Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 44: Emperor's Dream, part 1



“NAMUN,” lanjut Nueva, “apa yang manusia bisa lakukan sangatlah terbatas. Bahkan dengan segala harta yang kukumpulkan, aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa memfokuskan diri pada Eden. Sebagai manusia, kekuatanku terbatas. Sebagai manusia, opsiku tidak banyak. Sebagai manusia, sangat sulit bagiku memercayai manusia lain. Sebagai manusia, yang bisa kita lakukan hanyalah menciptakan kedamaian terbatas untuk diri sendiri saja.


“Maka dari itu, aku harus berhenti menjadi manusia. Untuk mengubah dunia sesuai idealismeku, aku harus menjadi dewa. Tidak ada cara lain lagi. Dengan kekuatan absolut, takkan ada yang akan bisa menentang ketentuanku. Takkan ada lagi kedustaan. Takkan ada lagi pengkhianatan. Takkan ada lagi kekejaman. Takkan ada lagi peperangan. Takkan ada lagi penderitaan. Dan takkan ada lagi kematian. Akan kuciptakan dunia yang hanya mengenal kesenangan abadi.


“Dalam duniaku, semua yang telah mati akan hidup kembali. Termasuk orangtuamu juga. Akan kuhapus segala ingatan tentang segala penderitaan yang pernah mereka rasa. Impian setiap makhluk akan terwujud. Takkan ada yang menjadi pecundang; dunia yang semuanya menjadi pemenang; dunia yang hanya mengenal satu konsep. Inilah keinginanku. Inilah mimpiku. Dan untuk itu, aku ingin kau memberikan [Reverse Law] secara sukarela.”


Nueva berhenti sejenak dan berdiri—singgasana esnya melebur menjadi partikel es lalu bergabung dalam tumpukan salju.


“Tentu saja kau akan mati,” lanjut sang emperor seraya memperpendek jarak dengan sang commander. “Tapi tak perlu khawatir. Setelah semua Supreme Magic kudapatkan dan Throne of Heaven menjadi milikku, kau akan menjadi yang pertama kuhidupkan kembali. Dibandingkan apa yang kau rencanakan dengan mendirikan New World Order, apa yang kutawarkan jauh lebih baik. Tidakkah kau setuju?” Nueva mengakhiri sembari mengulurkan tangan kanan.


“Jika hanya pada niat semata, aku tak bisa bilang apa yang kau inginkan adalah hal yang buruk. Tapi,” Xavier menepis uluran tangan sang emperor, “bagaimana kau bisa menyebut itu sebagai kehidupan ketika segalanya menjadi tak berharga?”


“Kehidupan menjadi berharga karena adanya kematian.” Xavier berdiri secara perlahan. “Keberhasilan menjadi bermakna dengan adanya kegagalan. Kebahagian menjadi berarti dengan adanya penderitaan. Kedamaian menjadi penting karena adanya kekacauan. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, kalau segala sesuatu itu berada dalam garis keseimbangan? Dan yang lebih penting, yang mati harus tetap mati ‒ jiwa mereka tak pantas disentuh. Menghidupkan mereka kembali adalah penghinaan terbesar bagi esensi kehidupan.”


Nueva memandang tangannya yang Xavier tepis dengan senyum tipis. “Kau mengatakan dunia yang ingin kuciptakan sebagai dunia yang tak memiliki arti kehidupan. Paling tidak, kau memiliki prinsip yang tak rapuh. Namun,” mata Nueva kembali pada iris merah sang commander, “bagaimana dengan apa yang kau rencanakan dengan New World Order? Kau sungguh berpikir itu adalah solusi yang lebih baik? Kau lebih naif dari yang kukira jika kau berpikir begitu.”


“Aku mengakui adanya celah dalam visiku.” Xavier tak coba berkilah. “Aku sudah melihat sejarah dunia yang bahkan kau sendiri belum pernah lihat. Tidak peduli apa yang New World Order usahakan, pada satu titik itu semua akan runtuh. Tak peduli seberapa teliti hukum-hukum dibuat, suatu saat celah itu akan terbuka. Selama para makhluk fana memiliki emosi, kedamaian abadi hanyalah angan-angan semata. Tetapi karena itu jugalah kedamaian yang didapatkan menjadi penting. Dan karena itu pula, perjuangan yang kita lakukan menjadi berharga.”


“Pada intinya, kau hanya menawarkan solusi yang bersifat sementara.”


“Karena semua makhluk fana bersifat sementara. Kedamaian abadi diperuntukkan bagi mereka yang abadi. Kita makhluk fana hanya pantas memperjuangkan perdamaian yang sementara. Jika perdamaian itu akhirnya runtuh, sejarah perjuangan kita akan menjadi pelajaran bagi generasi di masa itu untuk memperjuangkan perdamaian mereka. Inilah dunia ideal yang bisa diterima. Inilah arti dalam kehidupan. Tidak ada yang bersimbiosis dengan kata ‘abadi’.”


“Jadi, itu pilihanmu. Berbicara lebih jauh takkan lagi berguna. Mengambil [Reverse Law] akan lebih mudah jika tanpa perlawanan, proses ritualnya pun akan cepat. Namun, apa boleh buat. Kau sudah memilihnya. Jika kau menginginkan rasa sakit, akan kuberikan rasa sakit itu.”


Menyadari aura tubuh Nueva yang berubah drastis, Xavier spontan mengambil langkah menjauh. Ia sudah mengumpulkan sejumlah mana, tetapi masih belum cukup untuk menggunakan Grand Order. Ia harus mengulur waktu beberapa menit la—


Kepalan tangan kanan Nueva telah bersarang di ulu hati Xavier sebelum sempat ia melihatnya. Namun, sang commander tak terhempas; tangan Nueva yang bebas telah mencengkeram tangannya, menghalanginya dari terlempar.


“Dunia ideal yang kau ingin wujudkan hanyalah sesuatu yang fana,” desis Nueva dengan lutut kanan menerjang perut sang commander. “Lambat laun kau akan menyadari…tentang betapa tak bergunanya idealisme naifmu.” Nueva melepas cengkeraman tangannya dan menampar pipi Xavier dengan punggung tangan hingga sang commander terpental. “Tidak ada aturan yang dapat mempertahankan kedamaian – makhluk-makhluk fana bergerak di atas emosi!”


“Bahkan jika mereka bisa memahami satu sama lain sepanjang sejarah,” lanjut Nueva yang sudah muncul di belakang Xavier, “kepentingan masing-masing masih akan lebih diprioritaskan. Hari ini mereka duduk semeja bercengkerama, hari lainnya mereka memalsukan senyum dan membuat siasat gelap.” Dan tendangan yang begitu keras menghantam punggung sang commander, menghempaskannya ke arah yang berlawanan.


Tubuh Xavier dengan telak menghantam kaki gunung, mulutnya memuntahkan darah.


“Makhluk-makhluk itu tak ubahnya binatang liar,” lanjut Nueva setelah mendarat di hadapan Xavier. “Hanya ketakutan yang akan membuat mereka mengerti. Dan aku akan menjadi sumber ketakutan itu – aku akan menjadi dewa dan memaksakan semuanya patuh. Kedamaian abadi, dunia di mana semuanya patuh penuh ketundukan.” Nueva menghantamkan kakinya pada dada sang commander. “Akan kuciptakan dunia yang seperti itu – dunia di mana seorang anak tak perlu melihat ibunya mati. Dunia yang abadi.”


“Untuk itu,” sebuah tombak yang murni terbuat dari konsentrasi mana muncul di tangan kanan Nueva, “matilah di sini, Xavier von Hernandez. Matilah demi dunia yang sempurna!”


Dan tombak putih gelap berpendar itu langsung menerjang dengan begitu tajam. Namun—


“….”


—tombak itu hanya menghancurkan bagian gunung yang keras; tidak ada sang commander di mana pun.


Dan sebelum Nueva mencoba mengedarkan pandangannya, tubuhnya tiba-tiba menegang ‒ kedua matanya membuka lebar.


Seseorang telah berdiri membelakangi Nueva tepat selangkah di belakangnya. Tak perlu baginya untuk memutar badan guna mencari tahu siapa itu. Sudah lebih dari jelas kalau itu sang commander. Yang tak sang emperor mengerti, bagaimana Xavier bisa berada di belakangnya. Dia tak cukup lihai dalam berteleportasi untuk berpindah tempat kapan saja. Dan juga, bagaimana dia bisa memiliki teleportasi dan [Space Magic]?


“Kau sepertinya cukup suka berbicara tentang keinginan hebatmu. Apa kau sudah selesai?”