
Seperti yang bisa diekspektasikan dari Alice. Dulu dia mengejutkanku dengan kepiawaian permainan senjatanya, dan sekarang dia mengejutkanku dengan pengaplikasikan sihir cahaya yang tak biasa. Membatin Xavier dengan kedua tangan terlipat di dada. Aku memang harus mengetesnya. Tapi sebelum itu….
Xavier berdiri dari kursi penonton, melompat memasuki lantai arena. Aksinya itu membuat para penonton terheran. Sang wasit memandang intens Xavier, mengirimkan pertanyaan yang tak perlu disuarakan. Alice yang baru kembali duduk di kursi penonton juga memandangnya dengan sebelah alis terangkat.
“Itu tadi pertunjukan yang impresif dari Evil Mask,” kata Xavier dengan suara yang ia beratkan. “Aku ingin menantangnya. Namun, itu takkan adil jika kulakukan sekarang. Aku ingin mengetesnya dalam keadaan seratus persen fit. Karena itu,” Xavier mengeluarkan sekantong koin emas dari dalam jubahnya, “aku akan memberikan 100 koin emas bagi yang bisa mendaratkan satu pukulan padaku. Goresan di topengku juga termasuk ke dalam hitungan. Ini adalah caraku, Azet, menantang Evil Mask di turnamen yang akan dimulai besok.”
Hening menguasai arena untuk sesaat, sebelum kemudian keheningan itu dipecahkan oleh pendekar-pendekar yang tak terima dengan cara Xavier meremehkan mereka. Ada juga yang tertarik, sang wasit salah satunya. Dia seketika menepuk tangan dan mendiamkan seisi arena.
“Betapa deklarasi yang tak disangka-sangka!” seru sang wasit penuh semangat. “Normalnya aku tidak senang dengan seseorang yang merebut panggunggu. Namun, pria bertopeng yang ingin dipanggil Azet ini telah melakukannya dengan cara yang menarik. Aku suka hal-hal yang menarik, karenanya dia akan kutolerir. Dan, untuk menarik perhatian kalian semua, aku juga akan memberikan 100 koin emas bagi yang berhasil mendaratkan satu pukulan pada pria ini. Bagaimana? Kalian tertarik?”
“Aku akan menghadapinya!” teriak seorang warebeast dari Suku Tigerman. “Tigerman secara umum lebih kuat dari Lionman. Evil Mask ditantang Lionman, dan dia menang. Jika kau menganggap dirimu kuat, sudah sepantasnya Tigerman menjadi lawanmu, bukan?”
“Aku juga!” seru warebeast yang lain—kali ini datang dari seorang Bearman, tubuhnya besar dan badannya agak buntal. “Aku pernah menang dua minggu berturut-turut; aku akan bisa membuktikan apa kau pantas menghadapi Evil Mask atau tidak.”
“Aku juga! Aku juga mau bertarung! Bodo amat dengan semua klaim itu, aku hanya mau 200 koin emas itu!”
“Aku pun akan menerima tantanganmu, Azet!”
“Aku juga!”
“Aku pun mau mencobanya!”
“200 koin emas, aku akan membawanya pulang malam ini!”
Dan seterusnya. Total, ada lebih dari tiga puluh orang yang tertarik dengan tantangan Xavier dan sang wasit. Uang memang bisa menggerakkan banyak orang. Terlebih lagi, mereka hanya perlu mendaratkan sebuah pukulan ‒ kebanyakan dari mereka pasti berpikir kalau itu akan menjadi pekerjaan yang mudah.
“Bagus sekali,” kata Xavier sembari melempar kantung berisi emasnya kepada wasit. “Kau bisa memulai dari siapa pun. Kalau perlu, mereka bisa maju sekaligus.”
“Oh ho! Maju sekaligus katanya!” seru sang wasit sembaru mengamankan kedua kantung emas ke dalam jubah abu-abunya. “Sungguh tak bisa dipercaya, tapi akan kuterima saran itu. 37 melawan satu. Karena 200 koin emas ini akan menjadi hak dia yang dapat memberikan satu saja serangan padamu, adalah bentuk keadilan bagi 37 penerima tantangan untuk maju sekaligus. Bagaimana dengan kalian, apa setuju?”
“Dia sungguh memandang rendah kita, bukan begitu?” tanya seorang Tigerman pada Bearman—sang Bearman memberi anggukan setuju.
“Kami terima tantangan itu!” seru warebeast yang lain. “Jika dia ingin kalah konyol dengan dekeroyok, kami beri dia kekalahan konyol!”
“Bagus sekali!” seru sang wasit sembari melompat ke atas tiang di luar arena. “Kalian semua, masuklah ke arena dari arah mana saja yang kalian sukai. Pertarungannya akan kita mulai begitu semuanya siap.”
Kurang dari semenit, Xavier sudah dikepung dari segala penjuru. Ada yang memasang wajah menyengir lebar sang jago. Ada yang memasang ekspresi datar sok tenang. Ada pula yang memasang ekspresi bodoh, entah apa yang ingin disokkannya. Yang jelas, mereka semua sangat bernafsu untuk menyerang Xavier.
“Bagus sekali,” kata Xavier dengan tenang, kedua kakinya kukuh berdiri di tengah-tengah arena. “Wasit! Kau bisa memulainya kapan saja.”
Sang wasit tak perlu disuruh dua kali; mulutnya sudah membuka: “Pertarungan memperebutkan 200 koin emas, mulai!”
Dalam sekejap mata, lebih dari dua puluh individu melesat menyerang Xavier. Dengan [Sensory Magic], persepsi Xavier menjadi semakin tajam. Dengan mudah ia menghindari pukulan, tendanga, tusukan tombak, sayatan pedang, dan cakar-cakar tajam warebeast. Xavier tak mencoba memblok serangan mereka; memblok sama saja menerima pukulan—memblok tidak menjadi opsi baginya.
“Pinjam tombakmu,” bisik Xavier sembari meramps tombak seorang Wolfman, kemudian menggunakan tombak itu untuk memblok rentetan serangan senjata para warebeast.
...——————...
Alice mengernyitkan kening di balik topengnya. Pria itu…Azet…dia kuat. Hanya melihatnya mengatasi para penantangnya saja ia tahu. Gerakannya efektif dan efisien. Melihat dari bagaimana dia bisa menghindari orang-orang yang menyerangnya dari belakang, Alice bisa mengasumsikan dia memiliki [Sensory Magic].
Mata Alice sedikit melebar melihat laser petir yang ditembakkan Bearman—yang telah memasuki mode Beastificationnya—menembus tubuh Azet seolah pria itu telah menjelma menjadi hologram.
Laser itu dengan telak mengenai warebeast yang lain, membuatnya terpental dan jatuh pingsan—asap tampak menguar dari tubuhnya. Sementara itu, Xavier langsung menusukkan ujung tumpul tombak ke perut sang Bearman—dan pada saat yang bersamaan melepaskan dorongan angin yang kuat hingga membuat sang Bearman terpental.
Alice tidak tahu sihir apa itu, tetapi yang jelas itu bukan ilusi apalagi afterimage. Azet benar-benar membuat tubuhnya bisa ditembus. Pantas saja dia bisa begitu pongah untuk menantang lawannya. Bagaimana bisa lawannya menyentuhnya jika dia bisa membuat tubuhnya menembus benda?
Namun begitu, melihat bagaimana dia merepotkan diri untuk menghindar atau menangkis, Alice menduga jika Azet tak bisa membuat tubuhnya menembus benda dalam jangka waktu yang lama.
Mengesampingkan kemampuan membuat tubuhnya bisa ditembus, pria itu luar biasa kuat. Meski dikelilingi warebeast dalam mode Beastificationnya, dia bisa melawan dengan tanpa susah payah. Tidak peduli apa yang para warebeast lakukan, Azet selalu dapat mengatasinya semudah membalikkan tangan. Dan, kurang dari lima menit, tidak ada lagi warebeast yang berdiri di arena.
Azet menang tanpa membiarkan lawannya mendaratkan satu serangan pun. Jangankan itu, satu sentuhan saja juga tak mampu mereka berikan. Perbedaan kekuatan antara Azet dan para warebeast begitu besar. Bahkan meski jumlah mereka dilipatgandakan sekalipun, tidak akan ada yang berubah. Azet akan tetap menang dengan tenang.
Mungkin dia bisa menghadapi diriku dalam mode Ultra Light Zone, batin Alice seraya beranjak meninggalkan arena. Turnamen besok…aku menantikan pertarungan dengannya.
...»»» End of Chapter 22 «««...