Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 8: Defeat in Victory, part 7



Tombak energi super masif itu turun dengan pelan dan dramatis. Jika itu berada di langit sebuah kota, tentu orang-orang yang melihatnya akan secara tak sadar menahan napas. Itu seperti seseorang sedang berhadapan langsung dengan bencana alam yang tak bisa dihindar. Mereka hanya bisa terdiam pasrah, dalam berdoa pada ilahi agar kematian mereka dibuat selembut mungkin—dan agar mereka bisa diterima di alam surga yang kekal penuh nikmat.


Untungnya, tombak itu tidak jatuh di atas kota mana pun. Itu jatuh tepat di atas tempat Xavier dan Kanna berdiri. Tombak itu menargetkan mereka, ingin menghancurkan mereka. Spear of Infinity—begitu Vermyna menyebutnya—berhasrat melihat ketiadaan mereka berdua, kebinasaan total mereka.


Xavier mengernyitkan kening saat ia gagal dalam mencoba menghilangkan spell itu dengan [Reverse Law]—mananya masih belum cukup untuk melakukan itu. Pun teleportasi tak bisa membawanya keluar dari dimensi—teleportasi milik Xavier tidak berada dalam levelnya Reinhart atau Catherine. Xavier berada dalam situasi di mana kata “beban” bisa disematkan padanya.


“Xavier, sebaiknya kau fokus mengisi manamu.” Kanna memberi instruksi, dia tidak lagi mencoba melakukan teleportasi. “Aku akan mengatasi Vermyna dan serangannya sampai kau punya cukup mana.”


Xavier tak bisa mengatakan tidak pada perkataan Kanna. Ia mengangguk dan duduk bermeditasi. Akan lebih baik jika ia bisa menggunakan energi yang sama dengan yang digunakan Vermyna, tetapi Xavier tidak pernah merepotkan diri menanyakan hal itu pada Nizivia. Karenanya, ia tak punya pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan energi itu.


Kanna yang sudah tak lagi mencoba membuat lingkaran sihir teleportasi membuat tubuhnya melayang ke udara. Serangan tingkat tinggi seperti itu akan sayang jika ia blok; Kanna akan menggunakan kemampuan Kurtalægon untuk menyerapnya. Dari ukurannya, itu takkan mudah, tetapi Kanna tidak punya pilihan. Itu solusi terbaik.


Ujung tombak super masif itu akhirnya mendekati kepala Kanna. Tanpa pikir panjang, kedua tangan Kanna terangkat. Bagaikan membentur dinding tak kasatmata, tombak hitam berbalutkan aura ungu itu berhenti melaju. Beberapa detik berselang, energinya terserap secara perlahan ke dalam kedua tangan Kanna.


Vermyna telah mengekspektasikan hal itu. Kedua telapak tangannya langsung saja menyatu. Rentetan gelembung dimensi muncul di hadapannya bagaikan gelembung yang ditiup pelan dari alat pembuatnya. Gelembung itu saling menempel pada satu sama lain membentuk gugusan yang besar. Lebih dari dua puluh jumlahnya, dan itu terus bertambah.


“—Cluster Dimensions Beams.”


Dalam kecepatan yang membutakan, gugusan gelembung dimensi itu memuntahkan laser-laser ungu gelap dalam intensitas tinggi. Saking besar dan pesatnya energi yang dimuntahkan dalam wujud laser, pandangan Vermyna terhadap kedua targetnya sampai terhilang. Dan rentetan ledakan sekonyong-konyong meletus memenuhi arena. Ledakan itu turut memicu tombak hitam yang sedang Kanna serap untuk meledak.


Arena bergoncang, sebelum kemudian hancur berkeping-keping. Hal yang sama terjadi pada semua dimensi yang membungkus arena. Hal itu menunjukkan betapa besar kekuatan penghancur yang ledakan Spear of Infinity sebabkan. Bahkan tubuh Vermyna sendiri akan turut hancur jika ia tak membungkus dirinya dalam bola dimensi yang kuat.


Namun, sebelum efek ledakan itu menyebar lebih jauh dan menelan gelembung-gelembung dimensi lainnya yang membajiri dimensi ini, Vermyna menjentikkan jemarinya—dan sebuah distorsi ruang muncul dan menghisap semua efek ledakan dengan begitu cepat dan sempurna.


Bibir Vermyna melengkung tipis saat ia tak mendapati keberadaan Xavier dan Kanna di mana pun.


“Menez dapat mengubah realitas menjadi ilusi,” gumam Vermyna mengomentari apa yang ia rasakan sesaat sebelum Spear of Infinity-nya meledak. “Cukup menarik.” Vermyna lantas menolehkan wajah ke arah gelembung dimensi para spektator berada—dan Menez tidak lagi berada di sana. “Dan diriku pikir dia akan menerobos masuk untuk bisa membawa pergi Kanna dan Xavier, tetapi ternyata dirinya bisa melakukan itu dari jarak jauh.”


Sedang Xavier?


Itu tak perlu ditanya. Meskipun Xavier tak memiliki ingatan tentang masa lalu mereka, Vermyna tak bisa melupakannya. Sifatnya mungkin berubah, tetapi darahnya masih sama. Dia adalah Xavier yang sama dengan Xavier miliknya. Dan Vermyna pastinya akan mendapatkan apa yang menjadi miliknya, baik itu secara paksa maupun sukarela.


…Tetapi diriku akan menunggu sambil mencari cara mengembalikan ingatannya, lanjut Vermyna sembari berteleportasi ke depan gelembung dimensi yang di dalamnya berada Evillia dan yang lainnya.


“Diri kalian tidak menghentikan Menez,” ucap Vermyna dengan mata menajam—berpura-pura tidak senang. “Apa dirimu berpikir untuk menentang diriku, Evillia? Dirimu ingin informasi tentang dirimu yang membunuh Evana sampai ke telinga para elf?”


Evillia tidak menahan diri dari mendengus. Ia sama sekali tak menyembunyikan ketidaksenangannya. Ia sungguh memandang Vermyna dengan pandangan membunuh. Sayangnya, mata tak punya kekuatan untuk membunuh. Jika tidak, Vermyna tentu sudah lenyap dari alam keberadaan.


“Dirimu ingin mengetes batas kesabaran diriku?”


Evillia spontan menggemeretakkan gigi-giginya. “Aku tidak menduga Menez bisa melakukan hal itu,” desisnya. Dan Evillia tak berbohong. Meski ia memang meyakini Menez tidak akan pernah berada di sisi yang berlawan dengan Xavier, tetapi ia tak membayangkan dia bisa melakukan itu dengan ilusi. Dia bisa menghapus kenyataan dengan membuatnya menjadi ilusi—sesuatu yang tidak nyata.


“Begitu? Baiklah. Diriku terima penjelasan itu.” Vermyna mengangguk pada dirinya sendiri. “Ayo. Sekarang diri kita kembali ke Elf Kingdom. Dirimu akan mengagungkan Vampire Kingdom sebagai penyelamat Elf Kingdom. Dirimu juga akan mengklarifikasi kalau tuduhanmu yang dulu adalah kesalahpahaman semata. Dirimu akan mengatakan kalau Vampire Kingdom tidak pernah melakukan hal yang buruk; Raja Elf sebelumnyalah yang telah menipu dan memanfaatkan Elf Kingdom.”


Evillia mendelik tajam, kedua tangannya mengepal kuat. Ia ingin melemparkan Supernova ke wajah vampire sialan ini dan melihat apakah dia bisa menyelamatkan diri atau tidak. Namun, menekan kuat-kuat amarahnya, Evillia menghela napas pelan dan berhasil mengangguk. “Akan kulakukan apa yang harus kulakukan.”


Secara teknis, Vermillion Empire kalah dalam perang yang mereka mulai. Elf Kingdom mengalahkan mereka dengan sedikit bantuan dari Vampire Kingdom. Namun, meskipun Vermillion Empire yang dipukul mundur dalam perang ini, Evillia tidak bisa mengatakan kalau Elf Kingdom menang. Mereka kalah dalam kemenangan; sebuah kemenangan yang rasanya sangat pahit, setitik manis pun tiada terasa. Mungkin, itu adalah kesimpulan yang tepat untuk menjelaskan keadaan Elf Kingdom.


“Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan,” ulang Vermyna sembari melangkah mengikuti yang lain memasuki portal dimensi yang Vermyna ciptakan.


...»»»»» End of Chapter 8 «««««...