Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Intermission 1



Kazarsia Kingdom hari ini sedang berbahagia. Memang, malam tadi terjadi hal yang mengagetkan seantero kerajaan. Namun, itu sama sekali tak menyurutkan api kebahagiaan yang menggenangi mereka. Jangankan menyurutkan kebahagiaan, membuat gentar mereka saja tak mampu.


Mengapa?


Sederhanan saja. Hari ini adalah hari yang mereka nanti-nantikan: ini adalah hari pernikahan Jendral Clown dengan putri tertua sang raja. Saking dinantikannya hari ini, King Kressia sampai mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam yang dimulai dari tiga hari sebelum hari ini.


Tidak ada rakyat Kazarsia yang tidak senang dengan datangnya hari ini. Bahkan, rakyat pedesaan berbodong-bondong datang ke ibukota. Semuanya menyambut datangnya hari ini dengan penuh antusias.


Semuanya…kecuali satu, sang jendral itu sendiri.


Jika bagi orang lain ini adalah momen yang paling dinanti, bagi Clown ini adalah momen yang paling ingin ia hindari.


Bukan, itu bukan karena ia tak tertarik dengan sang putri. Ia pria normal. Melihat wanita bertubuh molek dan berparas memesona seperti sang putri yang akan dinikahkan dengannya sudah cukup untuk membuat Clown menelan ludahnya sendiri. Hanya saja, jika ia mengulurkan tangan merengkuh tubuh wanita itu, artinya sama saja dengan membawa dirinya ke dalam kematian.


Clown telah gagal melarikan diri dari istana ini sebanyak 37 kali. Usahanya mengundurkan diri sebagai jendral tertinggi militer juga gagal ‒ mereka justru menganggap niat mengundurkan dirinya sebagai cara halus untuk minta naik gaji. Alhasil, gaji Clown naik dua kali lipat, dan itu membuatnya semakin sulit dalam mengundurkan diri. Meski begitu, peluang melarikan diri masih ada.


Namun, jika ia mengikat janji sehidup semati dengan sang putri hari ini, peluang itu akan tertutup selamanya. Karena itu, Clown hari ini bertekad untuk kabur. Ia sebelumnya memang telah gagal 37 kali dalam percobaannya – selalu saja ada prajurit yang menemukannya, membuat Clown harus berpura-pura mencari alasan. Namun, hari ini berbeda. Kali ini Clown punya taktik jitu.


Ya, kali ini Clown akan memakai rambut palsu dan kacamata: penyamaran yang sempurna. Orang-orang kerajaan ini rada-rada bodoh, mereka bahkan menganggap dirinya luar biasa kuat. Karenanya, Clown yakin takkan ada yang bisa membongkar penyamarannya kali ini. Ia akan bisa bebas dari tempat keparatt ini; Clown akan bisa melepaskan diri dari delusi gila Kressia.


Mengangguk puas pada dirinya sendiri, Clown melangkah keluar dari tempat persembunyiannya di balik guci besar di antara dua pilar istana. Clown bergerak perlahan, teramat hati-hati. Ia sudah mengetahui total prajurit yang berjaga serta lokasi mereka, ia hanya perlu keluar dari area ini dan membaur bersama para tamu. Kemudian ia akan berlagak seperti tamu yang hendak pulang, dan—wusss!—ia akan bebas!


Heh, heh, heh, berkontradiksi dengan kebanyakan orang yang kabur diam-diam, kabur dalam keramaian adalah strategi terbaik!


Clown tersenyum sumringah begitu berhasil keluar dari istana tanpa dicurigai, sekarang ia hanya perlu berjalan lurus ke gerbang luar istana. Di luar banyak prajurit yang mengawal akses masuk, tetapi kali ini Clown dapat berjalan dengan lebih rileks. Ia menyelaraskan diri dengan orang-orang yang juga melangkah keluar.


“Heh, ini lebih mudah dari dugaanku,” bisik Clown begitu melewati gerbang ‒ usahanya berjalan mulus, sangat mulus. Sekarang, takkan ada lagi yang bisa menghentikannya. Ia akan keluar dari kota ini lalu pergi ke Emiliel Holy Kingdom. Ia akan menghabiskan seluruh waktunya di sana.


Mwa-ha-ha-ha!


Satu setengah jam kemudian, Clown mendapati dirinya berada di sudut kota. Ia tidak bodoh, keluar tanpa persiapan hanya akan berlangsung pada penangkapan. Pertama sekali ia harus mendapatkan kereta kuda, dan untuk itulah ia ke sini. Area sudut kota tempat yang ia datangi ini menjual semua hal yang ia perlukan untuk perjalanan jauh, dan dengan harga murah pula.


“Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya seorang resepsionis begitu Clown memasuki salah satu bangunan. “Apa pun keinginan Anda, yakinlah kami bisa memenuhinya seratus persen.”


Clown memandang intens sang resepsionis. Jika dia cukup percaya diri dengan usaha mereka, ia takkan tanggung-tanggung dalam menuntut. “Aku ingin—”


Seketika hening menguasai ruangan.


Clown mengerjap. Ia tidak mengerti bagaimana kacamata dan rambut palsunya jatuh, tetapi sekarang itu tak lagi penting. Ia sudah tak lagi berada di istana. “Aku menginginkannya,” lanjut Clown dengan segala keseriusan yang ia punya. “Aku menginginkan ke—”


“Bangsaaaaaaat!” teriak seorang pria berambut kribo secara tiba-tiba, panik memenuhi wajahnya. “Sialann! Kampreet! Bangsaaat! Super bangsaaat!”


Clown yang kesal karena ucapannya kembali terpotong refleks memandang ke arah pria itu, matanya menajam seolah siap membunuh.


“Ba-Bagaimana kau bisa tahu kami di sini, Clown bangsaaat?!” Pria itu bertanya dengan memaki. Orang-orang di sekelilingnya turut mengamuk sepertinya. Serapahan dan kepanikan melanda mereka. “Bagaimana kau bisa secepat ini mengetahui lokasi sembunyi kami? Apa kau segitu cintanya sama putri naif itu hingga bisa menemukan tempat ini dengan cepat?!”


Huh?


Clown sungguh tidak mengerti. Apa yang terjadi di sini? Mengapa orang-orang itu marah padanya? Bukankah seharusnya ia yang marah, karena mereka telah menyela ucapannya? Ia bahkan belum sempat mengatakan “kereta kuda yang murah”, mengapa mereka seolah seperti berada di antara hidup dan mati?


“Aku tidak ingin berurusan dengan kalian,” kata Clown dengan datar dan dingin—dan kesal. “Aku hanya ingin ke—”


“Baik, baik, baik, sialaaan!” teriak pria itu lagi dengan ekspresi putus asa. “Aku akan kembalikan calon istrimu, Clown! Oi, kau, cepat bawa putri naif itu. Kita tidak bisa apa-apa di hadapan Jendral Clown. Aku tidak ingin berakhir menjadi abu!”


“Kali—”


“Jendral Clown!” Para prajurit berteriak kuat, menyongsong masuk ke dalam gedung dua lantai. “Seperti yang bisa diekspektasikan dari Jendral Clown! Kami sudah mencari mereka dari pagi-pagi buta, tapi Jendral Clown telah menemukan mereka bahkan sebelum kami beri laporan! Menakjubkan. Oi, kalian, tangkap mereka semua!”


Mata Clown mengerjap.


“Jendral Clown!” teriak seorang wanita berparas jelita, sekonyong-konyong menghantamkan diri memeluk tubuh tegap Clown. “Aku tahu kau akan datang menyelamatkanku! Para penculik itu menertawakan keyakinanku, mereka mengolok-ngoloknya. Namun, aku yakin kau pasti akan datang! Terima kasih sudah datang, Jendral Clown. Terima kasih telah menjawab harapanku, Calon Suamiku!”


Mata Clown sekali lagi mengerjap. Otaknya masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi. Ia datang ke sini untuk membeli kereta kuda dan keperluan lain, semua itu demi rencananya melarikan diri. Namun, apa ini? Mengapa jadi seperti ini?


“Jendral Clown, ayo pergi, kita harus melangsungkan pernikahan kita dengan cepat!”


…Mengapa ini jadi seperti ini? Mengapa usahaku melarikan diri justru berakhir begini, oh, dewa?!


...⸸ ⸸ ⸸...