
Empat setengah kilometer di barat Kota Carmel, melayang ratusan meter di udara adalah Fourth Saint Rossia Himera. Ia melayang diam dengan satu tangan terangkat ke atas, matanya intens mengobservasi jalannya pertempuran. Spell Dream Sanctuary miliknya siap aktif kapan saja.
Pertempuran—jika itu bisa disebut pertempuran—telah berlangsung selama beberapa menit. Jumlah prajurit Knight Templar yang telah terbunuh di atas jalan kehormatan telah tak lagi terhitung, dan mereka masih terus berguguran satu per satu dengan cepat. Namun, semangat dan tekad para prajurit sedikit pun tak luntur; mereka justru semakin bergelora. Sebab itu pulalah Rossia menahan diri dari mengaktifkan spellnya.
Mereka ingin memperlihatkan padanya kalau mereka pantas menjadi bawahannya. Maka, Rossia harus melihatnya sampai bara api yang mata mereka pancarkan padam. Itu adalah bentuk pengakuannya. Itu caranya menghargai tekad mereka. Pemimpin macam apa ia jika tak bisa menghargai semangat perjuangan para prajuritnya?
…Setidaknya, itu adalah apa yang Rossia pikirkan. Namun, melihat salah satu dari ketiga anggota Deus Chaperon melenyapkan lebih dari seribu prajurit dalam satu serangannya, keputusan Rossia langsung berubah. Ia langsung mengaktifkan spellnya.
“O dewa yang a—”
Pyaaaar! Lingkaran sihir yang sudah Rossia ciptakan seketika hancur berkeping-keping, dan ratusan anak panah angin yang dibaluti debu bintang melesat cepat menyasar sang wanita.
Reaksi Rossia cukup prediktabel. Karena anak panah meluncur secara diagonal ke atas, cara menghindar yang paling efisien adalah melesat lurus ke bawah atau ke atas. Meluncur lurus ke bawah adalah apa yang sang saint lakukan. Dan karena aksi tersebut prediktabel, Rossia tak terkejut akan kemunculan Atland dengan kedua pedang debu bintangnya.
“Aku tak bisa biarkan kau menggunakan spell menyebalkan itu lagi!” seru Atland dengan cengiran tipisnya, kedua pedangnya mengayun tajam—mencoba peruntungan menghabisi sang saint dalam satu serangan.
Aura keemasan seketika membaluti tubuh Rossia, meningkatkan kecepatan dan kekuatan fisik sang saint. Tongkat sihir model lamanya—yang memberikan efek paralisis ketika mengenai target (tongkat model barunya sudah patah waktu dulu melarikan diri dari Xavier von Hernandez)—juga berbalutkan aura keemasan. Rossia menggunakan tongkat tersebut memblok kedua pedang debu bintang sang pemanah—yang juga sangat ahli memainkan pedang.
“Holy Magic: Bright Radiance!” seru Rossia bersamaan dengan membenturnya tongkat sihirnya dengan kedua pedang energi Atland.
Atland terhempas, tetapi tak lebih dari itu. Dia bukan vampire atau iblis, efek Bright Radiance takkan terlalu berpengaruh padanya. Tapi menyakitinya dengan spell itu memang bukan niat Rossia. Sang saint hanya ingin memperlebar jarak di antara mereka untuk lebih leluasa menghabisi sang pemanah dengan cepat.
Rossia langsung menancapkan tongkat sihirnya di tanah, kedua telapak tangannya menyatu. “Heavenly Magic: Rain the Swords!”
Secara instan lingkaran sihir super masif berwarna emas memenuhi langit. Dan, dalam sekejap, ribuan pedang keemasan melesat cepat dari lingkaran sihir itu menuju Atland. Rossia memfokuskan dirinya, pedang-pedang itu ia buat menyasar Atland dari berbagai arah. Ia membuatnya sedemikian sehingga tidak ada ruang baginya untuk kabur.
Atland bereaksi dengan melemparkan kedua pedang debu bintangnya ke udara, kemudian kedua tangannya terentang ke atas: dua lingkaran sihir berukuran sedang langsung muncul dan menembakkan anak panah angin dalam jumlah yang banyak dan secara beruntun. Semua anak panah angin itu sukses mengkonter setiap pedang keemasan yang jatuh; tak satu pun melesat.
Rossia melepas penyatuan kedua tangan dan menarik tongkat sihir, melesat dengan cepat menuju Atland yang sibuk.
“Apa kau pikir aku harus diam terus di tempat untuk mempertahankan spell itu?” tanya Rossia dengan seringaian di bibir, tongkatnya mengayun kuat menyasar sisi kanan kepala Atland—dan Atland hanya mendecih sebagai respons. “Peranmu selesai!”
…Sayangnya, sebuah tombak pendek telah terlebih dahulu membentur tongkatnya sebelum tongkat tersebut sukses mengenai Atland.
“Namaku Diametra,” ucap pelaku yang baru saja memblok tongkat sihir Rossia—dialah yang tadi menghabisi seribu lebih prajuritnya dalam satu serangan. “Maaf jika ini terkesan tidak adil, tapi kami berdua yang akan menjadi lawanmu. Krakart akan lanjut menuntaskan perlawanan prajuritmu seorang diri. Itu agak berat karena jumlah pasukanmu masih cukup banyak, tapi kami perlu mengalahkanmu dulu sebelum kembali membantunya.”
Terpentalnya Atland membuat kedua lingkaran sihirnya—yang menembakkan anak panah angin—sirna. Namun, Rossia tak mengarahkan pedang-pedang keemasan itu pada Atland atau Diametra. Ia melenyapkan lingkaran sihir dan menyatukan semua pedang keemasan menjadi tombak panjang. Itu semua ia lakukan bersamaan dengan melayangkan tendangan memutar dengan kaki kanan pada Diametra.
Meskipun terkejut, Diametra sempat berjongkok untuk menghindari tendangan tersebut. Pada saat yang bersamaan ia bahkan menyempatkan diri menggerakkan kaki kanan bermaksud menendang kaki kiri Rossia yang menjadi tumpuannya berdiri. Sayangnya, tepat satu inci sebelum ia berhasil, kaki sang saint sudah tak lagi berpijak di tanah. Rossia sudah melesat ke udara lalu terbang dengan kecepatan hipersonik ke arah—
“—Krakart! Aktifkan mode Beastification-mu!” teriak Diametra sekeras yang ia bisa—tapi tentu saja suaranya tak mungkin terdengar sang warebeat.
...— — — — — — —...
Krakart menggunakan cakar tajamnya untuk menghabisi prajurit Knight Templar satu per satu dengan cepat. Ia bertekad untuk tak menggunakan mode Beastification-nya; ia perlu menyimpan tenaga dan bertarung dengan efisien. Masih ada Fourth Saint yang menjadi musuh. Karena itu, ia tak bisa menggunakan sihir untuk membantai Knight Templar seperti yang tadi Diametra lakukan.
Krakart memiringkan kepalanya menghindari tusukan tombak seorang prajurit. Pada saat yang bersamaan, cakar tajamnya mengayun ke belakang dan memutuskan leher seorang prajurit. Lalu, ia merampas tombak yang baru saja diarahkannya untuk ia gunakan. Beberapa prajurit langsung terpental, dan salah satunya terbunuh akibat mata tombak yang menembus zirah dan menancap tepat di jantung.
Krakart lantas melompat ke atas menghindari belasan tombak yang mengincar tubuh bagian bawahnya. “Kalian harus me—!”
—dan sekonyong-konyong sebuah tangan mencengkeram wajah Krakart dengan kuat.
Belum sempat Krakart membawa tangannya ke wajah untuk membebaskan diri, tubuhnya sudah dilemparkan ke atas. Krakart spontan mengerahkan mana untuk memasuki mode Beastification-nya—lawannya bukan seseorang yang bisa ia imbangi dalam mode biasa. Namun,sebuah tongkat telah terlebih dahulu menghantam perut Krakart, dan seketika pula ia terlempar kuat secara diagonal ke atas. Lebih buruk lagi, tubuh Krakart telah terkena efek paralisis—proses memasuki mode Beastification-nya terhambat.
Krakart mengusahakan yang terbaik untuk memaksakan tubuhnya agar bisa memasuki mode Beastification. Namun, jangankan itu, ia bahkan kesulitan mengeluarkan sayapnya. Kepanikan benar-benar melanda diri sang warebeast—untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Rossia tak membuang-buang waktu. Bersamaan dengan ia menghempaskan tubuh sang warebeast dengan tongkatnya tadi, pada saat itu juga ia membuat tombak keemasan yang terbuat dari susunan pedang—yang sedari tadi melayang di udara—melesat menargeti warebeast itu.
Dan, saat sepasang sayap Krakart berhasil keluar, saat itu pula mata tombak raksasa menembus punggungnya.
Krakart tidak bersuara, matanya hanya memandang tak percaya pada lubang besar yang menganga pada tumbuhnya. Dan dia bahkan tak punya waktu untuk mengkomprehensikan apa yang menimpanya. Sekujur tubuhnya telah ditembus pedang keemasan. Kepalanya juga.
“…Ah, padahal aku mau mati di tangan Whalef….”—Hanya kata-kata itu yang sempat terlintas di kepala Krakart sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
“Satu dari mereka telah tewas,” gumam Rossia yang melayang beberapa meter di atas kumpulan prajuritnya. “Bawa semua prajurit yang terluka kembali ke Carmel,” perintahnya tanpa menundukkan pandangan. “Aku sendiri yang akan mengatasi kedua orang yang tersisa.”
Tanpa menanti respons para prajurit, Rossia kembali melesat ke tempat kedua musuh itu berada. Dan dalam hitungan detik ia sudah mendarat belasan meter di hadapan mereka berdua.
“Pilihan yang bagus untuk membebaskan Atland dari paralisis yang tongkatku sebabkan,” puji sang saint. “Jika kau coba menyelamatkan warebeast itu, kau takkan sempat dan aku juga akan bisa membunuh Atland dengan mudah. Nah, sekarang apa kalian mau menyerah, atau ingin menyusul warebeast itu?”