Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 31: Journey to Axellibra, part 1



PERTEMPURAN berlangsung agak lama. Tanpa kehadiran pemimpin mereka, Knight Templar kesulitan mendominasi. Ditambah lagi kedatangan Divisi 4 dan Divisi 7 Imperial Army yang mengikuti commander mereka, secara signifikan pertempuran menjadi berat sebelah. Perjuangan Knight Templar memang patut diacungi jempol, tetapi kekalahan tetap tak terhindarkan dari mereka. Pertempuran pembuka itu berakhir saat hari agak sorean.


Dari 79980 prajurit Knight Templar yang dikerahkan untuk menduduki Carolina, hampir 50 ribu terbunuh. Sisanya berhasil melarikan diri. Sebagian bergabung dengan kedua saint yang berada di kedua kota Ekralina Kingdom yang lain, sedang mayoritasnya berhasil kembali ke perkemahan utama Knight Templar.


Yang namanya pertempuran, masing-masing kubu dirugikan.


Namun, dibandingkan jumlah Knight Templar yang terbunuh, jumlah prajurit Imperial Army yang gugur tak sampai lima digit. Divisi 6 kehilangan sekitar 3000 prajurit. Divisi 7 harus rela pasukan mereka berkurang hampir 2000. Sementara itu, ada lebih dari 2000 prajurit Divisi 4 yang berpulang ke alam mana pun yang menyambut mereka setelah mati. Total, ada lebih dari 7000 prajurit Imperial Army yang meregang nyawa.


Barangkali ini adalah kali pertama Knight Templar kalah telak. Tentu saja ini baru permulaan perang. Situasi bisa berbalik dengan cepat. Namun, hingga matahari terbenam, hari ini pemenangnya adalah Imperial Army. Hari ini yang menjadi pecundang adalah Knight Templar.


Namun begitu, meski Imperial Army berhasil memukul mundur Knight Templar dengan telak, itu tak lantas membuat Imperial Army lebih superior. Kunci kemenangan mereka adalah aksi commander masing-masing divisi. Dan, penyebab kekalahan Knight Templar adalah ketiadaan pemimpin yang jadi pembendung para commander.


Kendati demikian, menang adalah menang, dan kalah adalah kalah. Imperial Army bisa berbangga diri karena berhasil mengalahkan Knight Templar yang “tak terkalahkan”. Terlebih lagi, satu dari 12 Saint mereka telah terbunuh. Tentu saja tak ada yang mengonfirmasi jika Alfonso benar-benar telah tewas, tetapi siapa pun yang terjebak 100 meter di bawah tanah tanpa udara sangat tak masuk akal jika masih hidup.


...* * *...


Di ruang makan istana kerajaan, Mortana tersenyum sepenuh hati menyambut tiga commander Imperial Army. Kenyataan kalau ia pernah memerintahkan pasukan menyerang Kota Avada terlupakan dari kepalanya. Fakta kalau ia pernah memusuhi mereka terabaikan begitu saja. Di kepala Mortana sekarang, mereka adalah para manusia yang digerakkan dewa untuk memberinya kemenangan.


“Silakan duduk, Commander Hekiel, Commander Dermyus, Commander Reinhart.” Mortana yang sebelumnya tak pernah berdiri dari kursi ketika menyambut tamu, kali ini berdiri dengan tangan menggestur ketiga kursi di hadapannya. “Aku sudah menyiapkan menu terbaik untuk mengapresiasi kemenangan kalian. Tentu aku tahu kita masih jauh dari menghancurkan Emiliel Holy Kingdom, negeri para pendosa. Namun, hari ini kita menang, dan perayaan kecil diperlukan untuk menaikkan moral—sekaligus menghormati mereka yang telah gugur.”


“Kami merasa terhormat menerima sambutan yang begitu baik ini,” kata Hekiel mewakili kedua rekannya. “Silakan Yang Mulia kembali duduk. Ini tidak tepat jika kami duduk sebelum Yang Mulia.”


Mortana tertawa, lantas berkata, “Seperti yang bisa diharapkan dari commander Imperial Army, kalian punya etika yang tepat.”


Mortana kembali mendudukkan diri; ketiga commander baru mendudukkan diri mereka setelah ia menyamankan diri dalam duduknya.


“Pertama sekali, aku harus berterima kasih karena kalian datang meski kami tak meminta bantuan.” Mortana memamerkan senyum dengan gigi-giginya yang putih. “Aku tahu ini kehendak dewa, sejak awal dia telah menetapkan kalian datang ke sini. Sebagai manusia pilihan, tak pantas bagi para pendusta untuk menang dariku. Hasil pertempuran hari ini hanyalah penampakan kecil dari uluran tangan sang dewa. Meski begitu, kata terima kasih dariku tetap pantas kalian terima.”


“Dewa yang King Mortana maksud…apakah itu Edenia?” tanya Hekiel hati-hati.


“Tentu saja. Siapa lagi dewa selain Edenia Yang Agung?” Mortana tak menanti respons siapa pun. “Edenia telah memilihku dari sekian banyak manusia di dunia sebagai utusan. Dia telah memilih memberkahi kerajaanku, dan melaknat Emiliel Holy Kingdom yang mendustakannya.”


“Tentu saja itu mengejutkan. Aku sendiri pun sangat terkejut saat mendengar bisikan dewa. Tapi, mari kita ketepikan perihal aku dan dewa. Mari kita nikmati hidangan yang sudah disajikan. Silakan makan sepuas hati.”


...—Perkemahan Knight Templar—...


Eleventh Saint Rodolf Vlasenki baru menyelesaikan makan malamnya saat seorang prajurit—yang sebelumnya ia utus kembali ke Axellibra guna melaporkan apa yang terjadi pada Pope Genea—memasuki tenda untuk memberi laporan.


Berdasarkan apa yang sang prajurit tuturkan, Pope Genea ingin agar mereka sebisa mungkin memperlama jalannya pertempuran. Mobilitas Imperial Army cukup impresif ‒ mereka bisa dengan cepat merespons pergerakan Knight Templar. Pope Genea mengakui Knight Templar tak mampu mengalahkan Imperial Army dalam segi mobilitas. Maka dari itu, dia meminta Rodolf memperlama jalannya pertempuran sampai Ordo 4 yang dipimpin Saint Bedivere tiba.


Mulanya, pasukan yang seharusnya bergabung dengan Rodolf dan kawan-kawan adalah ordo yang Saint Petra pimpin. Namun, penerawangan Pope Genea menunjukkan kalau Dwarf Kingdom dalam bahaya. Sebagai sekutu loyal mereka, Saint Petra diperintahkan untuk beroperasi di Dwarf Kingdom. Dia dan ordonya akan membantu para dwarf mengatasi para musuh.


“Baiklah. Terima kasih untuk laporannya.”


“Itu sudah menjadi tugas saya, Sir!”


Rodolf tersenyum bijaksana, berkata dengan ekspresi sesal di wajah, “Aku tak ingin membuatmu terus kelelahan, tapi kau adalah yang paling baik dalam teleportasi di antara semua prajurit. Maka dari itu, aku ingin kau mengatakan hal itu juga pada Marya dan Dimitar. Kita takkan membalas kekalahan kita hari ini serta kematian Alfonso dengan segera. Kita akan kembali menyerang besar-besaran saat Bedivere tiba.”


“Saya mengerti, Sir. Sekarang juga saya akan menemui Dame Marya, kemudian menemui Sir Dimitar. Baru setelah itu saya akan kembali ke sini untuk beristirahat.”


“Ya, aku mengandalkanmu.”


Begitu sang prajurit meninggalkan tenda, mata Rodolf memicing dengan kening mengernyit. Meskipun Rodolf narsis tingkat akut, ia benar-benar peduli pada rekannya sesama Saint. Walaupun Alfonso itu idiot, mereka punya hubungan yang baik. Maka dari itu, sebisanya Rodolf ingin menyerang balik dan membalaskan kematian pria itu. Namun, apa boleh buat. Ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menganalisis kekuatan commander musuh.


“[Earth Magic] yang luar biasa. Bisa mengubah tanah menjadi adamantite. Sixth Commander Hekiel von Vanguarta.”


Rodolf bertekad akan menghadapi pria itu, ia akan membunuhnya dengan tangan sendiri. Alfonso punya utang 425 koin emas padanya, dan pria itu membunuh sang saint sebelum dia membayar utang? Tak bisa dimaafkan.


Itu sangat amat tak bisa dimaafkan.