Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 4: Silent Night, part 5



Itu malam yang begitu sunyi, bahkan para serangga enggan berbisik. Langit lebih gelap, para bintang seolah menghilang tak tahu ke mana. Bulan yang sebelumnya bersinar pucat, kini tak jelas rimbanya. Ah… rupanya langit sedang mendung pekat, hujan sepertinya akan mengguyur lebat.


Namun, Vermyna abai. Mata merahnya masih diam memandang gundukan yang lembap. Kedua tangannya masih tergelut memegang batu nisan yang berdiri tegap. Vermyna masih enggan beranjak, kakinya bahkan tak sudi bergerak. Matanya mengosong, berbagai emosi menumpuk berat ‒ ia hampir-hampir kalap.


Tes.


Bunyi tetes air yang jatuh itu sama sekali bukan permulaan hujan. Pun itu bukan kondensasi uap air yang mengumpul di lengkungan daun dan jatuh ke tanah. Sama sekali bukan. Itu cairan bening yang melewati pelupuk mata Vermyna, mengalir menganak sungai di pipi, dan jatuh tepat di atas gundukan tanah yang lembap.


Vermyna membiarkan bibirnya melengkung, tak percaya air matanya sampai menetes. Catherine pasti akan berpikir ia bukan Vermyna jika melihatnya. Apakah anak yang terbaring tak bernyawa enam kaki dalam tanah itu begitu spesial? Apakah dia begitu penting, hingga kehilangannya memberi luka yang tak terlihat?


“Tentu saja tidak….”


Vermyna menghela napas, berdiri menengadah memandang langit kelabu. “Tidak mungkin diriku akan melupakan Xa—huh?” Vermyna mengerjap cepat, buru-buru ia melihat ke bawahnya.


“Huh?”


Ada yang aneh, bukankah ia berdiri di samping kuburan? Ke mana kuburan tadi? Halusinasi? Mimpi? Tapi…itu begitu nyata. Ia baru saja menguburkan Xa—


“—Huh? Xa….”


Vermyna mengernyit. Apa ada seseorang yang cukup akrab dengannya memiliki nama yang berawalan Xa? Apa ia telah melupakan sesuatu, seseorang yang begitu penting?


Vermyna tidak mengerti. Bingung. Ia seperti berhalusinasi hebat. Dan, mengapa pula ia berada di sini pada tengah malam seperti ini di bawah langit yang kelabu?


“Nona Vermyna!” Sebuah suara berteriak memanggil. “Aku sudah mencari Nona sedari tadi. Nona tiba-tiba menghilang begitu saja, lalu sama tiba-tibanya muncul di sini. Apa yang Nona lakukan dengan berdiri di sini seperti orang kebingungan?”


“Valeria, dirimu mengenal seseorang dengan awalan nama...nama…nama…eh…?”


Apa awalan nama yang ingin ia sebutkan? Mengapa ia tak bisa mengingatnya? Mengapa ia tak bisa menyebutkan nama yang penting itu?


“Nona Vermyna, apa mungkin…seseorang telah berhasil mengilusi Nona?”


Vermyna spontan memandang Valeria yang sudah berdiri di sampingnya. Apa yang dia katakan sangat masuk akal. Kebingungannya ini…sangat mungkin jika disebabkan ilusi. Namun, siapa pengguna ilusi yang mampu memerangkapnya tanpa ia sadari?


“Mungkin saja,” gumam Vermyna sembari memandang ke bawah (pada gundukan lembap yang seharusnya ada di sana). “Ayo pergi, aku ingin segera memastikan kebenaran akan hal ini.”


...* * *...


Saat kepingan memori itu selesai menjejalkan diri ke dalam kepalanya, kaki Vermyna telah berhenti tepat selangkah di depan Xavier. Namun, rasa nostalgia dan kesedihan yang mendera sudah tak lagi membekas di wajah, tergantikan amarah yang meluap-luap. Tekanan yang amarahya buat sampai-sampai membuat udara di sekelilingnya bergetar.


Sekarang Vermyna mengerti mengapa ia merasa familier saat berada di hadapan Xavier. Melihatnya dari dekat seperti ini, dia memanglah Xavier—rupanya sama persis dengan Xavier miliknya, pun begitu dengan aroma darahnya. Yang berbeda, sifat Xavier ini tidak seperti Xaviernya. Mereka sedikit berbeda. Namun begitu, Vermyna tahu mereka sama.


“Tidak penting usiaku berapa,” kata Xavier dengan tubuh berselimutkan mana, berdiri penuh protektif atas ketiga wanita di belakangnya. “Yang jelas, tubuhmu….”


Vermyna menghela napas panjang, menenangkan diri, kemudian sekali lagi menghela napas. Tidak salah lagi kalau semuanya ulah Edenia keparatt itu. Namun, seperti kejadian waktu itu, mengapa ingatan yang hilang itu kembali padanya? Apa Edenia melakukannya dengan tujuan tertentu?


Diriku perlu waktu untuk memikirkan semuanya….


Vermyna menghela napas pelan dan berbalik arah, melangkah pelan menjauhi Xavier. Setidaknya, itu adalah apa yang ia niatkan. Namun, Vermyna seketika menemukan kedua kakinya tak bisa digerakkan. “Reverse Law,” gumam sang ratu vampire—meskipun ia bisa merasakan, ia tak bisa menghindari efeknya. “Apa mau dirimu?”


“Tubuh itu….”


“Ah,” Vermyna menolehkan wajahnya ke belakang, bibirnya melengkung menyeringai. “Diriku membunuh diri mereka dan menjadikannya tubuh diriku. Bagaimana menurut dirimu, tertarik dengan diri tubuh ini?”


Lonjakan mana dalam tubuh Xavier spontan meroket tajam.


“Oh, diri mereka masih ada di dalam diriku. Jika dirimu melukai diriku, diri mereka juga akan terluka. Jika dirimu membunuh diriku, diri mereka juga akan mati.” Seringaian di bibir Vermyna melebar. “Lah, apa yang terjadi, mengapa lonjakan mana dalam tubuh dirimu menurun? Tidak jadi menyerang?”


“Katakan…apa benar mereka masih ada di dalammu?”


“Ups, sepertinya diriku kurang jelas dalam mengatakannya. Akan diriku ulangi: Vermyna Hermythys, Catherine Hermythys, Nizivia von Clasta. Diri mereka bertiga sekarang sudah menjadi satu kesatuan yang utuh dengan diriku, Vermyna Hellvarossa. Membunuh diriku, itu sama artinya dengan membunuh diri mereka. Mengetahui ini, apa yang akan dirimu lakukan?”


Xavier tidak memberi respons verbal, tetapi konsentrasi mana di tubuhnya meningkat pesat. Tidak salah lagi dia berniat melakukan sesuatu yang tidak sederhana. Namun begitu, Vermyna tidak mengkhawatirkan apa-apa. Jiwanya sudah sempurna; ia yang sekarang bisa mengatasi makhluk sekaliber Luciel.


“Tidak ada yang bisa dirimu lakukan untuk mengembalikan diri mereka. Ah, dirimu bisa mengemis agar diriku izinkan berada di samping diriku ‒ bersama diriku artinya bersama diri mereka. Namun, diriku tidak tertarik pada dirimu, jadi lupakan saja perihal mengemis. Jadi, bisa dirimu hilangkan efek [Reverse Law] ini, atau perlu diriku hilangkan sendiri?”


...—...


Xavier tidak menyembunyikan frustrasinya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Pun ia tidak bisa begitu saja menyerang. Bukan tidak mungkin ada cara untuk mengembalikan Catherine dan Nizivia. Perasaan ini begitu menjengkelkan. Musuhnya tepat di depan mata, tetapi ia tidak kuasa menyerang.


“Sepertinya perlu diriku hilangkan sendiri,” ucap Vermyna, tubuhnya seketika diselubungi aura abu-abu.


“Itu kemampuan Nizivia,” gumam Xavier, tangannya mengepal erat. Nizivia memang telah melakukan kesalahan besar karena telah berani menyerang Monica, tetapi dia tetaplah Nizivia. Xavier tidak ingin kehilangannya.


“Benar, ini kemampuan Nizivia. Diriku hampir mati gara-gara kemampuan dirinya ini.” Vermyna mengembalikan pandangannya ke depan, lanjut melangkah. “Ah,” gumamnya sambil tiba-tiba berhenti. “Ada informasi penting yang diriku ingin dirimu tahu, Xavier von Hernandez.”


Xavier sungguh-sungguh ingin menghancurkan makhluk yang berada di hadapannya, tetapi pada saat yang bersamaan ia tidak ingin melakukannya.


“Katakan,” tuntut Xavier. “Tergantung seberapa bermanfaat kata-katamu, aku akan menunda membunuhmu untuk beberapa waktu.”


“Ha-ha-ha. Lelucon yang tak lucu. Langsung saja, Xavier, Third Commander Lumeira von Talhasta adalah pengikut diriku. Pun diriku sudah mengetahui semua yang Nizivia dan Catherine ketahui tentang dirimu. Dengarkan baik-baik: Nueva el Vermillion dan Edward Penumbra mengetahui semua yang kau rahasiakan, termasuk keberadaan Luciel. Rencana dirimu untuk mengkhianati Nueva pada saat krusial tidak akan pernah berhasil—dia sudah mengekspektasikan dirimu untuk itu.”


“Itu tidak mengejutkan.” Xavier mengakui. Ia dan Luciel sudah memikirkan kemungkinan itu. Karenanya, mendengar ucapan Vermyna sama sekali tak mengejutkan.


“Kalau begitu, diriku punya saran untuk dirimu.” Vermyna berbalik arah, memandang intens Xavier. “Jika dirimu ingin mewujudkan rencana dirimu, tinggalkan New World Order, Elf Kingdom, dan semua hal tentang keduanya. Musuhi semuanya. Termasuk diri Luciel juga.”


“Untuk meyakinkan diri Nueva,” lanjut Vermyna, “dirimu bisa membawa diri Monica ke Nevada, kemudian manfaatkan kejadian ini untuk membuat Nueva menjadikanku targetnya. Dirimu bisa mengatakan kalau diriku leluhur para iblis; diriku bisa menggantikan peran diri Monica dalam ritual membuka gerbang neraka. Sebagai bentuk loyalitas dirimu pada Nueva, dirimu harus membantu dirinya dalam tujuan dirinya. Untuk menipu musuh dirimu, pertama sekali dirimu harus menipu rekan dirimu sendiri.”


Xavier mengerti apa yang coba Vermyna jelaskan. Pun ia bisa melihat kemungkinan hal itu terwujud. Namun….


“…Bagaimana aku bisa tahu Nueva akan memercayaiku?”


“Tentu saja Nueva tidak akan langsung percaya, tetapi dirinya juga takkan langsung menangkap dirimu dan Monica. Dirinya akan meminta Edward mengawasi. Dirimu harus serius dalam memusuhi New World Order dan yang lainnya. Ah, dirimu bisa mengkambinghitamkan Luciel. Manfaatkan makhluk itu untuk mendapatkan kepercayaan Nueva.”


Xavier mengernyitkan keningnya. “Mengapa kau memberiku saran itu? Aku serius ingin membunuhmu, kau tahu. Apa untungnya untukmu? Itu justru akan membuatmu berada dalam masalah. Tidak mungkin kau bisa menghadapiku, Kanna, dan Emperor Nueva sekaligus. Kau akan mati.”


“…Mungkin aku ingin kau melihatku mati lalu gantian menguburkanku?” Vermyna mengedikkan bahu, berbalik arah dan lanjut melangkah.


“…Gantian?”


Vermyna sekali lagi mengedikkan bahu. “Em, En, diri kalian ikut diriku ke Vampire Kingdom,” katanya, dan mereka seketika menghilang dari dalam kamar Catherine tanpa sempat protes. “Sampai nanti, …Xavier Hernandez.”


…Xavier tidak mengerti Vermyna Hellvarossa. Pun ia tidak mengerti mengapa ia tidak begitu ingin membunuhnya. Dan reaksi awal wanita itu…seolah-olah mereka pernah kenal dan memiliki hubungan yang dekat. Apa dulu ia pernah bertemu dengannya?


“Xavier….”


Xavier mengerjap, spontan berbalik arah. Monica memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


“…Nizivia menitipkan sesuatu untukmu.” Monica mengulurkan tangannya dari saku, menunjukkan sebuah jam pasir merah kecil yang berhiaskan ukiran rune. “Katanya, ‘Nizivia tidak bisa mengatakan selamat tinggal.’”


...—End of Chapter 4—...