
Neira bergerak dengan begitu cepat hingga terlihat seperti kilatan biru gelap yang samar, pedangnya memancarkan begitu banyak energi.
Namun, begitu Lilithia mengecilkan radius lengkungan bulat gravitasi menjadi lima kilometer, kecepatan Neira langsung merosot menjadi setengahnya. Kemudian kecepatan manusia naga itu menjadi seper delapan aslinya saat radius lengkungan gravitasi menjadi dua koma lima kilometer. Dan saat Lilithia kembali memperkecil radius lengkungan menjadi hanya satu koma dua belas kilometer, kecepatan Neira menjadi seper enam puluh empat kecepatan aslinya.
“Jangan berpikir kau bisa bergerak,” desis Lilithia sembari memperkecil radius lengkungan gravitasi menjadi lima ratus meter—dan secara seketika kecepatan Neira merosot menjadi seper seribu kecepatan awal.
Kecepatan laju Neira menjadi tak ubahnya seperti kecepatan lari manusia normal yang tak pernah mengenal mana.
Gravitasi yang ada menjadi begitu besar hingga Neira tak bisa lagi mengatasinya dengan gravitasi miliknya. Ia merasakan tekanan yang besar menghimpit tubuhnya dari segala arah. Meski begitu, Neira tak mencoba berhenti. Dibandingkan gravitasi yang ada pada lengkungan hitam yang mengurung mereka, gravitasi di dalam lengkungan masih tergolong kecil, sangat kecil. Neira berteori kalau Lilithia sendiri takkan selamat dari lengkungan gravitasi itu.
Mengumpulkan seluruh tenaga di lengan kanan, Neira melepaskan tebasan pedang energinya dalam kekuatan penuh.
Namun, Lilithia sudah masuk ke dalam cermin saat tebasan itu dilepaskan. Kemudian dia keluar dari cermin di luar lengkungan gravitasi yang hitam kelam. “Absolute Gravity:‒” seru Lilithia dengan kedua tangan terbuka ke depan, “‒Enclosed Singularity!”
Secara seketika, bola hitam kelam menjadi lebih berat secara signifikan dan ukurannya menyusut dengan cepat. Jika tadi pusat gravitasi ada di lengkungan hitam, kini pusat gravitasi telah berpindah ke pusat bola gravitasi yang ukurannya semakin kecil dan kecil. Dasar laut sampai terlihat, dan retakan-retakan besar mulai terbentuk di sana akibat tekanan besar yang bola gravitasi berikan. Cahaya bahkan sudah mengililinginya membentuk piringan akresi.
Satu-satunya alasan mengapa segala yang ada tak tertarik ke sana adalah karena itu Enclosed Singularity ‒ gravitasi sepenuhya terperangkap di dalam. Lengkungan luar bola hitam itu membuat bagian dalam dan bagian luar sepenuhnya saling mengisolasi.
Lilithia memiliki dua versi lain dari Singularity: Final Singularity dan Eclipse Singularity. Eclipse Singularity menjadikan orang lain sebagai pusat gravitasi yang akan menarik segalanya menuju dia. Ini akan menyebabkan kehancuran yang begitu besar. Bulan lain yang lebih besar akan tercipta karena Eclipse Singularity. Dan ini adalah Singularity yang terlemah.
Sementara itu, Final Singularity adalah kebalikan Eclipse Singularity. Di sini, Lilithia sendiri yang akan menjadi pusat gravitasi. Ini singularitas yang secara signifikan melampaui kedua singularitas sebelumnya. Bukan saja dunia tempat mereka hidup akan hancur ditelannya, bulan, matahari, dan segala yang di sekitarnya juga akan turut ditarik masuk. Tak ada yang akan selamat, termasuk diri Lilithia sendiri.
Lilithia tak punya niat membunuh dirinya sendiri. Pun ia tak ingin menghancurkan Islan dan segala yang ada di atasnya. Enclosed Singularity adalah satu-satunya opsi yang bisa ia pilih untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat darinya.
…Namun, jika itu sampai gagal, Lilithia akan melarikan diri dari sini. Ia tak lagi punya cukup mana untuk menggunakan Eclipse Singularity. Pun ia tak mau membuang nyawa untuk menggunakan Final Singularity.
Lilithia berhenti mengecilkan ukuran bola hitam gravitasi saat radiusnya tepat 100 meter. Ia bisa mengecilkannya lagi, tetapi ia memerlukan raga Neira Claudian. Usahanya akan sia-sia jika Neira hancur total. Tujuannya bukan untuk melenyapkan gadis itu; tujuan sang commander hanya membawa raganya pada Nueva.
...* * *...
Neira telah kehilangan persepsi atas tubuh dan segala yang ada di sekelilingnya. Kesadarannya bahkan telah mengawang-awang. Ia telah berusaha mengatasi gravitasi yang membuat tubuhnya terasa seperti daging giling, tetapi gravitasi yang memborbardirnya terlalu kuat. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Kekuatannya tak cukup, dan ia tak memiliki anti-gravitasi.
…Neira mulai kehilangan dirinya dalam ruang hitam kelam yang padanya konsep waktu tak berlaku. Bahkan konsep ruang sendiri telah semu. Ia bahkan tak lagi bisa berkata jika ia masih memiliki raga. Ia tak hidup, tapi ia juga tak mati. Stagnan, stasis, atau statis absolut. Neira tak memiliki kata lain untuk mendeskripsikan keadaannya.
Di satu sisi, ini bukan akhir yang buruk. Neira telah kehilangan keluarganya. Ia telah kehilangan warga dan juga kerajaan. Bahkan tujuan saja ia sudah tak lagi punya. Satu-satunya alasan ia hidup selama ini karena kutukan Edenia tak mengizinkannya mati. Sekarang kutukan itu telah lenyap, ia bisa mati dan selesai dengan dunia fana ini. Neira akan bisa beristirahat untuk selamanya. Sungguh bukan akhir yang buruk.
Senyum tipis sang nephilim yang terkilas dalam ingatannya melarang Neira menyerah. Ia masih belum menyelesaikan tugas yang sang nephilim berikan. Fie memercayakannya untuk memastikan Axellibra tak rata dengan tanah. Bagi Neira yang tidak memiliki apa-apa lagi dalam kehidupannya, kepercayaan yang diberikan itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia pegang. Jika ia harus mati, ia akan mati setelah tugas itu terpenuhi.
Maka, Neira mulai melepaskan segala energi yang ada dalam raganya. Mana-nya mulai terbakar saat mencoba memberi sentuhan ulang pada raganya. Bukan terbakar secara literal, melainkan terbakar secara konsep. Tetapi gravitasi yang ada terlampau besar, jumlah mana-nya bahkan tak mendekati kata cukup. Tak terelakkan, energi kehidupannya juga turut dirampas sebagai sumber energi—dan itu dalam kecepatan yang signifikan. Energi kehidupannya berkurang seperti air yang dituang dari botol.
Neira tidak pernah memelajari cara mengontrol energi kehidupan dalam hidupnya, tetapi ia tak perlu kontrol tersebut. Tubuhnya bergerak atas insting; tubuhnya sendiri yang menjadikan energi kehidupan sebagai sumber energi. Neira telah kehilangan kontrol akan raga dan pikirannya. Antara dirinya dan kematian, sekarang hanya garis tipis yang memisahkan.
Pusat gravitasi mulai bergetar hebat, dan tubuh Neira mulai melepaskan energi secara eksponensial.
...* * *...
Lilithia mengernyit melihat bola gravitasinya bergetar dan mulai berputar, dan ia langsung mengumpat melihat pancaran energi keluar dari atas, bawah, dan samping bola gravitasi yang berputar.
Kali ini Lilithia tak lagi menahan dirinya; ia tak peduli jika Neira berikut raganya bakal lenyap tak bersisa. Bola gravitasi beradius seratus meter itu ia mampatkan lagi menjadi lebih kecil dan kecil, membuat gravitasi di dalamnya meningkat secara eksponensial. Lilithia tak ingin berdiam diri dan melihat apa yang akan terjadi jika ia tak bertindak.
Seolah menghiraukan usaha Lilithia memampatkan bola gravitasi, jumlah energi yang keluar semakin banyak. Dan keretakan mulai muncul di permukaan bola gravitasi—energi merembes keluar dari retakan-retakan itu.
Lilithia mengerahkan segala tenaganya untuk memampatkan bola gravitasi. “Mati dan binasalah, Neira Claudian!” teriak sang commander, berusaha membawa volume bola mendekati nol.
Namun, nasib baik rupanya enggan hinggap di wajah Lilithia. Tepat saat radius bola gravitasi mengecil hingga lima belas meter, bola yang dipenuhi energi itu runtuh dari dalam. Neira melesat keluar dalam kecepatan yang tak bisa Lilithia ikuti.
Belum sempat Lilithia mengerjap, percikan darah melontar keluar dari bahu kirinya yang tertusuk. Neira, dengan tubuhnya yang tak lagi bernapas, telah berada di atas sang first commander dengan posisi kepala yang terbalik—tangan kanannya menusuk bahu kiri Lilithia.
Mungkin keberuntungan masih berada di pihak sang first commander. Jika tidak, yang tangan Neira tusuk bukan bahu kirinya, melainkan kepala.
Nyatanya, Lilithia masih hidup. Tangan kirinya terpisah dari badannya bersamaan dengan tubuh tak bernyawa Neira yang jatuh. Darah bercipratan dan sedikit memancar keluar, tetapi Lilithia masih hidup. Ia masih hidup.
Meskipun matanya membelakak, ekspresinya syok, dan wajahnya pucat, tetapi sang commander masih hidup.
...»»» End of Volume 5 «««...