
Setelah sparingnya dengan Nizivia saat dulu ia baru belajar bersinkronisasi dengan jiwa Luciel, Xavier tak pernah lagi sparing all-out dengan Nizivia. Ia tidak tahu sudah seberapa cepat Nizivia bisa bergerak ‒ kemungkinannya jauh lebih cepat dari satu tahun lebih yang lalu. Yang jelas, Alice dalam mode Ultra Light Zone-nya lebih cepat dari Nizivia waktu itu. Impresif.
Namun begitu, Xavier bukan lagi individu yang seperti Alice ingat (dalam segi kekuatan dan kecepatan).
Ia sudah menghadapi lawan yang secara signifikan lebih cepat dari Nizivia. Shiva begitu cepat hingga Xavier tidak bisa bereaksi. Dibandingkan dengan Shiva, kecepatan Alice dalam mode tercepatnya tak bisa ia bilang impresif. Setengahnya saja tidak ada. Bahkan meski tak memperkuat tubuhnya dengan Enchanted Flame Armor atau Lightning Armor, mata Xavier bisa mengikuti Alice—begitu pun dengan kecepatan tubuhnya bereaksi.
Bisa ia katakan, Alice hampir sama cepatnya dengan dirinya. Jika Alice punya [Complete Sensory], Xavier harus menggunakan Enchanted Flame Armor untuk menang. Namun, Alice tak punya [Complete Sensory]; tidak ada satu pun skenarion yang akan berakhir dengan Alice bisa mengunggulinya.
Namun begitu, untuk seseorang tanpa Supreme Magic (atau Crest of Hope, atau teleportasi, atau juga penguasan terhadap energi kehidupan) bisa secepat ini…tidak ada kata lain selain “impresif” yang bisa digunakan untuk memujinya.
Dan karena itu pula Xavier tak menahan diri. Begitu Alice berada di hadapannya dengan pedang cahaya yang mengayun tajam, kepalan tangan Xavier yang berselimutkan mana sudah mendarat di perut sang gadis sebelum bilah cahaya itu sempat mencapainya. [Sensory Magic] membuat penggunanya dapat memprediksi pergerakan seseorang dengan mudah.
Tanpa Alice bisa melakukan apa-apa, tubuhnya terlontar kuat hingga dengan telak menghantam barier yang melindungi penonton. Barier itu retak, tetapi tidak sampai pecah—tubuh Alice telah mereduksi tenaga di balik pukulan Xavier hingga dayanya melemah saat menghantam barier.
Tubuh Alice kemudian jatuh menghantam lantai, dia terjatuh dalam keadaan topeng mencium lantai.
Yang kurang dari Alice adalah daya serang dan pertahanannya, batin Xavier sembari berteleportasi ke samping tubuh terjerembab Alice. Mode Light Zone-nya membuatnya berada dalam level yang sama dengan Dermyus dan Reinhart, dan mode Ultra Light Zone-nya membuat Alice melampaui semua commander—tetapi dia tak punya kekuatan serang yang kuat untuk mengalahkan commander dengan pertahanan sekaliber Gilbert.
Itu bukan berarti Alice bisa mengalahkan Lilithia. Lilithia akan menghancurkan Alice dalam sekejap.
Jika Xavier tak punya [Reverse Law], ia juga takkan mampu mengalahkan Lilithia. Gravitasi Lilithia sangat merepotkan. Tidak peduli secepat apa seseorang, tidak peduli seberapa kuat seseorang, mereka akan hancur di hadapan gravitasi yang besar. [Star Creation] milik Evillia mengerikan dalam hal destruktifnya, tetapi [Absolute Gravity] milik Lilithia bisa lebih mengerikan lagi. Terlebih lagi, Evillia butuh waktu, tetapi Lilithia bisa dengan instan mengontrol gravitasi.
Segala sesuatu memiliki kelebihan dan kelemahan. Sihir terkuat kadang kelemahannya sihir terlemah; selalu ada musuh alami bagi siapa pun.
Ini hanya menunjukkan kalau Alice telah berkembang pesat.
Namun begitu, dia perlu memperkuat dirinya lagi; Alice masih belum bisa mengalahkan seorang selevel commander tanpa Light Zone. Selalu bergantung pada Light Zone untuk menghadapi individu selevel commander bukanlah hal yang baik. Lagipula, jika dalam kondisi biasa ia bisa menghadapi seorang commander, bayangkan sekuat apa dia dalam mode Ultra Light Zone!
Mungkin Alice dan Herena bisa saling belajar untuk membawa [Light Magic] mereka ke level yang lebih tinggi, batin Xavier seraya mengembalikan kondisi fisik Alice ke kondisi semula dengan [Reverse Law].
“Evil Mask dikalahkan! Evil Mask yang tak terkalahkan telah dikalahkan! Selamat, Azet! Selamat telah menjadi sang juara dalam turnamen tahun ini! Selamat telah me….”
...—————...
Hasil pertandingan sesuai dengan yang kuprediksikan, tetapi Evil Mask cukup mengesankan. Teknik terakhirnya tadi mungkin akan memaksaku mengeluarkan kekuatan penuh untuk menang. Tidak buruk. Meskipun mengecewakan karena tidak ada warebeast di final, tetapi final kali ini jelas yang terbaik dari semua final yang pernah ada.
Minner berdiri dari kursinya. “Aku menunggu di istana, Leostya,” bisiknya pada sang ajudan, kemudian melesat pergi diiringi keempat prajurit elite yang dengans setia mengawalnya.
Ketika Alice mendapatkan kembali kesadarannya, ia mendapati diri berada dalam gendongan seseorang. Panik seketika mengambil alih, matanya spontan membuka. Insting Alice menjerit, sang gadis mencoba menghempaskan diri dari gendongan ala pengatin yang telah menerpa dirinya. Namun, aksinya terhenti tiba-tiba saat matanya berhasil menyampaikan apa yang ia lihat ke otaknya.
Sepasang mata merah memandangnya dari lubang kecil topeng yang dikenakan pria yang sudah mengalahkannya di arena.
“Bagus kau akhirnya sudah sadar. Aku sudah bertanya pada para peserta yang lain, tetapi tidak ada yang tahu kau menginap di mana. Kau cukup berhati-hati sekali. Katakan, di mana penginapanmu?”
Mata itu membuat kemungkinan kalau pria yang menggondangnya ini menguat. Alice tidak bisa menjelaskan bagaimana Xavier memiliki sihir-sihir yang dulu tak dia miliki. Yang jelas, peluang kalau dia Xavier jauh lebih besar dari siapa pun.
“Kau bisa menurunkanku. Aku bisa kembali sendiri. Tapi tenang saja, aku akan menunggumu di arena besok pagi. Kemudian aku akan mengikutimu ke Vladivta untuk mendengarkan apa yang ingin kau bicarakan.”
Alice tidak akan mengatakan kalau ia menginap di Penginapan Wolfgang yang ada di sisi barat kota.
“Aku bercanda. Aku sudah tahu kau menginap di mana. Kita akan langsung ke sana.”
…Azet melesat ke barat kota. Kening Alice mengernyit. Bagaimana dia bisa tahu di arah sana penginapan tempatnya tinggal berada?
Ketika Alice masih sibuk memikirkan bagaimana Azet (yang mungkin identitas aslinya adalah Xavier) bisa mengetahui penginapan tempatnya tinggal, kaki Azet telah mendarat di depan bangunan yang di didepannya tertulis nama penginapan tempat Alice menginap.
“Sekarang aku bisa menurunkan. Atau, kau ingin diantar ke kamarmu?”
Alice mendengus mendengar pertanyaan menggoda itu, dengan cepat melompat dari gendongan Azet.
“Sekarang aku harus pergi, tetapi aku akan segera ke sini begitu selesai dengan urusanku. Oh ya, jika kau penasaran bagaimana keadaanmu masih baik-baik saja meski telah menerima pukulan itu, itu karena aku menciummu tadi. Ciuman itu secara mengejutkan membuatmu sembuh. Aku bisa membuktikannya sekarang juga jika kau tak percaya?”
Mata Alice melotot di balik topengnya.
“Tentu saja aku hanya bercanda. Jangan terlalu terkejut seperti itu, Evil Mask.” Dan Azet langsung menghilang dari hadapan Alice pada detik itu juga.
Kening Alice mengernyit, kemudian ia mendengus. Tidak mungkin Azet itu Xavier. Itu sulit memercayai dia Xavier.
Xavier takkan melakukan candaan seperti itu, kan?
…Kan?
Alice tak bisa memastikan. Pada akhirnya ia mengedikkan bahu dan berbalik melangkah memasuki penginapan. Alice sedikit pun tak angin berasumsi jika itu sebenarnya bukan candaan.