengan tubuh yang siaga, siap bertindak kapan pun tubuh Shiva menunjukkan sedikit pergerakan, Xavier2 membawa dirinya ke samping Jenny.