
Xavier sungguh-sungguh tak menduga keadaan akan berakhir seperti ini. Edward yang sekarang berada di hadapannya berbeda dengan yang ia ingat. Tidak, mengatakan dia Edward terlalu membutakan diri. Jika ada yang sangat familier dengan Luciel, Luciferlah orangnya. Xavier tak punya sebersit ragu. Ia sekarang sedang berhadap-hadapan dengan Lucifer—walaupun sang mantan malaikat agung berada dalam raga orang lain.
“Kekhawatiran Luciel benar,” ucap Xavier dengan wajah serius, pedang api hitam di kedua tangan mulai diselubungi petir berkonsentrasi tinggi. “Berapa lama kau sudah berkeliaran, Lucifer?”
“Intuisi Luciel selalu tajam, tapi dia sulit memercayai tanpa ada bukti yang mendukung. Dia memang selalu merepotkan. Tapi karena itu juga, kukira aku tak perlu lagi mengenalkan diri.”
“Luciel telah memberi tahu sedikit banyak hal tentangmu. Kau hanyalah malaikat kekanakan yang membangkang karena keinginannya tak dipenuhi. Persis seperti anak kecil. Kau perlu diberi pelajaran agar paham kalau tak semua keinginanmu bisa dipenuhi.”
“Hahahaha. Kau mungkin benar, tapi mari kita membahas hal yang lebih penting.” Ekspresi raga Edward menjadi serius. “Sepertinya prosesnya masih belum selesai. Namun, apa yang kulihat sudah sangat jelas. Katakan, bagaimana kau bisa menjadi anomali? Siapa yang membantumu? Di era mana kau sebelumnya hidup?”
Lucifer lebih berpengetahuan dari Luciel…dan lebih ambisius. Xavier memahami itu dari pertanyaan tersebut. Tetapi ia tak lagi punya waktu untuk menghibur sang mantan malaikat. Sebelumnya ia gagal menghentikan Nueva menjadi dragonoid, sekarang ia tak ingin melihat apa yang terjadi jika ia biarkan proses itu sampai selesai.
“Itu bukan urusanmu!” serunya dan melesat maju—dalam sekilip mata ia sudah berada di hadapan raga Edward. “Grand Order: Perish!”
Perintah yang [Reverse Law] berikan membuat tubuh Edward menegang sembari pada saat yang bersamaan mengeluarkan darah dari mulut. Efeknya lebih lemah dari yang dialami Nueva, tetapi barangkali itu karena energi kehidupan yang membaluti raganya.
Namun begitu, efek tersebut sudah cukup memberi Xavier peluang untuk menebaskan kedua pedang api hitam berpetirnya tanpa penghalang.
“Kau…tak bisa…menembus zirah energi kehidupan ini hanya dengan sihir seder—”
Kaki kanan Xavier menghantam sisi kiri kepala Edward sebelum Lucifer dapat menyelesaikan kalimatnya, membuat raga itu terhempas hingga menghantam kaki gunung yang kasar dan keras.
Xavier tak perlu mendengar apa yang akan dikatakan sang lawan. Ia telah melawan dua pengguna energi kehidupan, dan Lucifer adalah pengguna energi tersebut yang paling payah. Shiva pengguna energi kehidupan yang paling mahir. Nizivia—yang sudah ditelan Vermyna—adalah yang kedua. Kemampuan Lucifer bukan apa-apa. Pasalnya, walau sedikit, pedang api hitam berpetirnya berhasil menggores baju sang pelayan.
Dan dengan Lucifer yang lenyap dari hadapannya, tak ada penghalang antara Xavier dan kubus energi hitam. Ia dengan cepat sudah berada di hadapan kubus tersebut ‒ kedua pedang api hitamnya juga sudah ia hilangkan. Kali ini Xavier tak mencoba menggunakan cara lucu; ia langsung mengandalkan [Magic Container]. Jika [Magic Container] bisa menyerap jiwa, tak ada yang akan mustahil baginya untuk ia serap.
Benar saja, energi hitam perlahan memasuki tubuhnya.
Sayangnya, Xavier hanya sempat menyerap energi tersebut kurang dari tiga detik. Lucifer telah menendang balik dirinya hingga membuat ia terpental.
Namun, berbeda dengan Lucifer yang sampai menghantam kaki gunung, Xavier dapat menahan laju tubuhnya dan mendarat dengan kedua kaki setelah terhempas hampir tiga puluh meter.
“Itu cara yang kotor, tapi kukira kau tak punya pilihan.” Lucifer mendarat beberapa meter di hadapan sang commander. “Apa boleh buat. Mari kita selesaikan ini secara barbar. Majulah, Commander Xavier. Tunjukkan padaku seberapa kuat kau ini.”
Xavier merasakan mana-nya kembali terisi dengan sangat cepat. Sayangnya ia tak mampu membuat tangki mana-nya benar-benar penuh. Ia juga belum bisa melenyapkan kubus energi hitam. Lucifer telah kembali menyerangnya. Makhluk itu telah menghabisi belahan dirinya hanya kurang dari dua menit. Xavier dibuatnya terpental hingga menghantam kaki gunung.
“Dia takkan membiarkanku kecuali aku menghabisinya.”
Xavier menghela napas dan bangkit berdiri. Jumlah mana-nya hampir penuh, tetapi staminanya telah terkuras. Sementara itu, Lucifer tak terlihat lelah sama sekali. Ia harus menghabisinya dengan cepat. Jika tidak begitu, Lucifer akan diuntungkan karena keadaannya yang masih prima.
“Kau memiliki lebih banyak sihir dari yang bisa seseorang miliki,” komentar Lucifer ketika berjarak belasan langkah dari sang commander. “Sepertinya kau memiliki kemampuan yang dapat mengambil sihir orang lain. Apa itu kemampuan yang didapat dengan menjadi anomali? Ah, kau memiliki kemampuan yang lain lagi sebelumnya. Apa artinya menjadi anomali memberi kita dua kemampuan khusus—sesuai dengan jumlah kelahiran?”
“Oh, jadi begitu? Aku baru tahu.” Xavier melapisi tubuhnya dengan zirah petir yang dibaluti Enchanted Flame Armor. “Jadi, bisa kuasumsikan kau akan memiliki dua kemampuan khusus setelah proses evolusimu selesai?”
“…Kau tidak memiliki ingatan tentang kehidupanmu yang lalu.”
Xavier tak menunjukkan reaksi terhadap kesimpulan yang mulut Lucifer ucapkan. Sebaliknya, ia langsung memotong jarak di antara mereka dengan cepat. Grand Order: Perish, batinnya kemudian mendaratkan pukulan pada wajah milik Edward. Lucifer sempat bergerak untuk menangkis, tetapi efek Grand Order membuatnya gagal menangkis.
Raga yang dihuni mantan malaikat agung pun terhempas. Pukulan Xavier bahkan mematahkan tulang hidungnya, ia sampai mendengar bunyi tulang yang patah. Dan kali ini Xavier tak memberi sedikit pun ruang bagi sang lawan. Dalam keadaan masih terhempas, Xavier sudah berada di belakang Lucifer lalu menendangnya kuat-kuat. Lucifer pun terpental ke arah yang berlawanan. Dia menghantam bebatuan besar dengan sangat keras.
Xavier langsung melesat puluhan meter ke udara, tangan kirinya terangkat dan seketika api dari semua warna (selain putih) muncul di atas telapak tangannya. Kesemua api itu dengan cepat berputar dan menyatu dengan satu sama lain. Xavier menggunakan lebih dari setengah jumlah mana-nya yang tersisa, dan terbentuklah bola hitam sebesar kepala bayi di atas tangannya. Bola hitam itu dikelilingi enam piringan akresi yang saling berlawanan.
Turn Null. Xavier akan menggunakan serangan terkuatnya sekarang juga. Ia tak memedulikan jika serangan ini akan melenyapkan setengah bagian Pegunungan Amerlesia. Ia bisa mengembalikan kerusakan yang terjadi dengan [Reverse Law].
Namun, untuk memastikan serangannya tepat mengenai sasaran—
Grand Order: Perish!
—Xavier sekali lagi menggunakan puncak kekuatan [Reverse law] pada mantan malaikat agung.
Dan dua detik berselang, Xavier langsung melemparkan Turn Null.
Tanpa menunggu apakah serangannya mengenai sasaran, Xavier langsung melesat ke atas dengan kecepatan penuh. Ia tak mau menerima efek serangannya sendiri. Dari jarak puluhan meter, efek Turn Null mustahil untuk ia balikkan dengan [Reverse Law]. Ia harus memastikan berada pada jarak di mana [Reverse Law]-nya bisa membalikkan arah gelombang kejut yang akan me—
Buuuuuuuuuuuuuuuuuuum!