
Pria tua itu…dia berceloteh tentang betapa hebat dan mengagumkannya Jendral Clown tanpa jeda.
Xavier telah kehilangan minat dalam mendengarkan sejak sepuluh menit awal. Saat pria tua yang namanya entah siapalah itu berhenti mengagung-agungkan Clown, mereka sudah tiba di depan gerbang Avarecia untuk menjalani pemeriksaan. Dan, karena Xavier berada dalam rombongan mereka, prajurit penjaga gerbang tidak merepotkan diri mengeceknya.
Gerobak besar yang ditarik tiga kuda itu lekas memasuki kota setelah pemimpin kelompok pedagang berbicara dengan beberapa prajurit.
Berterima kasih pada rombongan pedagang, Xavier lantas melesat pergi mencari penjual topeng.
Tudung jubah hanya cukup jika tidak bertemu langsung, tetapi untuk mengetes kekuatan Jendral Clown memerlukan topeng. Ia seorang commander, sepak terjangnya sudah pasti membuat orang-orang penting mengingat wajah dan namanya. Clown mungkin juga akan mengenalinya jika ia tak memakai penutup wajah.
Mendapatkan topeng yang ia rasa pantas ia pakai, Xavier langsung melesat ke markas utama Royal Army.
Avarecia adalah kota terbesar di Kazarsia Kingdom, tetapi jika dibandingkan dengan Nevada, luasnya hanya sekitar setengah luas ibukota kekaisaran. Tidak berbeda dengan Nevada, hampir tidak ada tempat yang tanahnya tidak ditutupi bata. Jika ibukota dihujani dengan air yang lebat, tanah becek takkan mungkin ditemukan. Bahkan di taman yang tiada berbata sekalipun, air takkan menggenang. Avarecia dikenal dengan sistem drainasenya yang sangat baik.
Xavier belum pernah singgah di kota ini, tetapi itu tak membuatnya kesulitan dalam menemukan markas utama Royal Army. Tidak ada negeri yang menyembunyikan markas utama organisasi militer mereka. Malahan, setiap negeri berupaya memamerkan kekuatan militer mereka. Karenanya, bahkan tanpa bertanya ke sana-sini, Xavier bisa membawa diri ke tempat tersebut hanya dalam belasan menit.
Meski namanya markas utama organisasi militer, itu bukanlah tempat yang dipenuhi para prajurit. Terdapat banyak prajurit, memang, tetapi itu tak sebanding dengan jumlah prajurit yang berada di barak mereka. Markas utama organisasi militer adalah tempat berlangsungnya administrasi militer, dan di sana jugalah semua informasi terkait kemiliteran disimpan.
Setelah memastikan ia tak menemukan orang kuat di sana dengan [Sensory Magic], Xavier mengandalkan [Reverse Law] dan melesat ke sana.
Sebagaimana ia menyusup ke dalam Kastil Asura yang dijaga ketat, penyusupan Xavier kali ini pun bisa ia lakukan dengan amat sangat mudah.
...—Royal Palace—...
Menjadi seorang jendral yang secara total membawahi 22.439 prajurit dan 1276 staf itu bukanlah perkara yang mudah. Terlebih lagi, Clown tidak tahu-menahu tentang manajemen. Pun ia tak dibesarkan untuk menjadi pemimpin. Clown mantan kriminal, hidup dengan mencuri. Menjadi seorang jendral besar sama sekali tak pernah melintas di kepalanya, apalagi menikahi putri raja.
Namun, di sinilah Clown sekarang. Bukan saja ia telah menjelma menjadi jendral besar yang diagungkan, melainkan juga ia telah memiliki istri seorang putri.
Apakah ia harus mengutuk dewa, atau memujinya? Clown tak lagi mengerti. Merasa frustrasi, ia sudah lelah. Melempar caci pada dewa, ia telah letih. Menyanggah delusi konyol Krassia yang notabenenya pelopor kesalahpahaman tentang segala rumornya yang beredar, mulutnya telah lama berbuih. Mencoba melarikan diri? Clown telah habis cara. Pasrah. Itu adalah apa yang bisa Clown lakukan.
Namun begitu, tidak terelakkan kalau Clown memiliki rasa bersalah pada istrinya. Bukan Clown yang tak bisa apa-apa yang sang putri cintainya, melainkan Clown yang ada dalam delusi tak rasional mereka. Sebagai seorang pria, ia ingin setidaknya pasangan hidupnya mengerti dirinya. Ia ingin memiliki seseorang untuk mencurahkan pikiran. Ia ingin memiliki seseorang yang bisa ia andalkan.
“Ah….” Clown membenamkan wajah ke telapak tangan, rasa lelah dan pasrah begitu terpancar jelas dari tubuhnya. “Betapa melelahkan hidup ini. Jika saja wa—”
“Jendral Clown, saya ingin melaporkan kalau prajurit penjaga gerbang mendapati seorang berkapasitas mana besar di antara rombongan pedagang yang masuk ke dalam ibukota baru-baru ini. Kami mencoba mencarinya, tetapi kami kehilangan jejak pria itu. Entah dia sengaja bersembunyi atau berada di tempat yang terjangkau prajurit pengguna sihir sensorik kami, yang jelas kami mengkhawatirkan kalau-kalau dia penyusup dari luar kerajaan. Tindak tanduknya terlalu mencurigakan.”
Ekspresi datar Clown tak berubah, tetapi panik melanda memenuhi kepalanya. Berbagai asumsi liar begitu aktif berlalu-lalang. Bagaimana jika kehidupan damainya di sini rusak karena penyusup itu? Bagaimana jika seantero ibukota akhirnya menyadari kalau ia hanyalh pria biasa yang jauh dari apa yang mereka asumsikan? Bagaimana pula jika istrinya memandang Clown penuh kecewa, dan kemudian menuntut bercerai?
Jika itu sebelum menikah, Clown malah akan senang jika orang-orang akhirnya menyadari kalau ia hanyalah pecundang. Namun, sekarang berbeda. Apa pun yang terjadi, Clown tidak ingin melepas apa yang ia miliki sekarang. Wajah yang menyapanya saat ia bangun tidur…Clown tidak ingin itu berganti sepi.
Namun demikian, bagaimana ia bisa mengatasi orang itu—mengasumsikan dia punya maksud jahat?
“Aku akan mengunjungi markas Royal Army,” ucap Clown tiba-tiba sembari berdiri. “Kau pimpinlah yang lainnya untuk memperketat penjagaan istana. Jangan biarkan siapa pun masuk. Dan, untuk posisi-posisi rawan, aku ingin jumlah penjaga di sana dilipatgandakan.”
“Siap, laksanakan, Jendral!”
Mengangguk puas, Clown meninggalkan ruangannya. Ia melangkah cepat keluar dari istana. Pria berkepala plontos ini ingin mencari prajurit-prajurit yang memiliki sihir yang bisa ia manfaatkan untuk mencari keberadaan penyusup itu. Karenanya, ia harus ke markas secepat mungkin. Hanya di sana data tentang semua prajurit disimpan. Dan, pada saat yang bersamaan, Clown juga akan mengumpulkan nama-nama semua prajurit yang kuat.
Begitu Jendral Clown meninggalkan istana, pria muda berbadan tegap yang baru saja memberi laporan pada sang jendral langsung saja melaksanakan instruksi yang diberikan padanya. Para prajuritnya ia arahkan untuk memperketat penjagaan. Untuk tempat-tempat rawan, jumlah prajurit ia gandakan. Lebih dari itu, pria muda tersebut sendiri turut menjaga di depan pintu istana.
“Kapten Elland!” teriak seorang prajurit yang baru saja memasuki gerbang istana—dia penjaga luar gerbang. “Aku baru saja diberitahu kalau individu yang mencurigakan itu sempat terlihat menuju markas utama.”
“Pantas saja!” pekik sang kapten dengan ekspresi tercerahkan di wajah. “Pantas saja beliau ke sana!” serunya lagi.
“Pantas saja?”
Pria muda berbadan tegap yang dipanggil Elland itu mengangguk. “Setelah aku melaporkan tentang individu mencurigakan itu tadi, Jendral Clown langsung mengatakan kalau dia akan ke markas utama. Aku heran dengan ucapannya itu. Aku berpikir beliau seharusnya memerintahku mengutus tim pencari untuk menemukan individu itu. Sekarang aku mengerti. Rupanya Jendral Clown sudah tahu target penyusup itu. Karena dia kemungkinan kuat, Jendral Clown memutuskan untuk turun tangan sendiri.”
“Oh, pantas saja Jendral Clown terburu-buru tadi! Seperti yang bisa diekspektasikan darinya. Pikirannya sungguh tajam. Nalarnya tak terbendung.”
Elland mengangguk menyepakati ucapan sang prajurit. “Selama kita memiliki Jendral Clown, semuanya akan aman terkendali. Selama Jendral Clown hidup bersama kita, tidak ada yang perlu ditakuti. Dan karena itu pula, kita juga harus mengerahkan segala yang kita miliki untuk meringankan tugasnya.” Tangan Elland mengepal, semangatnya berapi-api. “Sekarang kau kembalilah ke tempatmu berjaga, Prajurit.”
“Siap, Kapten!” seru sang prajurit, semangatnya juga ikut berkobar. Dia berlari cepat ke luar gerbang.
…Jendral Clown, dia sungguh menakjubkan, bagaikan pahlawan dalam legenda, batin Elland diiringi senyum kagum di bibir.