Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 19: Xavier vs Shiva, part 4



Kedelapan lingkaran sihir Shiva memunculkan delapan tubuh boneka berjubah hitam bergaris hijau. Berbeda dengan boneka-boneka sebelumnya yang seperti manusia nyata, boneka-boneka itu semuanya memiliki kepala plontos dan wajah yang berwarna putih polos—tiada mata, hidung, mulut, atau bahkan alis. Kedelapan boneka itu berwujud serupa. Perbedaan mereka hanyalah ukiran nama pada wajah putih polos itu yang dibuat secara horizontal.


Boneka yang di wajahnya memiliki ukiran nama Belief, Thought, Speech, dan Action berada di sisi kanan Shiva. Mereka yang memiliki ukiran nama Life, Effort, Mindfulness, dan Control berada di kiri sang emperor. Sementara itu, Shiva yang berdiri di tengah-tengah mereka sekarang tubuhnya dipenuhi garis-garis hijau. Semua garis itu berpusat pada simbol teratai hijau di dahinya. Itu seolah simbol tersebut adalah inti dari Eight Pillars of Nirvana.


“Normalnya aku menggunakan boneka Karna untuk menghadapi seseorang yang merepotkan,” berkata Shiva sembari melangkah pelan memendekkan jarak antara dirinya dan Xavier. “Namun, Karna adalah bonekaku yang terkuat. Dia berbeda dengan semua tubuh yang sudah kau hancurkan. Karna merepresentasikan sejarah Karna Great Empire. Aku tidak ingin kau membuatnya berlutut. Karena itu, berbangga dirilah. Ini pertama kalinya aku bertarung langsung dengan seseorang.”


“Begitu? Baiklah. Kalau begitu aku takkan menahan diri.” Tubuh Xavier seketika dibaluti percikan petir, dan percikan petir itu kembali diselimuti oleh aura hitam Enchanted Flame Armor. “Black Flame Magic:‒” Lingkaran sihir hitam kelam (jari-jarinya mencapai lima puluh meter) yang di dalamnya ada lima lagi lingkaran sihir yang lebih kecil muncul sekira lima puluh meter di udara. “‒Mariel’s Authority.”


…Yang terjadi hanyalah api hitam yang membara menyelimuti lingkaran sihir masif tersebut. Bukan gagal, tapi memang begitu fungsinya.


Itu spell yang sudah lama Xavier pikirkan, tetapi tidak pernah sempat mengujicobakannya. Pasalnya, spell ini tidak bersifat sekali serang. Lingkaran sihir itu akan secara otomatis menembakkan tombak-tombak api hitam tanpa dirinya perlu menyia-nyiakan mana lagi. Xavier hanya perlu mengirim sinyal, dan tombak hitam akan meluncur menyasar target. Lebih dari itu, ada spell lain yang bisa diaktifkan dari lingkaran sihir itu jika Mariel’s Authority tidak efektif.


Xavier melesat maju, berniat menyerang Shiva asli. Kedua pedang api hitamnya berbalutkan percikan petir. Api hitam harusnya menelan petir itu, tetapi Xavier bisa mengontrolnya sehingga mereka bisa eksis bersamaan. Pada saat itu juga, lingkaran sihir Mariel’s Authority menurunkan hujan tombak apinya. Tidak satu atau belasan, tetapi di atas lima puluhan. Semuanya melesat pada sang lawan.


Shiva tidak menampilkan ekspresi apa pun. Tidak pula ia memerhatikan tombak-tombak api hitam yang melesat dalam kecepatan hipersonik. Control telah merentangkan kedua tangannya, dan semua tombak api hitam berhenti dari lajunya. Intensitas tombak api hitam kemudian bertambah, tetapi Control tidak bisa diperdaya. Dia kemudian melayangkan semua api hitam itu pada Xavier, tetapi sayangnya api hitam itu langsung melebur dan menghilang karena sudah lepas dari pengaruh Mariel’s Authority.


Pada saat yang bersamaan, Belief memanifestasikan puluhan tombak hitam adamantite. Shiva hanya mengambil satu, sedang Action dan Effort masing-masing mengambil dua.


Bersamaan dengan Shiva melesat menyambut tebasan kedua pedang api hitam, Action dan Effort sudah berada di kedua sisinya.


Xavier dengan cepat menghentikan gerakan Action dan Effort dengan [Reverse Law], pada saat yang bersamaan Xavier membuat tubuhnya tak bisa disentuh—yang lantas membuatnya melewati Shiva. Kemudian Xavier langsung berputar di tempat dan menyasar leher dan bahu sang kaisar. Namun, tiba-tiba Xavier menemukan dirinya terjatuh ke dalam jurang.


Ilusi! Xavier menyadarinya dengan cepat, tetapi saat ilusi itu ia hilangkan, kaki Shiva sudah menghantam dada Xavier—posisi tendangan Shiva yang sedikit dari bawah membuat Xavier terhempas ke udara. Belief yang tadi menciptakan senjata sudah menanti Xavier; tombak-tombak hitam adamantite itu bergerak cepat hendak menembus punggung sang commander.


Space Reversal, batin Xavier, menukar posisi dirinya dengan Shiva—dan kemudian dengan cepat menusuk Action dan Effort dengan pedang api hitamnya. Namun, dua buah tameng hitam adamantite penyerap mana sudah berada di belakang kedua tubuh boneka sebelum pedang api Xavier menyentuh target. Sayangnya Xavier sudah mengantisipasi itu; kobaran api hitam ******* habis tubuh Action dan Effort—Xavier melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan pada Shiva tangan enam.


Kemudian Xavier meneleportasikan diri keluar dari area di bawah lingkaran sihir Mariel’s Authority. Dengan Control yang mampu mengambil alih tombak-tombak api hitam itu, Mariel’s Authority menjadi tak efektif. Karenanya, Xavier langsung melepaskan spell Flame Eraser dari lingkaran sihir tersebut—untuk tujuan itu ia berteleportasi.


Api hitam menelan segala yang ada di bawah lingkaran sihir beradius lima puluh meter. Dari jauh, itu seolah pilar hitam yang tiba-tiba tercipta. Namun, api-api itu hanya bertahan beberapa detik, kemudian menghilang bagaikan api yang dipadamkan. Mengingat sebanyak apa api hitam yang ada, perbuatan itu sangat impresif.


Xavier memandang mereka penuh analisis. Control dapat mengontrol fenomena sihir, kurang lebihnya begitu. Belief bisa menciptakan senjata-senjata, dia mirip dengan Sataniciela. Thought, kemungkinan dialah yang menjebak Xavier ke dalam ilusi. Xavier tidak tahu kemampuan Life dan Mindfulness. Pun ia tak tertarik untuk tahu. Ultra Giant Lezghin Arrow sudah bermanifestasi di atasnya, dan dengan cepat spell andalan Xavier itu menuju para target.


Dan, tentu saja, Xavier memastikan mereka tak bisa bergerak dengan [Reverse Law]; akan percuma jika spellnya ia lepaskan dan mereka bisa menghindar. Pada saat yang bersamaan, Xavier menggunakan Grand Order pada Control, membuatnya tak bisa apa-apa.


Ultra Giant Lezghin Arrow berdetonasi, menimbulkan kejutan udara yang luar bisa kuat. Karena berada di padang pasir, pandangan Xavier terhalangi. Bersamaan dengan api hitam yang menyebar ke mana-mana, pasir beterbangan seolah sedang terjadi badai pasir.


Namun, itu hanya terjadi belasan detik, sebelum tiba-tiba gelombang air setinggi puluhan meter menyebar ke segala arah dan menelan semua pasir yang beterbangan. Xavier melayang ke udara, dan, saat itu pula matanya menyaksikan Shiva berdiri di atas piringan hitam bersama dengan Belief. Melihat Belief dalam keadaan berlutut dengan satu kaki sedang kedua tangan mengarah ke bawah, jelas bahwa dialah yang melepaskan gelombang air itu.


Xavier tak merasakan keberadaan boneka lainnya, tetapi tadi ia hanya merasakan serangannya melenyapkan Control dan Thought. Apa Shiva sengaja menghilangkan Life dan Mindfulness?


“Seperti tubuh-tubuh boneka yang kau hadapi di Kuil Asura, Eight Pillars of Nirvana milikku juga tak berdaya di bawah perintah [Reverse Law].” Berkata Shiva, seolah menjawab pertanyaan Xavier. “Akan lebih efektif jika kupusatkan semuanya pada satu tubuh.”


Mengikuti ucapan sang kaisar, nama di wajah polos Belief bertambah. Yang pertama muncul adalah Life, lalu Mindfulness, Thought, Control, dan seterusnya hingga total wajah polos itu memuat kedelapan nama Eight Pillars of Nirvana. Bersamaan dengan itu, energi yang dipancarkan tubuh itu menjadi delapan kali lipat.


“Mengontrol Nirvana lebih sulit saat semuanya menjadi satu, karenanya aku akan diam menonton.” Shiva mendudukkan diri, senyum yang tidak ramah berkembang di bibirnya. “Namun, kau juga harus berhati-hati. Aku takkan segan-segan memanfaatkan kelengahanmu untuk menyerang.”


Kesal, Xavier meng-Grand-Order-kan Shiva untuk bersujud dan kemudian meng-Reverse Reversal-kan diri dengan Nirvana—sebutan Shiva untuk boneka yang memiliki kekuatan semua bonekanya. Xavier berniat menghancurkan Shiva detik itu juga.


Namun...Xavier justru mendapati dirinya di posisi Shiva, keterkejutan itu membuatnya tak sempat melindungi diri dari tendangan Nirvana.


Xavier terpental kuat dan jatuh bagaikan meteor. Namun, sebelum tubuhnya menghantam lumpur yang disebabkan basahnya pasir oleh air, adamantite hitam tercipta seolah menjadi lantai arena. Tubuh Xavier menghantam lantai itu. Meski nyeri, Xavier langsung bangkit dengan cepat.


“Bagaimana?” Xavier memandang Shiva penuh tanya.


Dia melayang di udara sana. Xavier tahu tadi Grand Order-nya berhasil, tetapi Shiva berhasil membebaskan diri dalam hitungan milidetik.


“Bagaimana kau melakukannya?” Xavier tak menyembunyikan kebingungannya—itu juga ditujukan pada kenyataan kalau tadi ia berpindah tempat dengan Shiva, bukan Nirvana.