
Tak banyak berbeda dengan pertarungan mereka yang terakhir, Genea kembali terhempas belasan detik setelah beradu tinju dengan sang vampire.
Jika dalam pertarungan terakhir ia terkena hantaman tumit yang tak terlihat bergerak, kali ini pukulan tangan kiri Crow dengan telak menghantam ulu hati sang pope—padahal tangan kiri itu tak bergerak dari tempatnya. Pukulan itu disusul tusukan tombak petir tak kasatmata di bahu, membuat tubuh Genea menancap pada bongkahan besar bukit yang tak turut hancur.
Tentu saja kedua serangan yang Genea terima tak mampu membuatnya untuk sekadar meringis. Tubuhnya adalah tubuh buatan: Genea bisa mengontrol setiap aspek tubuhnya dengan sempurna. Membuat otak tak merespons rasa sakit, memaksa tubuh memulihkan diri dalam kecepatan super, membuat telinga tak bisa mendengar, dan lain-lain bisa ia lakukan. Bahkan memaksakan tubuh untuk pingsan juga bisa.
Maka, sebelum Crow sempat mendaratkan serangan selanjutnya, Genea sudah melompat menjauh. Tombak cahaya putih telah tercipta di kedua tangannya—kedua tombak tersebut juga sudah berbalutkan barier absolut tak kasatmata. Beda dengan sebelumnya, kali ini Genea turut mengerahkan sihir kewaskitaannya—ia fokuskan penerawangannya untuk mengantisipasi pergerakan sang vampire.
Genea tentu tahu kalau ia takkan bisa melukai Crow tanpa menunjukkan bagaimana ia akan bisa menghabisi sang vampire. Namun, setelah sejauh ini, ia juga menyadari kalau Crow tak bisa selalu melindungi dirinya dengan ruang imajinernya. Genea tidak tahu alasannya apa, hanya bisa berspekulasi. Yang jelas, ia ingat kalau Crow kerap kali menghindar meski sebetulnya serangan-serangan waktu itu tak mampu menembus ruang imajiner yang mengelilinginya.
“Kau ingin memanfaatkan kelemahan [Imaginary Space]-ku?” tanya Crow sembari memblok tusukan tombak cahaya suci Genea dengan kedua tombak petirnya. “Kau sudah menyadari kalau aku tak bisa secara konstan berlindung dalam ruang imajiner?”
“Oh, jadi aku benar?” Genea gantian memblok hunusan tombak petir sang vampire ‒ mereka berjual-beli serangan dalam kecepatan tinggi.
“Karena kau akan mati, aku akan berbaik hati untuk mengatakannya padamu.”
“Oh, tidakkah kau terlalu baik?”
“Setiap sihir memiliki kelemahan atau keterbatasan. Kelemahan [Imaginary Space], pemiliknya tidak bisa berada di dalam pengaruhnya lebih dari dua menit tanpa henti. Berada dalam ruang imajiner artinya untuk sementara aku dianggap menghilang dari kenyataan. Imajinasi tak bisa menyokong kenyataan; kenyataanlah yang menyokong imajinasi. Aku adalah kenyataan, dan [Imaginary Space] adalah imajinasi. Aku akan mati jika berada lebih dari dua menit secara beruntun di dalam ruang imajiner.”
“Jadi, aku hanya harus memaksamu berada dalam balutan ruang imajiner selama tiga menit?”
“Benar. Tapi itu mustahil bisa kau lakukan. Kau bukan lawan yang sepadan untukku, Genea; hanya rasa iri dan keinferioritasanmu yang membuatmu berpikir setara denganku. Aku mengatakan kelemahanku karena kau takkan mampu memanfaatkannya untuk menang. Itu seperti sihir penerawangmu yang tak berguna. Kau bisa melihat apa yang akan kulakukan, tapi itu tetap takkan bisa melindungi dari seranganku.”
Seolah membuktikan ucapannya, tubuh Genea terpental meski dia sudah memblok kedua tombak petir sang vampire. Lebih dari itu, kedua bahu dan tenggorokannya juga telah tertembus tombak petir tak kasatmata. Tubuh sang pope menghantam bongkahan batu besar dengan telak. Mulutnya memuntahkan sejumlah darah.
“Kita berada dalam level yang berbeda, Genea.” Crow melangkah maju sembari menghilangkan kedua tombak petirnya. “Kau hanyalah manusia biasa yang mencoba menghindari kematian. Sementara aku…,” jedanya seraya memunculkan dua rantai [Hellish Chain] di kedua tangan, “…aku adalah vampire terkuat dalam sejarah bangsa vampire. Nona Vermyna Hellvarossa bukan vampire; dia tak masuk hitungan.”
Genea berdiri kembali setelah memuntahkan sejumlah darah; tubuhnya yang terluka sudah kembali sembuh. Namun, efek dari mempercepat penyembuhan sel tubuh membuat tubuhnya menjadi sedikit menua. “Rantai itu tidak normal…,” gumamnya—genggaman pada kedua tombak cahaya suci menguat.
“Ah, aku memang belum pernah menggunakan rantai ini saat melawanmu. Tapi mau bagaimana lagi, jika aku bertarung serius menggunakan [Hellish Chain], aku takkan menggunakan [Imaginary Space]. Sebaliknya, aku takkan menggunakan rantai ini jika bertarung serius menggunakan [Imaginary Space]. Tapi kali ini adalah pengecualian. Genea, aku akan menghancurkanmu berikut harga dirimu. Akan kutunjukkan perbedaan kekuatan di antara kita.”
...* * *...
“Kau kira bisa menghentikanku dengan penghalang ini? Menggelikan! Terima ini, Minner! Plasma Demolisher!”
Kedelapan tentakel senjata andalan Khrometh seketika menembakkan delapan laser tebal, dan kedelapan laser itu terus bercabang-cabang menjadi lebih banyak. Tidak ada ruang bagi Minner menghindar, saking banyaknya laser plasma yang terbentuk. Itu adalah serangan yang pasti mengenai targetnya jika berada dalam ruang tertutup.
Sayangnya, laser tak memiliki gelombang kejut seperti ledakan bola-bola plasma. Sejatinya Minner tak perlu menghindar sama sekali. Laser-laser itu takkan mampu menembus selubung cahaya pengikis yang membungkusnya. Namun, Minner tetap berupaya menjauh dari kejaran laser.
“Tak ada ruang bagimu kabur! Matilah, Bangsat!”
Dia masih saja idiot, mengambilan kesimpulan terlalu cepat. Minner menggeleng kepala pelan, tak memedulikan laser-laser yang mulai memborbardir punggungnya. Plasma itu sama sekali tak mampu menjangkau punggungnya. Aku ke sini untuk keluar dari gelembung ini.
Bersamaan dengan batinan sang raja, dinding cahaya yang membentang beberapa meter di hadapan Minner mulai berlubang. Sang lionman langsung menembus lubang itu. Beberapa laser turut keluar dan menghantamnya, tetapi lubang itu dengan cepat menutup kembali dan memutuskan aliran laser. Tentu saja ia takkan terluka jika membiarkan, tapi lubang perlu ditutup untuk mewujudkan rencana Minner.
Minner kemudian berbalik badan dan menyatukan kedua telapak tangan. Sejurus seketika ukuran gelembung menyusut dengan cepat. Tebalnya dinding cahaya membuat Minner tak mampu melihat ke dalam. Namun, apa yang terdengar membuatnya bisa mengetahui kalau Khrometh menggila dengan menembakkan laser ke segala arah dan dalam intensitas tinggi.
Namun, usaha Khrometh tak membuahkan hasil. Dia juga tak mungkin bisa berteleportasi lagi karena kapaknya sudah hancur. Dan, secara tak terbendung, gelembung oranye menyusut hingga mengurung Khrometh seperti bungkusan.
“Matilah, Khrometh.”
…Dan cahaya oranye itu terus menyusut sebelum akhirnya lenyap dengan sendirinya. Tidak ada yang tersisa dari sang dwarf.
Namun begitu, Minner tak bisa bilang ia puas. Khrometh punya banyak trik. Ia bahkan takkan terkejut jika makhluk itu sudah mempersiapkan tujuan teleportasi selain kapaknya. Ia sama sekali tak terkejut. Khrometh memang seperti itu: dia takkan mau mati dalam pertarungan.
...—Suatu Gua di Medea—...
Terima kasih untuk sihir peniadaan serangan yang ia dapatkan dari Stakhneth, Khrometh muncul dalam gua rahasia mereka dengan formula rune teleportasi yang terakhir tanpa luka. Namun, ekspresinya jauh dari senang. Bukan saja ia telah kehilangan golem, kapak, dan senjata plasmanya, ia juga telah melarikan diri dari pertarungan hidup-mati dengan Minner. Harga dirinya benar-benar terluka.
Satu-satunya hal yang membuatnya tak melampiaskan kekesalan dengan menghancurkan barang-barang adalah satu kalimat sederhana yang Stakhneth ucapkan kala itu: Pemenang sebenarnya adalah mereka yang tetap hidup untuk meneruskan pertarungan di kemudian hari.
“…Aku harus menjadi lebih kuat.”
...»»» End of Chapter 35 «««...